
Sebuah pedang yang bilahnya terbuat dari api yang menyala-nyala pun keluar dari buku kecil yang dipegang oleh Eric.
“Cess.. Cess..” suara api yang bersentuhan dengan sisa air hujan yang sudah mulai reda sejak Leon tiba.
“Hoho, boleh juga” ucap Leon sambil tetap menyeruput teh hangatnya.
Rico dan rekan satu timnya terlihat sangat terkejut dengan apa yang keluar dari buku tersebut.
Mereka tidak menyangka relik langka seperti itu bisa ada di tangan Eric yang hanya kutu buku dan lemah.
“Sekarang, majulah..!” tantang Eric.
“Cih, jangan sombong hanya karena memiliki relik itu..! Sampah tetaplah sampah, tidak peduli senjata sebagus apapun yang dimilikinya..!” teriak Rico yang kesal karena menurutnya Eric sudah terlalu sombong.
Rico dan teman-temannya langsung menyerang tanpa henti ke arah Eric.
Serangan fisik, serangan sihir, hingga serangan mental semuanya tidak ada yang bisa memberikan goresan kepada Eric.
Setiap kali Rico dan teman-temannya akan mendaratkan serangan mereka, api dari pedang relik yang dipegang oleh Eric langsung menghentikannya.
“Sial, pedang itu sungguh mengganggu..!” kutuk Rico dalam hatinya.
“Hehe, bagaimana? Kalian sudah menyerah?” ucap Eric dengan nada sedikit sombong.
__ADS_1
“Cih, kau hanya beruntung..! Berikutnya kau tidak akan bisa semudah itu menghindar” jawab Rico kesal.
Di sisi lain, Eric benar-benar berusaha terlihat kuat untuk mengintimidasi lawannya walaupun sebenarnya pedang relik itu sangat menguras energi sihirnya.
“Sial, aku harus cepat meminum pil penyembuhan” Eric menyelipkan tangan ke saku bajunya untuk mengambil pil penyembuhan.
Tapi, Rico yang curiga dengan gerak-geriknya, kembali menyerang Eric tanpa memberikan celah sedikitpun.
Hingga akhirnya Eric benar-benar berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
“Haaah.. Haaah..” Eric sudah mencapai batasnya, dia tidak akan bisa menahan lebih lama lagi dalam penggunaan pedang relik tersebut.
“Yo Eric, ada apa? Ke mana perginya kesombonganmu yang luar biasa tadi?” ucap Rico sambil tersenyum licik.
Eric tidak akan punya kesempatan untuk meminum pil penyembuhan, karena setiap kali dia meraih saku bajunya, Rico dan teman-temannya langsung menyerangnya secara membabi buta.
Melihat pancaran api dari pedang relik yang sudah mulai redup, Rico semakin bersemangat untuk menyelesaikan pertarungan ini dan menyingkirkan Eric seperti sebelumnya.
Hingga akhirnya pedang relik tersebut menghilang dan buku yang menjadi wadahnya kembali ke saku Eric, lalu dia pun terduduk di cabang pohon besar tempatnya bertarung sedari tadi.
Dia benar-benar sudah kehabisan energi sihir dan tidak bisa bergerak bahkan untuk mengambil pil penyembuhan yang ada di saku bajunya.
“Leon, apakah tidak sebaiknya kita bantu saja Eric?” ucap Erlynn yang mulai khawatir dengan situasi yang dihadapinya saat ini.
“Untuk apa? Ini penting baginya, karena percayalah, dia sekarang sedang mempertaruhkan harga dirinya di hadapanmu..!” jawab Leon santai.
__ADS_1
“Tapi, dia bisa mati jika dibiarkan seperti itu..!” ucap Erlynn.
“Tenang saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi..! Tapi, setidaknya dia akan menilai kemampuan dirinya sendiri setelah pertarungan ini” sambut Leon santai.
Rico yang sedari tadi sudah ingin menyudahi pertarungan ini agar dia bisa segera mengembalikan kekuatannya sebelum tim lain datang menyergap mereka.
“Kalau saja aku masih memiliki gelang tangan itu” gumam Eric yang sudah hampir putus asa.
“Cih, mulut besarmu tidak sesuai dengan kemampuanmu..! Kalau begitu, aku akan mengirimmu pulang sekarang juga..!” Rico merapalkan sebuah mantera sihir dengan elemen api untuk menghabisi Eric.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa Eric sudah kehilangan gelang tangannya.
“Bakarlah musuhku hingga menjadi debu, Fire ball..!” dan bola api besar pun segera melayang ke arah Eric yang sudah pasrah jika harus mati di sini.
“Eric..!” Erlynn berteriak lalu segera menggunakan sihir cahayanya untuk bergerak dengan cepat ke arah Eric dengan harapan masih sempat untuk menyelamatkannya.
Tapi, bukannya melindungi Eric, Erlynn pun hampir ikut menjadi korban bola api tersebut karena kekuatannya masih berada di level 2.
“Haduh, wanita memang tidak sabaran ya” ucap Leon sambil menepuk dahinya.
Lalu, dia mengarahkan tangannya kepada bola api yang sedang melaju ke arah Eric tersebut.
“Jangan bilang aku tidak pernah membantumu, ya..! Reverse..!” ucap Leon, dan seketika itu juga, bola api tersebut berbalik arah menuju Rico dengan kecepatan yang luar biasa.
“Boom..” Rico dan teman-temannya tidak sempat menghindar hingga mereka pun kalah telak dan langsung dikirim pulang ke akademi Jalec berkat gelang tangan yang mereka kenakan.
__ADS_1
“Hmm, setidaknya aku tahu bahwa gelang tangan itu berfungsi” ucap Leon, lalu dia kembali menyeruput teh hangatnya.