
Seorang gadis belia bernama Arumi yang hidup serba kekurangan setelah kematian kedua orang tuanya, ibunya meninggal saat Arumi masih kecil dan ayahnya meninggal 2 tahun lalu karena terjatuh ke sungai saat berburu, setelah itu Arumi bekerja di sebuah toko milik pamannya.
Walau hidup serba kekurangan Arumi tak pernah mengeluh, bahkan senyuman tak pernah pudar dari wajahnya, dia selalu teringat ucapan ayahnya kalau senyuman bisa membuat hidup kita terasa lebih bahagia.
Arumi tak tau entah kata kata itu benar atau tidak, tapi setidaknya kata kata itu selalu ada dalam ingatannya bagai sebuah kenang kenangan khusus dari ayahnya.
Walau hidup serba pas pas'an tak jarang saat memiliki sedikit rejeki dia akan berbagi dengan anak anak tak mampu di sekelilingnya (walau dia sendiri juga golongan orang tak mampu).
Sifatnya yang ramah dan suka berbagi membuatnya di sukai masyarakat.
Suatu sore saat dia sedang berjalan di pinggiran hutan untuk mengumpulkan kayu bakar, dia tak sengaja menemukan seekor serigala yang tergeletak dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya, serigala itu hanya diam sambil sesekali menggeram.
Walau ada perasaan takut Arumi tak bisa menutupi keinginannya untuk mendekat dan menolong serigala itu.
"kau pasti kesakitan" gumamnya.
Tanpa ragu arumi berlari ke arah dalam hutan mencari beberapa tanaman obat, setelah mendapatkan beberapa tumbuhan yang di butuhkan dia segera mencari batu untuk menumbuknya.
Arumi kembali berlari mendatangi serigala yang sudah bersimbah darah dengan membawa racikan obat.
"serigala pintar aku akan mencabut panah ini, kau tahan sakitnya yah" ucapnya sambil mengelus kepala serigala itu.
"grrrr" serigala itu menggeram seolah menjawab perkataan Arumi.
Dengan tangan bergetar Arumi mencabut anak panah di tubuh serigala, ada satu di kaki belakang dan dua di bagian punggung, setelah itu Arumi langsung mengoleskan tumbukan tumbuhan obat pada luka lukanya.
Setelah selesai mengobati sang serigala Arumi berniat kembali ke rumah karena hari sudah hampir gelap, saat baru beberapa langkah berjalan Arumi kembali memandang serigala putih besar di belakangnya.
"kalau aku meninggalkannya dalam kondisi seperti ini apa tidak berbahaya? aku baru saja mengobatinya kalau nanti ada pemburu atau binatang liar yang lewat dan melihatnya maka sia sia saja aku mengobatinya" gumamnya.
Arumi kembali berjalan mendekati sang serigala dan berjongkok di depannya
"heii apa kau bisa berjalan?" tanya Arumi.
"ggrrrrr" geram serigala itu.
"ahh ya ampun aku lupa kau tak bisa bicara" ucapnya sambil menepuk jidat.
"oh ya begini saja kalau jawabanmu iya kau menggeram sekali dan kalau jawabanmu tidak mengggeramlah dua kali, kau mengerti" ucap Arumi.
"ggrrr"
"kau mengerti !! waahhh anjing pint- ehhh serigala pintar" ucap Arumi kegirangan.
"jadi bagaimana, kau bisa berjalan?" tanyanya lagi.
"ggrrr" geram sang serigala lagi.
"kalau begitu ayo ikut kerumahku, aku akan merawat dan mengobatimu sampai sembuh" ucapnya senang
(untuk manusia normal sudah pasti akan takut saat bertemu serigala, mungkin Arumi sedikit gesrek jadi dia malah ngajak serigala kerumahnya)
Arumi berjalan pelan dengan di ikuti serigala yang berjalan tertatih di belakangnya, sesekali dia bercerita tentang kehidupan sehari harinya layaknya bercerita pada sahabatnya, dia terus mengoceh sepanjang walau tak ada jawaban dari serigala itu.
Sesampainya di rumah Arumi langsung masuk ke rumah lewat pintu dapur.
"hei serigala pintar masuklah ke kandang ini" ucap Arumi sambil membuka pintu kandang di dapurnya.
"ggrrr gggrrr" geram sang serigala menolak.
