The Absolute System

The Absolute System
Membereskan Kekacauan!


__ADS_3

Malam harinya..


 


Leon melihat ke sekelilingnya dan mendapati bahwa timnya hanya berisikan 8 orang termasuk dirinya dan Lily sebagai wakil kapten.


Tapi, tatapan para anggota timnya seakan membenci kehadiran Leon di dalam tim ini.


Mereka masih tidak terima posisi kapten diambil olehnya, yang seharusnya Lily yang lebih layak untuk posisi itu.


“Kalian, apakah ada masalah denganku menjadi kapten baru di tim ini?” tanya Leon dengan tatapan yang tajam kepada anggota timnya yang lain.


Tidak ada yang berani menjawab dan mereka hanya bisa terdiam menunduk karena meskipun mereka tidak menyukai Leon, tapi mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menentangnya.


Melawan Lily saja mereka harus mati-matian dengan menggabungkan kekuatan dan itu juga masih belum bisa memberikan luka yang berarti kepada Lily.


Sedangkan Leon, dengan santainya bisa membuat Lily terpojok dengan luka yang sangat parah.


Dengan kenyataan yang seperti itu,  apakah mereka masih ada keberanian untuk mengatakan rasa kebencian mereka kepada Leon.


“Bagus, memang itu yang aku ingin dengar..! Sekarang, beritahu aku apa yang kalian ketahui tentang senjata yang kalian gunakan untuk berburu monster..!” ucap Leon sambil duduk di sebuah sofa yang menjadi favorit Lily.


Setelah menggali dari anggota timnya sendiri, Leon tidak mendapatkan informasi yang berarti.


Mereka hanya tahu bahwa senjata itu disuplai oleh raja Tokae untuk guild petualang tanpa mereka ketahui dari mana senjata itu berasal.


Tapi, ada satu hal yang membuat Leon merasa kesal, yaitu, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa senjata itu bisa memutuskan rantai reinkarnasi para monster dan membuat mereka tidak akan bisa meningkatkan kekuatan lebih jauh lagi jika monster sudah menjadi suatu hal yang langka.


Leon pun tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, dia pergi meninggal kan asrama tim Thunder Wolf menuju sebuah hutan yang terdapat di belakang kerajaan Rodo.


“Energy tracer..!” Leon melacak keberadaan raja Tokae untuk menanyakan sendiri dari mana dia mendapatkan persediaan senjata pemusnah eksistensi tersebut.


“Legia’s armor..!” agar tidak ketahuan, Leon menggunakan baju zirah Legia untuk menculik raja Tokae.


“Wush..” seperti petir yang menyambar, Leon melesat menuju lokasi raja Tokae saat ini.


Setibanya di sana, dia melumpuhkan seluruh pasukan penjaga yang sedang berpatroli di depan kamar raja.


“Zzeepp..” kini Leon sudah tiba di hadapan raja Tokae yang sedang mencumbu kedua permaisurinya.


“Aku akan meminjam raja kalian sebentar..!” ucap Leon, lalu ia pergi menjauh dari kerajaan Rodo bersama raja Tokae yang hanya mengenakan ****** ***** saja.


“Barrier..!” ucap Leon saat tiba di puncak gunung yang berada di 200 kilometer ke arah utara dari kerajaan Rodo.


Dia membuat sebuah pelindung sihir yang menghapuskan jejak sihir mereka berdua agar tidak bisa dilacak oleh siapapun.


“Si-siapa kau..! Apa kau tidak tahu siapa aku? Pasukanku akan segera menemukanku dan kau akan aku hukum mati..!” teriak raja Tokae dengan kepanikan yang luar biasa saat melihat dengan jelas baju zirah yang dikenakan oleh Leon.


“Aku Legia, raja dari para monster..! Jika kau ingin dirimu dan kerajaanmu tetap hidup, aku akan memberikan satu kesempatan agar kau berhenti membunuh para monster dengan senjata yang kau berikan kepada guild petualang..!” ucap Leon yang suaranya sudah diubah agar tidak dikenali oleh raja Tokae.


“Cih, raja para monster apanya? Kau itu lebih terlihat seperti seorang penipu..! Aku tidak akan...” ucapan raja Tokae terhenti saat melihat tangan kanan Leon yang mengarah ke atas dan kemudian dia melihat sebuah cahaya berwarna merah yang turun dari langit.


