
“Hehe, aku kira siapa..! Ternyata bocah bodoh ini” suara yang dikenal oleh Leon terdengar dari arah depannya.
Itu adalah Patrick dan Baron yang sejak awal tim mereka memang hanya berisi 2 orang saja.
Tim akademi Jalec sudah mengalahkan lebih dari 20 tim sehingga membuat mereka semakin percaya diri.
Turnamen kali ini dibagi menjadi 2, babak pertama adalah bertahan hidup di hutan kematian yang hanya akan menyisakan 4 tim, lalu akan dilanjutkan dengan pertarungan kedua di arena pertarungan akademi Jalec yang mana akan menjadi pertarungan satu lawan satu antara dua tim yang sudah ditunjuk untuk saling bertarung.
Sebenarnya Leon sudah menyadari keberadaan mereka sejak tadi, tapi, dia masih belum ingin menunjukkan kekuatannya di dalam hutan yang tidak akan bisa disaksikan oleh orang banyak.
Maka dari itu, dia menunggu untuk mereka keluar sendiri dan merasa sudah memenangkan pertarungan ini.
“Aaahhhh, tolong jangan sakiti aku, aku hanyalah petarung biasa yang tidak bisa apa-apa” ucap Leon dengan nada yang menjijikkan.
Ucapan Leon barusan membuat Patrick dan Baron merinding hingga ke tulang, dan langsung ingin menghajarnya.
“Menggelikan..! Matilah kau..!” teriak Baron yang semakin memperkuat sengatan listriknya.
“Hmm, sihir yang digunakannya adalah sihir dengan elemen api level 4 yang sudah dimodifikasi menjadi serangan petir seperti ini, ternyata memenangkan 3 kali berturut-turut tidak disia-siakan oleh mereka” gumam Leon.
Serangan Baron sama sekali tidak terasa bagi Leon berkat atribut fisik anti elemental yang sudah mencapai level 4.
“Eh, entah hanya perasaanku saja atau memang dia terlihat begitu santai meski dengan serangan sebesar ini” ucap Baron kepada Patrick.
“Hmm, aku juga melihat hal yang sama denganmu..!” Patrick melangkah maju mendekati Leon.
“Wahai penguasa alam di bawah air, berikan aku kekuatan untuk menentang hukum alam, Ice spear..!” teriak Patrick.
5 buah tombak yang terbuat dari es pun melesat ke arah Leon yang mereka kira sedang tidak berkutik.
Namun, “Prang.. Prang..” tombak-tombak itu hancur dalam jarak 3 meter dari Leon.
“Hah? Apa yang terjadi?” Patrick terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Selama ini, tidak ada yang bisa menahan serangan ice spear miliknya tanpa terluka parah.
Tapi, kali ini tombak-tombak es itu hancur sampai tidak berbentuk sebelum menyentuh tubuh Leon.
“Bocah, permainan apa yang sedang kau lakukan?” tanya Patrick dengan nada kesal.
“Hmm? Permainan? Tidak ada kok” jawab Leon sambil tersenyum.
Jawaban tersebut hanya membuat Patrick dan Baron semakin kesal, dan mereka berdua pun melakukan serangan kombinasi kepadanya.
“Dengan penyatuan inti alam, keluarlah, Behemoth..!” ternyata itu adalah sihir pemanggilan yang dilakukan oleh mereka berdua karena tingkat kekuatan yang masih belum mencukupi jika dilakukan seorang diri.
“Hmm, sepertinya sudah waktunya berhenti bermain-main” ucap Leon, kemudian dengan mudahnya melepaskan diri dari sengatan listrik yang terlihat mengikat dirinya sedari tadi.
“A-apa itu? Dia melepaskan diri seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya” gumam Baron yang terkejut karena sihir listrik perangkapnya terlihat seperti sampah.
“Eh, kalau tidak salah tadi namanya, Shock prison..!” Leon menggunakan teknik listrik perangkap kepada Baron.
“Nah, kalau sudah di atas, pasti kau susah untuk menghindar” ucap Leon sambil tersenyum.
Meski sudah begitu, Leon masih tidak ingin menggunakan kekuatan penuhnya kepada mereka.
