The Absolute System

The Absolute System
Sepertinya Kalian Terlalu Meremehkan Leon!


__ADS_3

Setibanya di tempat yang dikatakan oleh Leon, kelima penjaga raja elf itu tidak menemukan apapun selain sebuah gubuk kecil yang di dalamnya terdapat seseorang yang sedang beristirahat.


Reefa mengisyaratkan kepada 4 orang lainnya untuk menunggunya di sini sementara dia berjalan mendekati gubuk kecil tersebut.


Perlahan ia berjalan dan semakin mendekat, terlihat seorang pemuda yang sedang tertidur pulas dan pemuda itu adalah Leon.


Karena Reefa melihat Leon adalah seseorang dari ras manusia, dia pun langsung menghunuskan pedangnya ke arah leher Leon.


** Re: Peringatan..


"Mmm, aku sudah tahu..! Kau pikir aku benar-benar tertidur dan membiarkan orang-orang membunuhku dengan mudah?" jawab Leon dalam gumamnya.


Reefa kemudian memanggil-manggil pemuda dari ras manusia yang ada di hadapannya dan menanyakan apakah dia adalah orang yang menyebut dirinya sebagai dewa perang dan berani membuat keributan di kerajaan ras elf.


"Kau.. yang berani menantang ras elf dan menyatakan perang terhadap kami?" tanya Reefa sambil melihat ke seluruh penampilan Leon yang sangat biasa dan tidak tampak seperti seseorang yang sangat kuat seperti yang dia lihat sebelumnya.


"Hoaaam... akhirnya kalian sampai juga? Tapi, sepertinya kalian terlalu meremehkanku" ucap Leon saat membuka matanya kemudian duduk dengan pedang yang masih terhunus kepadanya.


Dia tidak menyangka kerajaan elf benar-benar meremehkannya hanya karena dia berasal dari ras manusia.


Mendengar ucapan Leon, Reefa pun terpancing emosi lalu segera bersiap untuk menggunakan sebuah sihir kepada Leon.


"Wahai sang penguasa kehidupan.." namun, tidak sempat Reefa menyelesaikan mantera sihirnya, tiba-tiba tubuhnya terhempas jauh ke belakang melewati keempat anggota dari kerajaan elf hingga menghantam sebuah batu besar.


"Boom.." suara dari benturan tubuh Reefa dengan batu besar tersebut terdengar dan sampai membuat sedikit guncangan di tanah.


"Huh, sangat membosankan..!" ucap Leon sambil berdiri dan keluar dari gubuknya.


Arghos bergegas menghampiri Reefa yang masih terbaring sambil batuk-batuk yang mengeluarkan darah akibat benturan yang sangat keras hingga merusak organ dalamnya.


"Bajingan..! Apa yang kau lakukan?" teriak Ishtar yang kemudian bersiap untuk menyerang Leon yang baru saja keluar dari gubuknya.


Ishtar bersiap untuk menggunakan sihir 4 elemennya kepada Leon.


Sihir 4 elemen tersebut mengelilingi tubuh Ishtar seolah-olah menjadi pelindungnya.


Leon berjalan perlahan dengan langkah yang santai ke arah mereka lalu berkata, "Aku? Tidak ada, aku hanya sedikit mendorong saja karena aku pikir dia sudah bertindak tidak sopan dengan menghunuskan pedang ke arahku".


Mendengar ucapan yang sangat membuat kesal dari mulut Leon, Ishtar dan kedua temannya yang masih berdiri pun langsung maju dan menyerang.


Tapi, belum sempat mereka menyebutkan mantera sihir, Ishtar merasakan ada aura yang aneh dari tubuh Leon.


Dia pun langsung memberi tanda untuk berhenti kepada 2 temannya yang lain.


"Hoo, tidak kusangka kau bisa merasakannya" ucap Leon yang kemudian warna matanya berubah merah.


"Wush.. Boom.." seketika itu juga ledakan energi dan aura yang sangat kuat menghantam tubuh ketiga elf tersebut hingga terpental jauh ke belakang.


