
Suara gemerutuk gigi terdengar di seluruh bagian toko, sang meneger toko dan pelayannya menggigil kedinginan karena toko di selimuti es, pintu keluar sudah tertutup dinding es yang tebal.
Pendekar yang jadi lawannya tadi sudah tumbang terhantam bonhkahan es yang Alara keluarkan secara mendadak, laki laki itu tak memyangka bahwa gadis di depannya memiliki kampuan luqr biasa
"pantas saja Alara menyuruhku keluar" decak Duwan di depan toko.
"apakah itu es?"
"wahh aku baru tau disini ada pendekar yang menguasai elemen es"
"bagaimana nasib orang orang di dalam toko"
"wahh gadis itu salah pilih lawan"
Terdengar banyak komentar di keliling Duwan, banyak yang kagum dan merasa ngeri dengam kampuan pendekar yang ada di dalam.
Kebanyakan orang orang mengira bahwa es yang tercipta adalah milik si pendekar yang melindungi toko, mereka sama sekali tak tau bahwa es itu adalah ciptaan gadis kecil yang masih berusia belasan.
"ckck kalau Alara sampai mendengar ini aku yakin pasar ini akan seluruhnya beku" batin Duwan.
"ada apa ini?" tanya seorang pemuda bingung.
"ada pertarungan di dalam toko, sepertinya gadis di dalam celaka karena pendekar penjaga toko menguasai elemen es" terang seseorang.
"gadis?" ucapnya heran.
"setauku aku tak memiliki pendekar sehebat itu" batinnya.
"DUAARR"
Bongkahan es yang menutup pintu di hancurkan dengan sekali tendang oleh Alara, gadis itu keluar dengan keadaan tubuh penuh kepulan asap, saking dinginnya di dalam ruangan tubuhnya sampai berasap.
"ayo kita pergi" ajak Alara.
"a-ay.."
"tunggu!" cegah seseorang.
"apa lagi?" ucap Alara kesal.
"apa anda yang membekukan toko ini?" tanyanya.
"bukan, ayo Duwan" ajak Alara lagi.
Duwan langsung berjalan mengikuti gadis di depannya, setelah keduanya sudah jauh tiba tiba saja tubuh Alara ambruk,
"Ra!"
"hh hh bawa aku pergi" ucapnya lirih.
Duwan dengan tergesa gesa membopong tubuh Alara dan masuk ke dalam penginapan, dia meminta air hangat dan kain kecil untuk mengompres tubuh gadis itu.
Tubuhnya sangat dingin bahkan bibirnya juga membiru, sejujurnya gadis itu tak sepenuhnya menguasai elemen es miliknya, semakin besar kekuatan yang dia keluarkan semakin lemah pula tubuhnya.
"permisi, apa penginapan ini menyediakan pemandian air panas?" tanya Duwan panik.
"sebenarnya tidak, apa tuan membutuhkannya?" tanya pelayan ramah.
"tolong siapkan untuk sahabatku, dia sangat membutuhkan air hangat" pinta Duwan.
"akan kami siapkan bak besar berisi air hangat dan kami antarkan ke kamar tuan" jawabnya.
"baiklah" ucapnya langsung lari kembali ke kamar.
Alara masih tergeletak di kamar, Kai yang menyadari tuannya dalam kondisi tak baik langsung keluar dan menghangatkan tubuh Alara.
"Duwan tubuh majikan sangat dingin, lebih dingin dari sebelumnya" ucap Kai lirih.
"kau jaga dia aku akan kelur sebentar mencari obat untuknya" ucap Duwan melangkah keluar.
Kai terus merangkul tubuh tuannya dan berusaha meghangatkan tubuhnya, sesekali terdengar gumaman tak jelas dari bibir mungilnya.
Tak berapa lama terdengar ketukan pintu.
__ADS_1
"tok tok .. permisi tuan kami mengantarkam air" seru seorang pelayan.
"aduh bagaimana ini, Duwan belum kembali" gumam Kai bingung.
"masuk" seru Kai.
