The Werewolf

The Werewolf
40. Pondok Kasih


__ADS_3

Ramainya pusat perdagangan di kota Tugu Mawar membuat suasana sesak, di sini pendekar yang membawa siluman sebagai teman perjalanan adalah hal biasa, apalagi mengingat tingkat kejahatan yang tinggi di sini.


Pencurian dan penipuan sudah menjadi keseharian, pendekar dan pedagang biasa membawa siluman untuk jadi penjaga (bodyguard).


Terlihat ada banyak siluman berkeliaran di sana, di perkirakan usia dari siluman di sana kisaran 100 sampai 200 tahun, kebanyakan siluman yang ada di sana adalah siluman serigala.


Pemandangan 3 orang yang membawa 4 harimau memasuki Tugu Mawar cukup mengundang perhatian, apalagi para harimau itu di bawa oleh 3 orang yang masih remaja, dan lagi tak ada satupun di antara mereka yang terlihat seperti pendekar kuat.


"kenapa kita kemari guru?" tanya Alan tak nyaman.


"aku ingin makan" jawab Alara.


"tapi sepertinya kedatangan kita mengundang perhatian" ucap Duwan berbisik.


"biarkan saja, cepat kita cari restoran" ujar Alara cuek.


Mereka bertiga mendatangi sebuah restoran besar yang terlihat cukup sepi, hanya ada beberapa pelanggan saja yang terlihat sedang menikmati makanan di dalam.


"silahkan para tuan muda, harimau harimau itu bisa di tinggalkan di sini" sapa salah satu pelayan ramah.


"beri mereka daging bakar setengah matang" perintah Alara.


"baik tu-eh nona" ucapnya saat mendengar suara Alara.


Alara Alan dan Duwan duduk di meja paling pinggir, Alara sengaja memilih tempat itu supaya bisa memantau para harimau di luar.


Setelah sekian lama hidup di hutan, ini adalah kali pertama bagi Alan menikmati suasana kota setelah 3 tahun di hutan, pemuda itu terlihat girang meski awalnya terlihat khawatir.


"setelah ini kita ke toko pakaian ya" ucap Alara.


"toko pakaian?" ucap Duwan heran.


"kau tau sendiri pakaian Alan sudah seperti gembel" celetuk Alara.


"ohh yaa benar juga, untung aku memiliki banyak baju" ucap Duwan.


"tapi aku tak punya uang guru" ucap Alan.


"tenang saja, kakak Duwan itu kaya ha haa" tawa gadis itu.


"ck ck padahal sendirinya yang memiliki banyak uang, tapi tetap aku saja yang selalu keluar uang" gerutunya.


"kau tak malu di bayarkan makanan oleh wanita, harga dirimu nanti jatuh tuan bangsawan" ledek Alara lagi.


"hehh aku bukan lagi keluarga bangsawan, aku Duwan Sanjaya hanya pemuda biasa" ucapnya bernada tinggi.


"tenanglah kak Duwan, tak usah membelikanku pakaian" ucap Alan tak enak.


"tidak bisa, nanti ku belikan kamu 10 setel pakaian" ucapnya.


"prok .. prok .. prok"


"Tuan muda Duwan yang sangat dermawan, sembahlah tuan muda Duwan dengan penuh rasa hormat Alan" ledek gadis itu.


"hhh kau juga nanti pilihlah beberapa pakaian" ucap Duwan membuang muka.


"kau lihat Alan kak Duwan sangat dermawan kan" bisik Alara pada Alan.


"iya guru, guru beruntung sekali memiliki kekasih seperti kak Duwan"


"uhuk .. uhukk .. apa? kekasih?" tanya Alara tersedak.


"apa aku salah? jangan bilang kalian berdua sudah menikah" ucap Alan.


"pyuhh" minuman yang baru masuk ke mulut Alara langsung tersembur keluar.


"uhhh guru sangat baik membantuku cuci muka" celetuk Alan mengusap wajahnya.


"bha ha haa, makanya lain kali kalau bicara jangan sembarangan, kami bukan kekasih atau pasangan yang sudah menikah, itu masih dalam proses" ucap Duwan percaya diri.


"pletak .. tutup mulutmu" ucap Alara kesal.


Setelah selesai menghabiskan santapan di meja ketiganya keluar dan membayar ke kasir, lalu berjalan menghampiri para harimau yang sudah terlelap tidur setelah kekenyangan makan.


"mereka tidur?" tanya Alara pada pelayan.


"sepertinya mereka kekenyangan nona" ucap sang pelayan menggaruk kepalanya.


"daging apa yang kamu berikan pada mereka?" tanya Alan.


