
“Bagus, berarti kalian sudah mengerti perbedaan kekuatan di antara kita..!” ucap Xion sambil tertawa terbahak-bahak.
“Oh satu hal lagi, aku sangat berterima kasih kepada siapapun yang sudah meringankan turnamen ini dengan menyingkirkan bocah-bocah akademi Jalec itu” sambung Xion, lalu dia bersiap untuk menunggu lawan selanjutnya.
“Ini.. kalau bukan mereka yang mengalahkan Patrick dan Baron, lalu siapa?” Zimos terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Xion barusan.
Dia sempat menduga bahwa Xion dan teman-temannya lah yang mengalahkan mereka, dan sekarang dia berpikir sebaliknya.
“Mungkin, mereka benar-benar secara tidak sengaja dikalahkan oleh monster dengan level kekuatan yang jauh di atas mereka” ujar Zimos sambil menghela nafas.
Di sisi tim Trojan..
Reki dipapah oleh teman satu timnya untuk kembali ke belakang arena untuk segera diberikan pil obat.
“Laki-laki sialan itu, beraninya dia melakukan hal ini..!” ucap teman Reki yang bernama Seth itu.
Saat akan meminumkan obat kepada Reki, tiba-tiba, “Wush..” angin bertiup kencang dan di tangan Seth sudah terdapat sebuah pil obat dan secarik kertas yang bertuliskan
\============================
Pil obat yang akan kalian berikan tidak bisa menyelamatkannya, minumkan pil ini dan aku jamin temanmu akan kembali seperti semula.
Satu hal lagi, aku menyarankan kepada kalian untuk segera menyerah dipertarungan selanjutnya karena hal ini hanya akan terulang kembali dengan tingkat kekuatan tim kalian saat ini!
P.S: dari pria tangguh sedunia.
\============================
__ADS_1
Seth terlihat sedikit merinding setelah membaca kalimat terakhir di kertas tersebut, tapi entah kenapa dia percaya dengan pil obat yang diberikan oleh orang misterius itu.
“Apa benar pil ini akan sehebat itu?” dengan harapan yang sangat besar, Seth pun meminumkan obat tersebut kepada Reki.
Lalu, dengan sangat cepat tubuh Reki kembali terlihat membaik dan nadi yang sudah dihancurkan pun kembali utuh.
Tak lama kemudian Reki terbangun dan berteriak, “Aarrrrrhhhh.. tamatlah riwayatku..!” sambil menutupi wajahnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan.
“Reki..! Ka-kau sudah pulih?” teriak Seth, dan semua orang yang ada di situ pun terkejut.
“Wah, ternyata obat buatan pak Goro sangat ampuh..!” ucap salah satu peserta yang bertarung di babak pertama.
Goro adalah guru alkimia yang bertugas sebagai medis didalam tim mereka, dan dia adalah orang yang dipercaya oleh rajanya untuk meracik dan memproduksi obat-obatan bagi kerajaannya.
Reki langsung mengarahkan telapak tangannya ke atas dan membuat api kecil untuk memastikan apakah nadinya benar-benar hancur.
“Wush.. Wush..” dan sekali lagi, semua orang pun dibuatnya terkejut.
“Wah, sampai bisa memperbaiki nadi yang sudah hancur juga? Pak Goro memang yang terbaik..!” ucapnya lagi.
“Eh anu..” ucap Seth sambil memperlihatkan pil buatan Goro yang tidak jadi diberikan kepada Reki.
“Ada apa?” tanya Goro.
“Pil obat yang aku berikan kepada Reki bukanlah pil buatan pak Goro” ucap Seth sambil tersenyum.
“Hmm, sudah kuduga..! Karena obat buatanku tidak memiliki efek sehebat itu, dan aku merasa aneh jika Reki bisa sembuh total seperti ini hanya dengan meminum obat buatanku” jawab Goro yang ternyata tidak ada rasa kesal karena obat yang telah dibuatnya dikalahkan dengan mudah oleh obat misterius itu.
“Katakan, dari mana kau mendapatkan obat itu?” tanya Goro penasaran.
“Tadi, apakah kalian merasakan ada angin yang bertiup kencang?” tanya Seth.
“Ya, aku merasakannya, tapi aku pikir itu hanyalah angin biasa karena posisi arena ini yang cukup tinggi” jawab Goro, dan semua orang mengangguk setuju dengan ucapannya.
“Tidak, itu adalah pria misterius yang memberikan pil obat ini dan pesan yang tertulis di kertas ini..!” ucap Seth sambil memperlihatkan tulisan yang ada di sana.
__ADS_1
“Dia juga menyarankan agar tim kita mengaku kalah karena tidak mungkin bisa mengalahkan mereka” ucap Seth.
“Hmm, ternyata ada juga yang menyadari perbedaan kekuatan yang sangat jauh ini..! Aku memang ingin menyarankan tim kita mengaku kalah sebelumnya, tapi, karena aku adalah ketua tim ini, aku pikir tidak bisa membiarkan kalian menyetujui keputusanku tanpa melihat kekuatan lawan” jawab Reki yang sepertinya setuju dengan tulisan yang ada di atas kertas itu.
“Siapapun yang memberikan ini, dia bukanlah orang yang sembarangan..!” sambung Reki dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
“Yang benar saja..! Kita sudah berjalan sejauh ini dan sekarang kau menyarankan untuk menyerah?” bantah salah satu murid yang sangat tidak setuju dengan keputusan itu.
“Jangan bodoh..! Sekarang aku akan tanyakan padamu, apakah kau pernah satu kalipun menang saat bertarung denganku?” bentak Reki.
Murid tersebut pun terdiam tak bisa mengatakan apapun selain, “Tidak pernah”.
“Dan kau tahu, ‘kan? Aku dikalahkan seperti seekor semut dihadapan semua orang..! Apa kau ingin mengatakan aku akan membiarkan kalian semua melanjutkan pertarungan ini yang sama saja dengan bunuh diri?” bentak Reki kembali.
“Ma-maafkan aku, ketua..!” dan semuanya pun setuju untuk menyerah pada babak kedua ini demi keselamatan mereka.
Di sisi tim Leon..
“Yo, dari mana saja kau?” tanya Frel saat melihat Leon yang baru kembali ke kursi penonton.
“Ah dari kamar kecil, aku harus buang cairan yang tidak berguna bagi tubuh” jawab Leon.
Leon pun duduk kembali disebelah Jaffar dan langsung saja diejek olehnya.
“Kau bilang tidak peduli, tapi malah memberikan satu pil penyembuh kepadanya, dasar plin-plan” ucap Jaffar.
“Hehe, ternyata kau bisa melihatnya?” Leon menggaruk kepalanya dan merasa sedikit malu karena tindakannya berbeda dari yang dikatakannya.
Beberapa saat kemudian, pengumuman yang mengatakan bahwa tim Trojan sudah menyerah pun disampaikan oleh wasit.
“Cih, membosankan..!” cerca Xion seraya keluar dari arena pertarungan dengan wajah yang menghina.
__ADS_1