
"uhukk uhuukkk"
"Duwan"
"uhh apa yang terjadi?"
"tidak ada, kamu istirahat lagi saja"
Semalam saat Kai keluar dan menyerang para perampok Alara memapah Duwan untuk keluar dari rumah, Arya juga dengan patuh mendengar perintah ibunya, saat pertarungan usai tiba tiba Kai mendekat dengan panik dan meminta Alara untuk segera pergi.
Setelah melewati malam dengan perjalann tak jelas akhirnya mereka beristirahat di sebuah goa dekat laut, Duwan tidak sadarkan diri semalaman meski Alara sudah memberinya pil pemulihan, tapi untungnya pagi ini Duwan sudah bisa membuka mata.
"Kai katakan apa yang terjadi semalam?"
"semalam aku merasakan adanya energi sihir hitam yang mendekat majikan"
"energi sihir hitam?"
"aku tidak begitu yakin tapi energi itu terasa sangat mengerikan, instingku sebagai binatang bisa langsung tau bahwa energi itu sangat berbahaya"
"y sudah kau istirahat lagi saja"
Alara duduk bersila dan memejamkan matanya, fikirannya berusaha memfokuskan untuk berkomunikasi dengan Abel yang entah ada di mana sekrang.
"aneh, kenapa aku tidak bisa berkomunikasi dengannya" gumam Alara heran.
"energi sihir hitam yang di maksud Kai, apa itu ada sangkutannya dengan kutukan yang tertanam pada tubuh Arya? kalau memang benar itu berarti keberadaan kami sudah di ketahui oleh bajing*n itu" batinnya.
"hufft bagaimana ini?"
"hng ibuuu🥱"
"Arya sudah bangun? ada apa sayang?"
"uhhh sakit bu😖"
"a-apa yang sakit nak? kamu kenapa?"
"sakiit .. sakiit"
Arya terus memegang dadanya dan mengerang kesakitan, tubuhnya panas dan pipinya merah padam, semakin lama erangannya berubah menjadi gumaman dan membuat ibunya makin khawatir.
"apa yang harus aku lakukan sekarang😣?"
"huftt tenang Alara tenang, sekarang ayo pikirkan cara terbaiknyaa .. hufftt sayangku bayiku yang kuat kakakmu sekarang butuh pertolongan, ibu mohon kamu harus membantu ibu ya nak🤰"
Setelah berusaha tenang Alara merentangkan tubuh Arya, wanita itu membuka baju anaknya dan meraba dadanya, detak jantungnya sangat lemah dan lagi ada titik hitam yang tiba tiba muncul di sana.
Alara sangat yakin ini adalah efek kutukan yang tertanam di tubuh putra pertamanya, Alara beberapa kali menarik nafas panjang lalu setelah itu satu tangannya menyemtuh dada Arya dan satunya dia arahkan ke perutnya.
Perlahan muncul aliran energi berwarna hijau dari kedua telapak tangannya, Kai yang saat itu masih terlelap langsung bangun dan memperhatikkan tuannya, setelah hampir 1 jam melakukannya sudah tidak terdengar lagi rintihan dari bibir Arya, Alara menghentikan aktifitasnya dan perlahan membuka mata.
"uhkk🤦"
"kenapa majikan?"
"tidak apa apa Kai, tolong jaga mereka berdua aku akan memulihkan tenagaku"
"baik"
Sekarang dengan konsentrasi penuh Alara berusaha memulihkan energinya, bibir pucatnya perlahan memerah dan tarikan nafasnya juga kembali normal, Kai terus mengamati majikannya dari kejauhan, harimau itu berusaha menjaga Arya dengan baik.
Sudah 3 jam lamanya Alara masih belum membuka mata, meski begitu Kai tidak berani mengganggu, Arya dan Duwan juga masih tertidur dengan lelap.
"majikan! bagaimana?"
"sudah lebik baik Kai, mereka belum bangun?"
"belum, mereka masih tidur .. emm"
"kenapa?"
"tadi saat majikan bersemedi di sana aku melihat sesuatu" ucap Kai ragu.
"apa🤨?"
"aku melihat ada sebuah cahaya yang melindungi tubuhmu, dan asal cahaya itu dari sini" ucap Kai menyentuh perut Alara.
"dari sini🤰?" tanya Alara memastikan.