“Fire ball..!” Itu adalah ribuan meteor yang sebelumnya dia gunakan untuk menghancurkan kerajaan Terzia saat menghukum Zimos.


“Boom.. Boom.. Boom..” guncangan hebat pun terjadi saat meteor-meteor itu menghantam bumi dengan ledakan yang sangat dahsyat dan meratakan seluruh daratan kecuali tempat Leon dan raja Tokae berdiri saat ini berkat pelindung tadi.


Tidak bisa berkata apapun, raja Tokae hanya bisa terduduk lemas ketakutan dan gemetaran di sekujur tubuhnya.


“Aku tidak sedang meminta kepadamu, itu adalah perintah dariku..! Apakah kau tahu apa yang dilakukan senjata yang kau edarkan itu terhadap para monster?“ ucap Leon sambil menatap tajam dengan nada yang dingin ke arah raja Tokae.


“Maafkan aku, yang aku tahu adalah senjata itu sangat kuat bahkan bisa membunuh monster level tinggi dengan sangat mudah” ucap raja Tokae dengan nada yang bergetar, lalu dia bersujud di hadapan Leon dan berjanji untuk menarik kembali suplai senjata pemusnah eksistensi dan melarang penggunaannya untuk seluruh orang dari kerajaan Rodo.


Leon pun memberitahu efek dari senjata itu kepada raja Tokae dan dia terlihat sangat terkejut dan termenung dan berfikir kerajaannya akan menjadi lemah jika tidak ada sumber untuk meningkat kan kekuatan lagi nantinya.


“Tuan raja monster yang agung, terima kasih karena sudah berbelas kasih dan memberitahu kepadaku informasi penting ini kepadaku” ucap raja Tokae yang masih dalam posisi bersujud.


“Selama kau mengikuti perintahku, aku tidak akan menghancurkan kerajaanmu..! Tapi, jika ada satu monster pun yang kau bunuh lagi dengan senjata itu, aku akan mengubah kerajaanmu menjadi debu..!” bentak Leon, lalu dia pun mencoba mencari informasi tentang dari mana raja Tokae mendapatkannya.


Dia hanya mengatakan bahwa senjata itu dia beli atas saran dari penasihatnya saat ada seseorang yang datang ke aula kerajaan untuk menawarkan kesepakatan perdagangan senjata dengan harga yang tidak murah.


Setelah melihat dengan mata kepala sendiri orang itu membunuh dengan mudah monster yang levelnya lebih tinggi dari yang bisa pasukan guild petualang lawan, dia pun tergiur untuk membelinya dalam jumlah yang banyak tanpa mengetahui efek yang diberikan oleh senjata tersebut kepada monster yang dibunuhnya.


Senjata itu sendiri berbentuk seperti sebuah busur panah dengan anak panah yang bisa dibuat sendiri menggunakan energi sihir dari penggunanya.


Hanya dengan sekali panah, monster dengan kekuatan level 7 akan tumbang, sedangkan untuk monster dengan kekuatan diatas level 7 tidak akan lebih dari 3 kali serangan dari panah sihir tersebut.


Tapi, senjata itu akan menghabiskan energi sihir yang sangat banyak dari penggunanya agar menghasilkan kekuatan yang besar untuk membunuh monster.


Itu makanya, di setiap kerajaan hanya kapten dan wakil kapten dari tim inti saja yang bisa menggunakan senjata ini karena jumlah mana mereka yang sudah terbukti jauh lebih banyak dari anggota guild lainnya.


“Memory read..!” karena tidak ingin mendapatkan informasi yang mengambang, Leon akhirnya melihat sendiri ke dalam ingatan raja Tokae.


Di situ Leon melihat seseorang yang dimaksud oleh raja Tokae menggunakan jubah anti sihir yang sepertinya adalah buatannya sendiri juga.


Hanya saja, dia seperti tidak asing setelah mendengar suara dari penjual senjata tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai melihat informasi yang ada di dalam pikiran raja Tokae, Leon pun membawa dia kembali ke dalam kamarnya.


Dengan keringat yang bercucuran, raja Tokae memerintahkan kepada seluruh pasukannya yang sedang mencari keberadaannya untuk tidak melawan sosok yang menculiknya tadi karena tidak ingin menyulut amarahnya.


Leon pun pergi dari situ dengan kecepatan yang sangat tinggi sampai-sampai tidak bisa dilihat oleh mereka semua.


