
"uhh kakak, maafkan aku kak huaaa"
Pemuda bernama Duwan sedang menangis tersendu sendu sendirian di depan mayat kakaknya, setelah Alara membawa mayat kakaknya, gadis itu pergi entah kemana.
Beberapa waktu lalu, Duwan di kejutkan dengan datangnya sosok wanita berambut putih dengan noda darah di sekujur tubuhnya, pemuda itu terkejut juga ketakutan saat mengira wanita itu adalah penunggu goa yang di huninya.
"ini aku" ucap Alara.
Duwan yang sudah lumayan hafal dengan suara dewi penolongnya, tersentak kaget saat melihat rupa Alara yang sangat berbeda dari gadis pada umumnya.
Tubuh pemuda itu bergetar hebat saat Alara memapahnya untuk keluar dari goa, saat itu perasaannya campur aduk antara takjub, takut dan juga bingung.
Alara mendudukkan tubuhnya di depan tubuh seseorang yang tertutup jubah hitam miliknya, walau Alara tak mengatakan apapun Duwan memiliki firasat bahwa sosok di depannya adalah kakaknya yang sudah tiada.
Dengan memandang wajah Alara yang tertunduk, Duwan mengharap penjelasan yang berbeda dari firasatnya, tapi gadis itu hanya diam membisu tanpa mengatakan apapun.
Tubuhnya bergetar hebat atas kebisuan Alara, dengan tangan yang bergetar tiada henti, Duwan memberanikan diri membuka jubah yang menutupi wajah orang di depannya.
Matanya terbelalak tak percaya dengan siapa yang di lihatnya, air mata mengalir deras dari matanya, tak ada kata apapun yang dia ucapkan karena terlalu terkejut.
Di lain pihak Alara sudah pergi entah kemana saat Duwan memandang sekelilingnya, rasa kesedihan, rasa kehilangan, penyesalan dan banyak lagi perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Alara berlari dan menceburkan diri ke sungai, di tengah derasnya adus dia meraung raung menumpahkan kesedihanya, gadis itu merasa sangat bersalah karena tak bisa menolong kakak Duwan, hatinya bagai teriris iris saat mengingat nasibnya.
Saat langit sudah gelap gadis itu mendengar suara langkah kaki seseorang, di keremangan cahaya terlihat seorang pemuda dengan langkah tertatih mendekatinya.
"sampai kapan kau berendam di sana?" ucap Duwan.
Alara hanya menatap tajam ke arah pemuda yang luka di perutnya semakin menjadi jadi, gadis itu menepi dan naik ke pinggiran sungai.
"apa yang kau lakukan bodoh!" ucap Alara kesal.
"mencarimu" jawab Duwan singkat.
"aku sudah memakamkan kakak menggunakan seluruh tenagaku, kau lihat perutku sampai berdarah darah begini" lanjutnya.
Alara mengrenyitkan dahi mendengar perkataan Duwan, dia pikir Duwan akan pergi lari ketakutan setelah melihat sosoknya.
"kenapa menatapku begitu? apa aku terlihat sangat tampan?" tanyanya.
"tchh dasar gila" ucapnya kesal.
"yaaa kurasa memang aku langsung gila setelah tau kakakku tiada, buktinya aku menggali tanah meggunakan jari jariku" ucapnya sambil memamerkan tangannya yang penuh tanah.
Alara hanya menatap lurus kedepan, pandangannya lurus entah menatap apa, Duwan mengamati wajah Alara dari samping sambil sesekali ikut menatap ke arah yang sama seperti Alara.
"kalau terus menatapku begitu akan ku congkel matamu" ucap Alara tiba tiba.
"a-ahh maaf, aku hanya bingung dengan apa yang kamu tatap, memangnya di depan sana ada apa?" tanya Duwan heran.
"apa matamu sudah buta sebelum ku congkel, kau tak lihat ada sungai sederas dan sebesar itu di depanmu" ucap Alara ketus.
"ya ampun pedas sekali mulutmu nona, untung baik" keluhnya.
"kalau aku tak baik kenapa? masalah?" ketus gadis itu lagi.
"heeiii santailah sedikit nona cantik, nanti tenggorokanmu kering kalau bicara begitu" ucap Duwan.
"huhhh" dengus Alara sambil merebut jubah miliknya dari tangan Duwan.