__ADS_1
"iyaa aku awalnya ragu, tapi saat majikan selesai semedi aku lihat cahaya itu kembali masuk ke sini" ucap Kai yakin.
"hhhh.. cahaya apa itu?" gumam Alara bingung.
"majikan aku akan keluar mencari makan"
"iya, berhati hatilah"
Sampai sore tiba Duwan dan Arya baru bangun, wajah cerah anak itu membuat kekhawatiran Alara menghilang, Duwan juga sudah terlihat tidak kesakitan lagi.
"ibuuu"
"ya ... Arya lapar?"
"hmmm Alyaa sangat lapal, pelut Alya sangat belisik" ucapnya.
"Aryaa apa kamu masih belum bisa mengucap R?"
"L?"
"bukan L tapi R"
"LL"
"R"
"LLLL"
"huftt sudahlah😒, ayo cepat makan"
"sayang suapi aku" ucap Duwan.
"memangnya tanganmu patah?'
"aku kan sakit"
"ishh alasan saja"
Meski menggerutu Alara menyuapi Arya dan Duwan bergantian, Kai sudah kembali tidur setelah selesai makan, nampaknya harimau itu masih kelelahan karena kejadian semalam.
Meski ekspresinya ketus seperti biasa, tapi perasaannya sangat tidak tenang, kondisi di mana Arya tiba tiba kesakitan membuatnya memikirkan banyak hal, entah alasan apa yang memicu anak itu kesakitan, dan lagi kata kata Kai tentang cahaya yang menyelimuti tubuhnya.
"tidak, Alya sehat" jawabnya ceria seperti biasa.
"ehh sakit? memangnya semalam Arya terluka?"
"tidak tadi pagi tiba tiba dadanya sakit"
"mau ayah periksa?"
"tidak usah, fisiknya baik baik saja" jawab Alara melarang.
Karena semuanya dalam kondisi baik mereka memutuskan untuk segera pergi lebih jauh, perasaan gelisah yang menyelimuti sepasang ibu dan ayah itu benar benar tak bisa di bendung lagi.
Saat memasuki kota Sera Duwan dan keluarga memilih menginap di penginapan pinggiran kota dari pada di pusat kota, bukan tanpa alasan mereka memilihnya, karena selama ini orang orag yang menginap di penginapan seperti itu hanya pedagang kecil dan pendekar biasa, bisa di katakan mereka ingi meminimalisir bahaya yang ada.
"aku masih belum mengerti kenapa Arya bisa kesakitan begitu? padahal selama ini aku tak pernah mengajarkan ilmu bela diri atau apapun yang bersangkutan padanya, apa jangan jangan aura sihir hitam bisa memicu kutukan itu" batin Alara perpikir.
Karena tak mendapat jawaban apapun Alara memutuskan tidur dan menyiapkan diri untuk perjalanan esok, hal yang masih Alara belum mengerti Arya bersikap terlalu tenang untuk ukuran bocah yang belum sampai usia 3 tahun, jika biasanya anak anak akan ketakukat tentang bahaya yang telah di lewatinya justru Arya terlihat biasa saja dan tidak membahasnya.
Paginya Duwan mengajak istri dan anaknya untuk sarapan dan membeli perbekalan, sebisa mungkin mereka berniat pergi jauh tanpa banyak berhenti.
"kita mau kemana ya Ra?" ucap Duwan terlihat bingung.
"bagaimana kalau kita ke Bona?"
"Bona? maksudmu kota kecil yang ada di perbatasan sebelah utara?" tanya Duwan memastikan.
"yaa, memang Bona yang mana lagi?"
"yang benar saja, itu kan sangat jauh Ra"
"tidak masalah, aku bersedia pergi ke ujung dunia sekalipun demi keselamatan Arya"
"aku juga begitu Ra, tapi kamu sedang hamil" ucapnya cemas.
"heyyy kau pikir aku selemah itu?"
"sekalipun aku tidak pernah berpikir begitu, tapi kasihan bayi kita"
__ADS_1
"tenang saja Duwan, bayi kita itu sangat kuat kamu tidak usah khawatir" ucapnya santai.
"tapi Raa.."
"apa kamu tidak percaya padaku😒?"