“Sistem, cocokkan suara yang aku dengar tadi dengan ingatanku..!” Leon ingin tahu siapa pemilik suara yang sekaligus menjadi penjual senjata terkutuk itu.


** Re: Mencari!


2 menit kemudian, sistem pun mendapatkan identitas yang cocok dengan suara tersebut.


Itu adalah Zimos, dia yang menjual senjata pemusnah eksistensi tersebut.


Leon tidak tahu apa tujuan Zimos yang sebenarnya menciptakan senjata seperti itu, yang jelas, dia akan segera mencari keberadaan orang yang telah membunuh ibunya tersebut untuk memberikan siksaan kedua kalinya.


Leon tidak menggunakan sihir pencari karena energi sihir yang sudah hilang dari tubuh Zimos tidak akan bisa dideteksi olehnya.


Jadi, dia akan mencoba trik sihir yang baru dibuatnya 2 menit yang lalu.


“Inception memory read..!” Leon mencoba untuk melihat ingatan Zimos di dalam ingatan raja Tokae yang sudah direkam oleh ingatan Leon.


“Zzeepp..” Leon kini sudah berada di dalam ingatan raja Tokae lalu berjalan perlahan ke arah Zimos yang sedang memegang senjata pemusnah eksistensi.


Leon mencengkram wajah Zimos lalu melihat ingatannya yang penuh kengerian setelah asosiasi miliknya dimusnahkan oleh Leon, belum lagi penderitaan yang dialaminya selama 5 tahun ini hingga akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah senjata.


Dan akhirnya Leon pun tahu tujuan dari Zimos adalah untuk membalas dendam kepadanya.


Zimos berpikir Leon mendapatkan kekuatan besar seperti itu berkat membunuh monster yang ada di dunia ini, hingga akhirnya dia pun terobsesi untuk memusnahkan mereka semua agar Leon tidak bisa berkembang lebih jauh lagi, sekaligus untuk membunuhnya dengan senjata ciptaannya itu.


“Ooh Zimos, sepertinya aku sudah terlalu naif karena memberimu kesempatan untuk hidup..!” ada rasa sesal dalam ucapan Leon barusan, tapi itu akibat kebodohannya sendiri.


Leon pun segera melesat terbang menuju lokasi yang menjadi tempat persembunyian Zimos selama ini.


Sesampainya di sana, dia melihat sebuah gua kecil yang berada jauh di dalam hutan.


Tapi, Leon tidak merasakan energi dari seekor monster pun di dalam radius 20 kilometer.


“Mungkin sudah dibunuh olehnya” gumam Leon.


Lalu, dia pun turun dan memanggil Zimos untuk keluar dari persembunyiannya.


“Wush..” sebuah serangan dari dalam gua hampir menghantam Leon.


itu adalah anak panah yang dilontarkan dengan senjata pemusnah eksistensi, sepertinya Zimos sudah bisa menggunakan kembali sihirnya.


Dia bisa mengenali Leon meski sedang menggunakan baju zirah Legia karena dia pernah melihatnya saat di turnamen Earlgrim sebelumnya.


Leon sempat heran bagaimana Zimos bisa memperbaiki nadi sihirnya dan kembali menggunakan sihir karena dia sangat yakin bahwa kerusakan yang diberikan olehnya tidak akan bisa diperbaiki oleh siapapun di dunia ini.


“Hehe, kau pasti bingung kenapa aku bisa menggunakan senjata yang memerlukan sihir ini..!” ucap Zimos.


“Hmm, tidak juga sih karena bagaimanapun kau akan mati..! Tapi, kalau kau mau ceritakan saja” jawab Leon yang membuat Zimos semakin kesal kepadanya.


“Sreeeek...” Zimos melepaskan jubah yang dikenakannya dan menunjukkan sebuah baju zirah buatannya yang bersinar-sinar.


Leon pun akhirnya mengerti bagaimana Zimos bisa menggunakan sihir kembali, karena itu bukanlah baju zirah sembarangan.


Baju itu mengandung kekuatan sihir yang mengalir di setiap sisinya, sehingga memungkinkan penggunanya untuk menggunakan sihir tanpa menggunakan mana miliknya.


Dengan kata lain, bahkan orang yang lahir tanpa nadi sihir pun akan bisa menggunakan sihir jika memakai baju zirah itu di tubuhnya.


Lalu, Zimos pun menyerang tanpa henti ke arah Leon dengan senjata ciptaannya itu sambil mengoceh tidak jelas tentang kebenciannya kepada Leon.


