The Werewolf

The Werewolf
56. Keras kepala


__ADS_3

"Raa apanya yang sakit?" tanya Duwan panik.


"t-tidak apa apa" jawabnya terengah.


Saat Duwan dan Kai masih panik perihal keadaan Alara, tiba tiba saja keluar cahaya kebiruan dari tubuh gadis itu, cahaya itu perlahan menyerupai air dan pelan pelan membentuk seekor ikan.


"a-apa lagi ini?" ucap Duwan bingung.


"huft lelahnya" keluh ikan tersebut.


"ehhh di-dia bicara?"


"kenapa mahluk ini? apa ada yang salah?" tanyanya menghampiri Duwan.


"tidaak, tidak ada"


"hmm mahluk aneh, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya sosok ikan itu beralih ke Alara.


"sebenarnya apa yang kau lakukan pada tubuhku" ucap gadis itu kesal.


"hey harusnya kau berterima kasih padaku, kenapa kesal seperti itu?"


"terima kasih? kau gila?"


"dasar serigala pemarah, kalau aku tidak menolongmu tadi pasti sekarang kamu sudah pingsan atau bahkan mati" ucap si ikan kesal.


"apa? apa maksudmu?"


"kau ini taunya cuma marah marah saja yah? apa kamu tidak tau kondisi tubuhmu?"


"aku tau, tapi kenapa aku harus berterimakasih?"


"huhh itu tandanya kamu masih belum tau sepenuhnya, kau tau tubuhmu spesial bahkan kamu memiliki kemampuan spesial, tapi kenapa selama bertahun tahun kamu tidak pernah menggunakannya, kekuatan itu menumpuk dalam tubuhmu dan hampir menyerang jantungmu, kalau aku tidak membantumu aku yakin saru tahun ke depan bisa saja kamu sudah jadi pupuk" ucap ikan songong.


"tu-tunggu! bisa jelaskan apa mahluk itu?" tanya Duwan memotong.


"diamlah dulu Duwan!"


"huhh baiklah" ucapnya sedikit kesal.


"bisa kau jelaskan maksd dari kata katamu ikan licik?"


"hehh enak saja licik, aku ini cerdass"


"sudahlahh cepat jelaskan"


Alara duduk di hadapan roh air, tak jauh darinya Duwan dan Kai memperhatikan tanpa banyak tanya, dari penjelasan roh air Alara jadi sedikit lebih memahami kondisi tubuhnya, kekuatan yang dia miliki bukan sepenuhnya akaan jadi miliknya.


Bisa di katakan kemampuannya juga merupakan sebuah kutukan, dia tidak bisa membiarkan kekuatan mengerikan itu terus berkembang dalam tubuhnya, namun di sisi lain dia juga kesulitan menggunakan kemampuannya karena tubuhnya terlalu lemah.


"aku bisa sedikit membantumu, tapi untuk saat ini kekuatanku belum cukup" ucap roh air.


"bagaimana caramu membantuku?"


"aku akan mengambil setengah dari kekuatanmu dan menyimpannya, jadi tubuhmu tidak akan rusak saat menggunakan kekuatanmu, tapi walau aku mengambil setengahnya tetap saja setengah kekuatan itu akan berkembang dalam dirimu, mau tak mau kau harus memperkuat tubuhmu lagi"


"apa kau pikir selama ini aku bersantai ria? aku tidak pernah melewatkan 1 haripun tanpa berlatih, tp.."


"yang kau latih hanya kemampuan pedang dan bertarungmu bukan tubuhmu"


"jadi aku harus bagaimana?"


"bawa aku ke sebuah lautan luas, beri aku waktu 1 tahun maka aku akan membantumu mengendalikan kekuatan itu, tapi sebelum aku membantumu sebisa mungkun jangan gunakan kekuatan itu"


"yahh itu bukan hal yang sulit, tapi tempat ini sangat jauh dari lautan, butuh waktu beberapa bulan untuk sampai"


"tidak masalah, tapi sering seringlah mampir ke sungai, aku butuh air untuk memulihkan energiku"


Selesai berbincang roh air kembali memasuki tubuh Alara, Duwan yang sudah menahan rasa penasarannya langsung melayangkan rentetan pertanyaan pada gadus itu, meski malas gadis itu memberi sedikit penjelasan padanya, karena pemuda itu takkan mau diam sebelum rasa penasarannya terobati.


