
Teman teman jangan lupa like chapter sebelumnya yah
happy readingš
"apa kau bisa bermain pedang?" tanya Rangga.
"sedikit" jawab Alara.
"apa saja yang bisa kamu pakai?"
"panah dan belati juga" jawabnya.
"serba bisa rupanya, senjata apa yang paling kamu sukai?"
"sliing" ucapnya mengeluarkan cakar.
"astagaa ! bisakah tidak mengagetkan bergitu" ucap Rangga kaget.
"tidak"
"baiklah, kau mau makan sesuatu?"
"aku mau tidur" jawab Alara singkat.
"tunggu, aku carikan sesuatu" ucap Rangga pergi.
Saat dua manusia serigala itu sibuk bicara Duwan dan Kai hanya melongo, mereka benar benar tak tau ada apa antara keduanya.
"apa yang terjadi dengan mereka?" bisik Duwan.
"tidak tau" jawab Kai.
"jadi laki lako jangan suka menggosip" ucap Alara.
"baik" jawab keduanya.
Rangga kembali dengan membawa rerumputan kering, dia menata sedemikian rupa agar putrinya bisa tidur dengan nyaman.
Alara menaikkan satu alisnya, gadis itu heran dengan tingkah ayahnya saat ini.
"kau menyuruhku tidur di sini?" tanyanya.
"i-iya, apa terlihat kurang nyaman?" tanya Rangga.
"ha untuk apa sibuk mencari rumput kering kalau ada serigala berbadan besar dan berbulu halus" ucap Alara.
"ehh maksudmu?"
"rubah saja tubuhmu itu, aku akan nyaman tidur di situ" ucapnya.
"o-ohh baiklah" ucap Rangga menurut.
"tchh menurut sekali, tapi tak apa sesekali begini, anggap saja ini hukumanmu ayah" batinnya.
Saat malam makin larut keempatnya tidur dengan lelap, cuaca dingin di malam hari tak terasa oleh Duwan berkat bulu lebat Kai.
Selama dua bulan mereka sudah tiba di depan hutan kabut, Kai sangat tak sabar bertemu dengan ibu dan saudaranya.
Harimau itu berlari dengan kencang memasuki hutan.
"bruukk .. aduuhhh" tubuh Duwan terjatuh saat Kai tiba tiba berlari kencang.
"bwaha haa ha, sedang apa di situ?" ejek Alara.
"aduhh bantu aku, punggungku sepertinya patah" keluhnya.
"begitu saja, cengeng" ejek Rangga.
"wahh wahh kalian berdua kejam sekali" gerutunya.
Saat memasuki hutan lebih dalam wajah Duwan terlihat sangat pucat, kakinya jalan berjinjit bahkan dia sampai tahan nafas, sangat terlihat jelas kalau pemuda itu ketakutan di kelilingi ular.
Setelah jauh masuk ke dalam sudah tak ada ular yang terlihat, wajahnya kembali memerah dan nafasnya juga normal.
__ADS_1
"kenapa kita kemari?" tanya Duwan penasaran.
"bertemu seseorang dan beberapa siluman" jawabnya.
"hah? siluman? seseorang? siapa?" tanyanya makin penasaran.
"nanti kau juga tau" jawab Alara malas.
Mereka terus berjalan masuk dan perlahan menemukan sebuah goa besar dengan pemandangan yang sangat luar biasa, terlihat 7 harimau siluman saling menjilati satu sama lain dan seorang pemuda tanggung di tengahnya.
"guru" pekiknya saat melihat Alara.
Pemuda itu langsung berlari dan membungkuk pada gadis itu, Alara sendiri kikuk karena merasa ta pantas di sebut guru.
"bagaimana tugas dariku?" tanya Alara.
"guru, harusnya kau tanya kabarku dulu" keluh Alan.
"untuk apa? kau terlihat sehat dan yahh badanmu lumayan" ucapnya.
"bukankah sekarang lebih berotot?" tanyanya.
