
"kamu bilang tidak bisa keluar tapi apa ini?"
"hehee aku masuk ke dalam dirimu" jawabnya.
"kamu? tapi aku.."
"kamu tidak merasakannya kan?" potong bocah itu.
"hm, aku sama sekali tidak tau kamu msuk tanpa aku sadari?" ucap Alara makin penasaran.
"kamu kan tau sendiri aku roh air, dan tubuh mahluk sepertimu mengandung banyak air, jadi aku bisa menyelinap keluar dengan masuk ke tubuhmu" jawab bocah itu santai.
"jadi bisa di katakan kamu kabur? wah wahh aku membantu penjahat tanpa aku sadari, bagaimana kalau dewa menghukumku nanti?" ucap Alara asal.
"heii aku bukan penjahat, aku sudah bilang kesalahanku itu hanya emosi sesaat, aku sudah benar benar merasa menyesal" jawabnya lirih.
"hmm ya ya ya terserah apa katamu, tapi aku tidak bertanggung jawab kalau kamu dapat masalah karena kabur dari hukuman" celetuk gadis itu cuek.
"tenang saja, aku keluar kan dengan bantuanmu, sama saja seperti aku di bebaskan olehmu jadi tak masalah"
"ckck kamu ini kecil kecil licik juga" celetuk Alara.
"jangan panggil aku anak kecil, tubuhku begini karena kekuatanku lemah, aku terlalu lama di jauhkan daru sumber kekuatan jadi ya begini" ucapnya tak terima.
"baiklah baiklah, aku tau kau sudah sangat tua jadi maaf karena tadi asal bicara" ucap Alara malas.
"kau minta maaf tapi terlihat sekali kalau itu tidak tulus" ucap bocah itu menyelidik.
"kami ini rewel sekali yah? masih bagus aku mau minta maaf, lagipula siapa saja yang melihatmu juga pasti menyebutmu bocah, jadi jangan salahkan aku, salahkan penampilanmu sendiri" celetuknya sesikit kesal.
"heii kau ini galak sekali, kalau kesal begitu pipimu mudah berkerut loh" godanya.
"brisik"
"kau marah?"
"diamlah!"
"kenapa marah? jangan marah yaa yaaaa" pintanya.
"ishhh diamlah, kenapa kamu sangat cerewet sih" ucap Alara makin kesal.
"huhh dasar pemarah, ya sudah"
Keduanya hanya diam dan duduk saling memunggungi, sedikitnya Alara merasa kesal karena telah di manfaatkan oleh roh air itu tanpa dia sadari.
Sementara roh air yang merasa hutang budi juga sedikit kesal, karena mahluk yang dia mintai tolong diam diam ternyata memiliki watak keras dan menyebalkan.
"Araaa" teriak Duwan.
"sliing" tanpa aba aba roh air itu kembali masuk kedalam tubuh gadis itu.
"roh si*lan, bisa bisanya kamu asal masuk ke dalam tubuhku, keluar tidak? keluaar sekarang" ucap gadis itu kesal.
"keluar kamu roh menyebalkan"
"Ra kamu bicara sama siapa? kenapa teriak teriak seperti orang gila?" tanya Duwan.
"apa? siapa yang gila?"
"ti-tidakk aku yang gila karena tidak dapat buruan" ucap Duwan cemas.
"kenapa hari ini semua menyebalkan sih, cepat kita pergi ke tempat lain" ucap gadis itu lagi.
__ADS_1
"apa yang terjadi? kenapa gadis itu jadi menyeramkan" batin Duwan heran.
"Kai kenapa dengan tuanmu?"
"entahlah, yang jelas emosinya sedang meledak ledak sekarang" jawab Kai.
Kedua mahluk itu salah tingkah sendiri karena Alara tiba tiba bertingkah aneh, biasanya kalau gadis itu sudah kesal tidak boleh ada satupun orang yang mengganggunya, bisa bisa orang itu akan jadi sasaran kemarahan gadis serigala itu.
