
Di sebuah desa kecil tempat para pengungsi berkumpul Duwan dan keluarganya ikut menetap, melihat begitu banyak teman seumuran Arya terlihat sangat senang, selama ini dia tak pernah sempat memiliki teman karena selalu tinggal di tempat yang jauh dari keramaian.
Meski sedikit khawatir tapi Alara membiarkan putranya bermain dengan teman sebayanya, melihat tawanya yang riang membuatnya merasa cukup bahagia, di sisi lain Duwan sibuk mengumpulkan informasi, siapa tau ada informasi yang berguna yang mereka dapat.
"bagaimana?"
"kamu tau tentang desa yang di serang siluman ular kan?"
"yaa .. kenapa?"
"mereka bilang tiga bulan lalu muncul beberapa ular di sana, karena semakin lama kemunculannya semakin banyak maka wali kota dan orang orang di sana memutuskan untuk membunuh ular ular yang muncul, awalnya tidak ada keanehan karena setelah itu tidak ada ular lagi, tapi tiba tiba di satu malam terdengar teriakan dari salah satu rumah penduduk, dan kamu tau apa yang terjadi?" ucap Duwan membuat penasaran.
"tentu tidak, katakan yang jelas"
"di rumahnya tiba tiba muncul sebuah lubang yang bisa di masuki oleh orang dewasa, dan lubang itu ternyata adalah sarang ratu ulaar"
"hahh? kenapa bisa ada sarang ratu ular di rumah penduduk?"
"mereka juga kurang tau karena rumah itu sudah berdiri lebih dari 10 tahun, dan setelah di selidiki kemungkinan ular itu ada di sana sudah lama bahkan sebelum rumah itu berdiri"
"jadi maksudmu ular itu ada di bawah rumah mereka selama lebih dari 10 tahun dan mereka tidak sadar?" ucap Alara menerka.
"benar"
"tapi dari mana mereka tau kalau ular itu adalah ratu?"
"pertama ukurannya yng sebesar pohon kelapa dan yang kedua, ular itu memiliki mata berwarna hijau jugaa ada batu permata hijau di dahinya"
"permata hijau? jadi dia ratu ular beracun?"
"hng? ular beracun?"
"iyaaa, setauku ratu ular yang memiliki permata hijau itu adalah ular beracun, tapi aku tidak mendengar warganya mati karena racun" ucap Alara sedikit bingung.
"apa mungkin mereka salah?"
"entahlah, tapi kalaupun benar ular itu adalah ratu ular beracun sudah pasti akan ada ratusan kematian di sana, dan lagi setauku ratu ular beracun tidak memiliki ukuran sebesar itu, justru dia memiliki ukuran tubuh yang kecil, bisa saja orang2 salah melihat warna karena terlalu takut" terang Alara.
"lalu menurutmu ular apa yang memiliki ukuran sebesar itu?"
"ada 1"
"apa?" tanya Duwan penasaran.
"ratu ular es abadi"
"ratu ular es abadi? memangnya ada yang seperti itu?"
"entahlah, aku hanya pernah mendengarnya dari kakek dan tidak pernah melihatnya secra langsung, menurut cerita kakek kalau ratu ular es abadi sudah menetap di suatu tempat dan membangun sarang maka hawa di sekitar sarang akan dingin mencekam, akan banyak tanaman dan binatang yang mati membeku karena hawa yang di keluarkan dari tubuh sang ratu sangatlah dingin"
Duwan hanya diam tanpa bisa berkata kata, meski dia sudah bersama istrinya bertahun tahun masih saja ada sesuatu yang membuatnya tercengang, terkadang Duwan berfikir andai Alara terlahir di keluarga bangsawan dan memiliki fisik layaknya manusia biasa sudah pasti wanita itu akan jadi primadona, karena selain wajahnya yang cantik wanita itu sangat cerdas dan berwawasan luas.
"kenapa?"
"tidak"
"terus kenapa menatapku begitu?"
"memangnya tidak boleh menatap wajah istri sendiri?" ucap Duwan membalikkan kata kata "oh ya hampir saja aku lupa, makan ini aku membelinya tadi" sambungnya memberikan bungkusan daging bakar.
"sebenarnya aku sudah mencium aromanya dari tadi, kupikir kamu akan terus menyembunyikannya" ucap Alara sembari memakan daging bakar kesukaanya.
"hehee maaf, aku memang suka akal kendali saat menatap kecantikan wajah istriku"
"tatap saja terus sampai kamu jadi gila" jawab Alara seakan tak peduli.
