The Werewolf

The Werewolf
58. Bukan manusia


__ADS_3

🎶matahari kini tlah berganti bulan


🎶awan putih di langit kini berganti bintang


🎶pejamkan mata dan rajutlah mimpimu


🎶percayalah malaikat malam kan menjagamu


🎶kau singa kecilku yang kuat dan tangguh


🎶kau singa kecilku yang pemberani


🎶kaulah matahari dalam siangku


🎶kaulah bulan dalam malam gelapku


🎶senandung cintaku hanya untukmu


🎶bermimpilah dan gapai itu


🎶hmm hmmm mmm.


"WOAAAHHHH" decak Duwan kagum.


"apa?"


"aku baru tau selain jago marah marah kamu juga jago nyanyi Ra" godanya.


"mau mati😒?"


"hehee cuma becanda Ra, mmm langitnya indah yaa"



"hmmm" jawabnya malas.


"kamu hebat Ra, serius"


"hebat apa?" tanyanya bingung.


"baru tiga hari lalu bayi ini punya nama dan tadi kamu menyanyikan lagu itu khusus untuknya"


"ohh itu, yaaa itu terjadi begitu saja" jawabnya.


"begitu kah? tapi jelas jelas tadi aku mendengar kata SI NGA KE CIL KU, memang dia anakmu?" tanyanya meledek.


"mau coba tinjuku tuan Duwan Sanjaya😊?"


"ehhh ti-tidaaak, aku hanya becanda Raa sungguh✌️"


"tchhh"


"tapi Ra aku serius senandungmu tadi benar benar indah, lihat saja wajahnya itu, tidurnya sangat pulas" ucap Duwan terkagum.


"aku sendiri heran, sejak hari pertama aku bisa menggendongnya kenapa aku selalu merasa seakan bayi ini ingin terus di gendong"


"hmmm kenapa merasa begitu?" tanyanya tak mengerti.


"entahlah aku sendiri tak begitu paham, hanya saja meski aku sedang tidur aku akan langsung terbangun saat bayi ini menggerakkan tangannya"


"bukannya itu karena kamu sangat peka? indramu itu kan.."


"bukan! aku tak bisa menjelaskannya padamu"


"hmm apa kamu terbangun karena khawatir dia akan menangis?"


"heh? mungkin saja, yang jelas aku ingin lebih dulu bangun sebelum bayi itu menangis karena merasa sendirian"


"ohh begitu? sepertinya aku tau maksudmu" ucap Duwan manggut manggut.


"apa?"


"ini hanya tebakanku saja, kau ini kan wanita mungkin saja kamu merasa begitu karena insting keibuanmu"


"insting keibuan?"


"mmm begini Ra, kamu selalu khawatir Arya menangis saat terbangun tengah malam, kamu juga khawatir dia merasa tak nyaman kan? secara tidak langsung kamu ingin memastikan Arya dalam keadaan nyamab dan baik saat bersamamu, dan lagi Arya juga seperti merasakan hal yang sama denganmu, mungkinkah kalian sudah memiliki ikatan?"


"ikatan apa lagi yang kau maksud?"


"yaa ikatan ibu dan anak, kalian sama sama gelisah saat terpisah, dan pada akhirnya kalian merasa tenang dan nyaman saat bersama"


"ikatan ibu dan anak? apa itu tidak berlebihan?" ucap Alara.


"sepertinya tidak, apalagi darahmu mengalir deras di tubuhnya"


"darah yah? apa benar karena itu?"


"aku juga hanya berspekulasi, sudahlah sekarang tidur saja, kalau perjalanan kita lancar dalam 1 minggu kita akan sampai di desa Kuwari" ucap Duwan merebahkan diri di atas rerumputan.


Tanpa menjawab Alara juga ikut merebahkan diri di samping pemuda itu, dengan posisi Arya di tengah dan masih dalam dekapan Alara, siapapun yang melihatnya jelas akan mengira kalau mereka adalah keluarga.


Dua hari lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan ke desa Kuwari, desa kecil yang terletak di pinggiran pantai itu menjadi tujuan mereka, mereka berencana menetap di sana dalam waktu yang lama, minimal sampai Arya berusia 2 tahun.

__ADS_1


Di hari selanjutnya mereka berjalan dengan menaiki punggung Kai, jika orang orang pada umumnya melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta kuda atau sekedar kuda, maka Alara dan Duwan melakukan sesuatu yang berbeda.


"grooaarr" tedengan suara yang memekikkan telinga.


"gawat, jangan jangan di depan sana ada pertarungan" ucap Duwan sedikit panik.