"Bukankah aku sudah menyatakan perang terhadap kerajaan kalian? Tapi, sepertinya kalian terlalu meremehkanku..!" Leon berjalan ke arah mereka berlima dengan teror dari aura yang sangat mengerikan.


Ishtar dan Arghos serta kedua elf lainnya yang masih tersadar, merasa tubuh mereka menjadi sangat dingin dan gemetaran.


"Ti-tidak mungkin..! Bagaimana seorang manusia bisa memiliki kekuatan sebesar ini?" ucap Arghos.


Dia sedang berusaha untuk menyembuhkan Reefa yang masih terluka akibat benturan tubuhnya dengan batu besar tadi.


"Tapi, Reefa bisa dibuatnya menjadi seperti ini, sepertinya kami memang terlalu meremehkannya" gumam Arghos dengan keringat yang bercucuran deras.


Leon kini sudah semakin mendekat kepada mereka berlima, tapi, meskipun kelima elf itu ingin segera pergi, entah kenapa tubuh mereka terasa tidak mendengarkan perintah otak mereka.


Ishtar yang sudah muak karena merasa direndahkan oleh pemuda dari ras yang paling dibencinya, dia pun berusaha mati-matian untuk menggerakkan tubuhnya untuk berdiri lalu berkata, "Bajingan..! Trik kotor apa yang kau gunakan kepada kami?".


Namun, sesaat kemudian..


"Bruk.." tubuh Ishtar kini sudah terbaring di tanah dan benar-benar tidak bisa bergerak.


"Apakah kau berpikir bisa menentang dewa hanya dengan kekuatan seperti itu? Benar-benar sangat kolot" ucap Leon.


"Dewa? Apa kau berpikir hanya karena bisa melakukan beberapa trik kotor saja sudah bisa membuatmu menjadi dewa?" teriak Arghos yang terlihat sangat kesal.


"Hoo, sepertinya dunia ini tidak sepenuhnya tidak mengetahui konsep tentang dewa" ucap Leon sambil tersenyum tipis.


Dia merasa sedikit senang karena tidak perlu lagi menjelaskan apa artinya dewa kepada mereka.


"Baiklah, karena kalian sepertinya sudah tahu apa itu dewa, bagaimana kalau aku menunjukkan 2 persen dari kekuatanku yang sebenarnya?" ucap Leon dengan senyum tipisnya.


Lalu, dia pun mengarahkan tangan kanannya ke bukit yang sebelumnya ia buat, lalu mengumpulkan energi sihir di ujung telunjuknya.


"Hmm, aku belum memberikan nama kepada teknik ini, tapi.. ya sudahlah, kalau begitu aku akan menyebutnya, Void Sphere..!" dan sebuah tembakan yang bentuknya seperti sebuah gelembung sabun seukuran orang dewasa pun melesat dengan kecepatan kilat.


Saat sihir itu menyentuh sedikit dari bagian bukit tersebut, sebuah ledakan teredam pun terdengar dan dalam sekejap, bukit itu menghilang dari pandangan mereka.

__ADS_1


Arghos dan yang lainnya pun menganga melihat kejadian luar biasa tersebut.


Kemudian, Leon pun kembali berjalan mendekati ke arah Reefa yang masih terbaring.


Ternyata, inti dari nadi sihirnya sudah hancur saat didorong oleh Leon tadi, dan kini dia pun sudah tidak bisa lagi menggunakan sihir.


"Bersujudlah di hadapanku..!" hanya ucapan dari Leon saja dapat membuat mereka semua kecuali Reefa tertunduk tidak melawan di hadapannya.


"Kekuatan yang sangat mengerikan, apa benar dia adalah dewa?" gumam Ishtar yang terlihat sangat ketakutan.


Leon berhenti tepat di hadapan Reefa lalu dia mengangkut tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu.


"Ma-mau kau apakan Reefa?" tanya Arghos.


Karena dia dan Reefa baru saja menjadi sepasang kekasih 4 hari yang lalu, tentu saja dia yang paling peduli.


