The Werewolf

The Werewolf
57. Singa kecil


__ADS_3

"GUBRAK" tubuhnya jatuh tersungkur setelah mengalirkan begitu banyak darah.


"Raa! bangun Ra, ahhh si*l" decak Duwan kesal.


Bayi mungil yang masih dalam pangkuannya belum menunjukkan tanda tanda apapun membuatnya makin khawatir, Kai yang merasakan tuannya dalam keafaan buruk langsung keluar dan mendekap tubuh gadis muda itu.


"adik bayii bangunlah" seru Duwan sambil terus mengelus pelan pipi si bayi.


Permaisuri Retno ayu dan kakaknya senopati Kelana hanya menatap diam pemandangan di depannya, momen saat seluruh darah dalam tubuh bayi mungil itu habis dan di isi kembali oleh si gadis masih tergambar jelas.


Situasi saat si gadis tiba tiba tumbang dan seekor siluman harimau tiba tiba muncul, keduanya masih belum tersadar dengan kondisi saat ini.


"tolong masukkan pil ini ke mulutnya" suruh Duwan.


"t-tapi ha.."


"tidak apa apa, harimau itu teman kami"


Meski pemuda itu menjawab dengan bibir tersenyum tapi sangat jelas terlihat kekhawatiran dari matanya.


"oweekkk oweekkk" tangis sang bayi tiba tiba.


"ahhh pu-putrakuu" ucap Retno langsung mendekap bayinya.


Selagi sang bayi ada dalam dekaoan ibunya, Duwan langsung memangku Alara dan Kai pun masih mendekap tubuh tuannya.


"Ra bangun Ra, jangan buat aku khawatir" ucapnya bergetar.


Tubuh gadis yang ada di pangkuannya benar benar sedingin es, bahkan asap tipis keluar dari tubuhnya.


"Duwan! aku sudah tidak tahan tubuh majikan sangat dingin" ucap Kai menggigil.


"bahkan bulu lebatmu tidak bisa melindungi tubuhmu dari suhu tubuhnya? ahhh si*l apa obat ini tidak berfungsi?" decaknya kesal.


Di sisi lain permaisuri Retno masih mendekap erat satu satunya putranya yang tersisa, kakaknya hanya memandang dengan senyuman getir, Kelana sangat tau masa depan adik dan keponakannya akan selalu dalam bahaya ke depannya.


"yang mulia, apa aku bisa menjaga mereka? aku bahkan tidak mampu melindungi diriku sendiri, bagaimana caraku melindungi masa depan kerajaan ini satu satunya?" batin Kelana lesu.


Di tengah kegalauannya tiba tiba Kai menggeram, sangat jelas harimau itu menunjukan adanya bahaya.


"kenapa Kai?" tanya Duwan panik.


"hawa pembunuh, mereka sangat dekat"


"apa?" jawab 3 orang serempak.


"Ayu pergilah, aku akan berusaha semampuku melawan menahan mereka" perintahnya tegas.


"tidak kakak, tubuhku sudah tidak sanggup berjalan lagi" jawabnya lirih.


Saat kepanikan melanda Kai sudah bersiap lari dengan adanya Duwan dan Alara di punggungnya, mengingat kondisi Alara yang kritis keduanya memutuskan untuk pergi dari bahaya yang datang.


"tuan" panggil Retno lirih.


"maaf yang mulia permaisuri aku harus segera menyelamatkan hidup temanku, aku harap pangeran tumbuh kuat dan sehat" ucapnya sebelum pergi.


"toloong! sekali lagi aku mohon tolong" ucapnya berusaha berdiri.


"apa lagi yang mulia? nyawa gadis ini sedang di ujung tanduk" ucapnya.


"aku tau aku sangat tidak tau diri, tapi aku mohon selamatkan putraku, dia takkan aman jika bersamaku" ucapnya lirih.


"apa maksud ucapan anda yang mulia?" tanya Duwan bingung.


"bawa putraku bersamamu, kumohon"


"Ayuuu!"


"kak! ini satu satunya cara agar dia tetap hidup, kumohon biarkan aku menyayanginya dengan caraku" jawab Retno nanar.


"tapii.."


"kakak kumohon" pintanya memohon.


"baiklah! tapi apa pemuda itu.."


"berikan bayi itu" ucap Duwan mengulurkan tangan.


Dengan tangan gemetar dan air mata berderai Retno menyerahkan putranya pada pemuda yang sama sekali tidak dia kenal, wanita itu hanya berharap putranya bisa hidup dan tumbuh tanpa kecemasan jika jauh darinya.


"bawa lencana dan cincin ini, hanya ini yang bisa aku berikan untuknya, kumohon jaga dan rawat putraku, aku yakin dia akan tumbuh seperti ayahnya" ucap Retno menyodorkan kantong kecil padanya.


Setelah menerima pemberian Retno ayu Duwan langsung bergegas pergi, pemuda itu sedikit kesulitan menjaga keseimbangannya sembari menjaga tubuh Alara dan membawa bayi, untungnya Kai cukup handal dan benar benar bisa di andalkan.