"si*l si*l si*l kenapa hutan ini panjang sekali sih, kapan aku bisa sampai kota, aku lapaaar" teriaknya sepanjang jalan.
"astaga Kai, kita ngga akan jadi sasaran kemarahannya kan" gumam Duwan panik.
"diamlah dan jangan banyak bicara kalau kamu masih ingin hidup" celetuknya.
"aku selalu merasa nyawaku berkurang setahun setiap gadis itu marah" gumamnya masih panik.
Sampai tengah hari tiba barulah ketiganya melihat sebuah pemukiman kecil, terlihat pemukiman alakadarnya di depan mereka, bahkan beberapa orang terluka.
Setelah Kai masuk ke tubuh Alara barulah dia dan Duwan mendekat ke arah pemukiman, semakin di lihat dari dekat maka semakin terlihat kondisi menyedihkan dari orang orang di sana.
Bahkan kedatangan Duwan dan Alara sempat di hadang oleh beberapa pemuda karena tampilan Alara, setelah Duwan jelaskan panjang lebar barulah mereka boleh masuk.
"sebenrnya apa yang terjadi tuan?" tanya Duwan pada laki laki tua di depannya.
"negeri kita sedang kacau anak muda kacaau" jawabnya dengan mata nanar.
"maksudnya?"
"anak muda apa kau dan temanmu baru keluar dari goa? kamu tidak tau apa yang saat ini terjadi pada negeri awan?" tanyanya heran.
Dengan polosnya Duwan menggelengkan kepala, tak lama Alara juga ikut menggeleng karena sama sama tak tau.
"hahhh kami semua adalah warga dari ibu kota Awan, semua yang ada di sini adalah warga sisa sisa dari tragedi peperangan sedarah antara yang mulia raja Eka dan pangeran Dwi"
"benar nak, kami adalah warga yang berhasil di ungsikan oleh senopati Darma atas perintah raja Eka, walaupun kami selamat tapi banyak dari kami yang terluka bahkan hampir tewas, anak, cucu, pasangan dan saudara kami mati di depan mata kami" ucapnya meneteskan air mata.
Hatinya yang beberapa tahun ini hidup dalam ketenangan seketika terasa perih mendengar cerita laki laki tua di depannya, menjadi seorang yang selamat saat seluruh keluarga mati adalah perasaan yang sangat di pahami olehnya.
Bayang bayang saat kakaknya, ibu dan ayahnya mati kembali tergambar jelas dalam ingatan pemuda itu, bagaimana rasa tersiksa juga rasa bersalah bersarang di hati dan perlahan melahap kebahagiaannya.
Pandangannya beralih kepada sosok wanita yang tengah berdiri di sampingnya, gadis menyebalkan yang dulu mengulurkan tangan padanya dan menuntunnya keluar dari kegelapan, gadis yang kasar namun memiliki hati sangat lembut itu bagaikan cahaya baru untuk Duwan.
"apa di antara orang orang ini ada tabib?" tanya Duwan.
"ada, tapi sayangnya beliau terluka parah dan tidak bisa merawat kami, untung saja putranya lumayan tau tentang pengobatan jadi kami masih memiliki satu orang walaupun bukan tabib" jawabnya.
"apa kau mau membantu mengobati mereka?" tanya Alara.
"setidaknya aku merasa berguna saat seperti ini" ucap Duwan tersenyum.
Alara hanya duduk di atas sebuah kayu sambil memandang pemuda yang tengah sibuk membantu orang orang, jauh dalam lubuk hatinya Alara cukup mengagumi pemuda tersebut, meski dia bukan seorang pendekar kuat atau tabib ternama tapi hati pemuda itu sangat dermawan.
Tanpa gadis itu sadari bibirnya tersenyum saat mengingat segala kebaikan dan kesabaran pemuda tersebut, tiba tiba saja badannya berdiri dan menghampiri Duwan.
"beri aku jahe dan beberapa rempah" ucap Alara.
