The Werewolf

The Werewolf
54. Roh Air


__ADS_3

"cape Ra, istirahat bentar napa" keluh Duwan lunglai.


"haduhh kita jalan baru satu jam loh, dari tadi istirahat terus kapan kita sampainya?" ucap Alara ketus.


"kakiku mau patah ini loh"


"sini biar aku patahkan sekalin" ucapnya menyergap kaki.


"tidaak tidaakk, iya iya ayo jalan" ucapnya ketakutan.


Sejak pagi Alara sudah di buat jengkel oleh pemuda itu, tak terhitung sudah berapa kali mereka berhenti karena Duwan selalu mengeluh lelah.


Selama perjalanan Kai sangat jarang keluar, harimau itu selalu menetap di tubuh tuannya dan enggan keluar, Kai hanya keluar saat merasa lapar dan kembali masuk setelah perutnya kenyang.


Hari mulai gelap, Alara dan Duwan mencari tempat berteduh karena terlihat awan hitam bergulung di langit, mereka yakin malam ini akan hujan deras.


Mulut goa yang tertutup tumbuhan rambat membuat kedua mahluk itu penasaran, setelah memastikan tak ada bahaya di dalam sana, Alara memerintahkan Duwan membuat api unggun agar goa terasa lebih hangat.


Keduanya tertidur lelap karena kebetulan perut mereka sudah kenyang, saat tengah malam Alara terbangun karena merasakan ada sebuah aura yang tidak dia kenali di sekitarnya.


Matanya ia buka lebar lebar untuk menatap sekitarnya, tak ada apapun yang tampak mencurigakan atau berbahaya, tapi instingnya benar benar merasa ada aura asing berada di sekitarnya.


"kau bukan manusia?" terdengar suara kecil di dekatnya.


"siapa kau? tunjukkan wujudmu" ucap Alara lirih.


"sling"


Cahaya kebiruan yang sangat samar muncul di hadapannya, cahaya kecil itu mengintari tubuh Alara dari ujung kaki ke ujung rambut.


"tubuhmu unik yah? aku bisa mencium aroma siluman juga dalam dirimu" ucap suara itu lirih.


"sebenarnya siapa kau?" ucap Alara penasaran.


"aku? aku adalah roh air" jawab suara itu.


"roh air? apa kau siluman atau sejenisnya?" tanya Alara tak mengerti.


"jangan samakan aku dengan mahluk rendahan seperti itu, aku jauh di atas mereka" ucapnya tak terima.


"mahluk rendahan? memang sekuat apa dirimu?" ucap Alara tak percaya.


"hei aku ini roh air, apa kau tak pernah mendengar seberapa kuat roh di dunia ini?" tanya suara itu heran.


"tidak aku tidak pernah mendengarnya"


"ya ampun apa keberadaan roh sepertiku sudah di abaikan oleh para mahluk di dunia ini? padahal aku sangat berperan penting pada dunia ini" ucap suara itu lirih.


"berperan penting? apa maksudmu?" ucap Alara tak mengerti.


"huhh di dunia ini ada beberapa roh sepertiku, air, angin, tanah, petir, roh api dan beberapa roh lain, kami semua adalah inti dari dunia ini, bisa bisanya mahluk sepertimu tidak mengenaliku" ucap suara itu terdengar jengkel.


"ohh semacam energi inti yah? kalau kau roh air berarti kau adalah pusatnya air? kalau begitu kau sangat kuat?" tanya Alara.


"tentu saja, air laut, sungai, hujan atau danau, seluruh air di dunia ini adalah diriku" jawabnya bangga.


"termasuk air kencing?" celetuknya.


"heii itu penghinaan, air yang ku maksud yang belum masuk ke tubuh mahluk hidup, enak saja bilang aku air kencing" jawabnya bersungut sungut.


"hahaa aku hanya bercanda, kalau begitu kenapa kamu berada di sini? bukannya di sini jauh dari sungai dan danau, apa lagi laut" ucap Alara heran.


"hahhh itu lah masalahnya, aku sedang kesulitan, aku terjebak di goa ini" jawabnya lesu.


"terjebak? kau bilang kau roh kuat, kenapa bisa terjebak di sini?" tanya Alara tak percaya.


"ini semua karena kebodohanku, aku melakukan kesalahan besar hingga berakhir di sini" jawabnya lirih.

__ADS_1


"kesalahan apa?"


Tak ada jawaban apapun dari suara itu.


"ya sudah kalau tidak mau menjawab"


"1.187 tahun lalu aku kehilangan sahabat manusiaku karena ulah manusia tak bertanggung jawab, manusia itu adalah satu satunya sahabatku di dunia ini, dia manusia spesial yang memiliki kemampuan memanggil roh sepertiku, saat aku tau dia mati aku sangat kalut dan mengamuk, aku berusaha menenggelamkan dunia ini karena amarah, dan akhirnya dewa mengurungku di sini" jawabnya lirih.


"a-apa kamu bilang? 1.187 tahun? kau terkurung selama itu di sini?" tanya gadis itu tak percaya.


"ya kalau hitunganku tak salah memang segitu"


"lama sekali, apa yang kau lakukan di sini selama ini?" tanya gadis itu penasaran.


"hanya berdiam diri sambil menunggu masa hukumanku berakhir" jawabnya.


"kapan hukuman itu akan berakhir?"


"saat takdir memilihku untuk jadi penolong seorang anak manusia" jawabnya lagi.


"anak manusia? yang seperti apa?" tanya Alara tak mengerti.


"entahlah, dewa berkata suatu hari aku akan bebas saat bertemu dengan orang tua anak itu" jawabnya lirih.


"ehh kok aneh, kamu akan bebas saat bertemu orang tuanya? bukan anaknya?" ucap Alara heran.


