
"Ra aku titip ini" ucap Duwan menyerahkan kantung uang.
"wahh Duwan, ini hasil menjual tanaman obat kemarin?" tanya Alara.
"benar sekali" ucapnya congkak.
"aku mendapat bagian kan?" tanya Alara berbinar.
"tchh padahal kamu sudah dapat seribu keping emas kemarin, ya sudah yang seperempat untukmu" ucap Duwan.
"aahhh terima kasih" ucapnya tersenyum.
"ahhh si*l aku terlalu lemah pada ssnyumannya" batinnya kesal.
Alara, Duwan, Kai dan Rangga melakukan perjalanan untuk kembali ke hutan bambu, hubungan antara ayah dan anak itu tak sehangat atau sedingin kelihatannya.
Rangga dan Alara jarang mengobrol, mereka berdua hanya sesekali bicara seperlunya, meski mereka sepasang ayah dan anak tapi mereka juga tak terlalu dekat, mengingat waktu belasan tahun yang mereka lewati sendiri sendiri membuat keduanya canggung.
Alara hanya bertanya seputar ibunya pada Rangga, bagaimana rupanya, sifatnya, kesukaannya dan banyak lagi, Rangga yang menantikan kesempatan bicara dengan putrinya tentu senang saat gadis itu bertanya.
Dengan semangat membara Rangga menceritakan pertemuannya dan istrinya dulu, bagaimana mereka bisa menikah dan pada akhirnya memiliki seorang putri.
Selepas mendengar cerita ayahnya gadis itu hanya manggut manggut lalu pergi begitu saja, Rangga yang menyadari kalau putrinya masih marah dan kesal padanya hanya berusaha memaklumi, apalagi mengingat selama belasan tahun putrinya menderita karenannya.
Perjalanan mereka kembali ke hutan bambu memakan waktu yang tidak terlalu lama, jika perkiraan Duwan benar maka mereka bisa tiba di sana hanya dalam kurun waktu 2 bulan, bisa lebih cepat atau lambat, semua tergantung keadaan nanti.
Duwan adalah sosok pemuda yang sangat mudah bergaul dan menyesuaikan diri, saat menyadari kecanggunggan antara Alara dan Rangga pemuda itu akan ambil alih topik pembicaraan.
Sudah 3 minggu mereka melakukan perjalanan bersama, keluar masuk hutan juga singgah sebentar di kota yang mereka lewati.
"Duwan aku lelah" ucap gadis itu.
"mau di gendong?" tanya Duwan.
Tanpa basa basi gadis itu langsung naik punggung pemuda di depannya, entah sejak kapan dan di mulai dari mana Alara mulai bertingkah aneh, gadis itu tiba tiba menjadi sosok gadis manja dan berubah 180 derajat dari sebelumnya.
Duwan tak mempermasalahkan itu karena tubuh gadis yang di sukainya itu jauh lebih kecil darinya, dengan tinggi kisaran 160 cm dan berat tidak sampai 45kg bukanlah beban berarti untuk Duwan.
Jika dulu saat pertama bertemu dengan Alara tubuhnya hanya tinggi dan kurus kering sekarang sudah beda lagi, perjalanan selama satu tahun bersama membuat fisik Duwan berubah, tubuhnya sekarang terlihat lumayan kekar meski tidak sekekar tubuh Rangga.
Duwan memiliki tinggi 180 cm dengan berat kira kira 65kg, kulitnya yang dulu putih bersih bak pangeran (karena dulu bangsawan) sekarang berwarna kecoklatan dengan di hiasi beberapa bekas luka di tubuhnya.
"Kai kemana?" tanya Duwan.
"masuk tubuhku" jawabnya malas.
"suruh dia keluar dan berburu, kita istirahat sebentar lagi" ucap Duwan.
"hmmm, Kai keluarlah dan cari makan"
"Graauuum"
"aku menyuruhmu mencari makan bukan bertarung, untuk apa sok keren begitu" ucap Alara.