"Hmm, entahlah, mungkin saja aku akan membunuhnya" jawab Leon, lalu dia memasukkan sebuah pil penyembuh 100 persen kepada Reefa yang tentu saja kemudian membuatnya kembali pulih sepenuhnya dengan nadi sihir yang kembali utuh.


"A-apa yang terjadi?" tanya Reefa yang sepertinya baru sadar dengan keadaan sekitarnya.


Lalu, dengan panik, dia pun melompat melepaskan diri dari pangkuan Leon dan bersiap untuk menyerang.


Karena pil penyembuhan 100 persen berasal dari energi yang digunakan oleh Leon, tubuh Reefa pun tidak terpengaruh oleh aura yang membuat teman-temannya yang lain menjadi seperti anjing peliharaan yang sangat penurut.


"Hehe, sepertinya kau sudah kembali ceria..! Kalau begitu.." Leon tersenyum tipis lalu mengarahkan jari telunjuknya ke pada Ishtar yang masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Karena keempat anggota elf lainnya sudah melihat kekuatan yang ditunjukkan oleh Leon tadi, mereka pun terlihat panik saat Leon akan melakukan hal yang sama ke arah mereka.


"A-apa yang mau kau lakukan? JIka kau membunuh salah satu dari kami, maka kau akan berperang kepada seluruh bangsa elf yang ada di dunia ini..!" ancam Arghos yang masih berusaha untuk membuat Leon takut.


"Yang mau aku lakukan? Bukan urusanmu..! Lagi pula, sejak awal kan aku memang ingin berperang melawan kalian yang sangat rasis..!" jawab Leon.


Lalu, "Void Sphere..!" gelembung sabun dengan ukuran bola pingpong pun melesat ke tubuh Ishtar.


"Zzeeeppp.. Boom.." tubuh Ishtar pun sepeti tersedot ke dalam gelembung tersebut lalu meledak di dalamnya, lalu gelembung tersebut pun menghilang.


Reefa dan yang lainnya menganga dengan sangat lebar saat melihat tubuh Ishtar tercerai berai di dalam gelembung tersebut.


"ISHTAAR..!" teriak Arghos dengan nada yang sangat kesal.


Ishtar adalah adik kandungnya yang baru saja bergabung dalam kelompok ini satu tahun yang lalu.


"Hoo, baiklah" Leon pun melepaskan belenggu aura dari Arghos.


Lalu, Arghos dengan cepat melesat ke arah Leon dan menyerangnya.


"Dengan kekuatan kegelapan, aku perintahkan kau untuk musnah dari dunia ini, Water blade..!" lalu sebuah bilah air yang terlihat sangat tajam pun melesat ke arah Leon bersamaan dengan tinjuan dari Arghos.


Namun, dengan mudahnya Leon menepis pukulan dan bilah air tersebut dan dengan sengaja mengarahkannya kepada Reefa yang masih termenung pasca kematian Ishtar.


"Reefa, menyingkir..!" teriak Arghos.


"Tidak semudah itu, Gravity..!" Leon menggunakan sihir gravitasi untuk menekan tubuh Reefa agar tidak bisa bergerak dari posisinya sekarang.


Reefa akhirnya tersadar ketika bilah air tersebut sudah berjarak 1 meter darinya.


Sudah tidak bisa merespons apapun, akhirnya tubuh Reefa terbelah menjadi 2 dan terhempas ke tanah seperti daging sapi yang baru saja disembelih.


"Tidaaaak, Reefa..! Kau..!" Arghos melihat kembali ke arah Leon dengan tatapan kemurkaan.


"Mhm.. memang aku yang melakukannya" ucap Leon dengan senyuman yang terlihat seperti penjahat.


Kemarahan Arghos pun semakin memuncak dan kali ini dia akan menggunakan sihir pamungkasnya.


"Wahai dewa yang menguasai air, aku tukarkan jiwaku untuk menggunakan kekuatanmu yang agung, musnahkan musuhku, Poseidon..!" tubuh Arghos pun diselimuti oleh air dan kemudian membentuk sebuah baju zirah dan penampilannya kini sudah berubah menjadi orang lain.


