The Werewolf

The Werewolf
07. Lahirnya malaikat kecil


__ADS_3

Dua minggu setelah pernikahan, Rangga dan Arumi memutuskan untuk kembali berburu, mereka berdua lebih suka berperualang dari pada berdiam diri di rumah.


Sepasang pemburu telah pergi ke arah selatan, mereka berdua juga telah memutuskan meninggalkan desa kelahiran Arumi untuk waktu yang lama, hari hari mereka selalu di kelilingi dengan banyaknya buruan, Rangga yang statusnya sekarang sebagai suami lebih giat dari biasanya.


Selama beberapan bulan lalu berburu bersama Rangga hanya memburu ala kadarnya, dia akan memburu yang gampang di buru, beda lagi dengan sekarang, kalau buruannya lari maka Rangga juga akan berlari mengejarnya.


Arumi yang mendapati suaminya sangat semangat berburu hanya bisa melongo heran


"kesambet apa itu ora? apa dia sekarang terobsesk dengan buruan?" gumam Arumi


Mereka terus berjalan menelusuri hutan, binatang apapun yang melewati mereka berdua maka derik itu juga adalah detik terakhir mereka bernafas.


"mau sampai kapan kamu berburu gila gilaan seperti itu?" tanya Arumi heran.


"gila gilaan bagaimana?" tanya Rangga balik.


"hehh gila gilaan bagaimana? kamu ngga sadar mas, satu minggu kita jalan anak panahku ngga pernah membidik binatang sekalipun, apapun yang lewat di depan kita langsung kamu libas seenaknya, kamu bilang ingin kemampuan memanahku meningkat tapi aku tak di beri kesempatan sekalipun, huh menyebalka..."


"cuup"


Ocehan dari mulut Arumi seketika terhenti saat suaminya menciumnya tiba tiba.


"crewet banget sih" ucap Rangga sambil mengacak rambut istrinya.


Arumi yang mendapat perlakuan semanis itu langsung tersipu dan malu sendiri, dia cengar cengir tak jelas tiap suaminya memperlakukannya dengan manis.


Tak ada lagi Rangga yang dingin dan cuek seperti dulu, sekarang hanya ada Rangga yang berperilaku manis dan lembut di mata Arumi.


"mulai sekarang kita harus berebut memburu mangsa" ucap Rangga.


"kenapa begitu?" tanya Arumi heran.


"anggap saja ini kompetisi" ucap Rangga.


Sesuai dengan instruksi Rangga, Arumi akan membidik apapun yang dia lihat, baik itu kelinci, ayam, rusa atau binatang lainnya, begitu juga Rangga yang tak segan berkejaran dengan binatang yang lolos dari bidikan pisaunya.


Saat mereka melihat seekor rusa di belakang pohon mereka berebut untuk saling mendahului, rusa yang merasa terancam langsung berlari secepat mungkin.


Rangga mengejar tapi kecepatan larinya tak bisa mengimbangi si rusa.


"ggrrr"


Rangga mengejar rusa itu dalam bentuk serigala, setelah beberapa waktu terlewati dengan aksi kejar kejaran, akhirnya si rusa mulai kelelahan, walau larinya tak secepat rusa tapi Rangga memiliki stamina yang bagus, saat mangsa tepat di hadapannya dia langsung menerkam bagian lehernya.


Arumi duduk di bawah pohon menunggu suaminya yang sedang kejar kejaran, hanya selang beberapa menit datang seekor serigala dengan membawa rusa yang ukurannya lumayan besar.


"suamiku yang terbaik" ucap Arumi sambil mengacungkan jempol.


"gggrrrr" (heheee) tawa Rangga malu saat di puji istrinya.


"sampai kapan kamu dalam wujud itu?" tanya Arumi.


"ah iyaaa aku lupa" ucap Rangga setelah tubuhnya kembali ke wujud manusia.


Banyak darah di sekitar bibirnya.


"apa darah binatang enak?" tanya Arumi sambil mengelap bercak darah di wajah dan bibir suaminya.


"coba saja" ucap Rangga sambil mencium bibir istrinya.


Arumi awalnya menolak karena merasa agak jijik dengan darah di bibir suaminya, tapi suminya itu tak membiarkan bibir Arumi terlepas darinya, tangannya memegang erat kepala Arumi seakan memaksakan Arumi merasakan sensasi yang baru.


"bagaimana?" tanya Rangga.


"apa?" ucap Arumi kesal.


"rasanya ciuman sambil menikmati darah segar" bisik Rangga.


"plaak" .. "menyebalkan" ucap Arumi setelah memukul bahu suaminya.


"ahahaa lucu sekali istriku ini" ucap Rangga sambil mendekap istrinya.


