The Werewolf

The Werewolf
60. Golok hitam


__ADS_3

"kita harus kemana?"


"entahlah aku juga tidak tau, tapi kita harus menjauh dari kota manapun demi keselamatan Arya"


"kenapa? memang apa salahnya bayi ini?" ucap Alara dengan tatapan nanar.


"tidak ada yang salah, semua ini sudah jadi garis takdirnya"


"aku ingin dia hidup tenang, tapi apa bisa?"


"aku tidak tau, tapi aku akan mengusahakannya, jangan khawatir" hibur Duwan.


"Ra! coba lihat arah sana" ucap Duwan menunjuk arah kiri.



"kenapa?"


"cantik"


"hah?"


"mataharinya cantik, bagaimana kalau kita istirahat sambil menikmatinya" usulnya.


"ya sudah"


Keduanya memutuskan istirahat sambil menikmati pemandangan matahari terbit, sudah semalaman mereka berjalan tanpa henti, Alara sama sekali tidak ingin berhenti sebelum merasa benar benar jauh dari kota.


Membayangkan bayi dalam dekapannya terluka saja membuatnya ketakutan, apalagi mendengar pembantaian besar besaran yang di lakukan oleh raja gila itu, dan lebih parahnya raja itu adalah paman dari si bayi.


"Duwan"


"hmm"


"berjanjilah satu hal padaku"


"apa?"


"jangan pernah menghalangiku untuk melindunginya"


"memang kapan aku berhasil menghalangimu, kamu kan tidak pernah mendengarkanku" ucap Duwan datar.


"maaf, aku tau kamu mempedulikanku Duwan, tapi.."


"tapi apa?"


"ada hal yang harus kamu tau" ucap Alara tertunduk.


"katakan"


"ku pikir umurku tidak akan lama"


"a-apa? apa maksudmu? jangan bicara sembarangan"


"kamu tau kan kekuatanku membebani tubuhku, di tambah lagi usiaku sudah berkurang banyak setelah menolong bayi ini, bisa di katakan setengah usiaku sudah ada pdanya, tapi.."


"tapi apa?"


"sekalipun usiaku masih panjang aku rasa tubuhku akan terus melemah, kekuatanku terlalu besar dan kekuatan fisikku terbatas, bisa saja 5 atau 10 tahun lagi aku mati, kalaupun tidak mati aku akan lumpuh total"


"aku akan merawatmu"


"Duwan.."


"aku sudah bilang aku akan selalu di sampingmu Ra"


"bayi ini .. umurnya tidak akan lama Duwan, aku bahkan tidak yakin usianya bisa sampai 20 tahun"


Matanya nanar menatap bayi yang terlelap nyenyak dalam dekapannya.



"m-maksudmu apa sih Ra, aku.."


"racun yang ada di tubuh dan darahnya memang berhasil kita keluarkan, tapi kutukannya"


"kutukan😮?"


"yaa, racun itu di sertai kutukan, kakek bilang di dunia ini ada racun yang di sertai kutukan, awalnya aku tidak percaya tapi sekarang aku melihatnya sendiri"


"jadi kutukan apa yang ada pada Arya"


"semakin kuat tubuhnya maka semakin terkikis usianya, dengan kata lain kutukan ini bertujuan membuatnya hidup layaknya mati"


"hidup layaknya mati? apa lagi itu?"


"huftt dasar bodoh😤, si brengsek Dwi itu sudah membuat rencana yang matang, dengan adanya kutukan ini dalam tubuhnya, dia membuat Arya jadi pemuda lemah meskipun berhasil hidup dan berumur panjang, hal ini akan membuat Arya menyerah dan tak lagi ada kesempatan untuk balas dendam apalagi merebut kerajaan"


"apa? kenapa begitu?"


"huftt yang jelas dia ingin posisinya selalu aman"


"tapi aku baru dengar racun jenis itu Ra"


"yaahhh racun itu sudah lama hilang, hanya seseorang yang menggunakan sihir hitam yang bisa menggunakannya"


"jadi?"


"suatu saat nanti aku akan memberikan sisa usiaku padanya"


"kamu gila ya Ra! kamu ngga mikirin perasaanku, apa aku tidak ada artinya?" bentaknya kesal.


"apa arti yang kamu maksud adalah cinta?"


"aku tidak masalah kalau kamu ngga mencintaiku Ra, tapi jangan lakukan hal gila itu huhu" tangisnya meletekkan keningnya ke paha Alara.


"pergilah Duwan, menikahlah dan hiduplah dengan bahagia"


"tidak! sampai kapanpun aku tidak akan melakukan itu, aku tidak peduli kamu membenciku atau apa tapi aku-akuhh.."


"aku tidak tau seperti apa itu cinta tapi aku tidak pernah membencimu, aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan"


"Ra, kita menikah saja ya"


"hah? apa maksud.."


"kita menikah saja biar kamu tidak malu memperlihatkan sisi menyedihkanmu itu, dan lagi kamu bilang usianya tidak akan lama jadi ayo jadi orang tua sesungguhnya untuknya" ucapnya menggenggam erat tangan Alara.