"hehh narsisnya, bagaimana tugas dariku?" tanya Alara lagi.
"ahh ya yaa, setiap bangun tidur aku berlari bolak balik dari sini sampai bukit, setelah itu aku aku melatih keseimbangan di bawah air terjun, lalu aku mengangkat batu sampai 100 kali dan sorenya aku lari lagi ke bukit" jawabnya.
"hmm bagus lah, lalu bagaimana latihannya?" sambungnya.
"aku belum terlalu yakin tapi kurasa aku sudah menguasai ilmu pedang tahap 1 yang guru berikan, dan sekarang aku sedang belajar tahap 2" jawab Alan.
"secepat itu kamu menguasai tahap 1? benarkah?" tanya Alara.
"iya, tapi karena guru tidak ada aku jadi kurang yakin apa aku melakukan kesalahan atau tidak" ucapnya ragu.
"kalau begitu tunjukkan padaku, aku sangat penasaran dengan hasil latihanmu" ucapnya.
"baik"
"drap ... drap" Alan lari memasuki goa.
Jurus yang Alara berikan padanya adalah pedang pembelah langit, jurus itu terdiri dari 3 tahap, tahap pertama tarian buruk merak, gerakannya sederhana namun cukup efektif untuk bertarung, tahap ke dua adalah pedang pemecah raga, tak seperti namanya pemecah raga jurus pedang ini justru di katakan sebagai jurus pengecoh, karena pecah raga yang di maksudkan adalah raga pedang, lalu tahap ketiga adalah jurus pembelah bumi dan tahap ini adalah titik pusat dari jurus ini.
Siapa saja yang bisa menyatukan ketiga tahap itu maka dia bisa dengan sempurna mengeluarkan jurus pembelah langit, jurus itu mempunyai daya rusak yang cukup besar.
"prok prok prokk"
"kau sangat hebat Alan, padahal kau latihan sendiri tapi bisa semahir ini" ucap Alara antusias.
"he hee terimakasih guru" ucap Alan senang.
"tch begitu saja di puji, memang apa hebatnya?" gerutu Duwan.
"itu sangat hebat Duwan, jurus ini adalah sebuah jurus pedang lembut, setiap gerakannya terlihat indah dan sangat mengecoh lawan, jika pemuda itu bisa menguasai jurus ini maka dia termasuk pendekar muda yang jenius" ucap Rangga.
"benarkah? aku hanya melihat dia seperti menari" remeh Duwan.
"sudah ku bilang gerakannya itu indah dan sangat mengecoh, meski gerakannya terlihat lembut tapi lawannya bisa terluka tanpa sadar"
"hah? sehebat itu?" pekik Duwan.
Setelah beberapa waktu Duwan melihat Alara sangat akrab dengan Alan, pemuda itu sedikit tak suka saat Alara terus memujinya.
"ck kenapa dia tidak bersikap sebaik itu padaku? menyebalkan" gerutunya.
Saat Alara dan Alan sibuk berlatih Duwan dan Rangga justru bersantai ria dengan para harimau, mereka hanya duduk di pinggiran sungai layaknya orang yang tengah bersantai di pinggir pantai.
Ibu dan saudara Kai terlihat langsung akrab dengan Duwan dan Rangga, mereka langsung menyatu layaknya air dalam satu wadah.
Alara meminta waktu untuk menetap di hutan kabut selam satu bulan, dia ingin menyempurnakan jurus pedang tahap 2 milik Alan, meski seluruh gerakannya benar tapi Alan sering kali terlihat ragu dan itu sangat mempengaruhi jurusnya.
Alara tak begitu berharap Alan bisa mempelajari jurus itu sampai tahap 3 karena menguasai sampai tahap 2 juga sudah termasuk sebuah prestasi, terlebih pemuda itu berlatih tanpa guru jadi itu benar benar luar biasa.
"guru apa setelah aku menyempurnakan tahap 2 kau akan pergi lagi?" tanya Alan.