"hehe aku terlalu bosan lama di tubuhmu majikan, baiklah aku pergi" ucapnya.
Duwan menurunkan Alara dan bersender di bawah pohon, Alara meregangkan tubuh karena berjam jam dirinya di gendong.
Gadis itu melompat dan bertengger di sebuah dahan pohon, dia memetik beberapa buah apel dan dengan isengnya melemparkan pada Duwan.
"Duwaan tangkap apel ini" teriaknya.
Duwan yang tadinya memejamkan mata ingin tidur langsung membuka mata lebar lebar, pemuda itu tidak mau kejadian memaluka beberapa bulan lalu terulang lagi.
Sebelum mereka bertemu Rangga, Alara dengan sengaja melemparkan sebuah apel dengan kekuatan tinggi ke arahnya, Duwan yang waktu itu tidak menyadari langsung berteriak saat apel itu hampir menggoncang sarang burungnya.
__ADS_1
Perut bagian bawah yang terkena apel itu langsung membiru di buatnya, dan semenjak itu setiap Alara ingin melempr sesuatu Duwan langsung siaga.
Bukan tanpa alasan Alara melakukannya, gadis itu tau Duwan sangat sulit belajar bela diri, jadi untuk mengurangi resiko pemuda itu celaka maka Alara melatih kegesitannya.
"hupp .. hupp" dua apel tertangkap olehnya.
"kalau cuma segini mah gampang" ucapnya congkak.
"buaak .. aakhh aduuhhh" baru saja berbangga diri beberapa detik kepalanya telah telak terkena apel ketiga yang di lemparkan Alara.
"hahahaaaa mampus kau" ucapnya terkekeh.
"haduuhhh pasti benjol ini" keluhnya mengelus kepala.
Rangga menatap dengan senyum mengembang di bibirnya, setidaknya putrinya memiliki seseorang sebaik Duwan di sisinya, meski dia sendiri tak tau hubungan antara keduanya tapi dia berharap Duwan bisa selalu bersama putrinya.
Setelah sekian lama menunggu Kai kembali tanpa membawa hasil, harimau itu tertunduk karena tak mendapat buruan apapun.
"Kai kenapa tak membawa apa apa?" tanya Alara.
"tidak ada apa apa di sini majikan" jawab Kai.
"hehhh yang benar saja" pekik Alara.
"kita lanjutkan saja perjalanan, mungkin tak jauh ada kota atau kampung di dekat sini" ajak Rangga.
Dengan malas Alara berjalan di sebelah Kai, Duwan asik sendiri makan apel yang di lemparkan oleh Alara beberapa waktu lalu, tentu saja tiga mahluk lainnya hanya melihat pemuda itu makan sendirian karena mereka adalah mahluk pemakan daging.
Sampai malam tiba mereka belum juga keluar dari hutan, Alara sudah sangat kesal karena tak ada apapun yang bisa dia makan.
"ahh bisa bisa aku mati kelaparan" keluhnya.
"astaga ayolah, nanti pasti kita keluar dari hutan ini" ucap Duwan menyemangati.
"brukkk .. aku sudah tak bisa jalan lagi, aku sangat sangaaat lapaaaar" teriaknya.
"mau ku gendong?" tawar Rangga.
"hehh kau? ayo cepat gendong aku" ucapnya mengulurkan tangan.
"kau mau di gendong olehku?" tanya Rangga tak percaya.
"kenapa? tawaranmu hanya bualan?" tanyanya ketus.
"tidak tidak, ayo aku gendong" ucapnya semangat.
"putriku benar benar mau di gendong olehku?" batinnya masih tak menyangka.
"Kai, kenapa majikanmu begitu?"
"tidak tau, apa kepalanya terbentur sesuatu?" bisik Kai membalas.
"aku bisa dengar dengan jelas" ucap Alara.
Duwan dan Kai langsung diam setelah mendengarnya, keduanya tak mau Alara sampai mengamuk lagi, apalagi sekarang gadis itu sedang dalam kondisi lapar, kondisi di mana gadis itu sangat sangat mudah mengamuk.