"apa kita harus jalan memutar?" tanya Kai.


"tidak usah, lanjutkan saja"


"tapi Ra.."


"kalau hanya siluman aku bisa mengatasinya Duwan"


"Abel sudah melarangmu bertarung"


"kalau kita memutar jalan akan butuh waktu semakin lama untuk sampai, kau tau kan persediaan susu Arya sudah hampir habis"


"aishhh, tapi berjanjilah untuk tidak berlebihan"


"hmm"


Begitu mereka mendekati pertarungan Alara lgsg menyuruh Kai masuk ke tubuhnya, dari jarak saat ini keadaan sudah membuat Arya merasa tak nyaman, bahkan Duwan yang merupakan pemuda dewasa juga merinding di buatnya.


"tenanglah, aku akan melindungimu" ucap Alara pelan.


Terlihat seekor siluman beruang sedang bertarung dengan 2 orang pendekar, satu laki laki dan satu perempuan muda tampak kewalahan menghadapi seekor beruang api, apalagi kondisi si laki laki sudah terluka parah, meski tidak melihat secara langsung Alara tau betul kaki kiri laki laki itu remuk.


"Mala cepat lari!"


"tidak! aku takkan meninggalkan kakak sendirian"


"jangan bodoh kamu, kamu ingin kita semua mati? lari secepatnya saat aku berusaha menahan siluman jelek ini"


"t-tapi kak.."


"lari sekaraang!"


"GROOOAAAAAAR"


"kyaaaa"


Tepat saat beruang api melompat ke arah laki laki itu seekor harimau sebesar kuda muncul dan menumbangkan beruang api.


Pertarungan antar kedua siluman itu tak bisa terelakan, meski tubuh Kai sedikit lebih besar, tp usia dan pengalaman keduanya jauh berbeda, Kai adalah siluman yang hidup tenang dan jarang bertarung, hanya saat bersama Alara harimau itu bertarung.


"LA RIIIIII MALAAAA!" teriak si lelaki sekuat tenaga.


"BRUG" laki laki itu jatuh.


Terlihat sangat jelas gadis itu sangat berat melangkahkan kakinya, tapi melihat ada dua siluman kuat di depannya membuatnya tak berdaya.


"berhenti"


"hikss pe-pergi, di sana adaa.."


"tenangkan dirimu, jangan takut dan lihatlah"


"AAHHHHH ... BRUUG" si gadis jatuh pingsan.


"lho? kenapa dia pingsan?"


"ckck .. kamu pikir pemandangan itu tidak membuatnya syok?" ucap Duwan.


Alasan kenapa gadis itu pingsan selain kelelahan karena bertarung dia melihat sesuatu yang mengerikan, laki laki yang dia panggil kakak terlihat di bawa oleh seekor siluman harimau, belum lagi darahnya yang berceceran membuat pandangan gadis itu gelap seketika.


"apa aku melakukan kesalahan🐯?" tanya Kai setelah meletakkan laki laki itu.


"tidak Kai, kerja bagus" puji Alara mengelus kepalanya.


Tampak ekornya mengibas ke kanan dan kiri setelah mendengar pujian tuannya, Duwan yang melihatnya masih tidak percaya bahwa siluman buas itu terlihat seperti seekor kucing di hadapan gadis pujaannya.


Setelah itu Kai kembali membawa si laki laki dan Duwan menggendong wanita yang tadi pingsan, nampaknya perjalann mereka kembali tertunda karena menolong kedua pemuda itu.


Alara mengeluarkan berbagai bahan obat dari cincin ruangnya, di lanjutkan Duwan meracik obat untuk memberi pertolongan pada pemuda yang sudah kehilangan satu kakinya.


"emm Kai jaga Arya sebentar" ucap Alara menidurkan Arya di atas perut siluman itu.


Gadis itu mendekat ke arah laki laki itu dan melakukan sesuatu.


"mau apa kamu?" tanya Duwan menyelidik.


"apa lagi? membantunya lah"


"bukannya kamu udah ngga bisa menggunakan kemampuan itu Ra?"


"iyaa aku tau, aku hanya akan menyalurkan tenaga dalamku padanya untuk menghentikan pendarahannya, percuma saja kamu obati kalau darahnya kelur sederas itu" ucap Alara menunjuk kaki si pemuda.


"ahh benar juga, tapi ngga papa kamu melakukan itu?"


"santai saja Duwan aku akan baik baik saja" ucapnya meyakinkan.


"ya sudah, tapi kalau kamu merasa sesuatu tidak baik kamu harus langsng menghentikannya"

__ADS_1


"iyaa"


"astaga bocah itu makin lama makin cerewet saja" batinnya menggerutu.


