
Keesokan harinya..
“Boom..” energi yang meledak dari proses pembuatan obat yang sudah selesai pun membangunkan semua orang di dalam ruangan tersebut.
Linting dan yang lainnya segera terbangun karena mengira telah terjadi penyerangan.
“Siapa itu?” ucap Linting.
Dia melihat ke seluruh arah dan tidak menemukan seorang pun yang mencurigakan.
Dia juga tidak merasakan adanya aura orang lain yang hadir di dalam ruangan ini.
“Oh maafkan aku membuat kalian semua terbangun” ucap Leon dengan wajah yang tampak kelelahan setelah semalaman mengalirkan energi sihirnya secara terus menerus.
“Leon, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak beristirahat dan sekarang malah terlihat seperti mayat hidup?” tanya Erlynn yang khawatir dengan Leon karena dia terlihat pucat.
“Hehe, tenang saja..! Aku masih punya pil penyembuhan ini, ‘kan” jawab Leon lalu dia segera menelan pil penyembuhan 100 persen buatannya untuk membuatnya kembali bugar.
“Leon, apa itu?” tanya Linting saat melihat ke arah botol kecil yang mengeluarkan aroma yang sangat harum hingga memenuhi seluruh ruangan.
Dengan menghirup aromanya saja, energi sihir di tubuh mereka seperti terisi penuh kembali.
“Oh, ini adalah pil buatan terbaruku..! Sambutlah, pil keabadian..!” ucap Leon sambil mengangkat botol yang berisi obat tersebut.
“Pil Keabadian?” tanya Erlynn sambil memiringkan kepalanya.
Ternyata mereka semua tidak ada yang tahu tentang istilah keabadian, karena yang mereka tahu adalah tidak adanya konsep keabadian di dunia ini.
** Re: Sayang sekali\, rencana ingin membanggakan diri Anda gagal karena mereka tidak ada yang tahu istilah keabadian.
“Sistem, kau jangan ikut-ikutan mengejek aku” gumam Leon sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
“Ehem, apa benar tidak ada sama sekali pengetahuan yang berhubungan dengan hidup abadi di dunia ini? Atau tidak bisa mati, begitu?” tanya Leon.
“Tidak bisa mati? Apakah babak pertama di turnamen itu sudah merusak kepalamu?” tanya Eric dengan nada ketus.
“Ya, Leon, di dunia ini benar-benar tidak ada yang tidak bisa mati..! Semuanya pasti akan mat..” tidak sempat Jaffar menyelesaikan ucapannya, Leon menyentilkan pil keabadian ke arah mulut dan pil itu pun langsung tertelan oleh Jaffar.
“Glek.. woi, apa yang kau lakukan?” teriak Jaffar sambil mengelap mulutnya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima” Leon menghitung waktu pil tersebut untuk bekerja.
Lalu, Pedang yang dipegang oleh Frel dengan cepat diambil oleh Leon, kemudian, “Craatt..” dia pun menusuk titik vital Jaffar berkali-kali yang sudah pasti menyebabkan kematian.
“Bruk..” tubuh Jaffar terkulai lemas tak bernyawa di lantai dengan darah yang mengalir deras.
Sontak saja semua orang yang tadi tidak sempat merespon gerakan Leon, kini terkejut dengan tubuh Jaffar yang sudah tidak bernyawa.
“Leon, apa yang telah kau lakukan?” teriak Frel panik.
“Satu..” ucap Leon sambil menghitung tanpa mempedulikan amarah teman-temannya.
Linting yang pernah melihat dan menghadapi secara langsung kekuatan dari Leon, percaya bahwa obat itu akan benar-benar bekerja, makanya dia tidak berkata apapun saat Leon membunuh Jaffar.
“Oh, tenanglah..! Obat itu akan segera bekerja, dua..” Leon masih menghitung, dan hanya dalam hitungan 2 detik, darah yang sudah mengalir dari tubuh Jaffar pun dengan cepat kembali ke dalam tubuhnya dan menutup semua luka tusukan yang dialami Jaffar.
Tak lama kemudian, tubuh Jaffar kini sudah terlihat seperti semula tanpa noda sedikit pun.