"untuk?"
"berikan sajaa" pintanya.
Tak mau memperpanjang dialog Duwan lgsg memberikan jahe dan sekantung rempah, Alara langsung pergi memghampiri para wanita yang sedang memasak.
"bolehkah aku membantu?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"ehh tapi nanti tubuh nona kotor" jawa wanita tua sungkan.
"tida perlu sungkan bibi, aku bukanlah seorang bangsawan atau putri dari seorang juragan" ucapnya menjelaskan.
Dengan cekatan gadis itu memotong sayuran dan meraciknya, tak lupa memasukkan jahe dan beberapa rempah ke dalamnya.
Dengan alat masak alakadarnya gadis itu berhasil membuat sup hangat yang enak, meski dia bukan pemakan sayur tapi berkat kesehariannya bersama Duwan dan kakeknya membuatnya mahir memasak sayur.
Di bagikannya sayuran yang dia masak kepada para pengungsi dan orang orang yang bertugas menjaga, sup hangat dengan jahe dan beberapa jenis rempah berhasil menghilangkan lapar dan menghangatkn mereka.
"sup ini aku beri beberapa rempah yang berhasiat merilekskan tubuh, meski tidak banyak aku harap rasa rileka bisa membantu kalian" ucapmya menjelaskan.
Setelahnya Duwan dan Alara berpamitan pergi, mereka berjanji akan kembali dengan membawa beberapa makanan, Kai langsng keluar setelah jauh dari pemukiman, harimau itu tak sabar untuk segera berburu.
Tak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk mendapat buruan, Duwan juga mengumpulkan beberapa tanaman obat yang bisa dia gunakan nanti.
Mereka bergegas kembali karena hari sudah mulai gelap, sayangnya ada satu hal yang mereka lupakan.
"silumaan awas silumaan" teriak seorang penjaga.
"pluk" Alara menepuk keningnya.
"kenapa aku bisa lupaa haiisss" ucapnyaa.
"tenang lahh dia adalah teman kami" ucap Duwan menenangkan.
"pergii pergi, jauhkan siluman itu" teriak salah seorang di antara.
"dia bukan siluman jahat, jangan takut" bujuk Duwan lagi.
"buakkk" sebuah batu mengenai tubuh Kai.
Harimau yang sejak tadi hanya diam itu langsung menggeram menunjukkan rasa tidak sukanya.
"lihat ituu dia akan memangsa kita, pasti dua orang itu adalah orang orang pangeran Dwi" teriak seseorang lagi.
"Kaii jangan begitu" ucap Alara lirih.
"ggrrrrr" geramnya makim keras.
"pergii pergiiii" terriak orang orang makin menjadi.
Bukan hanya batu kecil, kini orang orang melemparkan apa saja ke arah Duwan dan Alara.
Duwan yang awalnya berusaha menjelaskan baik baik kini sudah tidak bicara lagi, raut muka yang biasanya santai dan menyenangkan mulai menunjukan ekspreai tidak suka.
Tanpa bicara banyak Duwan langsung menarik tangan Alara, pemuda itu melangkahkan kaki cepat ingin segera pergi dari pemukiman itu.
"ayo Kai, tidak ada gunanya kita berusaha menolong manusia manusia tidak tau terimakasih ini" ucapnya keras.
Kata yang dia lontarkan seolah sengaja dia lakukan agar semua bisa mendengarnya, baru saja siang tadi mereka berbondong bondong mengucap terimakasih, tapi sekaranh mereka melakukan sesuagu yang bemar benar di luar dugaan.
"kamu marah?" tanya Alara.
"jelas aku marah, mereka benar benar menyebalkan" ucapnya ketus.
"tidak usah di pikirkan, toh ini bukan kali perta-aahhkkkk" teriak Alara tiba tiba.
"Raaaa"
"majikan"
.....bersambung.....
__ADS_1
Maaf yah karena beberapa hari ini ngga update๐๐๐๐