"ayolaahhh .. Walaupun kau sedang terluka tak ada jaminan tengah malam nanti kau tak akan memakanku, bagaimana kalau saat aku tertidur kau menerkamku? aku tak ingin mati muda" ucap Arumi lagi.
__ADS_1
Sang serigala hanya menatap Arumi dengan tatapan malas, dia sadar gadis seperti Arumi tak sepatutnya di jadikan lawan berdebat, lalu sang serigala berjalan ke arah kandang dan langsung masuk ke dalamnya.
"woohhh benar benar anj- ehh serigala yang sangat pintar" ucap Arumi antusias.
(kenapa aku terus terusan hampir menyebutnya anjing, kalau sampai aku kelepasan bisa bisa aku di makan bulat bulat oleh serigala besar ini) batin Arumi.
Arumi bergegas mandi dan memasak makanan untuk makan malamnya, hanya ada beberapa sayur dan dua ekor ikan pemberian dari pamannya sore tadi.
Selesai masak Arumi bergegas makan malam karena cacingnya sudah sejak tadi meminta jatah makanan,
selesai makan Arumi kembali menghampiri sang serigala yang nampak tertidur.
"apa darahnya sudah berhenti mengalir? padahal aku mau memberinya makan" gumamnya.
Karena Arumi sudah tak melihat ada darah yang mengalir di tubuh serigala itu maka dia beranjak ke dipan kayu tempatnya merajut mimpi.
"kenapa tiba tiba aku merindukan ayah dan ibu" batinnya.
Paginya Arumi terbangun saat mendengar suara geraman dari bagian dapur, dia baru teringat ada seekor serigala besar di rumahnya, maka tanpa pikir panjang dia bergegas ke arah dapur.
Arumi terkejut mendapati ada seekor ular masuk ke rumahnya, nampaknya serigala itu merasa terganggu atau bahkan terancam dengan kehadiran ular itu, dengan perasaan sedikit takut arumi mengusir ular dengan melemparkan beberapa batang kayu yang ada di dekatnya.
Setelah ular itu pergi Arumi mendekati kandang yang berisikan serigala besar
"apa ular tadi mengganggumu serigala pintar" tanya Arumi.
"ggrrr grr" sang serigala menggeram malas.
"baguslah, kalau begitu aku akan bersiap berangkat kerja" ... "ohya aku hampir lupa" Arumi beranjak dari tempatnya, tak berapa lama arumi datang sambil membawa 2 ekor ikan bakar di tangannya.
"heii pintar makanlah ini, tadi malam aku berniat memberikan ini padamu, tapi waktu aku lihat kau sudah tidur" ucapnya.
Serigala itu langsung melahap 2 ekor ikan bakar yang di beri Arumi.
Serigala itu menatap Arumi dengan tatapan tak percaya, raut mukanya layaknya orang yang baru saja mendengarkan sebuah bualan.
"heiii apa apaan tatapan itu? mukamu menyebalkan sekali, apa kau tak mempercayai ucapanku" ucapnya kesal. "sudahlah aku akan bersiap dulu, ohyaa nanti aku akan menerima gaji jadi mungkin aku bisa membelikan seekor ayam untukmu" ucap Arumi senang.
Sore harinya Arumi berjalan pulang dengan membawa beberapa kantung makanan, terlihat ada beberapa sayuran dan satu kantung kecil ikan.
"hhhh ternyata harga ayam cukup mahal, tapi tenang saja aku mendapat 2 ikan segar untukmu" ucapnya senang.
"apa aku perlu membakarnya lagi, atau kau mau memakan ikan ini mentah mentah?" tanya Arumi pada sang serigala.
Serigala itu hanya melirik ke arah Arumi dengan tatapan malas.
"oh baiklah, sepertinya kau mau ikan ini di bakar" ucap Arumi menyimpulkan.
Selesai memasak dan makan Arumi memberi ikan yang di bakarnya tadi, setelah itu dia berniat memberi obat pada luka sang serigala, tapi dia takut kalau tiba tiba serigala itu menyerangnya.
"aku ingin mengoles obat ini pada lukamu, tapi berjanjilah jangan menggigitku" ucapnya.
"ggrr" geram sang serigala.
"kat- ehhh geramanmu bisa di percaya kan?" tanya arumu ragu.
"gggggrrrrrrrrrr" geram sang serigala lagi.