Arumi kembali tersipu mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"ohya sebenarnya kita ini mau ke mana mas?" tanya Arumi penasaran.


"ke suatu tempat yang jauh" jawab Rangga.


"apa tempat itu sangat sangat jauh?" tanya Arumi lagi.


"hmm kenapa, apa kamu tidak suka bepergian ke tempat jauh bersamaku" tanya Rangga balik.


"heii bukan begitu, dulu berbulan bulan aku mengikutimu aku tak pernah protes padamu, padahal waktu itu kamu bukan siapa siapaku, aku hanya penasaran kemana tujuan kita sebenarnya" jawab Arumi


"bertemu keluargaku" jawab Rangga tersenyum.


"keluargamu? sungguh?" tanya Arumi antusias.


"hmm, aku akan mengenalkanmu pada keluarga besarku" ucap Rangga bangga.


"tapi .. apa tidak apa apa?" tanya Arumi murung.


"kenapa?"


"aku kan manusia" jawab Arumi pelan.


"leluhurku dulu juga ada seorang manusia, ku rasa itu takkan masalah" jawab Rangga meyakinkan.


"sungguh?" mata Arumi berbinar.


"hmmm" anggukan Rangga.


"siapa?"


"apanya?" tanya Rangga heran.


"leluhurmu siapa yang seorang manusia?" tanya Arumi penasaran.


"neneknya kakek dari neneknya nenekku, hmmm apa yah sebutannya?" gumam Rangga.


"nenek kakek dari nenek nenek bagaimana?" tanya Arumi bingung.


"jadi begini aku mempunyai seorang nenek, dan nenekku punya nenek, trus neneknya punya seorang kakek, dari sini paham?" ucap Rangga.


"nah kakek dari neneknya nenekku itu adalah cucu dari seorang manusia" ucap Rangga lagi.


"aku tak mengerti" ucap Arumi frustasi.


"ahh intinya nenek leluhurku sekitar 700 tahun lalu adalah manusia, dia adalah seorang wanita sakti yang menikah dengan manusia serigala" terangnya lagi.


"jadi intinya di darahmu juga mengalir darah manusia, apa itu salah satu alasan keluargamu tak pernah meminum darah manusia?" tanya Arumi.


"yaa bisa di katakan begitu, tapi alasan utamanya karena kami berusaha menjaga akal kami" jawabnya.


"menjaga akal?" tanya Arumi dengan raut bingung.


"iya , manusia serigala yang sudah pernah merasakan darah manusia tanpa sadar dia akan terus menginginkan darah manusia, dan jika dia terus memangsa manusia maka perlahan akalnya akan hilang, dia masih manusia serigala tapi akalnya hanya seperti serigala biasa" terang Rangga.


"ohh begitu" gumam Arumi.


"mau makan daging rusa?" tanya Rangga.


"emmm" jawab Arumi mengangguk.


"ayo kita bakar di dekat sungai" ajak Rangga.


Setelah hampir dua bulan keluar masuk hutan Rangga memutuskan untuk menetap sementara di sebuah desa di kaki bukit, bukan tanpa alasan dia menunda perjalannya, saat ini Arumi sedang mengandung buah cintanya, jadi dia tak ingin istrinya kelelahan karena terlalu jauh menempuh perjalanan.


Awalnya Arumi menolak karena merasa mampu melanjutkan perjalanan, tapi ternyata Arumi jatuh pingsan beberapa saat setelahnya.


Rangga menyewa rumah berukuran kecil yang cukup sederhana, istrinya tak ingin tinggal di rumah yang besar, setiap hari Rangga akan berburu di hutan dekat rumahnya dan Arumi di haruskan berdiam diri di rumah.


Desa tempat mereka tinggal sebenarnya adalah desa yang lumayan besar, tapi karena mayoritas penduduknya adalah pedagang maka desanya terasa sepi, para penduduk sering meninggalkan desa untuk berdagang di daerah perkotaan, mereka akan pulang sebulan sekali dan hanya beberapa hari di rumah.


Arumi sering merasa kesepian karena tak ada yang bisa di ajak ngobrol saat suaminya pergi berburu, dia hanya ngoceh pada bayi di perutnya sepanjang hari.


Lambat laun perut Arumi kian membesar, Rangga sudah mencari tempat persiapan untuk Arumi melahirkan, Arumi tak bisa melahirkan di rumah karena mereka tak tau anaknya akan terlahir dalam bentuk bayi manusia atau serigala, jadi mereka memutuskan akan melahirkan di tempat yang jauh dari rumah.

__ADS_1


Saat perut Arumi sudah mulai merasakan kontraksi Rangga mengajaknya berjalan perlahan memasuki hutan, Rangga menuntun istrinya sambil membawa beberapa kain bersamanya.