Di desa tempat pengungsi berkumpul pemerintah setempat saling gotong royong membangun tenda tenda darurat, meski jauh dari kata nyaman setidaknya bisa melindungi para pengungsi dari panas dan hujan.
__ADS_1
Bukan hanya itu, berita tentang kedatangan siluman itu juga sudah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan, mulai banyak pendekar berdatangan untuk memastikan kabar tersebut, entah itu kirimam dari sekte besar dan kecil sampai utusan dari kerajaan juga hadir.
Hari hari mereka di pengungsian terbilang cukup damai, setiap seminggu sekali Duwan menyempatkan diri pergi ke kota untuk menjual dan membeli sesuatu, bahkan pemuda itu tak lupa membeli beberapa roti kering untuk di bagikan ke para pengungsi, tak heran Duwan sangat dekat dengan para pengungsi.
"nona apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang wanita.
"ahh tidak ada, kenapa?"
"aku sudah memerhatikanmu cukup lama, kau sedang hamil kan?"
"iya" singkatnya.
"apa kau tidak merasa gerah menggunakan jubah itu di cuaca sepanas ini?"
"emm itu.."
"kulit istriku sangat sensitif bibi, kulitnya akan memerah bahkan lama kelamaan bisa sampai melepuh jika terkena sinar matahari, makanya mau tak mau dia menggunakan jubah itu untuk menutupi seluruh tubuhnya" ucap Duwan menyela di tengah kepanikan Alara.
"oh begitu, sayang sekali padahal itu akan sangat tidak nyaman bagi wanita hamil dalam keadaan seperti ini" ucapnya dengan nada penuh kekhawatiran.
"terima kasih karena sudah memperhatikanku bibi, aku sudah terbiasa seperti ini jadi ini bukan masalah besar untukku" jawab Alara.
"kalau begitu ayo ikut berkumpul dengan para wanita di sana, kami akan memasak makanan enak karena suamimu baru membelikan banyak sayuran" ucapnya antusias.
"tapii.."
"tapi kenapa?"
"aku takut orang orang akan merasa terganggu dengan kehadiranku, apalagi selama ini aku jarang bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan kalian" ucap Alara ragu.
"oh tidak perlu berfikir begitu, sebenarnya para wanita di sini cukup penasaran denganmu, makanya aku memberanikan diri menghampirimu, jujur saja awalnya aku pikir kamu enggan untuk berkumpul dengan kami karena kamu putri dari orang kaya atau sebagaainya, tapi setelah aku tau masalah kulitmu aku jadi tidak salah paham lagi" terangnya panjang.
"pergilah, banyak banyaklah mengobrol agar kamu tidak bosan, biar aku yang mengawasi Arya" bujuk Duwan lembut.
"ohh ya ampun beruntungnya dirimu menikah dengan pemuda sebaik dan sepengtian nak Duwan ini" puji si bibi tersenyum.
"nona nona dan ibu ibu sekalian, kalian tidak perlu canggung berbicara dengannya, nona ini bukanlah wanita sombong, dia hanya punya masalah yang membuatnya ragu untuk berkumpul bersama kita" ucap wanuta yang mengajak Alara.
"ohh begitu, aku pikir nona ini adalah orang kaya yang tidak mau berkumpul bersama kami"
"haha ya ampun kita telah berburuk sangka"
"benar kami minta maaf karena berfikiran buruk"
Secara alami para ibu dan gadis muda di sana mengobrol dan melontarkan pertanyaan padanya, selama hidupnya baru kali ini Alara berkumpul dengan orang sebanyak ini, jadi tentu saja di balik jubahnya mengalir keringat dingin karena merasa gugup.
"nak Alara di sini kan di bawah tenda apa kamu tidak bisa membuka penutup kepalamu, aku sungguh tidak tahan melihatnya"
"iya benar, itu terlihat sangat tidak nyaman"
"hey bukannya bibi sudah bilang kulitnya sangat sensitif, kalian mau tanggung jawab kalau dia kenapa napa" cegah seorang wanita seumurannya.
"aku bisa membukanya sedikit" ucap Alara dengan membuka jubah yang menutupi wajahnya.
"hahhhh😲"
"astaga cantiknyaa😱"
"ehhh waww kamu sangat cantik"
"wah wajahnya sangat mulus"
Berbagai komentar dan pujian mereka layangkan begitu saja, bahkan ada beberapa gadis yang melongo melihat keayuan wajahnya, para wanita yang tadinya sibuk memasak justru sekarang berkumpul mengerubuti wanita itu layaknya lebah yang mengerubungi bunga.
