The Werewolf

The Werewolf
48. Wanita mengerikan


__ADS_3

"kakek! kakak memanggilmu" seru Damar dari rumah.


"yaa sebentar .. kau bersihkan semua bahan ini" ucap kakek Arung.


Kakek Arung langsung masuk ke kamar Alara, terlihat gadis itu sedang duduk di temani oleh Damar.


"kau sudah selesai makan?" tanya kakek.


"emm" jawabnya mengangguk.


"keluarlah dan bantu kakak di halaman" perintahnha pada Damar.


Tanpa menjawab Damar langsung keluar mengikuti perintah, kakek Arung langsung memeriksa keadaan Alara, tak lupa dia menanyakan kondisinya sekarang.


"kakek, sebenarnha kenapa dengan tubuhku, akhir akhir ini aku merasa tubuhku semakin lemah" ucap Alara lesu.


"bagaimana caraku menjelaskannya? yang jelas kekuatanmu itu terlalu besar, tubuhmu tak sanggup menerimanya" jelasnya.


"jadi?"


"sebisa mungkin jangan gunakan kemampuanmu, kau bisa mati" celetuknya.


"heii yang benar saja, jangan menakutiku" ucap Alara tak percaya.


"kau pikir aku sedang bercanda? asal kau tau sekarang tubuhmu benar benar kritis, aliran energimu kacau, dan organ dalammu juga bermasalah, aku tak menyangka keadaanmu akan seburuk ini" ucap kakek Arung kesal.


"seburuk itukah? apa aku akan mati?"


"pletak .. aduuhh"


"jangan sembarangan kalau bicara" ucap kakek kesal.


"iya iyaa, tapi apa keadaanku benar benar separah itu?" tanya Alara masih penasaran.


"huftt itu benar, aku penasaran apa saja yang kau lakukan selama ini, apa kau pernah meggunakan darahmu?" tanya kakek Arung.


"emm aku pernah menggunakannya 2 ehh 3 kali"


"seberapa banyak darah yang kamu keluarkan?" tanyanya dengan wajah serius.


"mungkin 5 tetes"


"apa reaksi tubuhmu setelah itu?"


"saat pertama kali menggunakannya aku baik baik saja, tapi untuk yang ke 2 dan 3 aku pingsan" jawab gadis itu jujur.


"lalu kekuatan itu bagaimana? apa kau kuga terbebani?"


"terbebani? apa maksud kakek efek seyelah menggunakan kekuatan?"


"iyaa, apa yang terjadi?" ucap kakek.


"pingsan jug.."


"apa? bahkan kau pingsan saat menggunakan kekuatan itu?" pekik kakek Arung kaget.


"ishh kenapa berteriak seperti itu sih" keluh gadis itu.


"hahhh benar benar" hela kakek Arung.


"jadi aku harus bagaimana wahai kakek tua?" tanya Alara gemas.


"untuk sementara ini jangan pernah gunakan kemampuanmu, lakukan apapun hanya mengandalkan tenagamu seperti sebelumnya saja, aku akan mencari solusi untuk masalahmu" jawab kakek.

__ADS_1


"hmm baiklah, tapi apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Alara.


"jangan tanya macam macam, sekarang keluar dan makanlah terlebih dahulu" perintah kakek Arung tegas.


"huhh dasar kakek tua, sudah tau cucunya dalam kondisi begini, masih saja begitu siikapnya, huhh malangnya nasib anak pungut ini" keluh Alara tak jelas.


Selama berhari hari Alara hanya makan dan tidur, untuk sementara waktu tubuh gadis itu harus istirahat total, Duwan sendiri sibuk belajar pengobatan dari kakek Arung, menurutnya kemampuan dan pemahaman kakek Arung tentang obat dan ramuan benar benar seperti tabib ternama.


Setelah beberapa minggu Alara mengutarakan keinginannya agar kakeknya mau mengangkat Damar menjadi muridnya, gadis itu juga berjanji akan ikut membantu membimbing Damar.


