
"hiks ... sebenarnya apa yang terjaadi" gumam Alara di tengah tangisnya.
Duwan dan Kai hanya berusaha menenangkan gadis itu, dua anak yang Kai temukan adalah Damar dan Larasati, kedua bocah itu di temukan dalam keadaan tak sadarkan diri dan sangat lemah.
Mengingat mayat mayat yang mereka temukah sudah mulai membusuk, bisa di pastikan dua bocah itu berada di lubang jebakan selama berhari hari, mereka kelaparan, kedinginan kepanasan dan tentunya ketakutan.
Alara menunggu dua bocah itu semalaman tanpa tidur, gadis itu khwatir kedua anak itu kebingunan saat terbangun nanti.
"Ra kita cari makanan dulu yah" ucap Duwan.
"hmm" jawab Alara mengangguk.
Matanya yang begadang semalaman mulai lelah, sesekali gadis itu terlelap tanpa sadar.
"a..irr" suara rintihan terdengar.
Alara yang kala itu terlelap langsung terperanjat mendengar suara itu.
"Da-Damar" ucap Alara.
"aair"
"air? baik .. air" ucap Alara gelagapan.
Gadis itu bergegas memangku kepala bocah kecil itu, tangannya yang gemetar perlahan meneteskan air ke mulut Damar, air matanya tak terbendung karena bocah yang dia khawaritirkan sudah bangun.
Tak lama setelah itu Duwan terlebih dulu kembali membawa beberapaa buah buahan dan satu ayam hutan, saat tau bocah bernama Damar sudah sadar pemuda itu langsung berlari.
"berikan buah itu" ucap Alara.
Dengan kekuatannya Alara memerasnya dan memberikan pada Damar.
"gadis kecil ini belum bangun juga?" tanya Duwan.
"belum" jawab Alara lirih.
Bisa di lihat dengan jelas tubuh bocah itu sangat pucat, bibirnya biru dan matanya cekung.
"ka .. kak" ucap Damar lirih.
"iya Damar, ini kakak" ucapnya.
"ibu kak .. ibuu huhuu" tangisnya.
"iya Damar kakak tau, maafkan kakak harusnya kakak datang lebih awal hiks" ucapnya sembari menangis.
"semua ini bukan salahmu Ra, ini takdir" ucap Duwan menenangkan.
"tapi .. andai aku lebih cepat sedikit" ucapnya menyesal.
"grep .. ini bukan salahmu, jangan salahkan dirimu sendiri" ucap Duwan memeluknya.
"huhu maafkan aku maafkan aku" ucapnya sesegukan.
Damar kembali terlelap karena tubuhnya masih sangat lemah, tapi tidak selemah gadis kecil di sebelahnya yang tak kunjung sadar.
Kai datang dan melihat tuannya tengah tertidur, Duwan berada tak jauh dari mereka dan terlihat sedang membakar ayam.
"bruk" seekor kelinci terjatuh.
"kelinci?"
"tak ada binatang besar di sini" ucap Kai.
Kai duduk di sebelah Alara, mata garangnya nampak sendu karena melihat tuannya terlelap dalam keadaan sedih.
__ADS_1
Tidak bisa di pungkiri kata kata gadis itu sangatlah pedas, beringkah semaunya dan suka memerintah, tapi siapapun yang sudah mengenalnya akan jatuh cinta padanya.
Kasar dari luar tapi lembut di dalam, kata kata itu sangat cocok dengannya, tak heran kalau Duwan sampai tergila gila padanya.
Sampai tengah hari Alara terbangun karena merasa lapar, ayam bakar yang sudah dingin dia santap seadanya untuk mengisi perut, Duwan dan Kai terlihat sedang duduk di pinggiran sungai yang tak jauh dari mereka.
Selesai makan gadis itu mengecek kondisi dua bocaj di sampingnya, demam Damar sedikit turun dan dia tak lagi mengigau, saat memeriksa tubuh Larasati tanganny bergetar.
Tubuh gadis kecil itu sudah dingin, nafasnya tak lagi berhembus dan detak jantungnya tak lagi terdengar.
"Du-Duwaan" teriaknya.
Duwan yang mendengar teriakannya langsung berlari, Kai yang ada di sungai juga ikut naik menghampiri tuannya, Damar pun yang terlelap langsung terbangun karena kaget.
"kenapa Ra?" tanya Duwan panik.
"a-anak ini .. nafasnya tidak ada" ucap Alara tergagap.
Duwan langsung mengecek keadaan Larasati, di tempelkan jarinyanke bawah hidung, lalu memeriksa denyut nadi di lengan dan lehernya, tak lupa dia menempelkan telinga ke dadanya.
"emm" gumam Duwan menggeleng.
"kenapa? La-Laras kenapa?" tanya Damar bingung.
"Laras pergi Damar, Laras pergi" ucap Alara memeluknya.
Duwan dan Kai memakamkan Laras dengan layak, mereka memberikan penghormatan terakhir pada gadis kecil itu, Damar hanya berdiam diri tak mengerti, anak itu belum sepenuhnya paham dengan kematian temannya.
Alara merawat Damar dengan sangat tlaten, di kompresnya badan bocah kecil itu, tak lupa di suapi makanan dan di beri ramuan obat yang di racik Duwan.
Setelah 2 hari menerima perawatan penuh Damar mulai banyak bicara, dia juga sesekali tersenyun saat Duwan membuat lelucon.
Sejujurnya Alara sangat penasaran dengan apa yang terjadi di pemukiman tempat Damar tinggal, tapi gadis itu tak berani menanyakannya.
"emm .. aku sudah sangat sehat" jawab Damar.
"apa Damar mau ikut kakak?" tanya Alara pelan.