"pergi kau dari sini" ucapnya lagi.
"kenapa kau mengusirku?" protes Duwan.
"aku ingin mengganti bajuku yang basah" ucap gadis itu.
"dengan apa? jubah itu?" tanya Duwan heran.
"apa lagi, cuma ini yang ada"
"baiklah baiklah, kau tak perlu teriak begitu" ucap Duwan sambil menutup mata dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"apa yang kau lakukan?" giliran Arumi bertanya.
"aku sudah tak bisa bergerak lagi nona, aku bersumpah takkan mengintip" ucap Duwan.
"awas saja kalau berani mengintip, ku.."
"ya yaaa congkel saja mataku, aku dengan senang hati menyerahkan kedua biji mataku padamu nona cantik yang pemarah" tutur Duwan panjang.
"tchh dasar gila" ucap Alara lagi.
Setelah mengganti pakaian dengan seadanya, Alara menghampiri Duwan yang sedang tidur terlentang, dari ujung matanya terlihat ada lelehan air mata.
"kau memang benar benar gila Duwan, bisa bisanya kau menangis dalam tidur begini" batin Alara.
Gadis itu melangkah pergi mencari tumbuhan obat untuk mengobati Duwan kembali, dia juga mencari beberapa buah buahan dan buruan untuk makan, dia baru sadar kalau dia baru makan saat pagi.
Setelah berhasil medapatkan seekor ayam hutan Alara kembali ke pinggiran sungai, dia membakar ayam dengan sesekali bersenandung kecil.
Sebelum ayam bakar sampai ke mulutnya tiba tiba saja tangan Duwan sudah lebih dulu menyerobotnya.
"heh kau gila ya!" bentak Alara.
"kau yang gila, sudah tau aku terluka malah kau enak enakkan makan ayam bakar" ucapnya sambil memakan ayam bakar.
"kembalikkan" ucap Alara sambil merebut ayamnya.
"setidaknya beri aku sebagian, aku juga lapar nona" keluhnya.
Akhirnya mereka berdua makan bersama di bawah langit yang penuh bintang, tak ada pembicaraan apapun di sela makan mereka, Alara terus makan sambil menatap derasnya aliran sungai di depannya, sedangkan Duwan tak berpaling dari wajah cantik Alara.
"huhh kau ingin ku colok dengan kaki ayam ini?" dengus Alara kesal karena mulai risih di pandangi Duwan.
"tadi di congkel sekarang di colok, yang benar yang mana?" tanya Duwan meledek.
"satu ku colok satu ku congkel" jawabnya ketus.
"ha ha ha aku tak yakin kau akan bertindak sekejam itu nona" ucap Duwan terkekeh.
"gadis baik sepertimu mana mungkin melakukan hal sekeji itu" jawabnya enteng.
"aku? baik? hahaa lucu sekali, kau hanya baru mengenalku beberapa saat, apa yang membuatmu berpikir kalau aku adalah orang baik?" tanya Alara.
"buktinya kau mau menolongku semalam, bahkan hari ini kau membawa mayat kakakku" jawabnya lirih.
"apa kau pikir aku hanya mengambil mayat kakakmu?" tanya Alara.
"ya memang apalagi?" tanya Duwan penasaran.
"kau tak penasaran nasib orang orang yang melakukan kekejian itu pada kakakmu?" ucap Alara dengan nada aneh.
"memang apa yang kau lakukan?" tanya Diwan sangat penasaran.
"kau lihat bajuku seperti apa kan saat datang membawa kakakmu?" tanya Alara.
"penuh darah" jawab Duwan polos.
"menurutmu kalau ada noda darah sebanyak itu di tubuhku apa yang terjadi pada mereka?"
"glekk pluk" dengan susah payah Duwan menelan ludah membuat ayam bakar di tangannya tak sengaja jatuh.
"ja-jangan bil..."
"tak usah di lanjutkan, nanti kau pingsang ha haa" ledek Alara sambil memungut ayam bakar dan menjejalkan ke mulut Duwan.
Duwan sedikit tak percaya dengan apa yang ada di pikirannya, dia ragu apa gadis sebaik Alara bisa melukai orang lain? tapi kalau di pikir lagi darah siapa yang ada di tubuh Alara kalau bukan milik penjahat yang membunuh kakaknya.