Kakek Arung menyanggupi keinginan cucunya itu, tapi dengan syarat Damar tidak boleh mengeluh saat mendapat latihan keras, dan Alara juga harus menuruti nasehat kakeknya untuk tidak menggunakan kelebihannya.


Kakek Arung berencana mengajarkan jurus pedang pembelah langit pda Damar, jurus pedang yang sudah di pelajari oleh Alan tanpa sepengetahuan kakek Arung.


Sejak hari di mana Damar di angkat menjadi murid oleh kakek Arung, keseharian anak itu mulai berubah, dia harus bangun sebelum matahari terbit, berlari di halaman rumah sebanyak 20 kali, setelah itu barulah dia mandi dan sarapan.


Setelah itu Damar di tugaskan untuk mengumpulkan batu besar ataupun kecil di pinggir sungai, setelah terkumpul dia harus memindahkannya ke samping rumah, seberapa banyak hasilnya kakek Arung tak pernah memberi batasan.


Untuk permulaan kakek Arung hanya ingin anak itu terbiasa menggunakan fisiknya, dan secara bertahap kakek Arung akan menaikkan tingkat latihan dan menempa kemampuannya.


Setelah beberapa bulan Alara beristirahat total, gadis itu mulai kembali melatih ilmu pedangnya, tangan dan tubuhnya sedikit kaku karena berbulan bulan kerjanya hanya makan dan tidur.


Duwan sendiri benar benar belajar banyak ilmu pengobatan dari kakek Arung, semakin lama pemuda itu mengenal sosok kakek Arung maka semakin kagum juga dirinya pada pengetahuan laki laki tua itu.


Kelima mahluk yang ada di tempat itu memiliki tugas masing masing, semenjak Damar mulai di tugaskan lari semakin jauh Kai ikut mendampingi pemuda kecil itu, sekalian untuk mengawasi dan berjaga jaga kalau ada bahaya.


Mereka berlima terus menjalani keseharian masing masing, tanpa terasa waktu pun terus berlalu, dua tahun sudah Damar menjalani pelatihan fisik tanpa mengeluh, tubuh anak berusia 8 tahun itu cukup kencang dan sedikit berotot.


Di bawah terik matahari Damar berlatih jurus pedang pembelah langit tahap 1 yaitu tarian merak, peluh terus menbanjiri tubuhnya yang sudah melakukan latihan sejak pagi tanpa henti, anak itu benar benar gigih saat berlatih.


"mau sampai kapan kau berlatih tanpa henti, lihatlah kulitmu sudah gosong" celetuk Alara sambil membawakan air dan makan siang.


"sebentar lagi kak" jawab anak itu tanpa menoleh.


"mau coba beradu denganku?" tawar Alara pada Damar.


"boleh saja, tapi aku masih amatir" ucap Damar.


"tenang saja, aku hanya akan menggunakan tahap 1 agar imbang denganmu" ucap Alara langsung menyerang.


"Tak .. Takk"


Benturan pedang kayu yang saling beradu berbunyi cukup keras, Kai yang tertidur sampai terbangun karenanya, karena Alara dan Damar sama sama menggunakan jurus tarian merak, gerakan mereka terlihat seperti 2 orang yang sedang menari.


Damar yang sejak pagi latihan tanpa henti terlihat mulai kelelahan, energi anak itu sudah terkuras banyak karena terlalu rajin berlatih.


"aku menyerah" ucap Damar menjatuhkan pedang kayunya.


"wahh tenagamu bukan main yah?" puji Alara.


"benarkah?" tanya Damar tak percaya.


"tentu saja, aku yakin kalau kamu terus berlatih dengan giat seperti ini kamu akan menguasai jurus pedang pembelah langit tidak sampai 5 tahun, aku tak sabar menantikannya" ucap Alara berbinar.


"aku takkan mengecewakanmu dan kakek guru, aku akan terus berlatih dengan giat" seru anak itu semangat.


"aku bangga padamu Damar" batin Alara saat memandangi anak itu.