Mereka kembali melakukan perjalanan, untuk berjaga jaga Alara sudah mengirimkan surat ke rumah kakeknya lewat sihir agar Damar dan kakeknya tidak khawatir.


Beberapa hari sudah terlewat, keadaan negri yang kacau faktor perang saudara membuat seluruh warganya kesulitan, tak jarang warga yang tak bersalah ikut menjadi korban, meski kemenangan sudah di miliki oleh pangeran Dwi tetap saja negri ini masih kacau.


"Ra"


"hmm"


"katanya pasukan kerajaan sedang menuju tempat ini" ucap Duwan di sela makannya.


"desa kecil seperti ini? untuk apa?"


"aku kurang tau, tapi katanya permaisuri Retno berhasil kabur dengan pasukan khususnya" ucap Duwan berbisik.


"lalu?"


"tentu mereka harus menangkapnya"


"kenapa?"


"haiihh kau ini Ra, permaisuri kabur dalam keadaan hamil, pangeran Dwi ingin memastikan keturunan raja Eka musnah seluruhnya, jadi dia pasti ingin membunuh permaisuri dan calon bayinya"


"apa? keja..."


"stttt kau inii" ucap Duwan menarik lengan gadis itu.


Alara baru menyadari suara lantangnya menarik perhatian beberapa pengunjung yang ada di kedai makan tempatnya singgah, dengan canggung Duwan meminta maaf atas kelakuan temannya itu.


Setiap malam Alara melakukan pelatihan sesuai arahan roh air, dia bertapa dan memusatkan pikiran untuk menekan kekuatan yang dia miliki, setidaknya apa yang dia lakukan bisa sedikit mengurangi beban tubuhnya.

__ADS_1


Di keremangan malam dengan di iringi alunan suara rintikan hujan Alara bertapa di dalam goa, Duwan dan Kai tertidur lelap karena cuaca sangat mendukung kegiatan bermalas malasannya itu.


Meski Alara sedang bertapa tidak sedikitpun kepekaannya berkurang, gadis itu bisa mendengar adanya derap langkah kaki mendekati goa tempatnya berteduh, meski begitu gadis itu tak beranjak dari tempatnya, matanya masih tertutup dan masih terus berusaha menekan kekuatannya.


"hoshh hoshhh"


helaan nafas berat terdengar sangat jelas.


"bertahanlah adik" ucap seorang lelaki.


"aku sudah sangat lelah kak, sampai kapan kita terus lari dan bersembunyi seperti ini?" keluh seorang wanita di dekapannya.


"kamu harus bertahan, ini demi suami dan anakmu"


"iya kak" jawabnya lirih.


"sekarang ayo kita masuk ke dalam, pakaian kita basah kuyub"


Dengan perlahan laki laki itu memapah tubuh wanita yang dia panggil adik, pakaian basah dan lusuh itu sedikitpun tidak bisa menyembunyikan kecantikan wanita itu, laki laki yang memapahnya juga terlihat gagah meski ada beberapa bekas luka menghiasi wajahnya.


Mereka berdua berhenti saat melihat ada cahaya dalam goa tersebut, mereka ragu akan terus maju atau tidak.


"kau tunggu di sini, kalau ada bahaya di dalam sana kau harus lari sekuat mungkin" perintah laki laki itu tegas.


"tapi.."


"tidak ada tapi tapian dik, aku sudah berjanji pada suamimu" jawabnya serius.


"i-iya" jawabnya tertunduk.


Lelaki dengan tubuh besar itu memberanikan diri masuk lebih dalam, dari wajahnya terlihat sedikit lega saat melihat seorang pemuda sedang tidur sendirian, meski ragu laki laki itu mendekati dang pemuda.


