
Setengah jam dia melompat di antara pepohonan menuju tenggara dan akhirnya dia melihat sebuah kepulan asap yang berasal tidak jauh dari posisinya sekarang.
Leon menggunakan mata raja monster untuk melihat siapa yang ada di sana.
Dia melihat ada beberapa orang yang sedang bertarung, dan asap yang mengepul tadi, adalah hasil dari pohon yang terbakar oleh sihir.
Karena dia ingin cepat menyelesaikan turnamen tahap pertama ini, Leon berniat untuk menghabisi semua tim yang tersisa di dalam hutan ini.
“Shadow clone..!” Leon lalu memerintahkan bayangannya untuk melawan mereka semua dengan serangan kejutan.
Sementara itu, tubuhnya yang asli segera pergi untuk mencari sisa tim yang lain.
“Boom.. Boom..!” dalam sekejap, bayangan Leon telah mengirim mereka semua kembali ke akademi Jalec.
“Hehe, kalau begini aku tidak akan butuh waktu lama” ucap Leon sambil melesat di antara pepohonan besar dengan kecepatan tinggi.
Di sisi akademi Jalec..
“Di hari kedua ini, jumlah tim yang tersisa termasuk akademi Jalec saat ini adalah 16, dan mereka semua adalah tim yang kuat” ucap Zimos.
__ADS_1
“Tapi, beberapa dari tim tersebut sudah tidak lengkap seperti tim yang di sana itu” ucap Titus mengingatkan Zimos sambil menunjuk ke arah tim akademi Lainard.
“Haha, aku tidak menyangka ada tim yang seperti itu di dalam turnamen kali ini..! Dengan hanya 1 orang yang tersisa, tidak mungkin dia bisa bertahan..!” ucap Zimos sambil tertawa geli.
“Tapi, bagaimana caranya dia bertahan sendirian di hutan yang penuh monster kuat?” Titus mulai penasaran.
“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan..! Paling-paling dia hanya memiliki kemampuan untuk menyembunyikan hawa keberadaannya, makanya dia tidak ikut dikirim kembali ke sini bersama kedua temannya itu..!” jawab Zimos yang menyimpulkan pemikirannya.
“Ah, mungkin Anda benar, dia pasti hanya bisa sembunyi saat rekan satu timnya diserang..! Dasar tidak berguna” ucap Titus yang menyetujui pendapat Zimos.
Tiba-tiba, “Zzeepp.. brak..” dua tim yang dikalahkan oleh Leon sekaligus tadi, langsung kembali ke akademi Jalec dan secara otomatis tim mereka pun kalah dan menyisakan 14 tim yang masih bertarung di dalam hutan kematian.
“Haha, sudahlah jangan mengeluh..! Tim kalian saja yang lemah, memangnya jika mau menyerang harus permisi dulu? Kau pikir apa turnamen ini?” jawab tim lain yang sudah lebih dulu kalah bahkan saat turnamen baru dimulai selama 20 menit.
“Kau..!” teriak orang yang baru saja kalah tadi.
“Kenapa? Mau berkelahi?“ jawab orang yang membantah ucapannya.
Mereka berdua pun mengeluarkan aura untuk bertarung, namun itu malah terlihat seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar di mata tim lain.
“Jika kalian tidak mau berhenti, aku yang akan membuat kalian berhenti..!” ucap Zimos diikuti dengan sambaran petir yang menggelegar.
__ADS_1
“Ti-tidak, kami akan berhenti sekarang” kedua orang itu pun tidak berani melanjutkan pertengkaran mereka.
Di sisi Leon..
Dia kini sudah tiba di sisi tenggara hutan kematian, tapi tidak menemukan apapun kecuali hutan yang menghampar luas ke segala penjuru.
“Hmm, apakah sudah banyak yang kalah?” gumam Leon karena tidak menemukan siapapun di sana.
Tiba-tiba, tanah di sekitarnya bergetar dengan sangat hebat dan dari arah belakangnya terdengar suara seseorang yang sedang merapalkan mantera sihir.
“Hoho, akhirnya muncul juga..!” Leon berbalik melihat ke belakangnya sambil tersenyum.
“Gelegarr...” sebuah serangan dengan elemen api dengan suhu yang begitu besar sehingga telah berubah bentuk menjadi sambaran petir yang begitu cepat menuju ke arah Leon.
“Zzzztttt..” suara listrik dari sambaran petir tadi yang kini telah mengenai tubuh Leon.
“Haha, geli sekali..! Listrik ini benar-benar menggelitik” gumam Leon sambil mencoba menahan tertawanya dan berpura-pura kesakitan untuk memancing mereka keluar.
__ADS_1