
“Pertandingan final akan diadakan besok antar tim akademi Lainard melawan tim akademi Landa..!” ucap wasit yang mengumumkan jadwal pertandingan terakhir.
“Pak wasit, aku keberatan..! Bagaimana jika pertandingannya dilakukan hari ini saja?” ucap Leon dengan penuh semangat.
“Yo, apakah anak ini sangat ingin mati?” ucap teman satu tim Xion yang mencibir Leon.
Teman-teman satu tim Xion termasuk guru pembimbingnya memang tidak melihat pertandingan barusan karena pergi ke luar untuk membeli sesuatu sebagai camilan, sehingga mereka masih mengira bahwa tim mereka adalah yang paling kuat.
Sedangkan Xion, dia menetap di kursi penonton untuk melihat pertandingan selanjutnya yang dia pikir mungkin saja akan terjadi sesuatu yang menarik.
“Tidak bisa..! Setiap tim harus memulihkan kekuatan mereka terlebih dahulu agar tidak terjadi fitnah kecurangan karena tim lawan kehabisan tenaga” ucap wasit menolak permintaan Leon.
“Tapi, tim ku sudah sepenuhnya pulih dan siap untuk pertarungan berikutnya..!” ucap Leon sambil menunjuk ke arah ruangan timnya di sisi arena.
“Peraturan tetap peraturan..!” bantah wasit yang masih tetap menolak permintaan Leon.
Leon pun berpura-pura terlihat murung dan berjalan kembali ke dalam ruangan tim di sisi arena.
“Hehe, benar-benar menarik..!” Xion terlihat senang dengan senyuman yang semakin lebar.
__ADS_1
Dengan perasaan penuh semangat yang membara dan haus akan pertarungan, Xion melompat dari kursi penonton dan segera masuk ke dalam arena pertarungan.
“Bruk..” lantai arena menjadi retak ketika Xion mendarat.
“Aku tidak ada masalah dengan permintaan itu..!” ucapnya sambil menatap ke arah Leon.
Leon pun segera berbalik badan dan tesenyum bahagia karena tim lawannya mau memenuhi permintaannya.
“Tuh lihat, tim lawan saja sudah setuju dengan permintaanku..!” ucap Leon sambil menunjuk ke arah Xion.
Namun, wasit tetap saja menolaknya dan dia tetap menjalankan sesuai dengan peraturan turnamen yang sudah ditetapkan oleh Zimos.
“Sejak awal, mereka berdua belum menunjukkan kekuatan yang sebenarnya..! Aku masih ingin melihat kecurigaanku terhadap anak itu” gumam Zimos yang bermaksud membicarakan tentang Leon.
“Yes..! Kau memang yang terbaik pak tua Zimos..!” teriak Leon, dan semua orang pun menahan nafas mereka karena Leon berani menyebut Zimos dengan panggilan pak tua dan itu bukanlah hal yang sopan untuk diucapkan oleh bocah sepertinya.
“Haha, tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan..! Segera mulai saja pertarungan selanjutnya” ucap Zimos tersenyum kecut.
“Wah, mereka pasti membuat tuan Zimos sangat terkesan sampai-sampai permintaan itu dikabulkan olehnya”
__ADS_1
“Ya, mana mungkin tuan Zimos mau peraturan yang sudah dibuatnya diubah seenaknya seperti itu”
Dan para penonton pun mulai bergosip kembali setelah tersadar saat mendengar ucapan dari Zimos yang menyetujui permintaan Leon.
Wasit yang hanya bisa mematuhi perintah dari Zimos, akhirnya bersiap untuk memulai pertandingan final itu.
“Kalian berdua sudah siap? 3..” belum selesai wasit menghitung mundur, salah satu teman tim Xion turun dan menghentikannya.
“Xion, kalau memang anak ini begitu ingin mati, tidak usah mengotori tanganmu..! Biar aku saja yang membunuhnya..!” ucap orang tersebut dengan ekspresi yang sangat marah karena menilai Leon sebagai orang yang sangat arogan.
“Haha, kau ini memang tidak sabaran ya, Leon..!” ya, nama teman Xion itu adalah Leon juga.
“Wah, nama kita sama..! Pasti kau juga sangat kuat sepertiku..!” ucap Leon sambil tersenyum.
Wasit mengonfirmasi kepada Leon dari tim akademi Lainard apakah dia tidak masalah jika lawannya diganti, dan Leon pun tidak masalah dengan hal itu.
Xion pun berjalan kembali ke ruangan di sisi arena yang sudah di isi oleh seluruh anggota timnya.
“Baiklah, kalau sudah tidak ada lagi yang ingin mengganggu, pertandingan akan aku mulai..! 3.. 2.. 1.. Mulai..!” wasit pun melompat keluar dari arena seperti biasanya dan pertandingan final dimulai.
__ADS_1