"tuan" ucapnya.


"tunggu, aku masih ngantuk" jawabnya dengan mata terpejam.


"tuaan" ucapnya dengan menepuk bahu.


"hng"


Matanya terbuka dan berusaha memfokuskan pandangannya pada sosok di depannya, pemuda itu langsung kaget saat menyadari sosok di depannya bukanlah orang yang dia kenal.


"si-siapa kau?" tanyanya waspada.


"maafkan kelancanganku, aku hanya ingin ikut berteduh di sini apa boleh?"


Bukannya menjawab pemuda itu justru celingukan tak jelas, raut wajahnya terlihat kebingungan karena tak menemukan sosok yang di carinya.


"anda mencari siapa tuan?" ucap laki laki itu bingung.


"ahh .. apa kau melihat temanku?"


"hah? kemana perginya gadis liar itu" gumamnya heran.


"bagaimana tuan apa aku boleh ikut istirahat di sini?" tanyanya lagi.


"hngg kalau aku tentu mengijinkan, tapi tidak tau dengan temank.."


"aahhkkkk" terdengar suara jeritan yang mengagetkan.


"Ayuuu" teriak laki laki itu berlari.


Pemuda itu yang tadinya bingung langsung bertambah bingung saat laki laki di depannya lari ketakutan.


"a-ada apa tuan?" tanya pemuda itu bingung.


"se-sepertinya adikku akan segera melahirkan" ucapnya panik.


"ohh melahirkan .. ehh? .. apa katamu tuan? melahirkan?" ucapnya lebih panik.


"iyaa sepertinya begitu"


"tuan bawa adikmu ke dekat api unggun" ucap pemuda itu memberi usul.


Laki laki itu langsung membopong adiknya dan membaringkannya di dekat api unggun, wajah pucat dan rintihannya membuat pemuda itu khawatir, apalagi wanita itu akan melahirkan.


"sa-kit kak" rintihnya.


"ap-apa yang harus aku lakukan? tuan muda apa kau bisa membantuku?" tanyanya panik.


"t-tunggu sebentar"


Pemuda itu memasuki goa lebih dalam, setelah beberapa saat dia keluar dengan membawa sebuah jubah dan seseorang di belakangnya, penampilan orang di belakangnya terlalu tertutup hingga membuat laki laki itu curiga.


"cring" sebuah pedang laki laki itu keluarkan.


"siapa kalian?" tanyanya dengan tatapan awas.


"tuan tolong turunkan pedangmu, temanku ini sangat pemarah"


"kau mengancamku?"


"kau tak lihat kondisi adikmu?" ucap pemuda itu menunjuk wanita yang tengah merintih di depannya.


"ka-kakak uhh" keluhnya lagi.


"hahh bagaima.."


"tuan kami bukan orang jahat"

__ADS_1


"tapi temanmu"


"temanku ini sangat cantik, jadi dia tidak bisa menampakkan waj.. kyaahhh" teriaknya saat kakinya tiba tiba di injak.


"jangan banyak omong, dasar bodoh"


"t-tolong hhh.."


Dan setelah melakukan perdebatan panjang akhirnya sang kakak mengijinkan prmuda tadi dan temannya membantu adiknya, pemuda itu tau sedikit tntang pertolongkan pertama pd kelahiran dan dia mengarahkan teman wanitanya untuk turun tangan.


Perjuangan panjang yang di lalui dengan banyak kesulitan dan banjir peluh berjalan cukup lancar, dengan di beri pil pemulih tenaga wanita itu melahirkan bayinya.


"bayinya tidak bergerak" ucap si wanita bingung.


"apa? berikan padaku"


Dengan cekatan pemuda itu memeriksa kondisi bayi mungil di depannya, bayi laki laki dengan tubuh putih pucat dan kulit keriput itu dlm keadaan tidak baik, bibirnya membiru dan suara detak jantungnya sangat lemah.