Terlihat ada 2 orang pelayan laki laki dan seorang pelayan perempuan memasuki kamar, ketiganya menundukkan kepala dan tak menyadari ada seekor siluman harimau di dekatnya.
"tu.. kyaaaa" teriak pelayan wanita ketakutan saat melihat sosok harimau besar sedang bersama seseorang.
"tunggu! kalian diam di sana" ucap Kai tegas.
"si sii.."
"benar aku adalah siluman, tutup pintunya sekarang" perintahnya.
"a-ampun ampuni kami"
"turuti perkataanku sekarang juga" bentaknya.
Sang pelayan langsung menutup rapat pintu, tubuh ketiganya bergetar hebat kaeena terlalu takut, mereka memang sering mendengar adanya siluman, tapi ini adalah pertama kali mereka benar benar melihatnya dari dekat, bahkan mereka terkurung dalam satu ruangan.
"kaliam berdua kemari" ucapnya memanggil 2 pelayan laki laki.
"ja-jangan makan kami tuan" ucap seseorang ketakutan.
"tegakkan kepala kalian"
Keduanya menurut tanpa bisa membantah, mata mereka terpejam saat Kai menatap lekat ke arah mereka, mata merah menyala dan hijau terang miliknya benar benar sesuatu yang sangat menakutkan.
Pelayan wanita pun terduduk di lantai karena lututnya terasa lemas, mereka semua berpikir bahwa ini adalah hari terakhir mereka hidup.
"kalian berdua keluar dan panggilkan satu lagi pelayan wanita, bawakan pakaian ganti dan jangan berani membicarakan keberadaanku pda siapapun, aku sudah menghafal wajah kaliam berdua" ancamnya tegas.
"baik tuan" seru keduanya langsung keluar.
"kau kemari" ucapnya pada pelayan wanita.
Wanita itu mencoba bangkit dengan susah payah, dia teringat wajah anak perempuannya dan tak ingi mati hari ini.
"kyaa.."
"tutup mulutmu" ucapnya lagi.
"hump" dia langsung membungkam mulutnya sendiri.
"tutup pintunya sekarang"
Dengan cekatan dia langsung menutup pintu, dia menuruti perkataan Kai seperti pelayan sebelumnya, keduanya berusaha melepas pakaian Alara dengan tangan bergetar.
Keduanya tercengang saat melihat rambut gadis di depannya memiliki warna putih kebiruan, kekagetan mereka terpecah saat mendengar geraman Kai yang saat ini sudah berada di depan pintu.
Mereka secara bersamaan memasukan Alara ke dalam bak besar dengan sangat hati hati, mereka menenggelamkan tubuh Alara ke dalam air hangat dan menyisakan kepalanya saja.
Salah satu di antaranya mengompres kening gadis yang tak sadarkan diri itu, meski sedang di landa ketakutan mereka tetap mengagumi kecantikan gadis di depannya, wajah ayu dan pesona rambut putihnya mampu menyihir pandangan mereka.
"brukkk .. aduh" terdengar suara seseorang terjedot pintu.
"siapa yang menghalangi pintu?" teriaknya dari luar.
"kau tunggu dulu di luar, majikan sedang di urus sekarang" ucap Kai dari balik pintu.
"apa? siapa yang mengurusnya?" tanya Duwan tak mengerti.
"majikan sedang di urus dengan baik oleh para pelayan, dan aku sedang mengawasi mereka di sini" ucap Kai lagi.
Kedua pelayan itu tersentak kaget saat Alara membuka kedua matanya, belum hilang kekaguman mereka pada wajah dan rambutnya, mereka kembali terpana dengan mata hijau milik Alara.
"no-nona" ucap seseorang.
"siapa kalian?" tanya gadis itu pelan.
"kami pelayan yang merawat nona, apa keadaan nona sudah membaik?" tanyanya.
__ADS_1
"hmm, tolong angkat aku" pintanya.
Kembali kedua pelayan melayani Alara dengan baik, mereka membantu Alara mengeringkan tubuh dan menggunakan pakaian.
