
"si*lan harusnya kau menyediakan banyak susu, sekarang bagaimana nasib Arya"
"aku lupa Ra"
"trus bagaimana? masa iya Arya harus minum susu macan" ucap Alara kesal.
"apa aku harus mencarinya🐯?" tanya Kai polos.
"aissh yang benar saja, aku saja yang srigala minum susu sapi"
"macan? srigala? sapi?" ucap gadis yang mereka tolong.
"ahhh dia memang suka begitu kalau marah haha" jawab Duwan canggung.
"ohh, memangnya asimu tidak keluar?"
"apa? asi?" tanya Alara bingung.
"iya, kudengar susunya habis memang asimu tidak keluar"
"heyy.."
"ahhh ituu asinya tidak lancar" potong Duwan.
"apa ma.."
"sudah yaa jangan marah marah, untuk sementara kita beri Arya sari buah, secepatnya kita akan sampai ke kota terdekat"
"apa maksudnya asi? jangan bilang dia pikir Arya anakku" batin Alara menebak.
Langit hari ini pagi ini terlihat sangat cerah, hari yang cocok untuk memulai hari dengan penuh semangat, setelah mengobrol beberapa waktu Alara dan Duwan tau beberapa hal tentang pemuda yang di tolongnya.
Mereka berdua adalah sepasang kakak adik, sang laki laki bernama Rian pemuda berusia 20 tahun dan merupakan seorang murid unggulan di sekte Bukit hijau, dan adiknya bernama Kemala yang baru berusia 16 tahun.
Awal mula mereka bertarung dengan beruang api karena ketidaksengajaan, Rian dan Kemala sedang melakukan perjalann ke kota Teratai untuk mengikuti ajang perlombaan, Kemala mewakili sektenya untuk berpartisipasi sedangkan Rian yang menemani perjalnannya.
Semuanya berjalan sangat lancar tanpa hambatan, sampai hari itu Rian tiba tiba merasakan hawa panas dan aura siluman yang kuat, awalnya mereka memutuskan untuk berlari karena Rian sadar akan sulit bertarung sambil melindungi adiknya.
Tapi siapa sangka justru muncul satu siluman lagi yang menghadang mereka, di awal pertarungan Rian dan Kemala berhasil menaklukan 1 siluman beruang api, tapi beruang api yang satunya memiliki level dan ukuran lebih besar dari yang sebelumnya, sampai akhirnya mereka terpojok dan di bantu oleh Kai dan berakhir bersama rombongan Alara.
"kita tidak bisa berlama lama di sini, terlalu bahaya jadi ayo kita lanjutkan perjalanan" ajak Duwan.
"tapi bagaimana dengan kakakku?"
"aku sudah bicara pada Kai, dia bisa naik ke punggungnya dan setelah sampai kota kita berpisah di sana"
"baiklah, terimakasih banyak"
Karena Rian masih belum sadar jadi dia berada di punggung Kai dengan posisi tengkurap, sebelum melakukan perjalanan Alara sudah memastikan kaki pemuda itu takkan lagi mengalami pendarahan.
Hanya butuh waktu 1 hari mereka sudah tiba di gerbang kota, Duwan dan Kemala memapah Rian untuk masuk ke kota, suasana sore di sana terbilang msih ramai, bahkan masih ada antrian untuk masuk ke sana.
"bstt tuan" bisik seorang nenek.
"iya kenapa nek?" jawab Duwan membungkuk.
"bayi yang bersama gadis itu bayimu?"
"ehh? i-iya kenapa?" jawab Duwan gugup.
"kalau begitu bawa istri dan anakmu menjauh dari sini, menjauhlan dari kota manapun sampai satu tahun kedepan" ucapnya.
"lho kenapa nek? memang apa salah kami?"
__ADS_1
"bukan salahmu, tapi sudah dari minggu lalu bayi yang baru lahir di sini semuanya mati di bunuh"
"a-apa? nenek bicara apa? jangan menakutiku begitu" ucap Duwan tak percaya.
"bodoh! kemarikan kupingmu!"
Dengan segera Duwan menuruti sang nenek, matanya melotot seakan sangat kaget dengan apa yang di dengarnya, bahkan tangannya juga bergetar hebat saking kagetnya.
