
Alara keluar saat mendengar kerusuhan di depan toko, dia dan pelayan toko menghampiri gadis kecil yang menemaninya terlihat sedang duduk di bawah.
"itu namanya merampas, kembalikan!" teriaknya.
"ada apa?" tanya Alara sambil membangunkannya.
"kakak, kantung beras" ucapnya lirih.
"apa mereka memintanya?" tanya Alara lagi.
"tidak, mereka mengambilnya" jawab gadis kecil itu lagi.
"kalau begitu ayo kita ambil" ajaknya "nona aku titip belanjaanku sebentar" lanjutnya.
Gadis kecil di gandengannya sedari tadi hanya menunduk, Alara membiarkannya karena dia tau gadis kecil itu tengah merasa bersalah.
Tak jauh di depannya terlihat 4 orang seumuran dengan Alara, mereka berjalan santai karena tak tau si pemilik kantung beras di gendongannya sekarang berada di belakangnya.
Alara sengaja meminta gadis kecil di gandengannya diam, dia ingin menghajar mereka saat keluar dari pasar, barulah saat mereka berjalan di jalan setapak yang sepi mereka berempat menyadari ada orang di belakang mereka.
"kalian berdua mengikuti kami? ohh kau gadis kecil itu" ucap seseorang.
"kembalikan beras milik kakak Alara" ucap si bocah.
"kembalikan? ini milikku" jawabnya.
"milikmu? apa kau merasa membelinya?" tanya Alara.
"ohhh hey nona suara lembut sekali, wajahmu pasti cantik" goda salah satunya.
"kembalikan selagi aku bicara baik baik" ucap Alara lagi.
"apa kau marah nona? aku penasaran secantik apa wajahmu saat marah" ucap seseorang sambil melangkah maju.
"plaakk bruukkk, jangan bertindak kurang ajar" ucap Alara setelah menampar pemuda yang mendekatinya.
"nona! kau kasar sekali, temanku ini hanya menggodamu sedikit"
"cepat kembalikka kantung berasku" perintah Alara lagi.
"kalau kami tak mau bagaimana?"
"baiklah" ... "kau ambil sisa belanjaan kita di toko baju dan pulanglah lebih dulu" perintah Alara.
"tapi kakak bagaimana?" tanyanya.
"tak perlu khawatir, aku hanya akan bermain main sebentar" jawabnya.
Gadis kecil itu menuruti perintah Alara, dia berlari kencang dan segera megambil belanjaannya, dia juga langsung lari ke rumah.
"aku harus memberi tahu suami kakak dan kakek" ucapnya.
Gadis itu berniat mengadukan apa yang terjadi pada Duwan dan kakeknya, dia khawatir Alara akan terluka kalau menghadapi preman pasar yang merebut kantung berasnya tadi.
"draap ... draap" kaki kecilnya terus berlari menyusuri jalan, beban yang di bawanya seakan tak membebani tubuhnya sedikitpun.
"braakk kakekk!" seru gadis tadi.
Duwan dan si kakek tersentak karena gadis itu membuka pintu dengan menabrakkan tubuhnya, Duwan yang sejak tadi sedang ngobrol dengan si kakek langsung berdiri karena kaget.
"ada apa cantik?" tanya Duwan pelan.
"kakak haahh haah di sana" tunjuknya.
"kenapa? ada apa sih cu?" tanya kakek ikut menimbrung.
"kakak sedang di kroyok preman pasar di sana" jawabnya.
"apa? gawat!" pekik Duwan.
"kita harus menolongnya kak" ucap gadis kecil itu.
"bagaimana kalau preman preman itu mati, aduhh bagaimana ini, gadisku itu sangat liar" batin Duwan.
"ayok kak" ajak gadis itu menarik tangan Duwan.
Duwan hanya menurut saat tangannya di tarik keluar, dia tak mungkin bilang kalau Alara bahkan sanggup membunuh orang orang yang sudah mencelakakannya.
__ADS_1
"aduhhh" keluh Duwan tiba tiba.
"ehh kakak kenapa, aduh aku lupa kakak kan sedang terluka" ucap gadis itu panik.
"aww perutku sepertinya berdarah lagi" ujar Duwan.