* * *


"kita dapat uang banyak hari ini, kita mampir dulu ke restoran, makan enak dan minum arak sepuasnya" usul kakek Arung.


"aku kan tak bisa minum arak kek, kakek saja yang minum, aku ingin ke suatu tempat" ucap Duwan.

__ADS_1


"kemana?" tanya kakek Arung penasaran.


"aku ingin beli sesuatu, kakek tunggi saja di restoran, aku takkan lama" ucap pemuda itu berlalu.


Setelah mendapat wangsit kakek Arung langsung menuju restoran, di pesannya berbagai menu nikmat dan beberapa kendi arak, laki laki tua itu memang jagonya minum.


setelah menghabiskan hampir seluruh makanannya barulah Duwan datang menghampiri, pemuda itu keheranan karena begitu bayak bekas makanan yang di pesan kakek itu.


"kakek makan semua ini sendirian?" tanya Duwan heran.


"tentu saja, kau lihat perutku sampai sebesar ini ha ha haa" tawanya senang.


"issssh benar benar, bahkan aku tak di beri sedikitpun, kakek dan cucu sama saja" gerutunya.


Setelah berpuas hati mengisi perut keduanya pulang dengan membawa beberapa kantung belanjaan, hal itu adalah hal yang paling tak di sukai Duwan, melakukan perjalanan jauh saja sudah cukup melelahkan, di tambah lagi mereka harus membawa masing masing 1 kantung beras dan beberapa keperluan lain.


Sampai sore tiba kedua laki laki itu belum jugabterlihat batang hidungnya, Alara yang sudah selesai menyiapkan makanan sampai kesal di buatnya, karena tak biasanya dua laki laki itu kembali sampai gelap.


"apa kakek guru dan kak Duwan belum pulang kak?" tanya Damar yang baru selesai mandi.


"belum, entah apa yang di lakukan dua laki laki itu" dengusnya kesal.


"ngomong ngmong bajumu terlihat sudah sempit yah?" sambung gadis itu.


"hehe,, sepertinya begitu kak, aku sampai merobek lengannya karena lenganku tak nyaman" jawabnya malu.


"astaga anak ini, harusnya kamu bilang padaku atau kak Duwan, ya sudah besok aku akan meminta Duwan membelikan beberapa pakaian untukmu" ucap gadis itu.


"tidak perlu besok, aku sudah membelinya" ucap Duwan tiba tiba.


"kemana saja kau? lama sekali" ucapnya ketus.


"tentu saja ke kota, kemana lagi memang? ehh apa jangan jangan.."


"berhenti berpikiran aneh atau ku lempar nasi panas ini ke wajahmu" potong gadis itu.


"heh siapa yang berpikir aneh? aku cuma mau bilang jangan jangan kamu mau minta hasil penjualan hari ini, memangnya kamu pikir ake memikirkan apa?" tanya Duwan meledek.


"ishh sudahlah" ucao Alara enggan menjawab.


"hei nona serigala, kenapa pipimu merah? apa yang kamu pikirkan?" ledek Duwan mendekatkan wajahnya.


"buakk .. aahhh panas panas"


Sepiring nasi panas mendarat di pipi pemuda itu, Damar yang melihatnya hanya melongo tak percaya.


"mengerikan .. wanita benar benar sangat mengerikan" batin anak itu bergidik.


"byurrr" seteko air kakek Arung siramkan pada wajah pemuda yang tengah kelabakan itu.


"huaaaa kalian berdu benar benar keterlaluan" ucap Duwan ngambek.


Kali ini pandangan Damar beralih pada kakek tua itu, anak itu masih belum terbiasa dengan perilaku sepasang kakek dan cucu itu.


"glekk"


"kakek guru dan kak Ara sama saja, maafkan aku kak Duwan kali ini aku takkan menolongmu" batinnya tertinduk.


.....bersambung.....


jangan lupa dukungannya


tinggalkan jejak juga ya💜

__ADS_1


__ADS_2