"ishhh bukannya aku tidak percaya tapi sekali saja dengarkan aku, aku tau kamu dan bayi kita sangat kuat, tapi melalui perjalanan untuk ke Bona sangatlah jauh, medan seperti apa dan rintangan seperti apa kita tidak tau Ra, bagaimana kalau nanti lebih berbahaya? kasihan Arya, dan kita juga tidak bisa mengandalkan Kai terus, dia juga punya batasan" ucap Duwan serius.
"maaf aku terlalu egois, aku tidak berfikir sejauh itu" jawabnya tertunduk.
"untuk sementara sampai bayi kita lahir kita menetap di ujung kota ini saja ya, kudengar di sana juga ada banyak pengungsi"
"pengungsi?"
"iya, katanya di kota sebelah banyak siluman yang menyerang, dan itulah kenapa aku berusaha meyakinkanmu untuk menetap sementara"
"tunggu dulu, kenapa bisa ada banyak siluman yang menyerang ke sana?"
"aku kurang tau jelasnya, tapi katanya pemburu di sana banyak membunuh ular, dan sekarang justru banyak siluman ular yang menyerang"
"siluman ular yaa, apa mungkin ular ular yang mereka bunuh itu anak siluman?" ucap Alara penasaran.
"entahlah, sudah jangan kamu pikirkan, sekarang cepat habiskan sarapanmu"
Selesai sarapan mereka membeli keperluan Arya, susu dan beberapa cemilan menjadi tujuan utama mereka karena Arya sangat suka mengemil makanan, tidak lupa Duwan juga membeli pil vitamin untuk istrinya yang tengah hamil.
Alara tak pernah protes dengan apa yang di berikan Duwan, asal Duwan berkata itu untuk kesehatannya dan bayinya maka Alara akan mengkonsumsi tanpa banyak tanya.
"Arya bosan yah?"
"emmm, mau main sama halimau" jawabnya lesu.
"Kai sedang istirahat jadi Arya main sama ibu saja ya, atau mau jalan jalan sama ayah?"
"jalan jalan kemana? ke laut?"
"hmm untuk sementara kita tinggal di sini, ayah akan mencari tempat tinggal sementara untuk kita jadi kita tidak bisa ke laut"
"hmm Alya tidul saja"
Meski memiliki fisik yang lemah Arya adalah anak yang riang dan sangat menyukai alam, dia akan sangat suka mengikuti ayahnya mencari tanaman herbal di laut atau berlari di pinggiran pantai bersama Kai, tak peduli walau anak itu akan pingsan karena kelelahan.
Alara sedikit sedih karena putranya terlihat tidak bersemangat, baginya semangat anaknya adalah obat terbaik untuk menenangkannya.
"cup .. selamat tidur"
Setelah Arya tertidur Alara berbaring di sebelahnya, wanita itu mendekap tubuh putranya dan memejamkanmata.
"kenapa tiba tiba aku merindukan Damar" gumamnya.
"sudah hampir 3 tahun yah? padahal dulu aku berjanji untuk kembali secepatnya, bagaimana keadaan anak itu sekarang? dia pasti baik baik saja kan karena ada kakek bersamanya, Alan dan saudara saudara Kai juga, apa aku bisa bertemu dengan mereka semua😔"
* * *
"TAK .. TAK .. BUAAKKK .. BOOM"
"ya ampun, mau berapa banyak boneka kayu yang kamu hancurkan bocaah🤦?"
"hosh hosh .. sampai kakek mau berlatih tanding denganku😏"
"hahhh kamu benar benar keras kepala, kenapa kamu sangat ingin bertanding denganku?"
"aku ingin segera kuat kakek, aku.. emm aku sangat merindukan kakak🥺"
"kenapa kamu selalu memasang ekspresi begitu setiap membicarakannya? kamu pikir dia gadis yang lemah?"
"bukan begitu, kalau aku lemah begini mana mungkin aku bisa menjelajah negeri ini dan mencari kakak, kalau aku lebih kuat ... walau sulit aku pasti bisa segera bertemu kakak" ucapnya mantap.
"kamu sangat menyukainya?"
"emm aku sangat menyukainya"
"gadis dingin begitu😒?"
"yaa memang kakak sedikit dingin tapi kakak sangat baik, kakak selalu merawatku dengan baik"
"lalu aku tidak baik?"
"ehh bukan bukan, kakek juga baik kok hehe😁"
__ADS_1