"aneh tidak aneh itulah kenyataannya"


"itu artinya tidak ada siapapun yang bisa menolongmu?" tanya Alara lagi.


"ada"


"siapa?"


"siapa saja yang tulus ingin menolongku tanpa mengharap imbalan" jawab roh tersebut.


"aku tidak mengerti" ucap gadis itu bingung.


"oo begitu"


"hanya oo saja? kau tak ada niat menolongku?" tanya roh tersebut sedikit jengkel.


"tidak! aku hanya akan menolong seseorang yang mengunrungkan untukku" bantah gadis itu lagi.


"dasar gadis menyebalkan" gerutnya.


Setelah mengobrol panjang lebar Alara kembali tidur, matanya masih mengantuk karena baru tidur sebentar, saat matahari sudah menyinari bumi dan api unggun sudah padam kehabisan kayu Alara masih terlelap dengan nyenyak.


Duwan sudah lebih dulu bangun dan hanya menghadapkan dirinya ke arah Alara, matanya tiada henti menatap keayuan gadis di depannya, tiada hentinya rasa suka merasuk ke dalam hatinya.


Masih teringat jelas ingatan beberapa hari lalu saat pemuda itu mengutarakan isi hatinya, meski mendapat penolakan pemuda itu merasa masih memiliki harapan, sekalipun tidak ada harapan setidaknya dia masih bisa bersama gadis yang dia sukai.


"lihat apa kau?" tanya Alara tiba tiba.


"ehh itu kamu ngiler" jawab Duwan asal.


"apa? hehh sembarangan kamu" jawab Alara kesal karena di bohongi.


"hehe .. habisnya kamu tidur nyenyak sekali aku jadi tidak tega membangunkannya" jawab pemuda itu cengengesan.


"halahh omong kosong, kamu pasti sedang terpesona dengan wajahku kan?" celetuknya.


"iya" jawab Duwan singkat.


"hiss apa sih? sudah lah ayo bangun, aku lapar" ucap gadis itu menghindar.


"hahaa dasar gadis itu" gumamnya tertawa.

__ADS_1


Sebelum keluar goa Alara celingukan mencari sosok yang mengobrol bersamanya semalam, tapi anehnya tak ada aura apapun di dalam goa, gadis itu sampai menajamkan instingnya demi memastikannya.


"masa iya aku bermimpi" gumamnya ragu.


"Ra ayo, katanya lapar" seru Duwan dari luar goa.


"eh i-iya" jawab gadis itu berlari kecil keluar.


"DEG"


Tiba tiba saja jantungnya terpacu sangat cepat saat melewati mulut goa, tubuhnya gemetar merasakan sesuatu yang aneh dari dirinya sendiri.


"kenapa lagi sih Ra?" tanya Duwan saat melihat Alara mematung.


"tidak apa apa" jawabnya langsung jalan.


Sepanjang jalan gadis itu hanya diam tanpa banyak bicara, dia masih merasa aneh dengan tubuhnya, seolah ada sesuatu selain Kai dalam dirinya.


"Kai keluarlah" ucapnya tiba tiba.


"hoaaam!! kenapa majikan" ucap harimau itu.


"ckckck dasar harimau pemalas" decaknya kesal.


"hehe maaf, ada apa majikan memanggilku?"


"ohyaa apa kamu merasa ada sesuatu yang aneh?" tanya Alara.


"aneh? apa yang aneh?" tanya harimau itu bingung.


"hahh sudahlah, aku lapar kamu pergi cari makanan bersama Duwan" perintah gadis itu.


"siap" jawabnya langsung pergi.


Saat Alara dan Duwan pergi berburu, tiba tiba saja muncul kilatan cahaya biru dari tubuhnya, cajaya itu mengintari tubuhnya dan berubah jadi sesosok anak kecil, mata gadis itu terbelalak saat melihat kenyataan di depannya.


Entah dari mana dan bagaimana tiba tiba ada anak kecil di depannya, apalagi matanya yang berwarna biru terang membuat gadis itu benar benar kaget.


"a-apa yang terjadi?" ucapnya bingung.


"hai mahluk aneh" sapa bocah itu tersenyum.


"ma-mahluk aneh? apa maksudmu? bagaimana bisa tiba tiba kamu muncul?" tanya Alara kebingungan.


"kalau bertanya satu persatu dong, kan aku bingung jawabnya" ucap bocah itu santai.


"apa maksudmu aku mahluk aneh? ah tidak ridak .. bagaimana kamu tiba tiba muncul di depanku?"


"ohh itu, dalam darahmu mengalir darah manusia, darah manusia srigala, dan darah elf, kalau kenapa aku bi.." celetuknya.


"hah? darah elf? jangan asal bicara kamu, lagian kamu siapa dan bagaimana bisa tiba tiba muncul? kamu siluman yah?"


"siluman? lagi lagi kamu menyamakanku dengan mahluk rendahan itu, padahal semalam kita bicara banyak, bisa bisanya kamu melupakanku setelah tertidur" jawabnya lesu.


"a-apa? maksudmu kamu roh air?" tanya Alara tak percaya.


"benar sekali mahluk aneh" ucapnya lagi.


"mahluk aneh mahluk aneh, kenapa bicaramu begitu?"


"ya habisnya aroma darahmu bermacam macam, aku jadi bingung kamu ini sebenarnya kerurunan apa" celetuknya lagi.


"aku tau darah manusia dan serigala mengalir di tubuhku, tapi elf?"


"benar, walau samar aku bisa merasakan ada darah elf dalam dirimu" ucap anak itu lagi.


....bersambung.....

__ADS_1


maaf yah updatenya lg ngga teratur🙏🙏🙏


authornya lg ada kesibukan, jadi ngga sempet nulis


__ADS_2