
Alara kembali berlari ke arah timur, dia ingin segera menjemput Duwan dan Kai lalu menemui kakeknya, sebenarnya selama ini Alara merasakan sesuatu yang aneh dengan kakeknya.
Baginya kakeknya seperti menyembunyikan sesuatu, kakeknya sangat tenang saat mengetahui jati dirinya dulu, dan terlebih selama gadis itu tinggal bersama kakeknya tak ada seekor pun serigala tak berakal yang menyerangnya.
"aku yakin kakek bukan orang biasa" gumamnya.
Sebelum matahari terbenam Alara sudah sampai ke hutan kabut, tapi perasaan seperti satu bulan lalu kembali menyeruak di hatinya, aroma darah manusia tercium di hidungnya.
Dengan rasa was was gadis itu langsung berlari, fikirannya makin kacau saat melihat ada beberapa orang tergeletak dengan banyak luka.
"ini kan.."
"hhh di-dimana mereka" gumamnya panik.
Alara berlari cepat menyusuri hutan, gadis itu mencoba mengendus jejak Duwan dan lainnya, tapi aroma darah yang bercampur membuat indra penciumannya kacau, di tambah lagi kondisinya sedang tak stabil.
"DEG"
"d-darah Duwan" gumamnya.
Tangannya bergetar dan perasaannya makin tak karuan.
"apa mereka lari ke bukit?"
Tanpa ragu Alara langsung lari ke arah bukit, matanya fokus mencari keberadaan Duwan dan lainnya.
Kali ini Alara bisa dengan jelas mencium aroma darah Duwan, bahkan dia juga mencium aroma darah Kai.
"drap .. drap"
"hh hhh apa yang terjadi?" tanya Alara mengagetkan.
"majikan"
"Ara"
"g-guru" seru ketiga mahluk itu.
Terlihat Alan Duwan dan Kai terluka di beberapa bagian, saudara Kai juga sama sama terluka tapi Kei, Do dan Moa sudah mati.
Tiga harimau itu mati saat segerombol pendekar aliran hitam menyerang, untungnya Alan sudah bisa bela diri jadi anak itu bisa melindungi dirinya sendiri.
"kenapa bisa begini?" tanya Alara.
"huhuuu aku tidak tau, dua hari lalu tiba tiba ada segerombol pendekar yang memburu Moa dan anak anaknya, aku huuu aku gagal" ucap Alan.
"tenanglah dulu Alan, kamu harus memulihkan lukamu dulu" ucap Duwan menenangkan.
"tapi aku gagal melindungi Moa, Kei dan Do huhu, andai guru tidak memberiku ilmu pedang aku tak tau apa yang terjadi"
"grrrr" geram Kai, May, Ney dan De bersama.
Empat harimau itu menggeram lesu, mereka baru saja kehilangan ibu dan dua saudaranya.
"majikan.."
"kemarilah" ucap Alara.
Harimau itu langsung memeluk majikannya, sorot mata yang biasanya gagah terlihat menyedihkan, sangat terlihat kalau harimau itu begitu kehilangan.
"aku yakin kamu pasti sudah berusaha yang terbaik Kai" hibur Alara.
Masih belum terlupakan kenangan satu bulan lalu saat rasnya kehilangan banyak anggota, dan sekarang dia kembali kehilangan sahabatnya.
Untungnya Duwan banyak mengerti tentang obat, jadi pemuda itu bisa mengobati Alan dan para harimau yang terluka.
"Duwan bagaimana lukamu?" tanya Alara.
"ini hanya luka kecil, Kai dan saudaranya melindungiku" ucapnya.
"syukurlah, bagaimana denganmu Alan?"
"ini tidak parah guru"
"Alan, jangan merasa bersalah begitu, aku yakin Moa dan anak anaknya bangga padamu, kamu sudah berusaha keras" ucap Alara menepuk lembut kepala Alan.
__ADS_1
"tapi mereka keluargaku, mereka menolongku saat aku hampir mati, dan aku malah gagal melindungi mereka, bahkan Moa mati gara gara aku" ucapnya.
