
"Eliza, aku mohon padamu turuti perkataannya, itu adalah anakku yang diambilnya" ucap seorang wanita sambil menangis tersedu-sedu.
Namun, Eliza yang tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya bisa menjawab "Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku, sebelumnya aku memang sudah pasrah jika ingin dibawa oleh mereka".
"Jika kau memang pasrah, lalu kenapa kau malah menyerang balik kepada mereka?" teriak seorang pria yang kesal karena istrinya juga ikut diambil oleh pasukan Zimos.
"A-aku tidak tahu" Eliza pun menitikkan air matanya ditengah desakan antara warga kota dengan pasukan Zimos.
"Sistem pertahanan mutlak akan aktif ketika Anda akan diserang" suara itu muncul kembali di telinga Eliza.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku?" tanya Eliza yang berusaha mencari jawabannya.
"Aku adalah sistem pertahanan mutlak..! Tuan Leon yang menggunakan sihir ini kepada Anda sebagai pelindung yang menggantikannya ketika tidak sedang bersama Anda" jawab suara tersebut.
"Leon? Bagaimana dia melakukannya? Tapi, aku tidak menginginkan perlindungan ini jika tidak bisa melindungi mereka" Eliza ingin menghilangkan pelindung ini meskipun sebenarnya dia sangat senang mengetahui anaknya begitu kuat sampai-sampai bisa membuat sihir seperti ini untuknya.
"JIka Anda tidak menginginkan sistem pertahanan mutlak, aku bisa memindahkannya ke objek lain atas persetujuan Anda" ucap suara tadi.
Suara itu seperti sistem yang bersama Leon, tapi itu hanya bisa merespon dengan menjawab apa yang ditanyakan saja dan memberikan opsi jawaban dari pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Eliza merasa begitu bersalah atas apa yang terjadi kepada semua warga kota.
Dia lalu bertanya, "Kau bilang tadi aku bisa memindahkan perlindungan ini kepada objek lain, 'kan? Apakah bisa membuat perlindungan untukku dan seluruh warga kota?".
"Aku bisa memindahkan perlindungan kepada objek lain tapi tidak akan bisa lagi melindungi objek pertama, yaitu Anda" jawab suara tersebut.
Eliza sekarang berada di dalam dilema besar, pilihan antara menyelamatkan hidupnya atau warga kota yang selama ini sudah hidup berdampingan dengannya meskipun sering kali dia dihina dan dicaci maki oleh mereka.
Setelah berpikir panjang, Eliza akhirnya memutuskan untuk melindungi warga kota meskipun harus kehilangan nyawanya.
"Apakah Anda ingin memindahkannya sekarang?" tanya suara itu.
"Mmm, pindahkan sihir pertahanan ini untuk seluruh warga kota, apakah kau bisa melakukan itu?" tanya Eliza.
"Tidak masalah, yang penting mereka tidak terlalu mendapatkan luka yang serius" jawab Eliza.
"Dimengerti, aku akan berpindah dalam hitungan 1.. 2.. 3.." dan tubuh Eliza pun tiba-tiba mengeluarkan cahaya berwarna biru yang kemudian cahaya itu pun berpencar dan memasuki tubuh seluruh warga kota yang lain.
"Cling.. Cling.. Cling.." seluruh warga kota kecuali Eliza kini sudah memiliki sistem pertahan yang tidak mutlak.
__ADS_1
Luka-luka yang mereka dapatkan tadi, kini sudah pulih sepenuhnya.
"Proses perpindahan selesai, mulai sekarang Anda sudah tidak terlindungi" dan suara itu pun tidak terdengar lagi oleh Eliza.
"Mmm, ini lebih baik" Eliza tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati pasukan Zimos.
"Hehe, begitu lebih baik..!" ketua pasukan lalu menyuruh beberapa orang untuk membawa Eliza.
Warga yang menjadi sandera termasuk anak kecil tadi pun dilepaskan olehnya.
Lalu, setelah Eliza berada dicengkeraman pasukan Zimos, ketua mereka melambaikan tangan yang berarti musnahkan seluruh kota budak ini beserta orang-orang didalamnya.
"Tunggu, kau sudah mendapatkan aku..! Kumohon jangan sakiti warga kota ini" pinta Eliza kepada ketua pasukan itu.
Tapi, adik dari orang yang menjadi korban Eliza tadi masih menyimpan dendam kepadanya.
Karena sudah tidak bisa menahan emosinya, dia pun melesat ke arah Eliza dengan belati di tangannya dan bersiap untuk menghujam jantungnya.
Lalu, "Craaat.." dengan wajah yang sangat puas, dia pun menusukkan belati tersebut tepat di jantung Eliza dan membunuhnya secara instan.
__ADS_1
Darah pun bermuncratan saat belati tersebut dicabut dari dadanya.
Ketua pasukan Zimos pun menganga lebar, karena kebodohan anak buahnya itu mereka semua terancam oleh kemarahan Zimos.