__ADS_1


Sudah berhari hari Duwan menetap di sebuah penginapan kecil di pinggiran hutan, Alara masih belum sadar dari pingsannya meski sosok ikan misterius terus membantu memulihkan tubuhnya, untungnya tubuhnya sudah tidak sedingin beberapa hari itu.


Di sisi lain Duwan kewalahan mengurus bayi merah yang ada bersamanya, bagaimana setiap menitnya sang bayi menangis karena lapar dan sebagainya, hal hal yang sangat asing baginya dan benar benar tak pernah dia hadapi.


"permisi tuan apa boleh saya menenangkan bayi tuan" ucap salah seorang pelayan.


"ohh apa tidak apa?" tanya Duwan sedikit kikuk.


"sepertinya bayi tuan lapar, saya akan memberinya susu" ucapnya ramah.


"umm begitu yah? kalau begitu tolong yah?"


Pelayan tersebut menyambut si bayi dengan tatapan sendu, rupanya pelayan itu adalah anak dari pemilik penginapan, dua hari sebelumnya dia baru kehilangan bayinya karena demam tinggi, jadi saat melihat seorang bayi merah menangis membuat hatinya teriris.


Hampir setengah jam Duwan menunggu pelayan itu menenangkan bayinya, dan tak lama setelahnya wanita itu kembali memberikan sang bayi dalam keadaan tertidur pulas dengan perut kenyang.


"terima kasih, ini .."


"tidak perlu tuan, saya tulus membantu tuan" tolaknya ramah.


Setelahnya Duwan langsung kembali ke kamar untuk memastikan keadaan Alara, di kamar terlihat dua mahluk di samping Alara, satu ekor harimau siluman menggulung tubuhnya dan sesuatu berbentuk ikan terus menempel di dadanya.


"bagaimana keadaanya?" tanya Duwan.


"keadaannya sudah jauh lebih baik" jawab si ikan.


"kalau begitu ayo tuan ikan, aku akan mengantarkanmu ke danau belakang" ucap Duwan.


"heyyy kenapa kau terus memanggilku tuan ikan? aku punya nama"


"hng🙄? lalu siapa nama anda tuan?"


"lagi lagi tuan, aku wanita😠"


"ahhh maafkan ketidak tahuan saya nyonya" ucapnya.


"uhh sebutan apa lagi itu, panggil Aku Abel"


"Abel? itu namamu?"


"yaa 🙄, dulu temanku memanggilku begitu"


Setelah mengantar Abel ke danau Duwan kembali ke penginapan, ikan itu bilang Duwan perlu menjemputnya besok pagi.


"aaarrgghhh aku benar benar gila, bisa bisanya aku seenteng itu menerima bayi itu sebagai tanggung jawabku" decaknya menjambak rambutnya sendiri.


"kau baru sadar?"


"ahh! ehh Kai hehe"


"dasar bodoh" ucap si harimau tak peduli.


"hhh yaa bagaimanapun aku sudah menerima bayi ini dengan kedua tanganku, aku harus merawatnya dengan baik, iya kan adik bayi?" ucapnya mengelus pipi si bayi.


"tchhh terserah"


"ehhh ngomong ngomong yang mulia tidak memberi tau aku nama bayi ini, apa aku harus memberinya nama Kai?"


"terserahmu, aku tidak peduli" jawabnya ketus.


"huhh dasar harimau congkak"


Karena lelah berhari hari mengurus bayi akhirnya Duwan tertidur di kursi kayu yang ada di sebelah ranjang, lingkaran hitam di area matanya benar benar menunjukkan betapa berat hari yang di lalui pemuda itu.


Malam yang sunyi tiba tiba berubah saat turunnya hujan dari langit, suara guntur beserta badai angin membuat keadaan di sekitar penginapan porak poranda, bayi kecil yang awalnya tidur dengan tenang menangis karena merasa tak nyaman.


Duwan langsung menggendong sang bayi dan berusaha menenangkannya sebaik mungkin, meski butuh waktu lama untungnya si bayi bisa kembali tenang, Kai sendiri berusaha melingkarkan tubuhnya ke Alara, gadis itu bisa semakin memburuk jika cuaca dingin di sekitarnya.


"kenapa tiba ada badai?" gumam Duwan heran.


Karena badai hanya terjadi sebentar Duwan kembali duduk di kursinya dengan seorang bayi dalam dekapannya, matanya kembali berat karena di serang kantuk yang luar biasa.


Belum sempat pemuda itu tertidur tiba tiba saja ada sebuah cahaya biru yang masuk ke kamarnya, matanya terperanjat saat melihat di tengh cahaya itu ada sesosok ikan yang di panggilnya dengan ssbutan Abel.


"a-apa apaan cahaya menyilaukan itu?" ucap Duwan heran.


"cahaya ini adalah sesuatu yang baik, aku berhasil mendapatkan 3% dari kekuatanku"


"jadi🤔?"


"dengan kekuatan ini setidaknya aku bisa mengambil kekuatannya sebanyak 5%, meski tidak banyak tapi ini bisa membuat organ dalamnya berfungsi dengan baik"


"cepat lakukan Bel cepat" ucap Duwan antusias.