Kai langsung mendekat begitu Alara sudah duduk bersandar di ranjangnya, harimau yang tadinya terlihat sangat menyeramkan langsung berubah jadi binatang menggemaskan di depan tuannya.
"majikan kau sudah baikan?" tanyanya.
"emm, apa kau menjagaku?" tanya gadis itu pelan.
"iya aku menjagamu saat Duwan pergi mencari obat" jawabnya.
Alara mengelus kepala Kai yang sejak tadi sudah dia letakkan di atas pangkuannya, senyumnya mengembang saat menyadari tingkah Kai yang semakin manja padanya.
Selang beberapa lama Duwan juga masuk dengan tergesa, pemuda itu kaget karena Alara sudah bangun dan mengelus harimaunya.
"syukurlah kau sudah bangun Ra" ucapnya lega.
"tu-tuan apa kami sudah boleh keluar?" tanya pelayan itu ragu.
"tunggu sebentar, kau panggil 2 pelayan yang tadi membawa bak ini, kau juga harus kembali ke sini" ucap Kai menyerobot.
"b-baik"
Pelayan yang kembali di tinggal sendirian berdiri di pojokan tak berkutik, setelah ketiga pelayan masuk dan menutup pintu Kai meminta Duwan untuk membagikan beberapa koin emas sebagai uang tutup mulut.
Walau sebenarnya mereka sama sekali tak ada niat untuk membicarakan pada siapapun, tapi tentu mereka takkan menolak koin emas yang Duwan berikan.
"karena kalian berempat sudah terlanjut tahu tentang Kai, bawakn harimau ini rusa bakar setengah matang, bawakan juga semangkuk sup daging dan semangkuk sayur kemari" perintah Duwan.
"baik tuan" jawab keempatnya serempak.
Keempat pelayan itu langsung lari ke dapur dan menyiapkan seluruh pesanan.
Selesai makan Alara langsung mengajak Duwan pergi dari penginapan, dia khawatir para pendekar yang di sewa toko senjata akan memburunya, apalagi mengingat tubuhnya yang belum pulih benar, itu hanya akan merugikannya jika harus bertarung.
Sebelum keluar penginapan pelayan yang tadi melayani mereka memberikan sebuah jubah pada Alara, jubah berwarna biru muda yang terlihat cantik sangat cocok di paduka dengan kulit Alara yang putih.
Setelah memasuki hutan Alara langsung naik ke punggung Kai yang beberapa waktu tadi msuk ke tubuhnya, mereka bertiga berencana pergi sejauh mungkin dari kota itu.
"ya ampun aku kan menyuruh paman pendekar di restoran" ucap Alara.
"ohh aku sudah bicara padanya" jawab Duwan.
"huhh padahal aku ingin mengobrol dengannya" decak Alara sedikit kesal.
"bagaimana lagi, kau bilang takut di buru oleh pendekar toko senjata, ngomong ngomong apa karena kamu membekukan toko mereka, mereka akan dendam?" tanya Duwan penasaran.
"kau pikir aku hanya membekukan toko mereka?" ucap Alara penuh teka teki.
"lalu?" tanya Duwan curiga.
"aku mengambil seluruh koin emas mereka sebagai ganti rugi" ucapnya bangga.
"hahh .. sudah kuduga" hela Duwan menggelengkan kepala.
"biar saja, siapa suruh mereka berani menipu, aku hanya mem.."
"memberi pelajaran pada mereka?" potong Duwan.
"benar sekali hahaa" tanha lantang penuh kemenangan.
"sebenarnya aku agak kasihan pada mereka, sudah tokonya di bekukan uang mereka di rampok oleh gadis ini, hmmm nasib mereka sangat si*l karena telah menipuku dan berurusan dengan gadis liar ini" batin Duwan menggerutu.
"bukannya ini artinya mereka menipuku lalu kau merampok mereka?" celetuk Duwan.
"bisa di katakan begitu" jawabnya tanpa rasa bersalah.
"haiihh berarti kau adalah seorang gadis perampok" celetuk Duwan lagi.
"apa?"
....*bersambun*g....
__ADS_1
jangan lupa likenya ya ππππππ