"tapi Duwan.."


"sudah aku putuskan kita akan menikah"


* * *

__ADS_1


"BYUUR"


"BYUUR"


Deburan ombak dan semilir angin di sore hari menjadi saksi dari kehangatan gadis yang merawat bayi orang asing, bayi yang entah akan tumbuh seperti apa dia rawat dan dia cintai sepenuh hati.


"anginnya semakin kencang, ayo masuk"


"iya, ayoo"


Sepasang pemuda asing yang di pertemukan oleh takdir, suatu hari mereka terikat oleh suatu hubungan yang di awali oleh hadirnya seorang bayi laki laki yang tak pernah mereka sangka.


"bu lapaal"


"kenapa? kamu lapar?" tanya ibunya dengan nada lembut.


"lapall bu"


"sepertinya benar, aku juga lapar sayang" ucap sang ayah.


"kalau begitu tunggulah, aku akan segera menyiapkan makanan" jawabnya melangkah pergi.


Sore itu tepat dua tahun hari lahirnya Arya, anak laki laki yang mereka rawat dengan sepenuh hati layaknya anak sendiri, dengan hadirnya bayi itu Alara dan Duwan memantapkan hati untuk menikah dan menjadi orang tua seutuhnya.


Jauh dari keluarga bahkan di katakan hidup dalam pelarian demi kelangsungan hidup putra mereka, selalu berpindah tempat dari tempat satu ke tempat yang lain sudah mereka jalani selama 2 tahun.


"ayah halimau, mau halimau"


"kamu mau naik harimau?"


"halimaau🥺"


"ya sudah ayoo kita izin ibu dulu"


Kedua laki laki itu masuk kerumah dan mendekati seorang wanita yang tengah sibuk memasak, walau selalu hidup dalam pelarian tapi mereka hidup dengan normal dan bahagia layaknya kelurga biasa.


"ibuuu mau halimau"


"harimau? mau naik harimau?"


"iyaa, naik halimau" ucapnya antusias.


"tidak boleh!" jawabnya tegas.


"halimua bu halimauuu🥺"


"T I D A K boleh Arya"


"🥺 huaaaaa😭"


"ayolah Ra, kenapa tidak boleh sih?" ucap Duwan ikut memohon.


"hehh kalian ini yahh, dua hari lalu kalian naik Kai dan Arya jatuh, bahkan lebamnya belum hilang" ucapnya sedikit kesal.


"heii hanya lebam apa masalahnya, Arya kan anak laki laki.."


"TIDAK BOLEH"


"tchh dasar, sudah ya besok lagi naiknya" ucapnya menghibur Arya.


Sudah dari Arya mulai merangkak sampai sekarang anak itu sangat menyukai Kai, dia akan lupa waktu jika sudah bersama harimau siluman itu, berkali kali anak itu terjatuh tapi tetap tidak ada kapoknya.


Awalnya Alara membirkan saja tapi semakin lama Arya semakin sering terjatuh, hampir setiap hari tubuhnya lebam karena terbentur.


"tidak mau"


"ehh kenapa? katanya lapar"


"hump Alya malah sama ibu" dengusnya.


"😒 kamu yah?"


"ehh tidak, aku tidak mengatakan apapun padanya" ucap Duwan panik.


"Arya makan yah, ibu suapi yaa?"


"ihh kan Alya malah sama ibu😤" ucapnya kekeuh.


"begitu yah? padahal setelah makan ibu mau jalan jalan sama Kai😌"


"ibu mau naik halimau😲"


"hem tapi Arya marah sama ibu jadi ibu pergi sen.."


"Alya ngga jadi malah, Alya makan sendilii" ucapnya langsung menyantap makanan di piringnya.


"bwa ha ha haaa🤣🤣, aduhh lucunya anakku" ucap Alara memegangi perutnya yang geli.


Ketiganya makan bersama di depan rumah dan mengobrol bahagia, selalu ada saja tingkah Arya yang membuat orang tuanya tertawa.


Semakin hari rasa penasaran Arya akan sesuatu semakin bertambah, jika menjumpai sesuatu yang baru maka anak itu akan menghujani orang tuanya dengan rentetan pertanyaan, anak itu tidak akan berhenti sampai rasa penasarannya terobati.


"Aryaa!"


"iya bu"


"Arya sedang ap?"


"Alya bantuin ayah jemul daun untuk obat" jawabnya ceria.


"emmm Arya pangin punya teman baru tidak?"


"teman balu? mana🤯" tanyanya antusias.


"jadi Arya mau?"


"mau buu mauu"


"teman Arya ada di sini🤰"


"ehhh di sini🤔?" tanyanya bingung.


"Arya sebentar lagi punya adik" jawabnya tersenyum.


"yeeee adiik Alya mau punya adiikkk, hngg adik itu apa?" tanyanya lagii.


"pft🤭, kamu iniiii adik itu ya adik, nanti adik akan jadi teman Arya, teman main bersama mandi bersama dan banyaaak lagi" terangnya memjelaskan.