Selesai makan Alara membantu Duwan membasuh ceceran darah yang sudah mengering, setelah itu dia juga mengoleskan tumbukan obat yang sudah di ramunya.
"Alara"
__ADS_1
"hmm"
"aku masih penasaran" ucap Duwan.
"tentang?"
"kau benar benar menghajar kelompok b*adab itu?" tanya pemuda itu penasaran.
"tidak" jawab Alara singkat sambil kembali membebat luka di lengan Duwan.
"ha ha haa berati tadi kau berbohong" kekeh pemuda itu.
"aku tidak menghajar mereka, tapi membunuh ... dan satu orang ku cincang halus" bisik Alara ke telinga Duwan.
Pemuda itu langsung begidik ngeri mendengar bisikan Alara, dia bahkan sampai beringsut menjauhi dewi penolongnya.
"kalau becanda yang kira kira dong" ucap Duwan tak percaya.
"tak percaya ya sudah" ucap Alara berlalu merebahkan tubuh.
Duwan masih menatap Alara tajam, dia mencoba mencari gelagat kebohongan di wajah Alara, tapi sudah berapa lama dia memandangnya ekspresi Alara tetap biasa.
Akhirnya pemuda itu ikut merebahkan diri di sebelah Alara, mereka berdua menatap langit gelap yang berhiaskan bintang.
"kalau boleh tau, kau itu pengembara?" tanya Duwan memecahkan keheningan.
"mmm entahlah, aku tak tau" jawab Alara dengan mata terpejam.
"lalu sedang apa kau di hutan sini?" tanyanya lagi.
"jalan jalan" singkatnya.
"jalan jalan kok ke hutan, ke kota kek apa kemana" ucapnya tak percaya.
"kaki kakiku, ya terserah mau kemana" jawabnya ketus.
"heii tidak bisakah kau berbicara sedikit santai padaku?" tanyanya kesal.
"tidak .. memang begini cara bicaraku" jawab Alara santai.
"apa begitu juga cara bicaramu pada orang yang lebih tua?" ucap Duwan lagi.
"memang berapa umurmu?" tanya Alara membuka mata.
Gadis itu menatap Duwan dengan tatapan malas, dan jutru tatapan itu membuat Duwan terdiam karena terpesona pada keindahan di depannya.
"kau tuli?" celetuk Alara membuyarkan lamunannya.
"ahhh a-aku tujuh belas tahun" jawabnya.
"tchh baru tujuh belas, kakekku sudah hampir TUJUH PULUH TAHUN" ucapnya penuh penekanan.
"kau juga bicara begini pada kakekmu?" tanya Duwan tak percaya.
"sudah kubilang beginilah caraku bicara" jawabnya ketus.
"astaga ... kau benar benar gadis tak tau adat dan sopan santun" kepala Duwan tergeleng tak percaya.
Dia masih tak menyangka gadis yang terbaring di sebelahnnya bukan hanya pemarah dan berbicara tak sopan padanya, tapi juga pada kakeknya.
Alara sudah terlelap dengan sangat nyenyak, berbeda dengan Duwan yang terus gelisah tak bisa memejamkan mata, dia sama sekali tak terbiasa tidur di alam bebas seperti ini.
Jelas sangat berbeda dengan Alara yang sudah terbiasa tidur beratapkan langit bersama kakeknya sejak kecil.
Karena tak kunjung terpejam dia justru memperhatikan Alara, gadis yang menolongnya itu terlihat sangat cantik walau mulutnya setajam pedang, di tambah lagi dengan rambut dan mata hijaunya yang sangat mencolok, justru semua itu terlihat sangat menakjubkan di mata Duwan.
Terdengar dengkuran halus dari mulutnya menandakan gadis itu tertidur dengan nyenyaknya, Duwan memberanikan diri menyingkirkan rambut yang sebagian menutup wajah Alara, seumur hidupnya baru kali ini menjumpai gadis secantik dan berperilaku semaunya seperti Alara.
"apa kecantikanmu ini yang selalu membuatmu menggunakan jubah besar ini nona" gumamnya.
"hhhhh sepedas dan setajam apapun mulutmu kau tetap seorang DEWI PENOLONG buatku" gumamnya lagi sambil tersenyum.
__ADS_1
.....bersambung.....
jangan lupa dukungannya ya guys💜