
"Wush.." Leon tiba di seberang gerbang dan dia melihat seluruh tempat itu penuh dengan kabut hingga membatasi penglihatannya.
Dia kemudian menutup portal teleportasi lalu berjalan secara perlahan ke arah depan, tapi tetap saja tidak menemukan apapun di sekitarnya selain kabut tebal tersebut.
"Sistem, ada di mana aku sekarang?" tanya Leon karena kebingungan.
** Re: Anda berada di sebuah benua yang terpencil yang berada 10 ribu kilometer ke arah selatan dari tempat Anda semula.
"Benua? Benua apa?" tanya Leon.
** Re: Benua darah campuran.
"Hmm, nama yang unik untuk sebuah benua" Leon pun melanjutkan langkah kakinya lurus ke depan.
Hingga setelah berjalan selama 10 menit, akhirnya dia melihat sebuah cahaya dan segera menghampirinya.
Saat Leon mendekat, cahaya tersebut ternyata berasal dari seorang pria tua yang membawa sebuah lampu minyak.
"Permisi tuan, apakah ada desa atau kota yang dekat dari sini?" tanya Leon dari belakang pria tua tersebut.
Lalu pria tua itu pun berhenti dan menunjuk ke arah kanan tanpa berkata apapun.
"Baiklah, terima kasih" lalu Leon mengikuti petunjuk dari pria tua tersebut dan melanjutkan perjalannya ke arah kanan.
Namun, karena rasa penasarannya, Leon pun menoleh sekali lagi untuk melihat pria tua tadi dan ternyata dia sudah tidak terlihat.
"Hmm, mungkin karena kabut yang tebal ini" gumam Leon karena sudah tidak melihat pria tua tadi.
Perjalanan pun dilanjutkan hingga dia akhirnya keluar dari area yang penuh kabut tersebut.
Dia melihat ke sekelilingnya, tempat itu benar-benar berbeda dari yang pernah dia lihat sebelumnya.
Pepohonan yang besar, tumbuhan yang langka tapi tidak ada yang memperebutkannya, dan juga bentuk bangunan unik yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Benua darah campuran, ya? Apakah orang-orang yang tinggal di sini sama seperti namanya?" Leon penasaran dan dia pun mempercepat langkahnya untuk segera tiba di desa ataupun kota yang ada di arah dia berjalan sekarang.
20 menit berjalan kaki dan akhirnya dia berpapasan dengan seseorang yang sedang menunggangi kuda.
Namun anehnya, orang tersebut memiliki telinga yang panjang dengan rambut berwarna pirang emas dan sudah pasti Leon tidak pernah melihat orang dengan ciri-ciri seperti itu sebelumnya.
"Hmm, Elf?" gumam Leon dalam hati lalu dia tetap melanjutkan langkahnya hingga akhirnya orang tersebut melewati Leon tanpa menegurnya sama sekali.
"Benar, itu benar-benar Elf..! Wow, aku tidak tahu ternyata ada ras lain selain manusia di dunia ini" gumam Leon.
** Re: Peringatan..! Ras Elf bukanlah ras yang bersahabat terhadap makhluk selain ras mereka karena di benua ini merekalah yang menduduki puncak sebagai ras superior.
"Haha, sepertinya di semua dunia sama saja..! Karena di duniaku yang sebelumnya, ras Elf memang di definisikan seperti itu" ucap Leon.
Dia pun semakin penasaran dengan kota yang menjadi tujuannya saat ini dan semakin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya dia tiba di pintu gerbang yang sepertinya terdapat sebuah kota besar di dalamnya.
Seperti biasanya, setiap yang akan masuk ke dalam sebuah kota kerajaan pasti akan diperiksa terlebih dahulu oleh petugas pemeriksa.
Leon pun ikut berbaris di barisan yang terdiri dari beberapa manusia dan ras lainnya, mereka mengantre untuk diperiksa.
"Hei, apa kau sudah dengar kabar tentang si tua bangka Lee?"
"Memangnya ada apa dengannya?"
"Menurut kabar yang kudengar, dia tadi malam diserang oleh sekawanan bandit dan barang-barang dagangannya pun dirampas oleh mereka"
"Wah, sepertinya dia sudah mendapatkan karmanya..! Haha, ini benar-benar kabar yang sangat enak untuk didengar"
beberapa orang yang berbaris di depan dan di belakang Leon sedang ngerumpi dan dia berada di tengah-tengah mereka, sehingga membuatnya mendengarkan semua obrolan mereka.
