
"maafkan putraku, dia memang sangat cerewet" ucap ibunya saat melangkah datang.
"tak apa bibi, aku senang karena ada teman bicara" ucap Alara ramah.
"sebentar lagi dagingnya akan matang, kami sedang menunggu para lelaki kembali, apa tidak apa apa menunggu sebentar lagi?" ucap si ibu ragu.
"itu bukan masalah untukku"
"baiklah aku permisi dulu" ucapnya.
Alara kembali ngobrol dengan Damar, bocah itu sangat antusias mengajukan berbagai pertanyaan pada Alara, dan Alara juga dengan senang hati menjawabnya.
Alara yang selama belasan tahun hanya mengobrol dengak kakeknya, tentu saja merasa senang bisa dapat kesempatan berbicara dengan orang lain.
Tak lama setelah langit sudah petang, terlihat rombongan beberapa lelaki datang dari arah hutan, raut wajah mereka terlihat murung karena pulang tanpa hasil buruan.
Terlihat Damar lari mendekat ke arah rombongan tersebut, dia girang menyambut kepulangan ayahnya.
"ayah ayo kita makan daging bakar" ajaknya.
Mata lelaki yang di panggil ayah oleh Damar terlihat berkaca kaca mendengar ucapan putranya, tak jauh berbeda dengan orang orang yang di belakangnya.
"nak kamu sabar yah, hari ini kita belum bisa dapat buruan" ucapnya pelan.
"enggak yah, tadi ibu udah masak daging rusa yang besar banget pemberian dari kakak Alara" ucapnya antusias.
"siapa kakak Alara?" tanya ayahnya bingung.
"makanya ayo ayah dan paman paman kesana, nanti aku kenalkan pada kak Alara" ajaknya sambil menarik tangan ayahnya.
Wajah rombongan yang gagal mendapatkan buruan terlihat sumringah saat melihat seekor rusa bakar yang sudah siap di santap.
Mereka segera berkumpul menjadi satu bersama ibu dan anak anak, mereka juga bertanya tanya seperti apa sosok yang di panggil Alara oleh Damar.
Tidak lama setelahnya, terlihat Damar berjalan ke arah mereka dengan menggandeng seseorang yang menggunakan jubah besar, raut wajah mereka terlihat bingung saat melihat pakaian Alara yang terlalu tertutup.
"ayah dan paman paman ini kak Alara, orang yang sudah memberikan rusa itu pada kita" tuturnya senang.
Alara menunduk hormat saat Damar memperkenalkan dirinya dengan bangga, orang orang juga tampak menyambutnya dengan bahagia walau mereka masih heran kenapa Alara mengenakan jubah sebesar itu.
"nak Alara terima kasih banyak sudah memberi kami rusa ini, kami hampir putus asa karena sangat sulit mendapat buruan" ucap seseoarang yang nampak paling tua.
"sama sama paman" jawabnya singkat.
Semua orang nampak sangat menikmati daging bakar yang sangat nikmat ini, mereka juga terlihat bercengkrama dan tertawa, para anak anak juga makan dengan sangat lahapnya.
Arumi juga biasanya makan dengan sangat lahap, dia bahkan mampu menghabiskan setengah ekor rusa sendirian, kakek Arung juga sangat heran di buatnya, tapi berbeda dengan sekarang, Arumi hanya makan beberapa suap saja karena terlalu asik memandang kebahagiaan di depannya.
Selesai makan mereka kembali bersama sama membersihkan sisa makanan, Alara kembali masuk ke rumah Damar, sebenarnya dia tak ingin menginap tapi Damar terus merengek memintanya menginap semalam saja di rumahnya.
Mereka terus ngobrol sampai larut malam, bahkan Damar sampai tidur di pangkuan ibunya karena enggan melewatkan obrolan dangan Alara.
Dari obrolannya Alara baru tau kalau orang orang di sini sebenarnya berasal dari desa yang lumayan besar jauh dari sini, beberapa bulan lalu desa mereka di serang dan di rebut oleh sekelompok perampok.
Orang orang yang mayoritas hanya seorang petani tentu saja tak mampu memberi perlawanan, banyak dari mereka yang menjadi korban kekejian kelompok perampok itu.