"Hoo, bahkan Poseidon juga bisa sampai ada di dunia ini, sungguh penemuan yang sanat menarik" ucap Leon.


Arghos kini sudah dalam bentuk sempurnanya setelah menggunakan sihir pamungkas, lalu, dengan menggenggam sebuah tongkat trisula khas dewa poseidon, dia pun melesat ke arah Leon dengan penuh percaya diri.


"Bagus, manusia tidak tahu diri itu sudah pasti akan tamat..! Eh tapi..." gumam kedua elf sisanya yang masih tidak bisa bergerak karena tekanan aura dari Leon.


Meskipun begitu, Leon masih tetap tidak bergeming sedikitpun, malah dia masih terus tersenyum sambil menunggu serangan apa yang akan dilancarkan oleh Arghos.


"Matilah kau, Tsunami Blade..!" teriak Arghos sambil mengarahkan tongkatnya, lalu sebuah gelombang air besar yang mengelilingi area seluas 500 meter dan terlihat sangat tajam pun muncul entah dari mana.


Terlihat gelombang air tersebut menghancurkan tanah dan membelah pepohonan dengan sangat mudah.


Bahkan kedua anggota elf lainnya yang seperti pemeran figuran dan masih terbelenggu aura pembunuh Leon pun ikut tercabik-cabik oleh gelombang tsunami tersebut.


"Hmm, kau benar-benar tidak punya rasa ke elf an, ya?" Leon menggelengkan kepalanya melihat tindakan Arghos yang sampai membunuh temannya sendiri karena emosi yang tidak terkontrol.

__ADS_1


"Diam kau..! Mati..! Mati..! Matilah kau..!" teriak Arghos.


Lalu, dengan serangan bertubi-tubi dan brutal, Arghos hampir menyapu bersih area tersebut termasuk tubuh teman-teman dan kekasihnya.


Hingga akhirnya air menyurut, dia sudah tidak melihat lagi tubuh mereka termasuk Leon.


Dia tersenyum senang dan bangga akan kekuatan besar miliknya.


Tapi, "Prok.. Prok.. Prok.." suara tepuk tangan terdengar dari belakangnya yang mana posisinya saat ini sedang melayang di udara.


"Untuk kebersihan, aku akan memberikanmu nilai 100, dan untuk sosial, aku akan memberikanmu niai 0" ucap Leon sambil berlagak seperti seorang guru di sekolahan.


"K-kau, tapi bagaimana bisa?" Arghos terlihat panik karena bahkan kekuatan sihir terbesar miliknya pun masih tidak bisa menyentuh Leon.


"Bagaimana bisa aku terbang? Oh kawan, terlalu banyak hal di dunia ini yang tidak kau ketahui, termasuk kemampuan yang aku miliki" lalu Leon tiba-tiba sudah berada tepat di depan wajah Arghos, lalu sebuah sentilan manja darinya pun menghempaskan tubuh Arghos jauh ke dalam tanah.


"Arrrghhh... Ahaak.." Arghos memuntahkan darah segar dari mulutnya dan mencoba untuk bangkit keluar dari dalam tanah.


"Hoho, aku tidak menyangka kau masih bisa bertahan" Leon kemudian turun ke tanah dan berhadapan langsung dengan Arghos.


"O-orang ini memiiliki kekuatan seperti dewa, apa benar dia berasal dari ras manusia?" gumam Arghos penasaran.


Dia pun mencoba menanyakan banyak hal kepada Leon untuk mengalihkan perhatiannya sambil merencanakan sesuatu untuk kabur.


Arghos kemudian menggunakan sihir duplikasi miliknya untuk mengelabui Leon.


Sementara tubuh tiruannya berbicara dengan Leon, tubuh aslinya yang tidak terlihat kini sudah berada jauh dari lokasi sebelumnya.


Tapi, "Hai om, mau kabur ya?" ucap Leon yang langsung saja membuat Arghos terdiam.


Seketika itu juga, Leon mencengkeram wajah dari Arghos dan, "Fire ball..!".


