
Leon kini sudah berada di depan kelas dan bersiap untuk membuat potion tingkat 3 dengan bahan-bahan yang sudah disediakan oleh guru Yun.
“Brak… Sat.. Set.. Syutt..” Leon dengan lincah memotong dan mencairkan semua bahan potion yang sudah disediakan.
Tidak sampai semenit, potion tingkat 3 pun sudah selesai dibuatnya dan langsung dituangkan ke dalam wadah.
Tapi, tetap saja semua orang melihatnya sebagai pertunjukan sirkus yang tidak berarti.
Mereka menganggap Leon hanya asal-asalan menggabungkan bahan agar terlihat hebat padahal tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.
Tapi Leon sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan, dia langsung menyuguhkan potion tingkat 3 buatannya kepada guru Yun untuk segera diperiksa.
“Kepada guru Yun aku persembahkan” ucap Leon dengan nada mengejek sambil menyerahkan wadah yang berisi potion tingkat 3 tersebut lalu berjalan keluar kelas.
“Cih, bualannya benar-benar sudah melampaui batas! Guru Yun, langsung saja Anda berikan hukuman untuk bocah tidak tahu malu itu!” teriak salah satu murid yang sudah sangat kesal melihat kelakuan Leon yang sok tahu.
Tapi, guru Yun benar-benar terdiam tanpa sepatah kata pun setelah memeriksa potion tingkat 3 buatan Leon.
“Ini, benar-benar potion tingkat 3! Tidak! Ini bahkan jauh lebih murni daripada potion tingkat 3 yang pernah aku lihat! Bahkan aku sendiri tidak yakin bisa membuat potion semurni ini” ucap guru Yun yang terlihat masih tidak percaya.
Sontak, seluruh murid yang mendengarnya pun terkejut ikut tidak percaya dengan ucapan gurunya itu. Karena, bagaimana mungkin mereka bisa tidak percaya dengan salah satu guru alkemis Jenius di kerajaan Zhang ini.
“Itu, bagaimana mungkin? Padahal dia tidak terlihat pintar”
“A-aku masih tidak percaya”
Semua murid yang menghina Leon tadi, kini kehabisan kata-kata dan tidak lagi menghinanya.
“Eeh-ehem.. Sisa jam pelajaran ini, kalian bisa belajar sendiri, kan kalian sudah besar!” lalu, dengan tergesa-gesa guru Yun membawa wadah yang berisi potion tingkat 3 buatan Leon keluar kelas dan meninggalkan murid-murid yang lain.
Di sisi Leon…
“Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi, tapi, aku senang dengan sihir yang sudah menjadi pengetahuan umum di dunia ini” ucap Leon sambil berjalan menjauh dari kelas.
Sejenak, dia merasakan perasaan yang sama saat masih berada di dunia tempat Greta dan yang lainnya berada.
__ADS_1
“Greta, Fiona, dan yang lain… Apa kabar kalian saat ini?” gumam Leon, lalu dia pergi ke aula sihir untuk melihat perkembangan sihir dalam waktu yang tidak sampai sehari ini.
Dia berjalan terus mengelilingi ruangan aula sihir, di sana terdapat banyak sekali murid-murid akademi yang sedang berlatih.
Mulai dari murid dengan tingkat kekuatan dasar hingga tingkat menengah tahap 6, semua terlihat sangat serius melatih sihir mereka.
Meskipun setiap ruangan tidak terdapat jendela agar orang lain tidak mengganggu setiap murid yang sedang berlatih di dalamnya, tapi Leon bisa merasakan dengan jelas energi sihir mereka.
Hingga dia tiba di sebuah ruangan yang terasa sangat panas sampai-sampai bisa dia rasakan dari luar ruangan.
“Energi sihir yang aneh” ucap Leon lalu dengan penasaran, dia membuka pintu ruangan tersebut dan mengintip ke dalamnya. Dia melihat seorang gadis yang sedang melatih sihirnya.
Gadis itu memiliki dua elemen sihir yang sifatnya berlawanan keluar dari tubuhnya, jika tidak bisa mengendalikannya, itu bukanlah hal yang baik, pikir Leon.
“Tanpa membaca buku panduan saja, sifat dari elemen es dan api itu pasti berlawanan“ gumam Leon yang masih memantau si gadis tadi untuk berjaga-jaga jika akan terjadi sesuatu hal yang buruk.
Benar saja, hal yang dipikirkannya pun terjadi. Tubuh gadis itu pun kini diselimuti oleh es yang akan membekukan seluruh organ dalamnya jika tidak segera dihentikan.
