The Werewolf

The Werewolf
26. Tulang punggung


__ADS_3

"uuuhhh" rintih seorang pemuda kesakitan.


"shhh aduhhhh" rintihnya lagi.


"ehh hangatnya" ucapnya.


"grrr" terdengar geraman pelan.


"ehhhh .... aaaarrhhh" teriaknya.


"bangun juga kau, kupikir mati" ucap Alara.


"huh A- Araa, t-tolong" ucap pemuda itu.


"ckckk tolong apa?" tanya Alara.


"ha-harimau itu mau memakanku" ucapnya.


"haha aha haaa, kau pikir harimau itu mau memakan daging paitmu" ucap Alara mengejek.


"grrr" geram si harimau membuang muka.


"kya ha haa lihatlah, dia bahkan tak mau melihatmu" tawa Alara kembali pecah.


"ehhh benarkah, dia tak mau memakanku?" tanyanya.


"dasar bodoh, kalau dia mau memakanmu sudah sejak kemarin kau mati" ejek Alara lagi.


"ehhh iya juga yah" ucapnya dengan wajah bodoh.


"kau harus berterima kasih padanya, dia sudah merawat lukamu" ucap Alara lagi.


"apa? bagaimana bisa?" tanganya tak percaya.


"sudahlah tak usah banyak tanya, makan saja buah buahan itu" ucapnya memerintah.


"baiklah" jawabnya menurut.


"Kai kemari, aku mengantuk" ucap Alara.


Harimau itu langsung berdiri dan mendekati Alara, pemuda yang baru saja memegang buah langsung menjatuhkan buahnya saat menyadari ukuran harimau yang baru di tidurinya tadi.


"gleekkk, besarnya" batinnya tercengang.


Harimau siluman itu langsung merebahkan diri, Alara menjadikan kaki depannya sebagai bantalan tidur, si harimau juga langsung memejamkan matanya, dia sama sekali tak risih dengan pandangan pemuda yang menatapnya heran.


"belum ada sebulan sejak terakhir kita bertemu, aku tak mengira kau bisa bersahabat dengan harimau sebesar itu" ucapnya.


"ahhh benar juga ya, belum ada satu bulan sejak terakhir kita bertemu tapi aku kmbali menemukanmu dengan keadaan hampir mati lagi ya?" ucap gadis itu sadis.


"heheee, itu sihh emm yaaa mungkin kau memang di takdirkan mnjadi dewi penolongku" jawabnya tak jelas.


"tchhh ngmng apa sih?" ucapnya tak peduli.


Pemuda yang di tolongnya tak lain adalah Duwan, putra dari seorang bangsawan yang sudah dua kali Alara selamatkan, dan sekarang totalnya sudah tiga kali.


Entah itu takdir atau apa tapi Duwan selalu bertemu Alara di saat nyawanya berada di ujung tanduk, dia sendiri juga tak habis fikir kali ini Alara kembali menyelamatkannya.

__ADS_1


"hmm Ara" ucapnya.


"apa?" jawabnya tanpa mmbuka mata.


"terima kasih" ucap Duwan.


"sudah kubilang kau harus berterima kasih pada Kai, dia ini yang sudah membunuh orang itu dan merawat lukamu" ucap Alara panjang.


"bagaimana mungkin?" tanyanya tak percaya.


"dia menjilati lukamu setiap hari" jawabnya lagi.


"hah?" beneran?" tanyanya.


"brisik deh, di bilang mau tidur juga" ucap gadis itu ketus.


"maaf" ucapnya pelan.


"ahh iya, kali ini kenapa lagi?" tanya Alara.


"apanya?" tanya Duwan tak mengerti.


"alasanmu hampir mati" ucapnya.


"emm itu dua minggu setelah kepergianmu aku berencana menyelidiki tentang pembunuhan ayah dan ibuku, awalnya aku berniat meminta tolong pada keluarga inti, awalnya mereka menyambutku dengan baik, bahkan mereka terlihat sangat baik, tapi setelah aku makan malam tiba tiba saja perutku terasa panas, tenggorokanku juga sangat sakit, aku berniat keluar meminta panggilkan tabib, tapi kamu tau apa yang aku dengar?" ucapnya.


"apa?" tanya Alara penasaran.


"makan malam yang aku makan ternyata mereka beri racun, tapi karena malam itu aku hanya makan sedikit jadi efeknya tidak terlalu parah, dan kamu tau yang membunuh ayah dan ibuku adalah dua pengawal utama keluarga inti" ucapnya lagi.


"aku pernah bilang kalau keluargaku itu keluarga bangsawan kecil kan?" tanyanya.


"yaa" jawabnya manggut manggut.


"keluargaku adalah keluarga pecahan, keluarga inti itu induk dari keluargaku, bisa di bilang seperti sebuah keluarga yang pisah rumah dari keluarga utama" jelasnya.


"lalu? kenapa mereka membunuh orang tuamu?" tanya Alara lagi.


"aku juga tidak tau, yang ada di fikiranku saat itu hanya mencari cara bertahan hidup" ucapnya.


"jelaskan bagaimana kamu bisa sampai hutan sini, bukannya hutan ini sangat jauh?" ucap Alarara.


"waktu aku tau kalau dalang kematian ayah dan ibuku adalah keluarga inti, aku mencoba mendekati sepupuku, dia sama seperti kakakku, dia sangat menyukai bunga, malam itu aku keluar kamar dengan santai dan aku mengajaknya jalan jalan ke tamannya dengan alasan kesulitan tidur, dan untungnya dia mengajakku berjalan jalan ke taman belakang.