"Boom..!" tubuh Arghos pun meledak menjadi miliaran potong.


"Hmm, sepertinya aku terlalu baik karena tidak mengubah si bodoh ini menjadi debu" ucap Leon.


Lalu dia kembali menuju tubuh Reefa yang terbelah menjadi 2 bagian.


"Greater heal..! Revive..!" ucap Leon saat telapak tangan kanannya menyentuh salah satu bagian tubuh Reefa.


"Cliiing.. Zzeepp.." dalam sekejap, tubuh Reefa kembali utuh dan matanya pun terbuka seperti baru terbangun dari tidurnya.


Saat tersadar, Reefa teringat kejadian sebelumnya yang membuat tubuhnya terbelah menjadi 2.


"A-aku masih hidup?" gumam Reefa sambil menyentuh pipinya namun masih dalam keadaan terbaring.


Dengan spontan, dia pun mencari keberadaan teman-temannya dengan menyebarkan energi sihir ke area sekelilingnya.


Tapi, tak satupun yang ia temukan dalam keadaan hidup dan hanya menemukan sesosok manusia dengan energi yang sangat dahsyat dan sedang berdiri di belakangnya.


Dengan rasa takut dan penasaran yang sangat besar, dia pun akhirnya memutuskan untuk menoleh ke belakang secara perlahan.


Benar saja, manusia dengan energi seperti monster tersebutlah yang dia dan teman-temannya remehkan sejak awal.


"S-siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin ras manusia ada yang seperti ini..!" ucap Reefa masih menolak kenyataan bahwa dia dan tim kebanggaannya dikalahkan dengan mudah oleh ras yang menurutnya sangat hina.


"Hei hei, bukankah aku sudah mengatakan siapa diriku saat di kota kerajaanmu?" ucap Leon sambil berjalan ke depan Reefa.


"Cih, memangnya siapa yang percaya dewa yang berasal dari ras hina?" jawab Reefa seraya memberikan ekspresi jijik kepada Leon.


"Huh, kau ini benar-benar wanita yang menjengkelkan, ya?" Leon lalu mencengkeram wajah Reefa dan tentu saja membuatnya panik.


"Ma-mau apa kau? Lepaskan..!" teriak Reefa berkali-kali namun tak dihiraukan oleh Leon.


"Mind Read..!" Leon menggunakan sihir manipulasi pikiran untuk melihat apa yang dilihat oleh Reefa sebelumnya.


Dengan sihir itu, Leon mengetahui rencana raja dan kesombongan Reefa yang mengatakan dirinya dan tim kebanggaannya saja sudah cukup untuk membunuh Leon.


Mengetahui hal itu, Leon kembali tersenyum jahat lalu melepaskan cengkeramannya dari wajah Reefa.


"Kau tahu? Aku benar-benar muak dengan hal yang kalian lakukan itu..!" ucap Leon.


"Aku pikir menjadi seseorang dengan kasta budak saja sudah sangat merepotkan, dan sekarang manusia di benua ini benar-benar harus hidup menjadi budak?" Leon terlihat semakin kesal karena entah kenapa dia kembali teringat tentang kematian ibunya dan perlakuan kepada orang-orang yang menyandang kasta budak.


"Cih, apa kau berpikir hanya karena sedikit lebih kuat saja sudah memberikanmu keberanian untuk menentang seluruh ras elf di benua darah campuran?" cibir Reefa dengan tatapan penuh kebencian kepada Leon.


"Oh aku tidak hanya berpikir untuk menentang, tapi aku akan membuat kalian para elf memohon ampunan atas nyawa kalian..!" ucap Leon dengan nada yang dingin.


Leon memang sudah sangat muak karena saat masih hidup di dunia lamanya, dia selalu diremehkan dan selalu diperlakukan tidak baik bahkan oleh keluarganya sendiri.


Kini, dengan rasa benci dari dunia lamanya, dia terlahir di dunia baru dan memiliki kekuatan untuk menentang segalanya, tentu saja dia akan melakukan apapun yang menurutnya benar, bahkan jika harus menghancurkan seluruh ras elf sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2