__ADS_1


Setelah sosok ikan itu menempel di dada Alara sedikit demi sedikit pipi gadis itu memerah, nafas yang awalnya tersendat sendat sekarang terdengar lebih tenang dan halus.


"uhh energiku hampir habis, tidak aku sangka kekuatannya sebesar ini" keluh si ikan.


"kenapa sekarang wujudmu begitu?"


Terlihat si ikan semakin kehilangan bentuknya, sinar yang awalnya sangat terang semakin redup dan hampir tak terlihat, yang awalnya memiliki sosok sekepal tangan orang dewasa sekarang sudah berubah jadi sekecil ibu jari.


"aku tidak bisa bertahan lebih lama, mulai sekarang sosokku akan sulit mewujud seperti ini, teruslah berjalan ke utara saat dia sudah sadar nanti, dan ingat! mulai sekarang kekuatannya yang bisa menyembuhkan sudah aku ambil demi kelangsungan hidupnya"


"baiklah Bel, aku akan mengingat kebaikanmu ini sampai akhir usiaku, kuharap kita masih bisa bertemu suatu saat nanti" ucap Duwan menunduk.


Setelah itu sosok ikan crewet sudah tak terlihat lagi, bahkan setelah Alara dan Duwan menetap hampir 1 bulan di sebuah gubuk dekat sungai besar sosok Abel tak terlihat sekalipun.


"oeekkk"


"diamlah bayi kecil, Duwan sedang pergi" ucap Alara saat si bayi menagis.


"oeekk oeekkk" tangisnya semakin menjadi.


"hufft bagaimana ini? mahluk ini takkan diam kalau belum di gendong, apa aku gendong saja" gumamnya.


*"ya ampun Ra kau ini kuat tapi sangat bodoh ya? bagaimana bisa kamu menggendong bayi seperti itu" *


Tiba tiba saja gadis itu teringat peristiwa sebulan lalu saat pertama kali menggendong si bayi dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas (lebih tepatnya dia hanya mengangkat kaki bayi itu, bukan di gendong).


"ahhh aku tidak bisa menggendongnya😑"


"oeeeeekkkkkkkk😫😫"


"aargghh bisa gila aku .. hh sudahlahh mau tidak mau aku akan menggendongmu mahluk kecil"


"hmm tapi bagaimana yah? emm kalau tidak salah Duwan mengangkat pelan kepalanya setelah itu bokongnya lalu angkat, apa ini sudah benar?" ucapnya bingung.


"hiks hiksss" tangisan keras si bayi sekarang berubah menjadi isakan kecil.


Dengan pelan Alara menepuk bokong si bayi pelan, isakan itu dalam sekejap berhenti, dan matanya terpejam begitu saja.


Gadis itu benar benar heran bagaimana bisa bayi itu langsung tidur saat dia menggendong dan menepuk bokongnya.


"hmmm kenapa mahluk kecil ini langsung tidur?" ucapnya bingung.


"tentu saja karena dia merasa nyaman" jawab Duwan tiba tiba.


"nyaman? denganku?" tanyanya makin bingung.


"hmmm, padahal aku akan kesulitan saat dia menangis keras begitu, tapi dia langsung diam saat kamu menggendongnya"


"apa bisa sosok sepertiku membuat seseorang merasa nyaman? bukannya mahluk kecil sepertinya sangat sensitif dan peka?" tanya Alara makin tak mengerti.


"itu benar Ra, bayi kecil sepertinya bisa membedakan mana kasih sayang yang tulus dan mana yang tidak, meski sikapmu begitu dingin tapi bayi ini bisa merasakan ketulusan hatimu😊"


"emm be-begitu yah🙄? tapi Duwan, aku geli mendengar kata bijakmu"


"hehee aneh yah? tapi begitulah yang aku tau Ra" ucap Duwan kikuk.


"yaa terserahmu saja, sekarang baringkan mahluk kecil ini"


"mahluk kecil? ahhh bayi ini? tapi ngomong ngmong bayi ini sudah berusia lebih dari satu bulan tapi belum memiliki nama🤔" ucap Duwan sambil meletakkan sang bayi.


"lalu?"


"tentu saja kita harus memberinya nama"


"jadi siapa namanya?"


"mmmm bagaimana kalau namanya Arya?" ucap Duwan memberi usul.


"Arya? lumayan bagus"


"heyyy harusnya kamu tanya apa arti nama itu😒"


"ehh? a-apa artinya?"


"artinya SINGA😄" jawabnya ceria.


"singa? kenapa singa?"


"kau tau kan singa itu di percaya sebagai raja hutan, dan aku berharap suatu saat anak ini bisa merebut kembali kerajaan ini dan memimpin kerajaan ini layaknya seekor singa yang menjadi raja hutan" jelasnya berbinar.


"hmm begitu yah? singa .. singa kecil🙂" ucap Alara tersenyum kecil.


......bersambung.....

__ADS_1


Semoga terhibur yahhh😊


__ADS_2