The Werewolf

The Werewolf
25. Melakukan kontrak


__ADS_3

"hei bagaimana cara kita melewati kota kecil di sana?" tanya Alara heran.


"grrrr" geram Kai lesu.


"hmmmm aku tidak mungkin lewat sana kalau bersamamu, mmm apa kau mau melakukan sesuatu?"


"mau melakukan kontrak denganku?" tanya Alara.


"grr" geram Kai bingung.


"kau tau? sebagai manusia srigala yang spesial aku juga memiliki kelebihan tersendiri, aku bisa melakukan kontrak dengan manusia maupun siluman" ucap Alara.


Kai hanya mengedipkan mata karena tak tau maksud pembicaraan Alara, meski untuk ukuran siluman dia sudah termasuk siluman kuat tapi selama hidupnya dia terisolasi di hutan kabut, dan baru 2 tahun hidup bersama manusia, jadi dia tak tau apapun tentang suatu hal yang berkaitan dengan manusia.


"kau pasti tak tau maksudku kan" ujar Alara kesal.


Dan harimau itu langsung menunduk karena dia memang benar benar tak tau arah pembicaraan yang di dengarnya tadi.


"huhh begini Kai dengarkan aku baik baik, kalau aku membuat kontrak denganku maka kau bisa masuk ke dalam tubuhku, jadi aku tak perlu khawatir tubuhmu akan menarik perhatian mereka, apa kau paham?" jelas Alara.


"grrr" geram Kai mengerti.


"tapi Kai, kalau kau melakukan kontrak denganku maka kau akan selamanya terikat denganku dan juga keturunanku, kontrak itu hanya bisa di putus dari pihakku dengan minimal waktu 100 tahun, bisa di katakan bahwa aku dan keturunanku akan selalu jadi majikanmu, apa kau mau?" taya Alara meyakinkan.


"grrr" geram Kai lesu.


"aku tak mau memaksamu, itu hanya saran dariku, lagian aku hanya bisa melakukan kontrak jika kedua pihak setuju, jika kau tak mau aku takkan memaksamu, tapi ya bagaimana yahh? kau kan siluman jadi kalau memasuki kota seperti itu kau akan menarik perhatian, aku tak bisa menjamin kalau kau tidak di incar oleh para pendekar" jelas Alara lagi.


"sudahlah kau pikirkan dulu, untuk sementara kita berdiam di hutan ini sampai kau memberikan keputusan, aku akan cari buruan dulu, kau mau ikut?" tanya Alara.


Kai hanya menggeleng dan merebahkan tubuhnya, sepertinya harimau itu benar benar sedang dalam dilema, kalau dia melakukan kontrak maka Alara akan menjadi majikannya.


Sebenarnya Kai mau mau saja melakukan itu, tapi mengingat ucapan Alara kalau keturunannya juga akan menjadi tuannya itu membuatnya sedikit ragu, meski Kai sangat menyukai Alara tapi dia tak tau keturunannya kelak akan sama seperti Alara atau tidak.


Setelah beberapa waktu Alara kembali dengan membawa seekor kelinci dan ayam hutan, sudah mondar mandir kebanyak penjuru rupanya sangat sedikit binatang yang bisa di buru.


Untuk sejenak Alara memandangi kelinci yang ada di genggamannya.


"apa aku harus memakan binatang lucu seperti dirimu kelinci gendut?" ucap Alara bimbang.


"sudahlah kau pergi saja sana, biar ayam jelek ini yang aku bakar" ucapnya.


"petok petokk" si ayam langsung heboh seakan merasa Alara tak adil padanya hanya karena dia tak seimut kelinci gendut tadi.


"diam ayam jelek" bentak Alara.


"Kai carikan ranting" perintah Alara di sela kesibukannya membersihkan ayam hutan.


Walaupun harimau itu belum memutuskan menjadikan Alara sebagai tuannya atau tidak, tapi Kai sudah terbiasa menuruti kata kata Alara, entah itu mencari ranting, ikut berburu ikan di sungai atau balapan lari seperti sebelumnyaa, bagi harimau itu Alara memang sosok yang benar benar menyenangkan.


"bruukkk" setumpuk ranting dan kayu kering di jatuhkan di dekat Alara.


Tapi mata Kai langsung memicing saat melihat hanya ada seekor ayam di depannya, dan dengan mudahnya Alara langsung memahami harimau itu.


"aku hanya makan pahanya saja, selebihnya untukmu, dasar kucing rakus" gerutu Alara.

__ADS_1


Selesai makan Alara dan Kai tiduran dengan memandang langit, malam itu langit sangat indah bertabur bintang, pikiran Alara melayang layang entah kemana.


"Kai, apa salah satu dari bintang itu adalah ibuku?" gumamnya.


Entah kenapa malam itu Alara sangat merindukan sosok ibunya, wanita yang melahirkan dan berjuang mati matian menyelamatkannya, terkadang gadis itu sangat penasaran seperti apa sosok ibunya, apakah dia wanita yang lembut atau sosok yang bermulut pedas sepertinya.


"apa hidupku sangat penting sampai ibu mengorbankan nyawa ibu, aku tak mengerti kenapa seorang ibu bisa melakukan hal segila itu"


"ibuuu" Lama kelamaan mata Alara meredup, hembusan angin malam yang menyapu kulit putihnya perlahan mengantarkannya ke alam mimpi, gadis itu tertidur dengan membawa sebuah kerinduan yang mendalam di hatinya.


Paginya sebelum matahari terbit Alara sudah lebih dulu bangun, telinganya bisa mendengar ada suara langkah kuda tak jauh darinya, gadis itu bergegas mengajak Kai pergi dan sembunyi da balik semak.