Mereka beberapa kali istirahat saat Arumi nampak kelelahan, tapi saat ketuban Arumi sudah pecah Rangga langsung menggendongnya ke arah goa yang sudah dia persiapkan beberapa minggu lalu.


Rangga merebahkan tubuh Arumi di atas sebuah batu yang sudah di beri tumpukan rumput kering dan di lapisi sebuah kain, keringat membanjiri seluruh tubuh Arumi, wajahnya nampak pucat dan nafasnya putus putus.


"sa-kit" keluh Arumi pelan.


"sabar sayang, kamu pasti kuat" ucap Rangga menguatkan istrinya.


Sebenarnya Rangga sangat panik karena ini pengalaman pertamanya, selama hidupnya dia jarang bersosialisasi tapi kali ini dia di haruskan turun tangan membantu istrinya melahirkan.


Teriakkan kesakitan Arumi memenuhi setiap sudut goa, peluh juga membanjiri pelipis Rangga kali ini, di satu sisi dia tak tega melihat istrinya terus mengerang kesakitan, tapi di sisi lain kasakitan itu memang harus di lewati oleh istrinya.


"tenang lah sayang, kamu harus kuat, demi aku dan anak kita" ucap Rangga sambil mengelus rambut istrinya.


Setelah berjam jam melalui perjuangan antara hidup dan mati, suara tangisan seorang bayi menghadirkan kelegaan bagi sepasang suami istri itu, kelahiran bayi mungil itu di saksikan oleh gelapnya malam dan puluhan kunang kunang di sekelilingnya.



Remang cahaya dari para kunang kunang seakan memberi satu kesan hangat bagi keluarga kecil itu, mereka seolah menyambut lahirnya malaikat kecil di sebuah hutan yang sunyi.


"dia seorang putri" ucap Rangga pelan.


Rangga meletakkan bayi kecil itu di dekapan ibunya, air mata bahagia ikut hadir bersama senyum yang mengembang di bibir mereka, mereka tak bisa menggambarkan kebahagiaannya saat ini.


Arumi duduk sambil di tumpu oleh tubuh suaminya, dia membelai tiap bagian tubuh putrinya, pipinya, hidungnya, bibirnya, kaki dan tangannya seakan dia tak ingin melewatkan satu inci pun dari tubuh putrinya.


Rambut tipisnya tampak selaras dengan warna alis dan bulu matanya.


"rambutnya putih?" tanya Arumi pada Rangga.


"ehe he dia mewarisi hampir 80% diriku" ucap Rangga cengengesan sekaligus bangga.


"cantik sekali" senyum terus merekah di bibir Arumi.


"kalau 80% dia mengikutimu lalu bagaimana denganku?" tanya Arumi lagi.


"tak ada"


"apa? lalu yang 20%?" tanya Arumi heran.


"20% dari dirinya mewarisi gen nenek leluhurku" jawab Rangga bangga.


"leluhurmu? apa yang dia warisi?"


"mata hijau, matanya berwarna hijau" singkat Rangga.


"oh benarkah? tapi matamu berwarna coklat" ucap Arumi.


"kau ingat cerita tentang leluhur manusiaku?" tanya Rangga "nenek leluhurku itu adalah seorang manusia albino, kulit dan rambutnya berwarna putih dan matanya berwarna biru" terang Rangga.


"aku yakin putri kita akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik" ucapnya sambil membelai kepala putrinya.


"aku tak terlalu mementingkan fisiknya, aku berharap putri kita mewarisi 100% sifatmu" ucap Rangga lagi.


"kenapa begitu?" ucap Arumi heran.


"sifat sepertimu itu benar benar menyenangkan" terang Rangga "aku harus melakukan sesuatu untuk putri kita" lanjutnya.


Rangga menggigit jarinya dan meneteskan darahnya pada bibir putrinya.


"kenapa kau lakukan itu?" tanya Arumi panik.


"tak apa, ini adalah sesuatu kaharusan yang harus di lakukan setiap ayah" terang Rangga.


"boleh ku tau apa alasannya?" tanya Arumi lagi.


"setiap bayi yang baru lahir masih belum mampu mengendalikan perubahan tubuh dan kekuatan fisiknya, aku melakukan ini untuk membantunya mengontrol sekaligus menekan kekuatan fisik yang di warisinya dari genku" jelas Rangga "setelah ini lihatlah tubuh putri kita dalam bentuk lain" sambungnya lagi.


Dan benar saja setelah beberapa saat tubuh putrinya berubah ke bentuk serigala kecil, terdengar geraman kecil dari bibir mungilnya.


Malam ini adalah malam paling membahagiakan dalam hidup mereka.

__ADS_1


......bersambung.....


__ADS_2