"bayi ini dlm kondisi kritis"


"apa maksudmu? apa yang kalian lakukan pada keponakanku" ucap sang lelaki tak terima.


"tuan! bisakah anda menjaga sikap anda" ucap si wanita dgn nada tegas.


"bagaimanapun t-tolong selamatkan bayi itu" ucapnya memohon.


Tanpa mempedulikan kata kata sang lelaki pemuda itu terus fokus memikirkan cara terbaik, sayangnya pengetahuan medis yang dia miliki tidak bisa menolong sang bayi.


"aku minta maaf, sepertinya.."


"tuan! aku Kelana, senopati dari yang mulia raja Eka memohon padamu, tolong selamatkan pangeran, di-dia satu satunya harapan kami" ucapnya membungkuk dengan segala kerendahan.


"a-apa? senopati Kelana? pangeran? ja-jadi dia.."


"dia adalah adikku! permaisuri Retno Ayu, dan bayi itu adalah harapan terakhir kami, aku mohon tuan" pintanya lagi.


"t-tapi bayi ini terkena racun, seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya sudah tercemar oleh racun" ucap si pemuda serius.


"racun? apa maksudmu?"


"sebelumnya aku agak curiga saat darah yang mulia permaisuri berbau sangat menyengat, apalagi warnanya terlalu pekat, dan setelah melihat kondisi bayi ini aku yakin permaisuri sudah mendapatkan racun dari waktu yang lama" jelasnya.


"apa? ja-jadii .. bedebahh kau Dwi" ucapnya murka.


"hh tuan! to-long lakukan apapun untuk menyelamatkan bayiku, akuh memintamu bukan sebagai permaisuri, a-aku memintamu sebagai seorang ibu, kedua putraku sudah hh tiada dan dia lah satu..."


"Duwan! biarkan aku menolong bayi itu" potong si wanita.


"Ra jangan bilang.."


"berikan bayi itu" ucapnya mengulurkan tangan.


"ti-tidak! kamu tidak boleh menggunakan kekuatanmu lagi" tolak Duwan tegas.


"Duwan aku tidak suka mengulang kata kataku sampai berkali kali" ucapnya dengan aura mengintimidasi.


"ta-tap.."


"nonaa aku mohon selamatkan putraku hiks"


"nona.."


"sebelum itu aku ingin mengatakan satu hal" potongnya lagi.


"katakan! aku sebagai senopati bersedia menukar nyawaku demi keselamatan pange.."


"tidak perlu! aku bukan manusia" ucapnya membuka jubahnya.


Rambut putih panjang terurai dan sorot mata hijau yang menyala dalam kegelapan membuat sang senopati tercengang, legenda yang pernah dia dengar tentang manusia serigala terlihat jelas di depan matanya, selama ini dia hanya meyakini bahwa manusia serigala telah lama menghilang.


"ka-kau serigala? manusia serigala?" tanyanya tak percaya.


"benar, aku serigala"


"ti.."


"BRUG"


"aku tidak peduli, mau kau serigala, monster atau iblis sekalipun asal kau bisa menyelamatkan putraku aku tidak peduli, tolong selamatkan bayiku huhuuu" ucap Retno ayu memohon.


"tapi darahnya tidak lagi murni darah kerajaan"


"itu tidak penting! selamatkan tolong selamatkan bayiikuu" tangisnya.


"baiklah, Duwan bantu aku"


"a-apa yang harus aku lakukan?"


"buka aliran darah bayi ini, keluarkan darahnya sebanyak mungkin, dan dalam waktu bersamaan aku akan mengalirkan darahku langsung ke jantungnya"


"Ra kamu gila ya? kalau kamu melakukan itu kamu bisa ma.."


"aku tau Duwan, tapi tolonglah"


"kenapa kau sangat keras kepala Ra?"


....bersambung.....


hai semua, maaf ya aku terlalu terlambat update, meskipun hanya ada satu atau dua reader di sini tapi aku tetap berusaha sebaik mungkin

__ADS_1


__ADS_2