__ADS_1
"benar Alan, aku tak bisa terlalu lama di sini aku memiliki banyak janji yang harus aku penuhi" jawabnya.
"janji pada siapa?" tanya Alan.
"eii bukannya itu kurang sopan?" srobot Duwan.
"ahh maaf maaf" ucap Alan.
"kau juga tak sopan tiba tiba menyrobot pembicaraan orang Duwan" ketus Alara.
"tchh aku memang selalu salah" gerutunya pergi.
"apa apaan laki laki itu?" batin Alara heran.
Alan dengan semangat latihan siang dan malam, pemuda itu tak ingin menyia nyiakan kesempatan selagi Alara mengajarinya secara langsung.
Duwan melakukan hal yang sebaliknya, pemuda itu menggerutu tak jelas sepanjang hari dengan sesekali melempar kerikil ke sungai, sementara Rangga dan para saudara Kai berlomba mencari ikan di sungai.
Setelah waktu berlalu hampir 4 minggu kemampuan Alan meningkat pesat, pemuda itu sudah tak ragu menggerakkan pedangnya seperti sebelumnya, Alara tentu bangga dengan kemampuan muridnya itu.
"aihh aku jadi ingat Damar" gumamnya.
"siapa Damar?"
"plaak .. aww"
"aisshhh dasar bodoh, kau ingin jantungku copot?" ucap Alara kesal.
"haduhh pipiku panas" keluh Duwan.
"salah sendiri mengagetkan begitu" ketusnya.
"heii siapa Damar?" tanya Duwan.
"apa sih? Damar ya Damar" jawabnya.
"tapi siapa dia?"
"kenapa? kau penasaran?" tanya Alara.
"emm, beri tahu aku siapa pemuda itu?"
"pemuda? apa dia pikir Damar seorang laki laki dewasa?" batin Alara.
"untuk apa aku memberi tahumu" ucapnya pergi.
"heii tunggu! siapa Damar? kenapa tak memberi tahuku?" ucap Duwan terus mengejar.
Setelah genap sebulan Alara menetap di hutan kabut Alara dan Rangga bergegas melanjutkan perjalanan ke hutan bambi, jarak kedua hutan itu terbilang tak terlalu jauh, kalau Alara dan Rangga menggunakan kecepatan lari secara penuh maka tak sampai sehari mereka sudah sampai.
Alara meninggalkan Duwan dan Kai bersama Alan dan lainnya, dia tak ingin ada yang tau letak pagar gaib hutan bambu selain manusia serigala.
Awalnya Duwan mati matinya menolak tapi setelah Alara berjanji akan langsung menjemputnya barulah pemuda itu menurut, Kai sendiri tak merasa keberatan karena dia masih merindukan ibu dan saudara saudaranya.
Rangga dan Alara melakukan perjalanan di malam hari, mereka para manusia serigala lebih suka bergerak di malam hari dari pada siang.
Setelah melewati beberapa hutan mereka akan segera tiba di hutan tujuan mereka, hanya saja sebuah perasaan tak nyaman menyelimuti hati hadis itu, firasat atau instingnya merasakan ada bahaya di depan sana tapi gadis itu memilih untuk mengabaikannya.
Saat jarak semakin dekat Alara bisa melihat perubahan ekspresi ayahnya, wajah Rangga terlihat tegang dan berkeringat dingin, gadis itu yakin ayahnya sudah bisa mencium aroma bahaya di depannya.
"ayah! apa kau merasakan sesuatu?" tanya Alara.
"aku merasakan sesuatu yang sangat buruk terjadi di depan sana, jika benar sesuatu yang buruk terjadi kamu harus lari Alara" ucap Rangga.
"lari? apa maksudmu?" tanya Alara.
"aku menciumnya, bau ini sangat ku kenal" ucap Rangga.
"kau ini bicara ap.."
"hhhhh a-apa ini? apa, apaa yang terjadi?"
....bersambung....
__ADS_1
Kira kira apa yang di lihat Alara sampai gadis itu kaget yaaaa????