Pemuda itu berbohong karena tak ingin gadis kecil di depannya melihat Alara mengamuk, dia tau betul Alara adalah gadis yang kuat, atau mungkin sangatlah kuat.
"bantu aku kembali ke rumahmu" pinta Duwan.
"ta-tapi kakak Alara ba.."
"aawww sakiit" teriak Duwan.
"ayo ayo kita kembali" ujarnya kembali menuntun Duwan.
"kau harus cepat kembali gadis liar" batinnya.
Alara sekarang sedang membayar belanjaannya di toko baju, dia membeli dua setel pakaian pria, satu untuknya dan satu untuk Duwan, dia juga membelikan satu gaun cantik untuk gadis kecil yang sekarang tengah panik di rumah.
* * * * * *
"plak"
"aduh ampun kek, kami janji ngga ngulangin lagi"
"beraninya kalian yah, aku besarkan baik baik malah berlagak jadi preman pasar plaakk"
Empat pemuda yang merampas kantung beras milik Alara tengah di hajar oleh seorang kakek yang katanya orang yang merawat mereka dari kecil, saat Alara bersiap menghajar berandalan itu sang kakek lewat setelah kembli dari kebun.
Awalnya si kakek tak mau ikut campur urusan pemuda itu, tapi setelah tau bahwa itu adalah cucunya dia lngsg turun tangan, dan jadilah adegan pukul memukul antara si kakek dan cucu cucu yang di rawatnya.
Alara kembali ke rumah setelah mendapatkan segala keperluan, sampai rumah tentu orang orang menyambutnya dengan panik.
Berbeda dengan pasangan kakek dan cucu yang khawatir Alara akan teluka, Duwan justru panik kalau sampai Alara membunuh warga desa sini.
"kamu beneran ngga ngapa ngapain mereka?" bisik Duwan tak percaya.
"kau kira aku pembohong" jwab Alara kesal.
"benar ya kamu ngga ngapa ngapain mereka?" ucap Duwan lagi.
"ahh tidak, mana mungkin aku berani melakukan itu he he" ucap pemuda itu cengengesan.
"apa apaan muka bodoh itu?" gerutu Alara.
Duwan dan Alara menginap selama 3 hari, setiap malam dia berburu untuk di jual, uangnya sengaja dia belikan berbagai kebutuhan rumah tangga untuk kakek dan cucunya.
Mereka berdua kembali melakukan perjalanan dengan pelan, walau keadaan Duwan sudah lebih baik tetap saja lukanya belum sembuh benar.
Sepanjang perjalanan Duwan sangatlah cerewet, pemuda itu sering kali bercerita tentang hal hal yang menurut Alara sama sekali tak penting.
Hari pertama kedua dan ketiga perjalanan cukup lancar, tak ada hambatan atau keluhan dari mulut pemuda cerewet itu, mereka beristirahat saat gelap tiba, jika biasanya Alara berburu atau mencari buah untuk makan, kali ini mereka membawa beberapa roti kering untuk bekal.
"hahhh kalau berjalan seperti siput begini kapan kita akan sampai" keluh Alara.
"kenapa kau tak berburu yang banyak dan membeli kuda saja" usul Duwan.
"kau pikir harga kuda murah?"
"yaaa ... mahal" jawabnya.
"memang tak ada gunanya bicara denganmu"
Alara merebahkan tubuhnya di atas dedaunan kering, malam ini mereka kembali tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit seperti beberapa hari lalu.
Duwan langsung ikut merebahkan tubuhnya di dekat Alara, tak ada sungkan atau apapun pada Alara lagi.
"apa tempat ini sangat sempit sampai kau harus merebahkan diri tepat di sebelahku begini?" ujar Alara sedikit kesal.
"kau kan tau aku penakut hehe" jawabnya.
"tchhh menyebalkan"
"kalau ku ingat sudah beberapa hari kau tak memanggilku bodoh dan gila, apa kau masih terbawa suasana saat pura pura menjadi pasangan" ledek Duwan.
"apa kau bosan hidup?" ucap Alara kesal.
__ADS_1
"ayolahh hidupmu terlalu kaku" keluh Duwan.
"bukan urusanmu" ketusnya.
"toel toel, nona" panggilnya sambil menoel pipi Alara.