"Haduh, ternyata ngerumpi itu memang tidak bisa lepas dari siapapun" ucap Leon dan sepertinya mereka pun mendengar ucapannya.
"Hei kau, apa maksudmu dengan ucapan itu? Dan kenapa kau ikut-ikutan mendengar obrolan kami?" ucap pria kekar yang berbaris di depan Leon.
"Hmm, siapa? Aku? Bagaimana bisa aku tidak mendengar obrolan kalian dengan posisiku seperti ini?" ucap Leon yang menegaskan bahwa dia ada di antara mereka.
Namun, mereka pun baru menyadari bahwa ucapan Leon itu benar.
Mereka tidak menyadari keberadaan Leon yang sedari tadi ada di antara mereka.
"Ah sudahlah, lagi pula aku tidak peduli siapa yang sedang kalian bicarakan" jawab Leon santai karena dia tidak tahu siapa yang sedang mereka bicarakan.
"Kau, ikut kami..!" ucap salah satu dari kelompok orang yang ngerumpi tadi.
"Status..!"
\=\=\=STATUS\=\=\=
Nama: Jeng Koal
Kasta: Rakyat
Level Atribut: Fisik (4); Sihir (6);
Status Mana: 2.100 / 2.500
Poin: 0
Rim: 675
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=STATUS\=\=\=
__ADS_1
Nama: Seymour
Kasta: Budak
Level Atribut: Fisik (5); Sihir (3);
Status Mana: 200 / 500
Poin: 0
Rim: 691
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hehe, baiklah..!" Leon pun tidak menolaknya dan dia pun mengikuti mereka dengan wajah yang tenang.
Mereka pun masuk ke sebuah hutan dan berjalan agak jauh dari pintu masuk kota tersebut.
Setibanya di lokasi yang sekiranya tidak ada siapapun akan mendengarnya, salah satu dari mereka langsung berbalik menghadap ke Leon.
"Kau, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya..! Kalau kau tidak ingin babak belur, cepat serahkan.." tidak sempat dia berbicara, orang itu dikagetkan dengan Leon yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Leon dengan nada santai.
"Kau.. bukankah kau tadi.." dia pun melihat ke arah temannya dan mengisyaratkan untuk bersiap menyerang Leon.
"Kau pikir sudah bisa sombong hanya karena trik murahan seperti itu?" pria kekar yang bernama Jeng Koal itu pun segera merapalkan mantera sihir.
"Wahai Elf yang agung, berikan aku kekuatan dalam bentuk senjata..! Heavy mace..!" dan sebuah gada pun muncul di hadapan pria tersebut lalu dia maju untuk menyerang Leon.
"Hehe, kau tidak akan bisa kemana-mana..!" ucap pria yang bernama Seymour saat merangkul tubuh Leon dari belakang dan menahannya agar Leon tidak bisa lari saat Jeng Koal memukulnya.
"Aku tidak tahu ternyata orang-orang di benua darah capmurni sangat mudah tersinggung" ucap Leon sambil tersenyum.
"Berisik..! Kau yang sudah mencari gara-gara lebih dulu, dan lagi nama benua ini bukan capmurni, tapi campuran..!" teriak Jeng Koal dengan sangat emosi dan dia pun sudah mengayunkan gada miliknya dengan sangat kencang ke arah Leon.
"Body up..!" dan tubuh Leon pun kini sudah menjadi sangat keras.
"Krek.. Praaak" gada milik Jeng Koal pun hancur saat menghantam bahu Leon, sedangkan Leon masih berdiri tegap.
"A-apa yang terjadi?" tanya Jeng Koal keheranan dan juga panik karena senjata miliknya yang sangat dibanggakannya malah hancur saat menghantam tubuh Leon.
"Kalau sudah tidak ada urusan lagi, aku akan kembali mengantre, ya..!" ucap Leon yang kemudian melepaskan rangkulan tangan Seymour di tubuhnya dengan sangat mudah.
Mereka berdua pun menganga dengan kekuatan yang dimiliki Leon, dan merasa sepertinya hari ini adalah hari sial dan juga hari keberuntungan mereka.
Sial karena mereka meremehkan Leon sehingga membuat senjata milik Jeng Koal hancur dan juga beruntung karena Leon tidak membalas mereka dengan pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.
"Si-siapa orang itu?" tanya Seymour.
__ADS_1
"Entahlah, tapi yang jelas orang itu bukanlah orang yang bisa disinggung sembarangan..! Aku juga tidak tahu siapa dia karena topeng yang digunakannya" jawab Jeng Koal, dan mereka berdua pun bernafas lega saat Leon sudah tidak terlihat lagi.