“Baiklah, Ice spear..!” kali ini Patrick sangat terkejut karena jurus andalannya ditiru oleh Leon dengan sangat mudah, padahal dia butuh 2 tahun untuk menyempurnakan teknik tersebut.
“Cep.. Cep.. Prang..” beberapa tombak menancap di kaki kanan dan bahu kanan Baron, sedangkan sisanya berhasil dihancurkan oleh Patrick yang melompat untuk membantunya.
Sihir gabungan mereka berdua menjadi kacau yang akhirnya Behemoth pun menghilang karena energi sihir yang tidak stabil.
“Hmm, boleh juga kerja sama kalian..! Kalau begitu, bagaimana kalau yang ini? Behemoth..!” Leon sekali lagi membuat mereka berdua menganga.
“Ba-bagaimana mungkin? Aku yang sudah mencapai level 4 saja membutuhkan Baron yang berlevel 3 untuk memanggil Behemoth..! Jangan-jangan, kau sudah mencapai level 6? Tidak, tidak mungkin..! Ini pasti hanya tipuan..!” teriak Patrick yang panik tidak ingin mempercayai kekuatan yang sedang dilihatnya sekarang ini.
“Oh maaf, kau keliru soal itu..! Aku ini sudah mencapai level 10..!" ucap Leon dengan ekspresi sombongnya.
__ADS_1
"Hmm, dari raut wajah itu, sepertinya kalian tidak percaya..! Kalau begitu, kenapa tidak kalian coba saja? Oh tapi sebelum itu, Magic up..! Speed up..!” Leon menggunakan sihir peningkatan yang sudah mencapai level 10 kepada Behemoth, kemudian memerintahkannya untuk menyerang mereka berdua.
“Roooaaaarrrrr..” teriakan Behemoth yang kekuatannya kini sudah jauh dari yang bisa dibayangkan oleh mereka berdua, membuat Patrick dan Baron terduduk lemas bahkan sampai buang air kecil di celana.
“Ti-tidak.. jangan sakiti kami..” namun, tanpa disadari, monster itu sudah berada tepat di belakang mereka dengan tangan yang sudah terangkat tanda siap menyerang.
Akhirnya, “Boom..” tamparan keras dari cakar Behemoth membuat tubuh Patrick dan Baron melayang jauh.
“Wow, ternyata bisa sedahsyat itu” ucap Leon yang baru tahu bahwa sihir peningkatan miliknya bisa digunakan kepada selain dirinya.
Di sisi akademi Jalec..
“Seberapa kuat pun tim musuh, aku yakin tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan murid dari tim akademi Jalec yang sudah menyerap 3 kali berturut-turut energi di gua energi mur..” tak sempat Titus menyelesaikan ucapannya, dia dikejutkan oleh siapa yang selanjutnya dikirim kembali ke akademi Jalec.
“Bruk.. Bruk..” tubuh Patrick dan Baron terhempas keras ke tanah.
“Aaarrrhhhh, aaarrrhhhh, aaarrrhhhh” mereka berdua tidak berhenti berteriak dengan ekspresi wajah yang sangat ketakutan.
Melihat hal itu, Titus tidak bisa tinggal diam, dia pun segera melompat dan menghampiri mereka berdua.
“Patrick, Baron, apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian dikirim kembali ke sini?” tanya Titus penasaran sekaligus kesal.
“Mo.. mo.. monster..!” lalu, keduanya pun tak sadarkan diri.
“Monster? Mereka tidak mungkin seceroboh itu untuk berhadapan langsung dengan monster yang lebih kuat dari mereka..! Pasti seseorang yang melakukan ini dengan cara licik..!” gumam Titus mengutuk dalam hatinya.
“Medis..!” teriak Titus menyuruh tim medis untuk segera membawa mereka berdua ke ruang perawatan.
Titus dan Zimos benar-benar tidak percaya dengan hal ini sampai-sampai mereka berdua menyuruh beberapa orang masuk ke dalam hutan kematian untuk mencari tahu siapa yang sudah berbuat seperti ini.
"Bunuh siapapun yang melakukan ini kepada mereka sebelum waktu turnamen ini berakhir" ucap Zimos pelan saat berbicara kepada seseorang yang berdiri di kegelapan dibalik tirai tempat dia duduk.
__ADS_1