Damar mengangguk tanda setuju, karena dia sendiri sudah tak memiliki siapapun, mereka berempat kembali melakukan perjalanan ke rumah nenek Arung, jaraknya sudah tidak terlalu jauh, hanya perlu 3 atau 4 hari untuk sampai.
Damar duduk di punggung Kai karena staminanya tak sekuat orang dewasa, anak itu dengan nyaman duduk di sana, Alara dan Duwan jalan di belakang mengikutinya.
Setibanya di sebuah kota Alara memutuskan untuk mengajak Damar berjalan jalan, dia ingin anak itu sedikit menikmati dunia luar setelah bertahun tahun terkurung di hutan.
Bocah itu berlari girang di keramaian, Alara tersenyum karena melihat anak itu kembalu ceria, Duwan dan Alara terlihat seperti sepasang ayah dan ibu yang mengasuh anaknya.
"Damar tunggu sebentar" seru Alara.
"kenapa kak? apa aku jalan terlalu cepat?" tanya bocah itu.
"emm (menggeleng) .. kita mampir ke sana dulu ya" ajak Alara.
Damar langsung berlari ke arah toko yang di tunjuk Alara, terlihat banyak pakaian terpampang di sana, Alara memilihkan beberapa baju untuk anak itu.
"Damar bagaimana dengan baju ini?" tanya Alara.
"bagus" jawabnya.
"kenapa kau repot sekali memilih baju untuk Damar, kalau belanja untuk diri sendiri kau hanya asal ambil" ucap Duwan heran.
"huhh anak tampan ini harus menggunakan pakaian yang bagus" ucap Alara antusias.
Setelah berbelanja Alara kembali membawa Damar ke restoran, gadis itu memesankan segala jenis masakan kesukaan Damar, Damar pun menikmatinya dengan senang hati.
"Duwan jangan lupa daging untuk Kai" ucap Alara mengingatkan.
__ADS_1
"aaa iya, hampir saja aku membuat harimau itu kelaparan" seru Duwan.
Setelah membawa Damar jalan jalan sampai puas mereka memesan dua kamar untuk menginap, Damar memilih tidur bersama Alara, dan Kai bersama dengan Duwan.
Saat gelap mulai menyelimuti bumi Damar meminta jalan jalan keluar, Alara dengan senang hati menuruti keinginan anak itu.
"kita mau jalan jalan ke mana?" tanya Alara.
"kemana saja asal bersama kakak" jawabnya.
"hmm .. lihatlah kamu sangat tampan saat menggunakan baju ini" puji Alara.
"apa biasanya aku tidak tampan?" tanyanya polos.
"hehe tentu saja tampan, kau selalu tampan saat menggunakan baju apapun" pujinya.
Hampir tengah malam Damar barulah mulai mengantuk, Alara mengajaknya masuk dan bergegas tidur, sebelum tidur anak itu terlihat gelisah, badannya terus berbalik kesana kemari tanda tak nyaman.
"kenapa Damar?" tanya Alara bingung.
"tidak apa apa kak" jawabnya.
"baiklah, sekarang tidur saja besok kita akan melanjutkan perjalanan" ucapnya pelan.
Saat pagi tiba semua bersiap untuk pergi, Kai kembali masuk ke tubuh tuannya dan lainnya berjalan menuju hutan, kali ini Damar ingin ikut berjalan dengan yang lainnya.
Kai sendiri terus menetap di tubuh Alara untuk mengumpulkan tenaga, harimau itu ingin selalu siaga tiap tuannya butuh bantuan.
"drap .. drap" terdengar langkah kaki kuda dari kejauhan.
Karena Alara tak ingin bertarung mereka memutuskan untuk bersembunyi di semak, 2 orang yang menggunakan topeng lewat dengan kudanya.
Alara dan Duwan terus bersembunyi hingga dua orang berkuda itu jauh, setelah beberapa saat barulah mereka keluar.
"kenapa?" tanya Duwan saat menyadari wajah Damar pucat.
Bukan hanya wajahnya pucat, tubunya juga terlihat bergetar ketakutan, Alara yang baru mengetahuinya sedikit panik karena takut anak itu terluka.
"Damar kamu kenapa?" tanya Alara panik.
"ka-kak" ucapnya terputus.
"ada apa? kenapa kamu gemeteran begini? Damar sakit?" tanya Alara lagi.
Damar hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Alara, karena tak mengerti alasan anak itu ketakutan Alara berinisiatif memeluknya, itu dia lakukan karena selama ini Duwan selalu memeluknya jika dia sedang panik.
"me-mereka orang jahat" ucap Damar.
"siapa? orang orang tadi?" tanya Duwan.
"emm .. mereka yang sudah menyerang ayah dan lainnya" terangnya.
"apa? jadi mereka yang menyerang kamu dan lainnya? tapi kenapa? bahkan kalian hidup dalam kemiskinan, tidak mungkin kan mereka merampok?" tanya Alara tak paham.
"Damar tidak tahu, mereka menyebut diri sebagai penjarah pusaka" ucapnya.
"penjarah pusaka? apa maksudmu?" tanya Alara masih tak paham.
"Damar juga tidak tau, tapi setau Damar mereka sedang mencari benda pusaka" ucap anak itu.
"benda pusaka? memangnya ada yang memiliki benda pusaka?"
Setelah tenang Duwan menggendong Damar di punggungnya, sepanjang jalan Duwan terus bercerita, dia sangat paham anak dalam gendongannya kemungkinan mengalami trauma, apalagi saat anak itu gemetar ketakutan.
"mungkinkah benda pusaka yang mereka maksud adalah benda yang ibu Damar berikan padaku?" batin Alara larut dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1