Setelah situasi terlihat aman, Alara mengajak harimau itu keluar dan melanjutkan perjalanan, baru saja berjalan sebentar Alara langsung teringat tentang masalah yang akan menantinya di depan.


"bagaimana caranya aku membawamu masuk ke sana?" ucap Alara bingung.


"grrr" geram Kai pelan.


"kenapa?" tanya Alara.


"grrrr" geramnya dengan menarik baju Alara.


"apa sih? mmmm kau mau melakukan kontrak?" tanya Alara menebak.


Kai mengangguk pelan, harimau itu sepertinya sudah memikirkan tawaran Alara semalaman, dia sudah merasa cukup beruntung karena Alara sudah mau mengajaknya, jadi sebisa mungkin harimau itu tak mau memberi masalah pada Alara.


"kau serius?" tanya Alara memastikan.


Dan lagi lagi Kai menganggukan kepalanya.


Gadis itu menggigit jari telunjuknya, keluar cairan berwarna putih kehijauan dari jari telunjuknya, cairan itu adalah darah Alara, bukan hanya mata dan bulunya tapi darahnya juga memiliki warna yang sama.


Kai memiringkan kepala karena merasa heran, selama ini dia hanya pernah melihat darah berwarna merah, baik itu darah binatang atau darah Dirga saat terluka.


"tegakkan kepalamu" ucap Alara lagi.


Gadis itu menempelkan telunjuknya ke kening Kai, darahnya yang menempel di bulu harimau itu perlahan meresap dan hilang tanpa sisa, perlahan tubuh Kai mulai bergetar, harimau itu merasakan sensasi baru yang sangat asing di dalam tubuhnya.


Selang beberapa lama tubuh harimau itu sudah kembali seperti sedia kala, sensasi aneh yang di rasakannya tadi sudah tak ada lagi, harimau itu mengibaskan ekornya karena merasa senang telah resmi membuat kontrak dengan Alara.


"baiklah Kai, kau harimau siluman sudah resmi mengikat kontrak denganku" ucap Alara mengelus kepala Kai.


Tanpa harimau itu sadari, satu mata merahnya kini berubah warna menjadi hijau, dan bulu yang tadi terkena darah Alara berubah warna menjadi putih, perubahan fisik itu terjadi setelah dia resmi membuat kontrak, dan akan hilang saat kontrak sudah di putus.


"bagaimana reaksi Moa saat melihat mata anak bontotnya berubah warna yah?" gumam Alara penasaran.


Setelah selesai melakukan kontrak, Alara langsung memerintahkan Kai masuk ke tubuhnya, entah bagaimana caranya tubuh Kai langsung berubah menjadi piasan cahaya dan masuk ke dalam tubuh Alara.


"waahhh keren juga" ucap Alara terpukau sendiri.


Gadis itu dengan santai berjalan ke arah pintu masuk kota kecil di depannya, dia sudah membayangkan betapa enaknya mandi di pemandian air hangat nanti.


Tapi sebelum kakinya menginjak setapak hidungnya sudah lebih dulu mencium aroma darah, meski samar tapi penciuman tajamnya langsung mengenali aroma itu.


Matanya langsung memandang sekeliling, aroma amis darah itu adalah aroma yang di kenalnya, kakinya langsung melangkah pergi mengikuti aroma yang di ciumnya.

__ADS_1


Tubuhnya sedikit bergetar saat terdengar suara tawa seseorang, dan dengan samar dia juga mendengar ada suara rintihan kecil.


"sial, penciumanku tak mungkin salah kan?" gumam Alara sesikit khawatir.


Dengan jelas Alara melihat seorang pemuda sedang tergeletak dengan tubuh bersimbah darah, di atasnya tampak seorang lelaki berbaaju hitam sedang menggoreskan pedangnya ke tubuh pemuda itu.


Setiap pedangnya menggores akan menimbulkan rintihan pelan pemuda itu, dan rintihan terbsebut membuat lelaki berbaju hitam itu tertawa lantang, nampaknya lelaki itu sangat menikmati momen penyiksaan yang di lakukannya itu.


"hentikan" ucap Alara tiba tiba.


Laki laki tadi langsung mundur karena kaget, entah dari mana datangnya orang di depannya, tau tau sudah muncul di depannya begitu saja.


Alara menunduk dan mengecek kondisi pemuda yang bersimbah darah itu, nafasnya sudah hampir tak terasa, detak jantungnya sangat cepat tapi juga terasa lemah.


"kenapa kau melakukan ini?" tanya Alara.


"heh siapa kau, apa urusanmu?" ucap lelaki itu kesal.


"ku tanya apa alasanmu melakukan ini?" bentak Alara geram.


"hohh kau seorang wanita? ha haa apa apaan tingkahmu itu?" ucap lelaki itu dengan menonyor kepala Alara.


"kau tak mau menjawab?" tanya Alara lirih.


"cuihhh kau pikir aku takut pada wanita sepertimu?" ucapnya sombong.


"ha haa ha haaa, baiklah..."


"apa apaan, kenapa tertawa begitu?" tanya lelaki tadi heran.


"bersiaplah! Kaiiiii"


"sling .. Graaaooom .. aaarrghhh" piasan cahaya yang keluar dari tubuh Alara langsung berubah menjadi harimau, tanpa basa basi harimau itu langsung menerkam si lelaki tersebut.


"jangan coba coba makan daging busuk itu Kai, nanti kau keracunan" ucap Alara saat Kai sedang asik menc*bik lelaki itu.


"grrr" geram harimau itu mengerti.


"hufftt perjalananku akan tertunda lagi" dengus Alara.


....bersambung....


jangan lupa


like


like


like


like


like


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2