
“Zzeep..” secara instan kini Gildard sudah berada di depan Leon lalu menghantamnya dengan sebuah pukulan keras yang diperkuat dengan kekuatan petir.
“Gelegaaar..” suara pukulan yang terdengar saat menghantam tubuh Leon.
Leon pun terpental jauh ke belakang dengan setruman yang mengalir di seluruh tubuhnya.
“Terima kasih karena kau sudah membuatku merasa terpojok dan akhirnya aku bisa membangkitkan kekuatan ini kembali..!” ucap Gildard yang sudah kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.
“Hehe, sama-sama” tiba-tiba suara Leon terdengar dari arah belakangnya yang tentu saja membuatnya terkejut.
“Kau? Bagaimana bisa?” Gildard kembali melihat ke arah Leon yang sedang terbaring di sana.
“Ta-tapi.. Lalu itu siapa?” Gildard langsung melompat menjauh dari Leon yang ada di belakangnya.
Di sisi penonton..
“Hah? Bocah itu ada 2?”
“Ya, aku juga melihat hal yang sama..! Bagaimana bisa?”
“Itu kan shadow clone..!”
“Shadow clone? Maksudmu, kemampuan yang hanya bisa digunakan oleh orang yang mendapatkan gelar trickster?”
“Tepat sekali..! Dan tidak hanya itu, gelar trickster sendiri hanya bisa didapatkan oleh seorang Purist..!”
__ADS_1
“Purist? Aku pernah diceritakan oleh kakekku sewaktu kecil, aku pikir itu hanyalah dongeng belaka”
“Mmm, Purist memang sangat jarang ditemukan di zaman sekarang karena tingkat kekuatan yang semakin sulit untuk dinaikkan dengan monster yang kekuatannya semakin meningkat setelah dibunuh”
“Tapi, aku meragukan kalau dia benar-benar seorang Purist..!”
“Ya, aku juga berpikir seperti itu..! Mana mungkin bocah umur segitu bisa menjadi Purist..!”
“Benar..! Pasti dia menggunakan trik ilusi untuk menggertak lawannya saja, haha..!”
Obrolan dari dua sekawan yang terlihat banyak tahu tentang Purist dan lain-lainnya dari bangku penonton.
Zimos pun ternyata berpikiran yang sama dengan dua sekawan tadi, dia berpikir mana mungkin bocah sekecil itu bisa menjadi seorang Purist.
“Aku yang mendedikasikan hidup untuk menjadi seorang ketua asosiasi sekaligus menjadi penyihir terkuat saja belum bisa menjadi Purist, mana mungkin bocah bau itu bisa..!” gerutu Zimos dalam hatinya.
Saat Gildard melihat tubuh Leon yang terbaring berubah menjadi segumpalan asap, dia pun kembali menyerang Leon yang masih berdiri.
“Buk.. Buk.. Buk..” pukulan yang dilayangkan oleh Gildard semakin melemah karena energi sihirnya yang sudah terkuras banyak setelah menggunakan sihir pamungkas dan sekarang baju zirah.
“Sial, waktuku tak banyak, aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini..!” gumam Gildard dan dia pun bersiap untuk menggunakan kekuatan gabungan antara sihir pamungkas dengan kekuatan baju zirahnya.
“Hmm? Sihir kombinasi? Dengan kekuatanmu yang sekarang, kau bisa mati..!” ucap Leon saat melihat formasi sihir dan rapalan mantera yang diucapkan oleh Gildard.
“Asalkan bisa mengalahkanmu, ini semua sepadan..!” jawab Gildard.
__ADS_1
“Haduh, ucapan yang sangat umum untuk orang yang frustrasi” gumam Leon sambil menepuk dahinya.
“Sihir kombinasi..! Ultimate Thunder God’s Light..” belum sempat Gildard menyelesaikan rapalan manteranya, Leon tiba-tiba muncul di hadapannya dan menggenggam wajahnya.
“Absorb..!” Leon menyedot seluruh energi sihir yang tersisa dari Gildard dan membuatnya seketika itu lemas.
Akhirnya, Gildard pun jatuh ke lantai dengan baju zirahnya yang terlepas dan menghilang.
Seluruh arena menjadi hening dan mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Saat wasit sudah mulai tersadar dari lamunannya, berjalan mendekati Gildard yang terbaring kaku di lantai untuk memeriksanya.
“Hmm, sudah tidak bisa dilanjutkan lagi..! Gildard sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan, dan pemenangnya adalah Leon dari tim Lainard..!” teriak wasit, tapi tetap tidak ada tepuk tangan dari para penonton karena masih terdiam.
“Hei hei, kenapa tidak ada sambutan yang meriah kepadaku? Aku kan menang..!” gerutu Leon, tapi dia tetap kembali ke sisi arena untuk menunggu lawan selanjutnya.
Sementara itu, Gildard yang terlihat sudah tidak berdaya, langsung dibawa oleh tim medis untuk diberikan perawatan.
“Sial..! Orang itu bahkan tidak serius saat melawanku” kutuk Gildard yang ternyata masih sedikit tersadar.
Guru pendamping tim Raisin pun melihat keadaan dan mempertimbangkannya lagi.
“Kalau begini, kekalahan bukanlah hal yang memalukan dan kalian tidak akan dikeluarkan dari akademi..!” guru itu berjalan keluar dan memasuki arena untuk bertemu dengan wasit.
Sesaat kemudian, wasit berbalik dan berkata sesuatu yang menarik perhatian para penonton.
“Ehem, dengan pertimbangan yang sangat matang dari tim Raisin, mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan dan memilih untuk menyerah di pertandingan selanjutnya..! Dengan demikian, tim dari akademi Lainard menjadi pemenangnya dan akan bertarung di babak final” tapi tetap tidak ada yang bertepuk tangan untuk memberikan selamat kepada tim Lainard.
Mereka masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi kepada Gildard.
__ADS_1
“Hoo, muncul juga akhirnya lawan yang menarik” ucap Xion dengan senyum yang seperti seorang psikopat dari kursi penonton.