Setelah hampir tengah malam akhirnya mereka sudah bisa melihat ada satu kota besar, Alara yang tadinya sudah tertidur langsung membuka matanya, gadis itu sangat tak sabar ingin segera makan.
"ayoo cepat cepat" ucapnya semangat.
Tanpa sadar gadis itu menggandeng tangan Duwan, pemuda itu dengan senang hati mengikuti gadis yang tengah tak sabar untuk segera makan, Kai juga langsung masuk ke tubuh Alara.
Setelah memasuki kota mereka bertiga langsung bergegas mencari restoran, kebetulan ada satu restoran yang masih buka, Alara dengan semangat memesan berbagai makanan di sana.
Mereka memilih meja bagian pojok karena restoran masih cukup ramai, saat tengah asik makan masuk serombongan orang, rombongan itu duduk di meja sebelahnya, dari pakaiannya bisa di pastikan orang itu adalah orang penting, apalagi terlihat di luar ada beberapa pengawal yang berjaga.
__ADS_1
"Duwan pesankan daging untuk Kai, dia juga pasti kelaparan" perintah Alara.
"baiklah" ucapnya langsng pergi.
Saat Duwan pergi Alara justru mengambil makanan Duwan, gadis itu seolah belum puas setelah menghabiskan beberapa mangkuk daging.
"jangan ambil milik sahabatmu, ambil ini" ucap Rangga menyodorkan makanannya.
"ohh dengan senang hati" jawabnya langsung mengambil piring Rangga.
"ehh semuanya?" tanyanya.
"tidak boleh?" ucapnya dengan nada ketus.
"ya sudah makan saja" jawab Rangga.
"jangan pasang wajah menyedihkan seperti itu, aku jadi merasa seperti anak jahat"
"ahh tidak tidak, memang raut wajahku begini" elak Rangga.
"ohh begitu, padahal wajah kalian berdua sangat mirip tapi kalian benar benar berbeda" ucap Alara.
"siapa yang kamu maksud?"
"paman Raka" jawab Alara singkat.
"Raka? kamu sudah bertemu dengannya?"
"hmm"
"kapan kamu bertemu dengannya? apa ayahku masih hidup?"
"hehh pertanyaan macam apa itu? tentu saja kakek masih hidup" ucap Alara.
"ohh syukurlah" ucapnya lega.
"kapan terakhir kali kau melihat kakek?"
"emmm mungkin sudah lebih dari 20 tahun" jawab Rangga ragu.
"wah wahhh kau ini bukan hanya ayah yang buruk tapi juga anak yang buruk" ucap Alara asal.
"degg"
"ayah buruk? anak buruk? hahh bahkan aku juga suami yang buruk" batinnya.
Saat mereka berdua asik bicara mereka tak menyadari situasi yang di hadapi Duwan di depan meja kasir, pemuda itu tertunduk saat mengetahui sosok yang baru saja masuk ke restoran adalah orang yang sangat di kenalnya.
Dengan perasaan sesikit takut pemuda itu berjalan tertunduk dengan niat menghampiri Alara dan segera mengajak pergi, Duwan tidak ingin Alara dan ayahnya terlibat masalah karenanya.
"kenapa tiba tiba jadi kalem begitu?" tanya Alara saat menyadari.
"tidak apa apa, cepat selesaikan makanmu" ucap Duwan.
"apa perutmu mulas ingin buang air besar?" tanya Alara.
"ti-tidak, enak saja kalau bicara" ucapnya keras.
Suaranya tentu saja memancing orang orang di sekitarnya, mereka secara serempak menatap ke arah Duwan, begitu juga orang yang baru saja ia hindari.
"ohh sepertinya aku mengenal suara ini" ucap seseorang.
"degg"
"si*l aku malah menarik perhatian" rutuknya dalam hari.
__ADS_1
"hei kau, sepertinya aku mengenalmu" ucap seseorang.
....bersambung.....