"saya memberikan daging rusa tuan muda, saya tidak meracuni atau memberi hal aneh pada mereka" ucap pelayan sedikit panik.


"maafkan adik saya, dia masih sedikit khawatir karena baru di tinggal oleh 3 harimaunya" ucap Duwan menengahi.

__ADS_1


"t-tiga? apa tuan dan nona sekalian memelihara banyak siluman?" tanyanya gugup.


"tidak, hanya adikku yang melakukannya" jawab Duwan.


"sudahlah Alan, mereka hanya tidur sekarang pergilah bersama Duwan, biar aku yang menjaga mereka" ucap Alara memberi usul.


"no-nona saya benar bena.."


"aku percaya padamu, aku menunggu karena khawatir mereka berempat akan mengamuk saat terbangun nanti tak ada siapapun yang mereka kenal di sini, memangnya kau bisa menjinakkan 4 harimau sekaligus?" ucap Alara panjang.


"tidak" ucapnya lirih.


Duwan dan Alan pergi ke toko pakaian untuk membeli beberapa baju untuk Alan, keduanya hanya mengambil tanpa memilih banyak model, adal ukuran dan warnanya sesuai itu sudah cukup.


Baru beberapa saat mereka pergi Alara melihat Alan lari ke arahnya, gadis itu heran karena mereka baru pergi beberapa saat, dk tambah lagi Alan hanya sendirian.


"kenapa?" tanya Alara.


"hah ... hah, kakak bilang uangnya masih ada pada guru" ucap Alan terengah.


"ohh iya aku lupa" ucap Alara.


Alan langsung bergegas pergi ke tempat Duwan, Alara hanya menatap anak yang menganggapnya sebagai guru, gadis itu berfikir meski dulu tak memiliki ayah dan ibu tapi dia selalu memiliki tempat untuk pulang, yaitu kakek Arung.


Berbeda dengan Alan yang sudah tak memiliki siapapun, pemuda tanggung itu hanya memiliki Moa dan anak anaknya sebagai keluarga dan beberapa waktu lalu dia kehilangan 3 anggota keluarganya.


"hh Duwan juga tak memiliki siapapun, keluarga besarnya justru menganggapnya sebagai musuh" gumam Alara.


Pelayan yang bertugas mengurus binatang terus menunduk tak berani menatap Alara, jika di lihat lihat pelayan itu masihlah muda, mungkin masih seumuran dengan Alara dan Duwan.


"hei tuan, sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Alara membuka pembicaraan.


"sudah 3 tahun nona" jawabnya ramah.


"kulihat kau masih muda, berapa usiamu?" tanya gadis itu lagi.


"15, 15 tahun" jawabnya.


"hanya beda 1 tahun denganku, tapi kenapa badanmu sangat kurus?" celetuk gadis itu.


"eh emm itu .."


"guru" teriak Alan dari kejauhan.


"iya, kak Duwan membelikanku banyak pakaian" jawabnya girang.


"coba kulihat, hmmm aku ambil ini" ucapnya mengambil 1 baju berwarna coklat.


"ehh guru mana pantas memakai baju sesederhana itu" protes Alan.


"ini ambil" ucap Alara pada pelayan.


"hem? ini untukku?" tanyanya ragu.


"kulihat bajumu sudah banyak lubang, akhir akhir ini sudah mulai hujan pakailah pakaian yang rapat" ucapnya menyerahkan bajunya.


"uhh terimakasih" jawabnya membungkuk.


"grrr"


"majikan" ucap Kai terbangun.


"bangun juga kamu" ucap Alara mengelus Kai.


"ha-harimaunya bisa bicara?" tanya pelayan tadi kaget.


"dia itu harimau yang crewet, apa dia tak bicara padamu?" tanya Duwan.


"tidak tuan" jawabnya.


"kau kekenyangan sampai tidur? kau itu harimau atau ba*i" ejek Alara.


"habisnya dia melayani kami berempat dengan baik, jadi kami sampai tertidur saking nyamannya" ucap Kai mewakili saudaranya.


"oh benarkah? kalau begitu ambil ini" ucapnya memberi 2 koin emas.


"ko-koin emas" ucapnya syok.


"masih kurang?"


"tidak tidak, ini-ini sangat banyak nona" ucapnya terharu.


"hng aku selama 15 tahun hidup miskin tapi tak pernah sekaget itu saat melihat koin emas" ucap Alara heran.

__ADS_1


"koin emas ini sangat banyak nona, aku bisa membelikan pakaian yang layak dan makanan enak untuk adik adikku" ucapnya berkaca kaca.


"kau punya adik?" tanya Duwan.