“Heh, rasakan itu..! Aku tidak menyangka akan semudah ini, hahaha..!” ucap Zimos dengan tertawa kepuasan.


Zimos berpikir senjatanya adalah yang paling kuat untuk membunuh monster level tinggi, maka, untuk membunuh manusia pun seharusnya tidak akan ada masalah.


Sambil terengah-engah Zimos berjalan kembali menuju gua persembunyiannya.


Tapi, “Hmm, kekuatan serangnya tidak buruk tapi, itu tidak akan cukup untuk membunuhku” suara Leon langsung mematahkan kesenangan Zimos.


Zimos pun berbalik arah untuk mencari keberadaan Leon, tapi tiba-tiba, “Zzeepp...” Leon kini sudah berada tepat di hadapannya lalu mencekik leher Zimos hingga wajahnya terlihat pucat.


“Sepertinya aku sudah menyesali kebaikan yang aku berikan padamu” ucap Leon lalu dilemparnya tubuh Zimos ke samping hingga terhempas ke tanah.


Kemudian, Leon mengarahkan tangannya ke gua tempat persembunyian Zimos dan, “Incinerate..!” dengan cepat api meleburkan gua tersebut hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa.


Zimos hanya bisa berteriak dengan perasaan kecewa, takut, dan juga amarah yang amat sangat.


Betapa tidak, hasil kerja keras dan risetnya selama bertahun-tahun dimusnahkan begitu saja dalam sekejap oleh orang yang paling dibencinya di dunia ini.


Dengan wajah yang muram, Zimos membuka sebuah segel sihir di baju zirahnya dan tiba-tiba mengeluarkan jumlah sihir yang luar biasa untuk ukuran manusia.


“Hoo..” Leon terlihat sangat tenang meski dengan energi yang akan segera terlepas dari baju zirah tersebut.

__ADS_1


“Meski kau kuat sekalipun, tidak ada manusia yang akan bertahan dari ledakan energi sihir sebesar ini..! Haha, mungkin kau akan menyesali karena telah mengutukku dengan sihir penyembuh..!” ucap Zimos yang berpikir Leon tidak akan bisa selamat karena radius ledakan itu bisa mencapai 50 kilometer jauhnya dan dia tidak akan sempat untuk melarikan diri.


Sedangkan dirinya, akan hidup kembali berkat kutukan yang diberikan Leon sebelumnya.


“Boom...” ledakan pun terjadi sampai menerangi langit malam itu.


Beberapa desa dan semua kehidupan yang ada dalam radius ledakan pun ikut tersapu bersih tanpa tersisa sedikitpun.


Setelah ledakan berakhir, tubuh Zimos yang sudah terpecah belah pun kini sudah utuh kembali.


Dengan sombongnya dia tersenyum dan merasa sudah memenangkan pertarungan ini “Haha, rasakan itu..! Sekuat apapun kau, tidak mungkin bisa selamat dari ledakan tadi..! Ternyata kutukan yang kau berikan berubah menjadi keuntungan buatku, dasar bodoh..!”.


Tapi, perasaan bahagia itu berubah dengan cepat saat dia mendengar suara yang sangat menjengkelkan baginya.


Ternyata Leon masih hidup dan tidak terluka sedikitpun oleh ledakan besar tadi.


Energi sihir yang sudah terkumpul pun terasa sangat sia-sia, pikir Zimos.


“Sudah aku bilang, ‘kan?” ucap Leon sambil tersenyum tipis.


Zimos panik, karena kartu as untuk melawan Leon pun ternyata tidak ada gunanya, kini dia hanya bisa berharap dia bisa melarikan diri.


** Re: Peringatan! Kerajaan Leonite kini berada dalam bahaya! Noel yang seharusnya berada tetap di dalam kerajaan\, dia malah berkeliaran di luar kerajaan Leonite yang menyebabkan pelindung menghilang.


Tiba-tiba Sistem memberitahukan keadaan yang sangat darurat kepada Leon dan membuatnya kembali melepaskan Zimos karena rencananya untuk menguasai benua darah campuran masih akan dilakukannya.


“Hehe, kau beruntung kali ini karena ada hal yang lebih penting daripada mengurusi dirimu..! Tapi, Memory loss..! Curse canceler..!” Leon menghapus ingatan dari Zimos bahwa dirinya adalah seorang ilmuwan sihir yang menciptakan senjata-senjata sihir serta mencabut kutukan keabadian darinya.