Di sana hanya ada dua orang penjaga saja, dan ada sebuah pintu keluar tersembunyi di balik tanaman mawar, aku tau pintu itu dari mendiang ayahku, dan aku mengerahkan segala akalku supaya bisa keluar dari sana.


Awalnya aku berniat kembali ke kediaman keluargaku, tapi waktu aku hampir sampai, aku bisa melihat kediaman keluargaku di diami oleh banyak orang berpakaian serba hitam, pakaian mereka sama persis dengan pakaian orang yang membunuh ayahku waktu itu.


Aku langsung lari tapi ada beberapa orang yang menyadari kehadiranku, dan yaaa beberapa orang mengejarku sampai sini, aku hanya berlari ke sembarang arah dan tau tau aku tertangkap.


Padahal aku sudah melarikan diri selama berhari hari, aku pikir aku sudah bebas tapi taunya mereka hanya membiarkanku lari menjauh, dan berencna membunuhku pelan pelan.


Untung kau menolongku, andai kau tak ada pasti aku sudah mati" terangnya panjang lebar.


"oohhhh" ucapn Alara manggut manggut.


"cuma oh?" ucapnya agak kesal.

__ADS_1


"memangnya apa lagi?" tanya Alara.


"kau benar benar tak berperasaan Ara" dengusnya kesal.


"hehhh terserahku lah" ucap gadis itu santai.


Alara memutuskan tidur setelah menanggapi pembicaraan Duwan, setidaknya gadis itu tau bagaimana Duwan bisa sampai di hutan yang sama dengannya.


Dan masalah tentang kenapa keluarga intinya yang membunuh keluarganya tak terlalu dia pedulikan, toh yang penting Duwan masih hidup.


Setelah makan Duwan juga ikut tidur, tapi pemuda itu tak berani mengekati Alrara karena sekarang gadis itu sedang tertidur di dekapan Harimau yang sangat besar.


Dan setelah beberapa hari luka Duwan sudah pulih, lukanya kali ini tak terlalu parah seperti luka sebelumnya, pemuda itu hanya menerima beberapa goresan dan luka lebam di tubuhnya.


Duwan mengikuti Alara berjalan ke arah kota, pemuda itu sempat ingin menanyakan keberadaan harimau besar yang beberapa hari bersamanya, tapi dia mengurungkan niatnya dan memilih diam.


Begitu memasuki pintu gerbag Alara langsung mencari penginapan, dia sudah mengidam idamkan berendam di air hangat sejak beberapa hari lalu, dan sayangnya harus di tunda karena merawat Duwan.


Duwan juga sama sepertinya, pemuda itu tak sabar ingin membersihkan diri karena tubuhnya sudah benar benar lengket, di tambah lagi pakaiannya yang sudah seperti pakaian gembel, kalau saja dia datang sendirian ke penginapan sudah pasti pemuda itu akan di tolak mentah mentah.


Begitu selesai membersihkan diri Alara berjalan jalan ke pasar, gadis itu merindukan suasana ramai di pasar, dia cukup bosan terjebak berminggu minggu di hutan.


Di sepanjang jalan Alara bisa melihat banyak pendekar berkeliaran, kota yang di singgahinya adalah kota kecil yang terletak di antara jalur perdagangan, tak heran meski kota ini kecil tapi begitu ramai dan banyak orang berkeliaran.


Pendekar pendekar yang Alara lihat adalah pendekar yang di sewa oleh para pedagang yang melakukan perjalanan, para pendekar itu ke pasar mungkin ingin mencari sesuatu atau sekedar melihat lihat seperti yang di lakukan Alara.


Tak jauh di depannya, ada seorang wanita yang sedang menuntun anaknya, untuk sejenak gadis itu teringat dengan bocah berusia 5 tahun yang di jumpainya beberapa waktu lalu.


"apa kabar bocah itu yah?" gumamnya.


Setelah puas berjalan Alara mampir ke sebuah kedai makan dengan menu utama makanan laut, padahal kota ini terletak sangat jauh dari laut, tapi di kedai ini ada berbagai macam menu makanan laut.


Tak lupa gadis itu juga membeli beberapa makanan untuk Duwan dan daging bakar untuk Kai, dia yakin dua mahluk itu sedang kelaparan di penginapan.


Benar seperti dugaannya, ternyata Duwan sudah menunggunya di depan pintu kamar, pemuda itu langsung berbinar saat mencium aroma makanan dari tangan Alara.


Setelah memberikan bungkusan mkann pada Duwan, gadis itu melangkah ke kamarnya.


"bruukkk aduhh" Begitu gadis itu masuk ke kamarnya, dia langsung di sambut oleh tubrukan Kai yang sudah tak sabar ingin mendapat makanan dari tuannnya, gadis itu terjengkang karena tak siap menerima tubrukan harimau yang mengikutinya itu.


"kenapa Ra?" tanya Duwan dari kamar sebelah.


"tersandung" jawabnya bohong.


"dasar kucing nakal" gerutu Alara pada Kai.


Sementara tuannya sedang menggerutu harimau itu justru sedang asik menyantap daging bakar pemberian Alara.


"haahhhhhh sekarang aku mempunyai dua perut tambahan yang harus ku beri makan, bagaimana aku bisa kaya kalau aku menanggung beban begini? duh kakek, masa iya cucumu yang cantik ini jadi tulang punggung dadakan" keluhnya tak jelas.


.....bersambung.....


Dukungannya yaaa jangan lupa.


like like like like like like..


πŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2