"gara gara kamu? maksudnya?" tanya Alara tak mengerti.
"kemarin saat salah satu pendekar itu melukai tangan Alan pedangnya terlempar, dan ada seseorang yang berusaha menyerangnya dari belakang, lalu Moa yang waktu itu sudah terluka menubruk Alan dan menjadikan dirinya sebagai tameng" jelas Duwan.
"hah?" ucap Alara menganga.
"Alan, Moa melindungimu sampai seperti itu tandanya dia sangat menyayangimu, aku yakin dia takkan menyesal kehilangan nyawa karena melindungimu" ucap Alara lagi.
Alara menghela nafas panjang, gadis itu masih tidak mengerti kenapa bisa ada kelompok pendekar aliran hitam kemari, padahal hutan ini cukup tersembunyi.
"Ara kau sudah makan?" tanya Duwan.
"belum"
"hahhh pantas saja badanmu makin kurus, makan du.."
"aku tidak ada nafsu makan Duwan" potong Alara.
"kenapa? kamu biasanya suka sekali makan" ucap Duwan heran.
Lagi lagi gadis itu hanya menghela nafas panjang, kenangan sebulan lalu masih teringat jelas di kepalanya, rasa sedih, bersalah dan kehilangan membuatnya tak berselera makan.
Gadis itu memandangi Alan yang tertidur setelah menangis, sedikitnya dia tau rasa bersalah yang di pikul pemuda tanggung di depannya.
"Duwan apa seluruh pendekar yang menyerang kemari semuanya mati?" tanya Alara.
"hng .. entahlah kami terlalu sibuk menyelamatkan diri jadi tak terlalu memperhatikan.
"kira kira berapa banyak pendekar yang menyerang?" taya Alara lagi.
"berapa yah? mungkin ada sekitar 30 orang" jawabnya ragu.
"30? aku akan memastikannya dulu .. drap .. drap" gadis itu langsung berlari.
"Ra tunggu! .. heeii!"
"aihh gadis ituu benar benar" ucap Duwan menggeleng kepala.
Gadis itu naik ke atas pohon, matanya awas mencari dan menghitung setiap mayat di bawahnya, dia juga mencoba menyusuri sebagian area tapi tak banyak yang dia temui.
"zzzzz"
"jangan brisik" ucap Alara pada ular yang bergelantung di sebelahnya.
Gadis itu kembali melompat ke pohon lain dan matanya benar benar sudah tak menemukan lagi mayat di sana.
"hmm Duwan bilang sekitar 30 orang, kalaupun perkiraannya tidak tepat harusnya tidak terlalu banyak perbedaan, tapi sejauh ini aku hanya menemukan 18 mayat, berarti mereka berhasil keluar dari hutan ini" gumam Alara.
"huuffttt tempat ini sudah tak aman untuk Alan dan lainnya" ucapnya lagi.
"kkrrukkk"
"aduhhhh aku lapar" keluhnya.
Gadis itu kembali berlari ke bukit tempat Duwan dan lainnya berada.
"di sini sudah tidak aman" bisik Alara.
"jadi kita harus bagaimana?" tanya Duwan.
"kita harus cari tempat lain untuk Alan dan lainnya, ngmong ngmong mana makanan yang kamu tawarkan?"
"ehh makanan? emm suda habis" jawab pemuda itu.
"heii yang benar saja, sejak pagi aku belum makan apapun" keluhnya.
"ya habis kamu bilang tak nafsu makan ya aku berikan pada yang lain" jawabnya jujur.
"hhh kasihan sekali aku harus tidur dengan kondisi kelaparan begini" keluhnya.
"mau makan ini?" tanya Duwan menyodorkan buah.
"ckck kau meledekku?"
__ADS_1
"yaa siapa tau kalau lapar kamu jadi doyan" ucap Duwan.
"untukmu saja" ucap gadis itu langsung berbaring.