Dia pun terbangun dan duduk dengan wajah yang seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan.
“A-aku.. masih hidup?” tanya Jaffar sambil menyentuh wajah dan seluruh tubuhnya.
Eric dan yang lainnya pun membuka mulut mereka lebar-lebar seakan tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Frel yang paling tidak percaya dengan kekuatan obat keabadian itu kini sangat yakin dengan khasiatnya.
“Ti-tidak mungkin..! Bagaimana kau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati?” tanya Eric dengan wajah yang ketakutan.
__ADS_1
“Yah, sebenarnya dengan bantuan dari air ini..!” Leon menunjukkan sebuah botol yang berisikan air dari danau lembah tak terbatas.
“Ini adalah?” tanya semua orang.
“Air yang penuh dengan kenikmatan” jawab Leon dengan ekspresi wajah yang sedikit aneh.
“Walaupun aku tidak mengerti, tapi aku yakin kau sudah melakukan hal yang sangat luar biasa..! Jika Zimos tahu akan hal ini, dia pasti akan segera memerintahkan pasukannya untuk menangkapmu dan dengan tuduhan menentang hukum dunia ini, dia akan menjadikanmu budak pembuat obat baginya lalu hanya akan menguntungkan dirinya sendiri..!” ucap Linting sambil memainkan janggutnya.
“Haha, itupun kalau mereka bisa menangkapku, ‘kan? Sudahlah, apa yang aku berikan tidak perlu kalian khawatirkan bagaimana nantinya..! Yang terpenting adalah keselamatan diri sendiri, karena aku yakin nanti akan terjadi sesuatu yang tidak terduga” ucap Leon dengan wajah yang sangat yakin karena dia ingat soal Moris yang dikirim untuk membunuhnya.
Karena dia gagal, siapapun yang mengirimnya pasti tidak akan tinggal diam.
“Aku melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga dan untuk keselamatan kalian juga..! Karena aku punya firasat buruk tentang si pak tua Zimos itu” ucap Leon dengan tatapan yang sangat serius.
“Hmm? Memangnya kenapa dengan pak Zimos?” tanya Erlynn dengan polosnya.
“Sudahlah, yang terpenting sekarang kalian sudah tahu efek dari pil keabadian ini dan setiap satu butir pilnya akan menghidupkan kalian kembali satu kali..!” Leon menjelaskan kegunaan dan efek dari pil keabadian secara mendetail agar tidak salah informasi.
“Jadi, gunakanlah saat terdesak dan sebisa mungkin ketika kalian akan mati, sembunyikan tubuh kalian dengan terjun ke jurang atau melompat ke air terjun agar siapapun yang mengejar mengira bahwa kalian sudah benar-benar mati..!” sambung Leon.
“Baiklah, aku akan percaya kepadamu” Erlynn adalah orang yang pertama kali dari semua yang ada di sana berkata percaya kepada Leon.
“Kalau begitu, ayo lekas berangkat karena waktunya sudah hampir tiba” ucap Linting mengingatkan.
Tim Leon pun sudah bersiap untuk berangkat menuju arena pertarungan di babak selanjutnya.
Sebelum berangkat, Leon menyuruh semua orang termasuk Linting untuk menyimpan pil keabadian yang masing-masing orang diberikan 2 pil sebagai cadangan.
“Apapun yang terjadi, tetaplah bersama..!” ucap Eric yang masih merasa bahwa dia adalah ketua dari tim ini.
“Hoaam.. kalau sudah selesai sok kerennya ayo segera berangkat..! Kita sudah hampir terlambat untuk babak kedua” ucap Leon mengejek Eric yang sedang mencari muka kepada Erlynn.
“Huh, kalau kau dalam bahaya, aku tidak akan menolongmu..!” ucap Eric meskipun dia tahu Leon tidak akan membutuhkan kekuatannya untuk menolong.
Lalu, dengan penuh percaya diri maksimal, mereka pun berangkat berbekal pil penyembuh 100 persen dan pil keabadian di saku.
__ADS_1
“Dengan begini, setidaknya aku bisa leluasa bertarung tanpa harus memikirkan keselamatan mereka” gumam Leon yang berjalan paling depan dengan wajah yang sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada semua orang.