
"Le..on.." ucap Eliza sebelum akhirnya dia meninggal.
"Bruk.." tubuh Eliza kini terbaring tak bernyawa di tanah.
Tentu saja kemarahan dari beberapa warga yang sempat menaruh rasa simpati kepada Eliza bergejolak dan langsung saja menghimpun tenaga untuk menyerang pasukan Zimos.
"K-kau..!" ketua pasukan itu pun langsung menghujani pukulan kepada laki-laki yang membunuh Eliza hingga dia tak sadarkan diri.
Kini, dia pun tidak bisa menghindari pertempuran antara pasukannya dengan para warga kota.
Sementara itu di sisi Leon..
** Re: Peringatan..! Sistem pertahanan mutlak telah berpindah dari tubuh Eliza kepada seluruh warga kota budak.
Mendengar hal itu, Leon langsung terbangun dari tidurnya.
"Sistem, apa maksudmu?" tanya Leon yang sedikit panik.
** Re: Sistem pertahanan mutlak telah dipindahkan dengan persetujuan ibu Anda setelah sebelumnya sempat aktif untuk melindunginya.
"Apa yang sedang terjadi?" Leon bergegas keluar dari penginapan dan dari desa untuk segera menggunakan sihir teleportasi menuju kota budak.
"Gate..!" Leon bergegas masuk ke dalam sesaat setelah gerbang sihir itu selesai terbentuk.
Setibanya di sana, dia dikejutkan oleh api yang menyala di seluruh kota dengan bangunan-bangunan yang sudah runtuh.
"Semoga ibuku baik-baik saja" Leon melesat dengan kecepatan penuh menuju rumahnya yang sudah setengah hancur tapi tidak menemukan siapapun di sana.
"Sistem, cari keberadaan ibuku..!" bentak Leon panik.
** Re: Mencari... aku menemukan residu sihir miliknya yang sudah meredup dan dia sedang berada di pusat kota.
"Meredup? Apa terjadi sesuatu pada ibuku?" tanya Leon sambil bergegas menuju pusat kota.
** Re: Kemungkinan besar..! Karena residu sihir yang meredup menandakan seseorang sedang sekarat.
"Sekarat? Tidak.. tidak.. tidak.." Leon kini melesat dengan kecepatan penuhnya dan akhirnya dia pun tiba di sana.
Ketua pasukan Zimos langsung berkeringat dingin saat melihat kehadiran Leon.
Dia tahu persis bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh bocah yang masih berumur 13 tahun itu saat di turnamen Earlgrim.
"Dia.. bagaimana bisa ada di sini?" gumamnya dalam hati.
"Ketua, apakah itu bocah yang bernama Leon? Dia terlihat biasa saja" tanya salah satu anggota pasukannya tapi tidak dijawab oleh ketuanya.
Dengan wajah yang pucat, Leon melihat ibunya terbaring tak berdaya di tanah dengan mata yang tertutup dan tubuh bersimbah darah.
"I-ibu? Kau belum mati, 'kan?" Leon segera menjulurkan tangannya dan menggunakan sihir penyembuh.
__ADS_1
Tapi, tidak ada hasil apapun karena ibunya sudah meninggal sejak beberapa saat yang lalu.
"Tidak tidak tidak..! Ibu kau tidak boleh mati..!" ucap Leon sambil menggoyang-goyangkan tubuh Eliza.
"Greater heal..! Greater heal..! Greater heal..!" tak satu pun usahanya yang menunjukkan hasil.
** Re: Detak jantungnya sudah tidak terdengar lagi, aliran darahnya sudah terhenti, nyonya Eliza sudah tiada.
Leon tidak bisa menahan air matanya dan akhirnya dia pun menangis.
"Ketua, aku pikir misi menculik wanita itu adalah untuk membuat anaknya menyerah karena tidak bisa dilawan secara langsung oleh tuan Zimos, tapi tampaknya tuan Zimos sudah mulai melemah karena takut dengan bocah cengeng itu" ucap salah satu pasukan.
"Kau..!" ketua pasukan Zimos pun terlihat semakin panik saat melihat Leon yang kini pasti akan sangat marah atas kematian ibunya.
"Siapa.. siapa yang melakukannya?" tanya Leon yang masih tertunduk di sebelah tubuh ibunya.
Tiba-tiba, "Wush.. Gelegaaaarrr.." sebuah petir besar pun menyambar di langit dan aura di seluruh kota menjadi sangat mencekik.
"Boom.." energi sihir yang sangat besar pun meledak dari dalam tubuh Leon dan langsung menghempaskan orang-orang di sekitarnya.
Tubuh Leon kini sudah dipenuhi oleh energi sihir berwarna merah gelap dan lensa matanya pun berubah warna merah.
"Lari..! Selamatkan hidup kalian..!" teriak salah satu warga yang memperingatkan warga lainnya.
Seluruh pasukan Zimos pun terkejut dengan apa yang terjadi kepada bocah itu.