Dan setelah Duwan melanjutkan meracik obat Alara langsung duduk bersila dan mengalirkan tenaga dalamnya, perlahan aliran darah berkurang dan akhirnya berhenti.


Duwan langsung memberikan ramuan yang di buatnya, dan Alara sendiri langsung memejamkan mata dan bermeditasi untuk memulihkan energinya.


"tchhh sekarang tubuhku benar benar semakin lemah, mengeluarkan kekuatan sedikit saja langsung begini" batin Alara mengeluh.


Sampi malam tiba sepasang pemuda yang mereka tolong belum juga sadar, Duwan dan di temani Kai mengambil daging beruang api dan memgolahnya untuk makan malam.


"uaaahhh kakak" teriak si gadiss.


"oeekkk oekkk" Arya yang terlelap langsung menangis karena kaget.


Tak hanya itu, Duwan dan Kai yang sedang sibuk membakar daging juga kaget mendengar teriakan si gadis yang bukan main kerasnya.


"aiisshhh susah susah aku menidurkannya, kenapa kamu berteriak sekeras itu?" ucap Alara dongkol.


"ka-kakak uhhh" ucapnya menangis.


"brisik! dia ada di sebelahmu" ucap Alara langsung berdiri dan berusaha menenangkan Arya.


"cup cup, tidur lagi yahh" ucap Alara dengan nada pelan.


Duwan bukan main senangnya melihat pemandangan itu, sosok gadis keras seperti Alara bisa langsung berubah sangat lembut di depan bayi bernam Arya itu, yaa walaupun beberapa saat lalu gadis itu menggunakan cara kasar untuk menggendong bayi, tapi lama kelamaan dia cukup mahir untuk mengurus bayi.


"uhh kakak, kakakk kamu selamaat" tangis si gadis sesegukan.


Tangisnya semakin menjadi saat melihat kaki kiri kakaknya hanya tersisa sampai lutut.


"huhhuu ha-harusnya kakak tidak melindungiku, kalau begini bagaimana caraku menjelaskannya pada kakek huhuuu"


"diam atau ku patahkan lagi kaki sebelahnya" ancam Alara makin kesal.


"hmp ma-maaf" ucapnya langsung membekap mulutnya sendiri.


Duwan hanya cekikikan melihat tingkah Alara yang semakin ekstra proktektif pada bayi dalam gendongannya, gadis itu seolah sedang menjaga bayinya sendiri.


"sudahlah Ra, berikan Arya padaku dan makanlah, aku tau kamu lapar" ucap Duwan membawakan daging bakar.


"huft ya sudah pegang Arya"


"kamu juga makan, sepertinya kamu sangat kelaparan" ucap Duwan menawarkan.


"te-terima kasih, tapi bagaimana kakakku bisa selamat? jelas jelas siluman harimau itu memakannya" tanya gadis itu bingung.


"memakannya? hahaa Kai tidak pernah memakan manusia" ucap Duwan tertawa.


"t-tapi"


"justru Kai yang menyelamatkan kakamu, berterima kasihlah padanya" ucapnya menunjuk arah Kai yang tengah asik melahap daging bakar setengah matang kesukaannya.


"huahmp" tangannya langsung membekap mulut saat teringat kata kata Alara.


"ba-bagaimana bisa?"


"kau ini brisik sekali, diam dan makan saja"


"i-iya" ucapnya langsung diam.


Meski benar siluman itu telah melenyapkan kakaknya, gadis itu tetap was was dan tidak tenang, apalagi melihat ukurannya yang di luar nalarnya membuat bulu kuduknya merinding.


"terima kasih" ucap gadis itu menunduk.


"hmm🤨?" Alara memiringkan kepala.


"terima kasih karena menolong kami"


"bukannya dia sudah bilang? yang menolong kakakmu adalah harimau itu" ucap Alara menunjuk Kai yang tertidur setelah kekenyangan.


"oh benarkah? jadi dia tidak berbohong?"


"untuk apa dia membohongimu?"


"emm iya juga sih"


"ngmong ngmong knp kamu berbicara sesantai itu?" tanya Alara.


"ha-hah?"


"ini tentang fisikku, apa kamu tidak merasa aneh🙄?"


"hng apanya yang aneh? justru sangat cantik😁"


"hah? begitu yah?"


"emm jujur saja aku sangat takjub, aku bahkan berfikir kamu bukan manusia"


"yahhh aku memang bukan manusia🤷"


"hmm apaa😮?

__ADS_1


....bersambung....


__ADS_2