Arumi bergegas membuka pintu kandang dan serigala itu langsung keluar, nampak lukanya sudah membaik karena jalannya sudah lebih baik dari kemarin.
Arumi terus merawat serigala itu dengan baik, walau Arumi tak tau makanan yang di berinya selama ini cukup atau tidak untuk mengobati lapar dari si serigala.
__ADS_1
Saat luka di tubuh serigala sudah pulih sepenuhnya Arumi kembali melepaskan serigala itu ke hutan, selang satu minggu Arumi di kagetkan dengan adanya 2 ekor ayam dan setumpuk kayu bakar di dapurnya.
Keadaan rumah yang berada di ujung desa dan tidak memiliki tetangga membuatnya tak bisa menanyakan pada siapapun, hal yang sama terus terjadi selama beberapa bulan, tiap satu minggu sekali akan ada kayu bakar dan ayam/ikan di dapurnya, tak jarang juga ada beberapa buah di meja.
Sampai suatu hari Arumi jatuh sakit, tubuhnya bergetar dan terasa lemas sampai dia tak bisa bekerja.
saat siang tiba Arumi mendapati sesosok lelaki berjubah masuk ke rumah lewat pintu belakang, lelaki itu terlihat membawa 2 ekor ayam dan kayu bakar.
"jadi kau yang selama ini memberiku makanan dan kayu bakar?" ucap Arumi lirih.
Lelaki itu mematung saat mendapati Arumi memergokinya masuk ke rumah tanpa ijin, lelaki itu layaknya pencuri yang tertangkap basah oleh pemilik rumah, hanya bedanya di sini dia bukan mencuri tapi justru memberi makan pada pemilik rumah.
"kenapa diam saja? aku bertanya padamu" ucap Arumi lagi.
"ma-maafkan aku, aku telah bersikap lancang" ucap lelaki itu pelan.
"tak apa, aku tau kau tak berniat buruk padaku, kau bahkan telah repot repot memberiku banyak makanan dan kayu bakar" ucap Arumi sambil tersenyum.
Lelaki itu meletakkan kayu bakar dan ayam yang dia bawa, lalu mendekat ke arah Arumi dengan membawa sesuatu di kantung.
"apa itu?" tanya Arumi.
"ini apel, aku baru memetiknya" jawabnya sambil mengulurkan dua buah apel.
"terimakasih, tapi bisakah aku meminta tolong ambilkan ramuan obat di meja dapur" tanya Arumi.
Lelaki itu langsung bergegas ke dapur, rumah kecil arumi hanya terdiri dari 3 ruangan, kamar dan dapur bersebelahan dan tak berpintu, hanya ada pintu di bagian dapur dan ruang tamu saja, sebenarnya lebih patut di sebut gubuk dari pada rumah.
Lelaki yang terkesan misterius itu memberi gelas ramuan pada Arumi dan tanpa sengaja dia menyentuh tangan Arumi.
"tanganmu dingin sekali nona" ucapnya.
Tapi Arumi hanya tersenyum ke arah lelaki itu, dan tanpa banyak bicara lelaki itu pergi ke dapur untuk memasak air, setelah itu dia mengompres Arumi.
selesai mengompres lelaki itu kembali ke dapur dan memasak bubur.
"makanlah, bubur ini akan menghangatkan tubuhmu" ucapnya.
Tanpa banyak berkata Arumi langsung memakannya dengan lahap karena dari pagi dia belum sarapan.
"enak sekali, apa kau pandai memasak?" tanya Arumi.
Lelaki itu hanya mengangguk.
"anda baik sekali, terimakasih" ucap Arumi
"aahh itu aku hanya berterima kasih karena nona telah menyelamatkan seekor serigala putih beberapa bulan lalu" ucapnya tergagap.
"apa serigala itu milikmu?" tanya Arumi antusias.
"i-iya ... aku akan pulang" ucapnya.
"baiklah, terima kasih banyak sudah merawatku"
Lelaki itu hanya tersenyum dan berlalu pergi, hari itu untuk pertama kalinya ada orang yang merawat Arumi selain ayahnya.
Walau lelaki itu terkesan misterius tapi Arumi tak merasa terancam saat kedatangannya, justru dia merasa ada kehangatan saat bersama lelaki itu.
....bersambung.....
Semoga suka dengan cerita ini
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya💜