"Semua pasukan bersiaplah..!" teriak ketua pasukan Zimos yang sebenarnya tidak ingin berhadapan dengan Leon, tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, kalau tidak ada yang mau mengaku, kalian semua akan aku anggap sebagai pelakunya..!" ucap Leon dengan suara seperti monster.
Leon berdiri lalu mengangkat tangan kanannya ke atas lalu berkata, "Paralyze..!".
Tanpa seorang pun yang bisa lolos, seluruh pasukan Zimos kini tak bisa menggerakkan tubuh mereka dan langsung terjatuh ke tanah.
"Karena kalian sudah berani melewati batas, aku harap kalian sudah siap" Leon lalu mengarahkan tangannya kepada pasukan itu.
"Incinerate..!" lalu tanah yang mereka injak berubah merah dan gemuruh yang sedari tadi bergejolak, kini menjadi semakin ramai terdengar.
Hawa panas yang luar biasa pun perlahan membakar tubuh para pasukan Zimos.
Hingga sesaat kemudian, "Boom.. Gelegaaaarrrr...".
Sebuah sihir api dengan kekuatan level 10 pun muncul dari bawah kaki para pasukan itu.
Sihir itu menembak ke arah langit dan memusnahkan 90 persen dari pasukan Zimos dalam sekejap.
"I-itu, apakah dia masih Leon yang sama?"
"Maksudmu, Leon yang tidak berguna itu?"
__ADS_1
"Kekuatan yang sangat gila..!"
Semua orang yang menyaksikannya benar-benar tidak bisa mempercayai bahwa itu adalah Leon yang selalu mereka caci maki dan bahkan mengatakan bahwa dia adalah aib bagi kota itu.
"Sekarang, aku mau kalian mengatakan siapa yang menyuruh untuk membunuh ibuku?" tanya Leon.
Kini tubuhnya dipenuhi oleh energi seperti di serial Dragon Ball, hanya saja energi yang dipancarkan Leon berwarna merah gelap.
Setiap langkah yang dia ambil, membuat tanah bergetar dan petir menyambar.
Bahkan tidak ada satu entitas pun yang bisa menyentuh seujung rambut Leon.
"A-ampuni kami.." teriak pasukan yang masih tersisa.
Beberapa dari mereka ada yang menangis, buang air di celana, bahkan ada yang muntah darah karena terlalu takut.
"Aku tidak butuh kalian memohon, aku hanya butuh kalian mengatakan siapa yang menyuruh kalian..!" ucap Leon sambil mengayunkan tangannya untuk meledakkan tubuh pasukan itu satu per satu.
Karena sudah tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ketua dari pasukan itu mengatakan yang sebenarnya.
"Zimos.. yang menyuruh kami adalah tuan Zimos..! Kami diperintahkan untuk membawa wanita yang bernama Eliza itu untuk membuatmu.." tidak sempat dia menyelesaikan perkataannya, Leon langsung meledakkan tubuhnya hingga miliaran potong.
Sontak semua pasukan yang tersisa merasakan ketakutan yang luar biasa dan mereka memohon agar nyawanya diampuni oleh Leon.
Warga kota yang menyaksikan itu tidak berani mengatakan atau berbuat apapun karena tidak ingin Leon meledakkan mereka juga.
"Tuan Leon, kami mohon ampuni kami" teriak mereka secara serentak memohon dengan air mata yang tidak bisa berhenti.
"Kalian ingin meminta pengampunan? Kalau begitu tanyakan kepada ibuku yang sudah mati di sana..! Jika dalam hitungan ke 5 kalian mendapatkan ampunan darinya, maka aku akan mengampuni kalian..!" ucap Leon.
Para pasukan itu pun seperti kebingungan dan akhirnya melakukan apa yang dikatakan oleh Leon.
Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi, orang mati tidak bisa hidup kembali hanya untuk memberikan pengampunan.
"5.. waktu kalian sudah habis..! Incinerate..!" Leon kembali menggunakan sihir api level 10 untuk memusnahkan mereka semua.
"Tuan, kami moh..." dan mereka langsung terbakar habis tanpa menyisakan debu sedikitpun.
"Arrrrrghhhhh... ZIMOOOS..!" teriak Leon yang sampai mengguncang kota budak seolah-olah sedang dilanda gempa bumi.
Leon langsung menggunakan sihir gerbang teleportasi untuk pergi ke asosiasi sihir dunia yang dipimpin oleh Zimos.
"Kalian, jaga jasad ibuku hingga aku kembali..!" ucap Leon kepada warga kota, dan semuanya langsung menganggukkan kepala mereka mengiyakan permintaan Leon.
** Re: Selamat, Anda sudah membunuh 2000 orang dengan level 8, Anda mendapatkan poin sebanyak 50.000.
"Buka paksa atribut sihir, Time..! Gunakan semua poin itu untuk meningkatkan levelnya..!" ucap Leon sambil memasuki portal sihir, dia berencana meningkatkan atribut time hingga level maksimal bagaimanapun caranya.
Karena dia ingin menghidupkan kembali ibunya dengan sihir resurrection atau sihir menghidupkan yang sudah mati seperti yang telah dijelaskan oleh sistem sebelumnya.
__ADS_1