Leon ingin sekali membunuh Zimos karena dendamnya terdahulu, tapi, sekali lagi dia memilih untuk menjadi naif dan melepaskannya karena kini, Zimos hanya seorang kakek tua pikun biasa yang tidak bisa apa-apa, tidak bisa sihir dan tidak bisa membuat senjata sihir apapun dan tinggal menunggu ajal saja.


Leon melesat ke langit dan melihat sekelilingnya yang benar-benar hancur akibat ledakan tadi.


“Rejuvenate..! Revive..! Greater heal..!” Leon yang merasa iba pun langsung mengembalikan kondisi lingkungan serta nyawa orang-orang desa dan juga tempat tinggal mereka kini sudah kembali seperti semula.


“Glek” Leon menelan pil penyembuhan 100 persen untuk memulihkan kondisi tubuh dan mana miliknya setelah menggunakan sihir sebesar itu.


“Status..!” Leon ingin memeriksa kondisinya.


 


 


\===STATUS===


Nama: Leon


Kasta: Budak


Level Atribut: Fisik (10); Sihir (10); Penciptaan (10); Penyembuhan (10); Kegelapan (10); Peniruan (10); Pengendalian Waktu (10); Negosiasi (6);


Level Kekuatan Tubuh: Fisik (10); Anti Elemental (10); Penetrasi (10); Ketampanan (9);


Status Mana: 2.350.000 / 2.350.000


Poin: 14.987


Rim: 4.875


\============


 


 


“Oke, aku sudah pulih dan sekarang waktunya kembali” Leon berencana untuk menghubungi Noel nanti saat kembali ke asrama Thunder Wolf, tapi setelah dipikir kembali, itu tidak akan dilakukannya.


Karena, urusan senjata pemusnah eksistensi yang sudah terlanjur tersebar luas ke seluruh kerajaan di benua asalnya tidak bisa dia serahkan kepada Noel setelah melihat sendiri kemampuan senjata tersebut walaupun dia ingin kembali ke benua darah campuran karena kekacauan yang disebabkan oleh Noel.


“Bocah itu pasti akan langsung mati kalau dikeroyok dengan senjata itu, apalagi dengan tingkah sembarangannya” ucap Leon sambil memasang wajah masam.


Selain itu, Noel sudah diajarkan caranya membuat pil penyembuhan 100 persen, Leon berpikir akan membiarkannya untuk sementara ini karena Noel pasti bisa mengatasi masalah elf di sana.


Tapi, untuk berjaga-jaga, Leon akan mengutus Arthas untuk membantu Noel jika dalam keadaan semakin mendesak dan tentu saja Leon membekali Arthas dengan 30 pil penyembuhan 100 persen dan pil keabadian sebanyak 10 butir.


Kemudian Leon pun akan beranjak dari lokasinya sekarang, tapi tiba-tiba “Zzeepp.. Boom..” sebuah retakan dimensi pun terbuka dengan lebar.


“S-s-s-sistem, apa itu? Kenapa hal itu membuatku merasa takut?” tanya Leon dengan suara yang gemetaran.


** Re: Itu! Tidak mungkin! Kenapa itu bisa muncul di sini? Apa mungkin akibat ledakan yang dibuat oleh Zimos tadi bisa memicunya muncul di sini?


Leon keheranan dengan ucapan Sistem barusan, apa maksudnya itu, dan kenapa Sistem sepertinya ketakutan.


** Re: Itu adalah..


Ucapan Sistem terputus dan sudah tidak merespon dengan pertanyaan Leon meski dia memanggil-manggil berulang kali dan seluruh mana miliknya kini seperti terhisap ke dalam retakan dimensi tersebut dan baju zirahnya kini kembali ke dalam tubuhnya karena tidak ada lagi mana yang menyokong untuk tetap bisa digunakan olehnya.

__ADS_1


“I-ini.. Seluruh kekuatanku..” Leon pun akhirnya tak sadarkan diri dan tubuhnya kini melayang terhisap ke dalam retakan dimensi tersebut.


“Zzeeppp… Boom..” sebuah ledakan besar terjadi lagi di area tempat Zimos dan Leon bertarung tadi saat retakan dimensi tersebut menutup, namun hanya berjarak sampai 5 kilometer saja dan tentunya ledakan tersebut telah memusnahkan Zimos.


__ADS_2