"Mala maaf sepertinya kita harus berpusah sekarang"
"ehh kenapa? bukannya.."
"sulit di jelaskan, tapi kami bertiga harus segera pergi dari sini"
"begitu yahh, ahh tolong pegang kakakku sebentar"
Kemala mengeluarkan sebuah tanda pengenal dari kantongnya, dia memberikan tanda pengenal itu pada Alara.
"kakak aku tudak tau kenapa kalian tiba tiba jadi buru buru ingin pergi, tapi tolong bawa ini" ucapnya.
"ini..? untuk apa?" tanya Alara bingung.
"ini tanda pengenal milikku, jika suatu saat kakak perlu bantuan datanglah ke sekte bukit hijau dan tunjukkan tanda pengenal ini, aku berjanji apapun itu aku akan berusaha menolong kalian semampuku" ucapnya mantap.
"tidak perlu, kami..."
"kakak tolonglah, aku sungguh berhutang budi padamu" bujuknya.
"sudahlah Ra terima aja, kita cepat pergi dari sini"
"baiklah akan ku terima"
"permisi tuan bisa tolong bantu aku?" ucap Duwan
"kenapa tuan?"
"ohh baik" jawabnya berbinar.
"ayo Ra" dengan segera Duwan mengajak Alara menjauh dari kota ini, ketiganya pergi dengan kecepatan penuh menaiki punggung Kai.
* * *
"katakan di mana bayimu"
"jangan harap aku akan memberi tahumu, sampai matipun aku takkan pernah memberi tahumu brengsek"
"PLAK"
"sleer" darah mengalir dari ujung bibirnya.
Sudah lebih dari satu bulan Retno tertangkap oleh pangeran Dwi, yang sekarang tlah resmi menjadi raja, setiap hari selalu Retno lewati dengan menerima berbagai siksaan dari adik iparnya itu.
Awalnya, selama beberapa hari mereka tak menyadari kalau Retno ayu sudah melahirkan, perutnya masih besar karena Retno menyumpalnya dengan beberapa kain sebelum dia bawahan Dwi berhasil menangkapnya.
Sampai akhirnya Dwi menyadari kalau kakak iparnya sudah melewati beberapa waktu hari perkiraan melahirkan, setelah Dwi tau kebohongan Retno dengan ganasnya laki laki itu menampar bahlan menendang Retno ayu sampai pingsan.
Dalam pelariannya beberapa waktu lalu setelah melahirkan, Kelana menghadang kelompok pendekar bawahan Dwi agar Retno bisa kabur, namun sayangnya dia berhasil tertangkap karena tubuhnya yang lemah, bahkan Retno sendiri tak tau kabar sang kakak, namun beberapa prajurit mengatakan kalau senopti Kelan telh mati.
"yang mulia apa kau baik baik saja?"
"tidak papa Sekar, aku baik baik saja" jawab Retno tersenyum.
Sekar ningsih adalah selir kedua dari raja Eka, hubungan antara Retno dan selir suaminya terbilang cukup baik, apa lagi selir Sekar memiliki sikap yang hangat dan watak yang lembut, sangat cocok dengan kepribadian Retno.
"aku masih tidak mengerti Sekar, kenapa Rintih tega menghianati yang mulia, kenapa dia menghianati kita begini hiks" tangisnya pecah.
__ADS_1
"ya-yang mulia🥺"
Raja Eka adalah raja muda yang baru berusi 28 tahun, namun sikapnya yang bijaksana dan cerdas membuat raja Sunar wijaya tak ragu mewariskan tahtanya di usia Eka yang masih sangat muda kala itu, Eka memiliki satu permaisuri dan dua orang selir.
Permaisuri Retno ayu adalah putri tertua dari wali kota kota Awan, parasnya ayu dengan tutur kata yang lembut membuat pangeran Eka jatuh cinta pandangan pertama padanya dulu, dari pernikahannya keduanya memiliki 1 orang putri dan 2 putra, sayangnya hanya 1 yang masih hidup.
Lalu selir pertama Rintih Kurnia adalah putri bungsu dari bangsawan terbesar ke tiga di negeri Awan, pernikahan mereka bisa di katakan pernikahan politik karena Eka menikah dengannya demi kekuatan negeri Awan.