"BRUG"


"Arya mau punya adik? aku tidak salah dengar😱? tanya Duwan tiba tiba.


"emm iya😄" jawab Alara senang.

__ADS_1


"GREB"


"Arya punya adik? kamu hamil Raa?" tanyanya tak percaya.


"iyaaa suamiku sayang, aku hamil🤭"


"🤸🏋️🤸 wuhuuuuuuuuuu yeeeeeehhhhh😆"


Hari terus berganti usia kehamilan semakin menua dan perutnya kian membesar, selama 6 bulan ini mereka hidup tentram dan damai layaknya kelurga biasa, Arya dan Duwan yang setiap hari selalu sibuk berebut menempelkan telinga di perut Alara sudah jadi pemandangan sehari hari yang di lihat Kai.


Harimau itupun hidup damai dan lebih sering bermalas malasan karena tuannya hidup damai selama ini, harimau siluman yang sebesar kuda itu melewati hari dengan bermain bersama balita yang bernama Arya dan sesekali mengantar Duwan pergi ke kota untuk menjual obat obatan.


"DEG"


"perasaan aneh apa ini" batin Alara gelisah.


"Duwan"


"Duwaan"


"hngg apaaa😳" jawabnya terkaget.


"ada yang mendekat"


"mendekat? hmm.. ahh maksudmu?"


"aku merasakan ada beberapa orang di sekitar rumah"


"jangan bilang.."


"mereka tidak terlalu kuat"


"tetap saja ka.."


"BRAAK"


Suara pintu yang di dobrak mengejutkan Arya yang sedang terlelap dengan nyenyaknya, meski masih kecil anak itu bisa memahami ada sesuatu yang buruk dan langsung memeluk ibunya.


Segerombol orang yang menutup wajah menerobos masuk ke rumah, badan tinggi besar dengan golok yang ada di pinggang mereka membuat Duwan langsung mengenalnya.


"mereka Golok hitam"


"golok hitam?" tanya Alara.


"mereka adalah rombongan perampok yang sangat terkenal di kota Batu" bisik Duwan menjelaskan.


"perampok? mereka hanya perampok tapi aku terlambat menyadari kedatangan mereka" batin Alara kesal.


"si*l, kenapa kemampuanku makin melemah" gerutunya.


Satu hal yang tidak Alara sadari, sejak awal kehamilannya hampir seluruh kemampuannya menurun, bahkan kepekaan indranya juga ikut menurun.


"Alara ini aku Abel" terdengar suara di kepala.


"*dengarkan aku baik baik, selama kehamilanmu aku terus menyerap kekuatanmu demi pertumbuhan janinmu, kamu bisa saja bertarung dan mengambil kekuatanmu dariku tapi itu sangat bahaya bagi bayi dalam perutmu"


"jadi?"


"sebisa mungkin jangan bertarung"


"baikk*"


Suasana seketika ricuh saat beberapa orang memporakporandakan rumah mereka, agaknya mereka kesal karena tidak menemukan benda berhargaa.


"di mana harta kalian?"


"ha-harta apa tuan, kami hanya keluarga miskin" jawab Duwan.


"ck ck, kau pikir aku tidak tau kalau kau sering menual tanaman langka dan obat obatan di kota? serahkan uangmu"


"tidak ada tuan"


"BRAAKK"


"kamu mau melawanku?"


Duwan dan Alara hanya tertunduk, Arya memeluk ibunya dengan erat karena takut, rumah kacau dan badan bergetar ketakutan karena ketiganya tidak bisa bertarung.


"tchh benar benar tidak ada apapun di sini bos" ucap salah satunya.


"si*al, jauh jauh kita kemari mana mungkin kembali dengan tangan kosong"


"bos ambil saja anaknya"


Alara yang mendengr kata kata itu langsung melotot tak terima.


"kenapa kau? .. hmmm kulihat wajahmu seperti gadis tapi rambutmu putih seperti nenek nenek"


"jangan sedang sakit, kalian boleh ambil apa saja tapi jngan sakiti istri dan anaku" ucap Duwan memeluk istrinya.


"ha haa haa kau pria lemah diam sajaa'


"ayo pergii, kita bawa anak dan istrinyaa"


"BUAKK"


kepalan tinju seorang Duwan melayang dengan kerasnya ke wajah laki laki yang berusaha memegang Alara.


"si*lan kau"


Karena kesal kawanannya langsung memegang tangan Duwan, mereka mengeroyoknya tanpa belas kasih.


"jangan sakiti suamikuuu😡" wajh Alara memerah menahan amarah.


"hohooo rupanya kau bisa bicara"


"lepaskan!"


"apa?"


"lepaskam suamiku sekarang!"


"kalau aku tidak mau apa yang akaan kamu lakukan?"


"jadi kalian tidak mau?"


"tentu saja .. tidak hahhaaaa"


"kaliaaan yang memaksakuu, KAAAIIIIII"


"GRAAAAAAUUUMMMMMM"


.........BERSAMBUNG........

__ADS_1


__ADS_2