
"Kenapa aku mesti takut, Mbak, bukankah kebenaran memang perlu diungkapkan ya? Aku selama ini diam, bukan berarti aku takut. Tapi saat itu aku masih bisa menahan emosiku. Namun, jika sekiranya emosiku sudah tidak terbendung, ya buat apa di tahan? Yang ada malah membuat penyakit saja untuk kita. Kalau aku lebih baik diungkapkan, biar hati merasa lega," jawab Bu Euis panjang lebar.
Winda, yang mendengar perdebatan mereka gegas membayar apa yang sudah aku ambil dari gerobak sayur dan bergegas pulang
"Bu Euis, kamu ini ya benar-benar ya. Memang berapa sih hutang aku sama kamu, nggak nyampe satu juta juga bukan? Tapi kenapa bahasanya, sudah seperti aku punya hutang puluhan juta saja ya?" Mbak maya tidak terima dengan apa yang Bu Euis katakan barusan.
Ia malah menyepelekan masalah nominal hutang yang ia punya. Tapi walaupun menganggap sedikit, tetap saja dia nggak membayar hutangnya itu.
"Mbak, kalau menurut Mbak hutang ke aku itu sedikit, ya bayar dong! Biar aku juga bisa bayar cicilan aku," pinta Bu Euis,, sambil menengadahkan tangan.
__ADS_1
"Ini mah sudah menyepelekan hutang, tapi nggak ada penyelesaian," omelku kemudian.
"Ih memang dasar kamu ya, mulutnya sudah blong nggak bisa direm. Ini aku bayar dua ratus ribu dulu, sisanya nanti sore suamiku mau transfer," sungutnya, sambil melempar uang empat lembar lima puluh ribuan.
Dasar Mbak maya, tadi saat aku minta baik-baik ke rumahnya tidak mau memberi, tapi pas aku ngoceh di depan warga baru ia masu kasih. Masa iya sih, aku mesti meminta pembayarannya di depan umum terus, kan nggak lucu. Seakan aku ini seorang yang suka membongkar aib orang.
setelah Bu Euis mendapatkan uangnya ia gegas berbelanja sayur dan pulang ke rumahnya.
Winda yang melihat itu hanya menggeleng kepala kecil, karena setelah pergi dari kerumunan ibu ibu, Winda bersembunyi di balik pohon kelapa. pinggir jalan untuk melihat apa yang sudah terjadi. ia tak mau Melihat langsung di sana, karena pasti akan jadi kena sasaran untuk mbak Maya meminjam uang kepadanya.
__ADS_1
bukan satu dua kali mbak Maya meminjam uang tapi sudah Sering, bahkan kebanyakan tidak di bayar.
gegas Winda kembali ke warung menyerahkan pesanan Ibunya, saat yang lain sibuk memasak Winda sibuk kembali menulis novel, melihat pengumuman juara, beberapa Minggu yang lalu. hati Winda meras ketar ketir, pasalnya baru sekarang ia mengikuti lomba menulis, biasanya ia hanya menulis novel. tanpa mengikuti lomba namun karena Ia ingin mendapatkan uang lebih untuk biaya kuliah si kembar kelak, Rupanya saat Winda membuka pengumuman Juara terdaftar juara kedua dengan akun pena Winda desmaya. yang merupakan akun miliknya. tak hentinya Winda mengucapkan Syukur.
gegas Winda memberitahu kepada kedua orang tua serta bibinya, mereka tak henti hentinya mengucapkan syukur. juara dua dengan nominal $3000 jika di rupiahkan setara dengan 47 juta.
Sungguh pencapaian yang fantastis, karena kedua Adiknya sudah memasuki kelas 3 SMK, tinggal menunggu beberapa bulan Lagi kelulusan. Winda memutuskan menabung semua uang itu. untuk biaya kuliah adiknya. dan membeli sebuah Tanah untuk di kelola oleh bapak Winda dan beberapa orang yang masih menganggur, untuk anak muda kebanyakan sudah bekerja di pabrik..
bersambung
__ADS_1