Dan selir keduanya atau istri ketiga raja Eka adalah Sekar ningsih, dia hanya gadis desa yang merupakan putri dari seorang tabib, saat ada peperangan Sekar dengan berani ikut turun ke medan perang untuk membantu mengobati para prajurit.
Dan saat tanpa sengaja raja Eka terluka Sekarlah yang memberi pertolongan padanya, lewat kejadian itu perlahan raja Eka jatuh hati akan keberaniannya dan menjadikannya selir, mereka di karuniai sepasang putri kembar namun sayang mereka sudah tewas sebelum usia genap 3 tahun saat penyerangan di istana.
"klotak klotak"
Suara langkah kaki kembali terdengar dari lorong penjara, tubuh Retno gemetar setiap mendengar suara langkah tersebut.
"ooow permaisuri yang malang" ejeknya.
"untuk apa kamu kesini?"
"untuk apa? ya terserahku, aku adalah permaisuri di sini dan kau hanya tahanan" ejeknya.
"kenapa kamu melakukan ini? apa salah kami?"
"hh? apa salah kami? hahaaa kalian ini lucu sekali, kalian bahkan rak menyadari kesalahan kalian?" bentaknya.
"a-apa paksudmu?"
"tchh dasar, kesalahan kalian adalah kalian bertiga bahagia di atas penderitaanku" ucapnya.
"ap-apa? aku tidak mengertii"
"ya ampun ternyata permaisuri Retno ayu sangat lugu yah? hmm tapi lugu dan bodoh itu beda tipis loh" ejeknya lagi.
"jangan bertele tele begitu, katakan dengan jelas"
"kalian bertiga benar benar kejam, sadarkah kalian berbahagia di atas penderitaanku, kau Retno! kau memiliki status sebagai permaisuri dan kau juga sangat di cintai oleh raja, dan kau j*lang Sekar! kau yang hanya seorang gadis desa dan selir kedua kenapa raja lebih menyayangimu dari pada aku? apa karena pernikahan kami adalah pernikahan politik dan kalian menikah atas dasar cinta? setiap malam.. setiap malm aku selalu menangis atas perlakuannya yang tidak adil, walau aku hanya istri yang dia dapat dari pernikahan poitik tapi statusku tetap istrinya, tapi sedikitpun aku tidak pernah di perlakukan sebagai seorang istri"
"apa yang kau katakan kak Rintih? bukannya yang mulia raja juga menyayangimu?"
"diam kau j*lang! kau pikir aku tidak bisa membedakan mana sayang dan mana rasa kasihan? dia tak pernah menyayangiku dia hanya MENGASIHANIKU" bentaknya keras.
"kau salah paham Rintih, yang mulia mencintau dan menyayangi kita bertiga juga seluruh anak anak kita" ucap Retno terisak.
"😏 lucu sekali, aku tidak pernah merasakannya sedikitpun, dan satu lagi .. putraku bukanlah putra Eka, dia adalah anak Dwi hahahaa😆😆" tawanya lantang.
"apa? k-kau benar benar keterlaluan Rintih"
"ahh itu belum ada apa apanya Retno, apa kamu tau kabar terbaru😊?"
"ap.."
"seluruh bayi di bawah usia dua bulan di negeri ini semuanya mati, mereka mati karenamu Retno hahaaaa"
"apa maksudmu😨?" tanya Retno tak mengerti.
"ck itu karena kau selalu menutup mulutmu, andai kau mau memberitahu di mana bayimu maka tidak akan ada bayi yang mati Retno"
"a-aku tidak mengerti😥"
"raja Dwi membantai seluruh bayi demi memastikan kematian bayimu, dan andai dia masih tetap hidup maka dia akan hidup dengan di bebani rasa bersalah, karenanya bayi bayi yang tidak bersalah M A T I"
"hhh hhhh ka-kalian gila, kalian benar benar GILAAA" teriak Retno.
"huust🤫 pelankan suaramu, aku semakin ingin membunuhmu jika kamu berisik begitu, tapii aku lebih ingin kamu menderita Retno, teruslah menderita dan tenggelam dalam rasa bersalah, ingatlah! ratusan bayi yang baru lahir di luar sana MATI KARENAMU DAN BAYIMU"
__ADS_1
.....bersambung.....