"ada 18" jawabnya.


"banyaknya" ucap Alara kaget.


"mereka bukan adik kandungku, aku dan adik adik hanya anak terlantar dan yatim piatu, dari kecil kami di rawat dan di besarkan oleh bu Kinan, tapi karena beliau semakin tua pendapatannya juga makin kurang, di tambah lagi sudah sangat jarang saudagar kaya yang menyumbang pada kami, jadi selama 3 tahun ini kami hidup kekurangan" jawabnya tertunduk.


"semacam panti yah?" ucap Duwan.


"iya kak-ehh tuan"


"kalau begitu ambil semua baju ini" ucap Alan menyodorkan pakaiannya.


"ahh tidak usah tuan muda, adik adikku kebanyakan perempuan lagian uang ini sudah lebih dari cukup" ucapnya menolak.


"pakai ini untuk keperluan sehari hari kalian" ucap Alara memberi sekantung kecil koin emas.


"tidak nona tidak usah" tolaknya.


"kenapa? kamu bilang hidup kalian sulit, uang ini pasti bisa membantu" ucap Alara.


"uang itu sangat banyak, kalau nona ingin memberikannya lebih baik berikan langsung pada ibu Kinan, biar beliau yang menerimanya" jawabnya sungkan.


"hmm begitu yah? di mana kamu tinggal?" tanya Alara.


"di ujung pasar ini ada bangunan yang besar tapi sederhana, di depannya tertulis PONDOK KASIH di sana tempatku tinggal" jawabnya menjelaskan.


"ya sudah ayo kesana" ajak Alara.


"nona benar benar ingin ke sana?" tanya pelayan tersebut.


"kamu bilang kalau ingin memberikan uang ini harus ke sana, ayo antarkan kami" ucap Alara sambil menaiki punggung Kai.


"baik, tunggu sebentar saya akan ijin pada tuan dulu" ucapnya berlari.


"kau sudah sembuh May?" tanya Alara.


"grrr" jawabnya mengangguk.


"baguslah"


Selang beberapa lama pelayan itu keluar dengan membawa beberapa kanthng di tangannya.


"ayo tuan nona" ajaknya.


"siapa namanu?" tanya Duwan yang berjalan di sampingnya.


"nama saya Raka"


"wah namamu sama dengan nama pamanku" celetuk Alara.


Duwan Alan dan Raka jalan berdampingan, di belakan mereka ada Alara yang duduk di punggung Kai, lalu di belakangnya lagi ana De, Ney, dan May yang mengawal, pemandangan itu terlihat seperti seorang putri yang sedang di kawal oleh para kesatria dan pasukannya.


Setiap mata memandang heran pada mereka, selain karena adanya 4 harimau siluman penampilan Alara yang tertutup jubah membuat kesan makin misterius, banyak yang penasaran tentang siapa yang ada di balik jubah itu.


Setelah menempuh beberapa waktu mereka tiba di depan hunian luas yang memiliki halaman cukup luas, sesuai perkataan Raka di depan hunian itu tertulis PONDOK KASIH.


Terlihat ada beberapa anak yang sedang bermain di halaman, anak yang masih kecil dan belum ada 10 tahun, kalau Alara tak salah mengira kemungkinan Raka adalah anak tertua di sana.


Kedatangan Alara dan rombongan membuat beberapa ana lari ketakutan, mereka takut melihat 4 harimau yang bertubuh besar masuk ke halaman mereka, ada juga 2 anak yang berlari ke arah Raka dan menyambut kedatangannya.


Pemuda kurus itu menyambut adiknya dengan senyuman hangat.


"kak Raka bawa apa?"


"bawa makanan enak untuk kalian, sana berikan pada kak Irani" perintahnya.


Kedua bocah itu berjalan kedalam dengan senyum mengembang, mereka terlihat berbunga bunga dengan apa yang Raka bawa.


"apa yang kamu bawa?" tanya Duwan.


"aku membelikan beberapa makanan daging untuk mereka" jawabnya canggung.


"hanya segitu untuk 20 orang?" celetuk Alara.


"iya, lagian ibu Kinan pasti sudah masak beberapa sayuran" jawabnya.


Kai dan saudaranya merebahkan diri di pojokan halaman, keempat harimau itu juga sadar kalau kehadiran mereka mengagetkan anak anak di sana.


Raka mengajak Alara Duwan dan Alan masuk, kedatangan mereka di sambut dengan senyuman hangat oleh wanita tua yang di panggil bu Kinan, di sebelahnya ada seorang gadis tanggung yang membawakan beberapa gelas air.

__ADS_1


__ADS_2