Hal itu terjadi karena penolakan elemen es terhadap elemen api yang sedang dilatihnya, sehingga lonjakan energi kedua elemen itu menjadi tidak terkendali.
“Syuuttt..” sebuah jarum yang terbuat dari es pun melesat ke arah gadis itu untuk mengganggu latihannya.
“Boom…” karena Leon tidak ada niat untuk menyakiti, kekuatan dari jarum es itu pun hanya sebatas agar gadis itu tidak melanjutkan latihannya.
“Siapa yang berani menggangguku?” teriak gadis tersebut yang merasa kesal.
Leon pun akhirnya masuk ke dalam ruangan dan menyapa gadis itu.
“Hai nona, perkenalkan namaku Leon” ucapnya sambil berjalan mendekat.
Tanpa menjawab salam dari Leon, gadis itu langsung mengeluarkan sihir bola api yang siap untuk dilemparkan kepadanya.
“Wush…” sebuah bola api kini melesat ke arah Leon tapi dengan mudah dihancurkan olehnya.
Hanya dengan membuat gerakan seperti menampar, bola api itu langsung lenyap tanpa ada residu energi sihir yang tersisa.
__ADS_1
Berkat status anti elemental miliknya, Leon kini terlihat sangat kuat di hadapan gadis itu. Dan tentu saja gadis itu terkejut melihat sihir bola apinya dihancurkan begitu saja dengan tangan kosong.
“Hei hei, kau seharusnya berterima kasih kepadaku karena sudah menyelamatkan nyawamu! Jika tidak, tubuhmu akan meledak” ujar Leon sambil tersenyum tampan.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya gadis itu penasaran.
“Sudah aku bilang, aku adalah penyelamatmu! Apa kau tidak paham dengan ucapanku?” jawab Leon dengan santainya.
“Cih, aku baik-baik saja, tidak perlu kau selamatkan! Aku tidak peduli kau siapa, tinggalkan tempat ini sekarang juga!” bentak gadis itu yang terlihat semakin kesal.
“Nona cantik, tidak perlu galak seperti itu, nanti tidak ada yang mau kawin denganmu lho” jawab Leon mengejek.
“Kau!!” gadis itu semakin kesal dengan ucapan Leon barusan dan bersiap untuk melemparkan sebuah tombak yang terbuat dari api.
“Wush… Boom..” sebuah ledakan dahsyat pun terjadi setelah tombak api itu menghantam tubuh Leon.
Tapi, lagi-lagi serangan itu menjadi percuma jika targetnya adalah Leon. Dia tidak terluka, bahkan tidak terlihat goresan sedikitpun di tubuhnya.
“Hmm, kau ini benar-benar gadis yang pemarah ya! Terlebih, kau punya dua elemen sihir sekaligus” ucap Leon sambil berjalan mendekati gadis itu.
“Memangnya kenapa? Semua orang di akademi ini juga sudah tahu” bantah gadis itu.
“Ck ck ck, apa yang kau lakukan tadi hanya akan meledakkan tubuhmu, nona cantik! Kalau tebakanku benar, sihir elemen es yang sudah kau miliki sejak lahir itu terlalu kuat tanpa bisa kau kendalikan, makanya kau berlatih sihir elemen api untuk menekan kekuatannya” ucap Leon.
“Karena kedua elemen itu sifatnya berlawanan, elemen es itu pun semakin memberontak sampai-sampai kau harus melatih elemen apimu lebih keras untuk tetap menekan elemen es itu” lanjut Leon.
“Tapi, apa kau tahu kalau itu hanya akan menghancurkan esensi sihir di tubuhmu dan kau pun pasti sudah tahu kalau umurmu tidak akan lebih dari 18 tahun, kan?” tanya Leon dengan penuh percaya diri.
“K-kau.. Bagaimana kau tahu?” gadis itu terkejut dan bertanya balik kepada Leon bagaimana bisa orang lain di luar keluarganya bisa mengetahui informasi itu.
“Alasanku melatih elemen api karena dokter memberitahu itu adalah cara agar aku bisa hidup lebih lama” ucap gadis itu yang tanpa sadar ia telah meneteskan air matanya.
“Padahal aku sangat suka sihir terutama sihir es, tapi keluargaku bilang aku bisa mati jika aku berlatih sihir es” lanjut gadis itu.
“Hmm, sebenarnya aku bisa membantumu untuk menekan elemen es tanpa menyakiti tubuhmu” ucap Leon sambil tersenyum tipis.
__ADS_1