
Leon dan satu murid dari tim Raisin adalah peserta terakhir.
Jika Leon menang, maka skor di antara kedua tim akan seimbang dan Leon pun harus melakukan pertandingan kedua dengan lawannya tersebut untuk menentukan skor.
“Hehe, salam kenal, namaku Leon..!” ucap Leon menyapa lawannya sambil berjalan ke arena.
Namun, salam dari Leon tidak dijawab oleh lawannya yang bernama Gildard dan dia malah memberikan wajah kesal kepadanya.
“Ya sudah kalau tidak mau berkenalan dengan calon juara” ucap Leon, lalu dia menarik kembali tangannya yang sudah diulurkan untuk berjabat tangan tadi.
“Kalian berdua sudah siap? Peraturan pertarungan ini masih tetap sama, tidak akan dihentikan sebelum waktu habis atau salah satu dari kalian menyerah..! Dan jika terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian, tidak akan ada pertanggung jaw..” belum sempat wasit menyelesaikan ucapannya, Gildard langsung menyela dengan ucapan yang sangat angkuh.
“Sudahlah, cepat mulai saja..! Aku sudah tahu semua peraturan-peraturan konyol itu..!” bentaknya dan wasit yang terlihat santai itu pun mengangguk mengiyakan.
“Lagi pula, pertarungan ini akan selesai dengan cepat” sambung Gildard dengan tatapan yang sangat tajam dan fokus kepada Leon.
“Hei hei, tidak usah terlalu serius begitu..! Aku ini bukanlah orang yang berbahaya” ucap Leon.
“Tidak berbahaya kepalamu, aku ini punya kemampuan untuk mendeteksi tingkat kekuatan lawanku..! Sedangkan tingkat kekuatanmu sama sekali tidak bisa aku deteksi, dan itu yang membuatku cemas” ternyata, meskipun Gildard bersikap sok kuat seperti itu, dia sangat waspada terhadap Leon.
“Jika sudah siap, 3.. 2.. 1.. pertarungan dimulai..!” sesaat wasit memberikan sinyal untuk memulai pertarungan, Gildard yang terlalu waspada langsung saja menyerang Leon dengan sihir terkuatnya.
“Bantah hukum langit dan dunia, Ultimate lightning..!” teriak Gildard sambil mengarahkan tangannya kepada Leon yang masih berdiri santai.
“Zzzzttt.. Gelegaarrr..” sebuah rangkaian petir dengan kekuatan besar langsung menyambar Leon berkali-kali.
Sihir itu benar-benar menghasilkan suara dan ledakan yang amat besar sampai-sampai semua orang menutup telinganya.
“Leon, apakah dia akan baik-baik saja?” gumam Erlynn yang mengkhawatirkannya.
Petir itu sudah menyambar Leon selama 15 detik dan menyebabkan residu listrik yang masih tertinggal di arena.
“Heh, aku pikir kau berbahaya karena tingkat kekuatanmu tidak terdeteksi, ternyata hanya sampah yang tidak bisa apa-apa” ucap Gildard saat serangannya selesai.
__ADS_1
“Hmm, sihir dengan kekuatan elemen api level 4, ya? Kau tahu, itu sungguh menggelitik..!” Leon yang masih sadar dan tanpa terluka sedikitpun sontak mengejutkan semua penonton termasuk Zimos, lalu dengan santainya dia berjalan ke arah Gildard.
“Yo, aku masih hidup nih, kau punya serangan apa lagi?” tanya Leon sambil tersenyum tipis.
“Ti-tidak mungkin..! Aku yakin bahwa petir itu mengenai tubuhnya dan tidak mungkin meleset” gumam Gildard yang masih syok.
“Hei, haloo? Apa ada orang di sana?” Leon melambaikan tangannya mencoba berkomunikasi dengan Gildard yang masih termenung.
“Haduh, ya sudah kalau begitu sekarang giliranku menyerang..! Speed up..! Body up..! Magic up..! Agility up..!” Leon hanya menggunakan sihir peningkatan dan belum ingin menunjukkan kekuatan aslinya.
Serangkaian sihir yang sangat cepat tentu saja membuat orang-orang keheranan, bagaimana Leon bisa melakukannya.
“Di-dia menggunakan sihir tanpa merapalkan mantera?”
“Mmm, aku pikir aku yang salah mendengar, ternyata kalian juga menyaksikan hal yang sama”
“Serangkaian cahaya yang mengandung energi sihir itu, tidak mungkin dia hanya menggertak..!”
“Siapa sebenarnya bocah itu?”
“Tuan Zimos, mungkinkah dia?” ucap Titus yang mulai mencurigai Leon.
“Aku juga berpikiran yang sama..! Jika memang dia pelakunya, segera hentikan pertarungan dan keluarkan dia dari arena lalu tangkap dia..!” ucap Zimos memerintahkan Titus untuk mempersiapkan pasukan kerajaannya.
“Orang dengan kekuatan sebesar itu, tidak boleh ada di dunia ini..!” gumam Zimos sambil mengepalkan tinjunya dengan keras.
Di dalam arena..
__ADS_1
“Buk.. Buk.. Buk..” Leon menghajar Gildard dengan sangat mudah dan bahkan tanpa perlawanan darinya.
“Ahak.. aku tidak bisa mengikuti kecepatannya..! Sial..!” ucap Gildard saat terjatuh di lantai arena setelah di hajar beberapa kali oleh Leon.
“Selain itu, pukulannya sama sekali tidak terdapat keraguan..! Dia berniat untuk membunuhku..!” Gildard berusaha berdiri untuk mencoba sekali lagi melawan Leon.
“Hoho, masih bisa bangun?” Leon tersenyum tipis.
“Sekarang, giliran kau yang menyerang..! Ayolah, aku ingin melihat seluruh kemampuan lawanku..!” ucap Leon, lalu dia duduk bersila untuk menunggu Gildard menyerangnya.
“Bajingan..! Jangan besar kepala dulu kau..!” teriak Gildard.
Dia sebenarnya ingin menyerah karena tidak mungkin baginya bisa melawan monster seperti itu.
“Serangan pamungkas saja tidak berefek apapun baginya, bagaimana bisa seranganku yang lainnya bisa melukainya?” saat itu Gildard ingin mengangkat tangannya, tapi cepat dihentikan oleh rekan satu timnya yang mengancam dirinya.
“Gildard, ingatlah kalau kau kalah, kita semua akan dikeluarkan dari akademi..!” teriak Ricardo dari sisi arena.
Gildard pun menurunkan kembali tangannya lalu mengepalkan tinjunya karena dia kesal dengan ancaman itu.
“Bagaimana caranya aku bisa menang dari orang itu?” gerutunya sambil menatap tajam ke arah Leon yang sedang menggali emas di hidungnya dengan jari kelingking.
“Ah mungkin bisa dengan cara itu..!” Gildard lalu duduk bersila dan terlihat sedang bersemedi.
“Hmm? Sedang apa dia?” gumam Leon.
Tiba-tiba, sebuah sengatan listrik mengalir dari tubuh Gildard dan segera menyelimutinya.
“Zzzzzttt.. Zzzzzttt.. Zzzzzttt..” kini, tubuh Gildard sudah sepenuhnya tertutupi oleh listrik.
“Berikan aku perlindungan, Thunder god’s armor..!” teriak Gildard.
“Gelegaaarr...” petir besar menyambarnya dan sebuah baju zirah yang terbuat dari aliran listrik petir tersebut pun muncul dan menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
“Hoo, ternyata kau seorang pengguna kontrak monster juga?” gumam Leon yang tersenyum senang karena akhirnya Gildard mulai serius.