Alara memejamkan mata dengan fikiran tak karuan, baru kali ini gadis itu kepikiran sesuath sampai seperti ini, padahal dari dulu dia selalu cuek dan hidup semaunya.
Paginya arima wangi daging bakar membangunkan Alara dari mimpinya, perutnya yang keroncongan sejak semalam langsung semangat menyambut dagung bakar yang sedang di bakar Duwan.
"kau sudah bangun nyonya?" tanya Duwan.
"hhh beri aku potongan yang paling besar" ucap Alara semangat.
"ini" ucapnya.
"Alan kemana?" tanya Alara saat menyadari muridnya tak ada.
"dia sedang mencari obat"
"bari aku sepotong lagi" pinta Alara.
"hei ini untuk Alan" keluh Duwan.
"beri bagianmu padaku" paksa Alara.
"kejamnya .. nih" ucapnya memberi bgiannya pada Alara.
Setelah makan Alara membicarakan kesimpulannya pada Alan dan Duwan, gadis itu ingin Alan dan harimau lain keluar dari hutan ini, mereka harus mencari tempat baru agar aman dari pendekar yang mengincar permata siluman milik saudara Kai.
Matahari sudah condong ke arah barat, Alara mengajak lainnya untuk segera meninggalkan hutan, dia dan Kai memimpin jalan untuk memastikan tak ada musuh di depan mereka.
Karena kondisi Alan masih terluka dia naik ke punggung Ney, dan Duwan bersama De, berhubung Mey memiliki luka paling parah maka harimau itu berjalan di tengah Ney dan De.
Setelah hampir satu minggu berjalan mencari rumah baru mereka memutuskan untuk menetap sejenak di sekitar hutan Arasan, hutannya lebih mirip hutan mati karena hanya ada beberapa pohon yang hijau, lainnya sudah kering dan hampir mati.
"kenapa hutan ini sangat gersang?" ucap Duwan heran.
"karena hutan ini adalah habitat kumbang api, pohon yang mereka tempati perlahan akan mengering dan mati" jawab Alara.
"kumbang api? apa dia mengeluarkan api?" tanya Alan.
"tidak juga, dia seperti kumbang biasa tapi daya rusaknya memang tinggi"
"lalu kenapa di namai kumbang api?"
"saat kaki kaki tajamnya menggores kulitmu maka kulitmu akan melepuh, bahkan bisa gosong seperti terkena api" jawab Alara lagi.
"benarkah? apa kau pernah terkena kumbang itu?" tanya Duwan.
"tidak, hanya saja dulu aku pernah lihat ba*i hutan mati gosong setelah di kerumuni kumbang itu"
"hah? kenapa bisa?" ucap Alan merinding.
"karena ba*i itu bodoh, hanya karena tububnya lebih besar dia berani mengobrak abrik sarang kumbang itu, dan yaaa pada akhirnya dia mati karena di kroyok" jelas Alara lagi.
"woahhh bukankah itu hebat?" ucap Duwan.
"mksudmu?"
"aku rasa masih jarang orang yang mengenal kumbang api, bagaimana kalau kita tempatkan kumbang kumbang itu di tempat tinggal Alan nantinya" usul Duwan.
"sebagai perlindungan?" tanya Alan.
"iya, kita tempatkan kumbang kumbang itu di sekitar hutan yang akan kamu tinggali, kalau ada yang ingin mengusikmu pasti mereka akan terlebih dulu nertemu kumbang itu" ucap Duwan semangat.
"itu pemikiran yang bagus Duwan, tapi kumbang itu seperti pedang bermata dua untuk Alan" ucap Alara.
"ehh kenapa?" tanya Duwan.
"di musim panas begini mereka memang tenang dan takkan mengusik siapapun kecuali seseorang mengusiknya, tapi di musim hujan mereka sangat agresif, mereka bisa menyerang apapun yang bergerak"
"ohh begitu"
"jangan khawatir, kita pasti bisa menemukan tempat yang tepat untukmu Alan"
....bersambung....
__ADS_1
jangan lupa dukungannya yaa💜💜💜