"nona apa kamu menggunakan perawatan wajah seperti para bangsawan?"
"tidak"
__ADS_1
"apa kau memiliki rahasia dan metode khusus untuk memiliki kulit sebagus ini"
"tidak, sejak bayi kulitku sudah begini"
"ya ampun, tidak heran putranya sangat tampan kalau ibunya secantik ini, rupanya bibit unggul" celetuk seseorang.
"kenapa? apa kau iri haha"
"heii untuk apa aku iri, meski putraku berkulit gelap tapi dia sangt manis iya kan Alara?"
"iya benar, dan dia sangat ceria" jawab Alara.
"ahh iya benar anakmu juga memiliki kulit putih meski tidak seputih dirimu, apa putramu tidak memiliki masalah kulit sepertimu?"
"untungnya tidak"
"wah syukurlah, pasti kasian sekali kalau dia mengalami hal yang sama sepertimu, ngomong ngomong berapa usia kehamilanmu?"
"sudah hampir 7 bulan" jawabnya sambil memegang perutnya.
"pasti sulit yah hamil dalam keadaan begini? kulihat suamimu sering bolak balik ke kota kenapa kalian tidak menetap di kota saja, pasti kalian memiliki cukup uang untuk membeli atau menyewa rumah di pinggiran kota kan?"
"heyy pertanyaanmu terlalu berlebihan, memangnya kenapa kalau dia dan suaminya menetap di sini, toh berkat adanya mereka kita jadi bisa masak besar dan makan kenyang"
"ahh maaf kalau perkataanku keterlaluan, aku hanya ingat saat aku melahirkan putraku di era pemberontakan dulu, rasanya sangat tidak tenang karena harus bertahan di tengah kekacauan, andai suamiku memiliki uang lebih banya pasti kami bisa pergi ke tempat lebih aman waktu itu dan putra kami hikss.."
"astaga jangan kamu ingat lagi kenangan itu, hampir semua ibu kehilangan anaknya saat itu" ucap seseorang menenangkan.
"tapi tunggu dulu, putramu benar berumur 2 stgh tahun? bagaimana kamu bisa lolos dari pembantaian masal itu?"
"ituu.. aku dan suamiku melarikan diri ke hutan saat mendengar kabar tersebut, kami berpindah dari hutan satu ke hutan yang lain, terkadang kami juga bersembunyi di lereng bukit dan goa, kami pergi kemana saja untuk menghindari prajurit dan utusan kerajaan" jawab Alara.
"ya ampun kamu dan suamimu sangat luar biasa, andai kami bisa seperti itu pasti putra putri kami akan selamat"
"sudahlah itu sudah berlalu, lagian sekarang raja Dwi sudah menerima balasan" ucap seseorang dengan nada sinis.
"balasan? balasan apa maksudnya?" tanya Alara bingung.
"loh kamu tidak dengar kalau setiap putra dan putrinya lahir mereka tidak bisa hidup lebih dari 1 bulan, sejauh ini sudah 5 anaknya yang mati"
"bukan 5 tapi 6"
"iya benar bulan lalu permaisurinya melahirkan dan bayinya langsung mati"
"apa ini? kenapa Duwan tidak pernah membicarakannya padaku, apa berita ini benar" batin Alara.
"memangnya apa yang terjadi? kenapa anak anaknya bisa mati?" tanya Alara bingung.
"kutukan! raja Dwi dan seluruh istrinya mendapat kutukan" ucap seorang wanita dengan mata nanar seolah menahan kesedihan yang mendalam.
"kutukan?"
Hari itu di lalui dengan obrolan yang di sertai air mata, Alara hampir lupa tentang peristiwa pembantaian bayi dulu, dan wanita itu baru tau kalau di hadapannya ada lebih dari 10 ibu yang kehilangan bayinya di waktu bersamaan.
"kenapa Ra?" tanya Duwan di bawah gelapnya malam.
"aku takut"
"takut? kenapa?"
"tadi aku mendengarkan cerita para ibu yang kehilangan bayinya karena pembantaian dulu, a-akuu..."
"sstttt .. jangan teruskan, aku berjanji sampai kapanpun aku akan melindungimu dan anak anak kita, sekarang istirahatlah kamu pasti lelah kan?"
"eemm"
Mereka tertidur pulas dengan saling mendekap satu sama lain, tak lupa meraka mendekap putranya yang sudah bermimpi entah kemana.
__ADS_1
...........**TAMAT**..............