"plaaakkk awww" satu tamparan mendarat di pipi Duwan.
"astaga ini KDRT namanya" ucapnya sambil mengelus pipi.
"bicara aneh sekali lagi kucakar wajahmu" ancam Alara.
"tchh galak sekali" batinnya.
Saat pagi tiba Duwan terbangun dalam keadaan sendirian, pemuda itu celingukan kesana kemari mencari teman perjalanannya.
"mati aku! jangan jangan dia marah dan meninggalkanku sendiri" terka Duwan.
"lihatlah wajah bodohnya itu" batin Alara dari atas pohon.
Alara terus mengikuti dari atas pohon, Duwan terus memanggil namanya sembari mengucapkan maaf, awalnya gadis itu tak ada niatan mengerjainya, dia hanya duduk di pohon menikmati matahari yang bersinar, siapa sangka saat dia hendak melompat turun Duwan sedang kelabakan mencarinya.
"nonaa kau benar benar meninggalkanku, bagaimana kalau aku mati di terkam binatang buas? ahh nona aku masih belum mau matii nonaaaaaaa! teriaknya.
"bruukkk" ... " aaaaaaa setan"
"plaak ... ini aku bodoh" ujar Alara kesal.
"huaa nona, kupikir setan penunggu hutan sini" ucap Duwan memeluk Alara.
"lepas bodoh, kau pikir aku siapa?" paksa Alara.
"istriku, kita kan pengantin baru"
"kau benar benar sudah bosan hidup Duwan" ucapnya pelan.
"he hee ya yaa ampun ... ohya sepertinya setelah lewat hutan ini adalah desaku" ucap Duwan.
"baguslah, akhirnya aku berpisah dengan manusia bodoh menyebalkan sepertimu" ucap Alara.
"kau harus mampir ke rumahku nona"
"untuk apa? aku sudah terlalu lama menunda perjalananku" tolak Alara.
"sebentar saja yahhh, ku mohon" bujuk Duwan
"hmmm baiklah"
Setelah berjalan sampai sore, sebuah desa yang terlihat lumayan besar sudah terlihat, rumah rumah di sana tampak mewah dan besar.
Duwan terlihat sangat girang, setelah lebih dari dua minggu jauh dari rumah akhirnya malam ini dia akan tidur di rumahnya sendiri.
Rumahnya adalah rumah yang paling besar, sesuai perkataannya bahwa keluarganya adalah keluarga bangsawan, huniannya sangatlah besar dan mewah, bahkan ada beberapa penjaga di sekitar rumahnya.
Kepulangannya di sambut tangisan haru dari keluarganya, terlihat ayah ibunya menangis tersendu sendu saat mendengar kabar bahwa putra dan putrinya mendapat penyerangan.
Tangis mereka semakin menjadi jadi saat Duwan menceritakan nasib kakak perempuannya, ibunya sampai pingsan mendengar cerita Duwan.
"akan ku b*nuh mereka" teriak sang ayah.
"sudahlah ayah, temanku ini sudah melenyapkan mereka semua" ucap Duwan menenangkan.
"aku tau para b*jingan itu sudah lenyap, tapi pasti ada seseorang di balik semua ini" ucapnya lagi.
Mendengar ucapan itu Alara baru teringat sesuatu, jika orang yang beberapa waktu lalu dia b*nuh adalah kelompok perampok harusnya barang bawaan Duwan dan kakaknya mereka bawa, tapi Alara masih ingat betul kalau barang badang mereka masih berserakan di sekitar kuda waktu itu.
"sepertinya aku akan bicara pada Duwan nanti" batinnya.
Malam ini Alara di paksa menginap di kediaman Duwan, meski keluarga mereka tengah di liputi duka atas meninggalnya putri mereka, tapi mereka memperlakukan Alara dengan baik, apalagi mengingat jasa gadis itu yang tak ternilai harganya.
"apa karena aku tak terbiasa dengan kamar semewah ini makanya aku sulit tidur" gumam Alara.
Malam itu Alara tak kunjung tidur, entah itu perasaan atau firasatnya yang terasa buruk, yang jelas sampai tengah malam dia belum juga tidur.
"tok tok, apa kau sudah tidur?"
....bersambung.....
__ADS_1
mohon dukungannya ya man teman semua 💜