Dan orang di sini adalah sisa warga yang berhasil selamat dan melarikan diri, hanya ada sekitar 30 orang dewasa, 6 anak anak dan beberapa lansia.
Paginya Alara menunda kepergiannya dan berniat mengajak orang orang di sini untuk berburu bersamanya, dan tentu saja rencananya di sambut dengan baik oleh mereka.
Alara pergi bersama 5 orang saat sudah menjelang siang, mereka pergi ke arah barat, hutan di sana terlihat sangat jelas belum pernah di jamah manusia.
"apa tidak apa apa kita berburu di sana nona?" tanya ayah Damar.
__ADS_1
"tidak apa apa paman, semakin lebat hutannya semakin banyak binatang buruan yang bisa kita dapat" jawab Alara.
"bagaimana kalau di sana ada banyak binatang buas?" tanya seseorang.
"kalian tak perlu khawatir, aku akan melindungi kalian" ucapnya menenangkan.
"kau akan melindungi kami? ha ha ha jangan bercanda nona, walaupun kemarin kau memberikan seekor rusa pada kami bukan berarti kau bisa berbicara seenaknya begitu, jangan membual dengan sok melindungi, lihat saja tubuhmu bahkan hanya separuh dari tubuhku" ejek lelaki bertubuh paling besar tak percaya.
"aku bukan seorang pembual" ucapnya sambil berhenti tiba tiba.
"sudah nona, jangan terlalu di dengarkan, dia memang begitu" ucap ayah Damar menenangkan.
Setelah sekitar 3 jam berjalan mereka mulai masuk ke tengah hutan, cahaya di sini sangat minim walau masih siang, Alara membiarkan orang bertubuh besar tadi jalan memimpin.
Terlihat ada seekor rusa bersama 2 anaknya yang masih terlihat kecil, lelaki besar itu dengan PD'nya melembar tombak ke arah induk rusa.
"wussshhh, zleep" mata tombak menancap di batang pohon dekat si rusa.
Karena merasa terancam induk rusa dan anaknya berlari pergi, laki laki tadi berlari mengambil tombak dan berencana mengejar.
"tak usah di kejar paman, tubuh besarmu takkan sanggup mengimbangi kecepatan larinya" ucap Alara.
Lelaki tersebut nampak menunjukan raut wajah kesal, jelas ucapan Alara adalah ejekan untuknya.
Mereka berenam terus melangakah masuk ke dalam, terlihat banyak sekali burung bertengger di ranting pepohonan, ada juga beberapa ular yang tengah merayap di sekitarnya.
Tiba tiba telinga Alara mendengar suara di balik semak tak jauh darinya.
"husstt jangan bergerak" ucap Alara tiba tiba.
Mereka semua langsung diam di tempat mendengar ucapan Alara, gadis itu sedikit menyingkapkan tutup kepalanya dan memicingkan mata ke arah semak sumber suara tadi.
Alara memejamkan satu matanya dan mengarahkan anak panahnya ke arah semak tadi, dengan konsentrasi penuh Alara melesatkan anak panah dan
"ahh si*al salah sasaran, samuanya cepat naik pohon" perintah Alara tiba tiba.
Tanpa banyak tanya mereka langsung berlari ke arah pohon terdekat.
"grooook groookkkk braakkk"
Seekor b*bi hutan berukuran besar yang matanya tertancap panah berlari menabrak salah satu pohon yang di naiki orang bertubuh besar, Alara hanya melangkah minggir dan loncat ke arah batu.
"apa yang kau lakukan? kau mau mati?" tanya seseorang.
"kau bilang akan melindungi kami, sekarang bagaimana? kau memang hanya membual" ucap lelaki bertubuh besar.
"diam! kau sangat cerewet" ucap Alara kesal.
"heh b*bi berbadan besar tak punya otak, ayo lawan aku" tantang Alara.
Entah kenapa kata kata Alara terasa bagai sindiran untuk laki laki tadi, Alara kembali melepaskan anak panahnya saat binatang itu lari mendekatinya.
"wusshhh jlep" anak panak kembali tertancap di mata satunya.
Si b*bi hutan sangat marah karena sekarang tak bisa melihat apapun, dia menabrak apapun di depannya untuk malampiaskan kekesalannya.
Alara hanya mengamati dari atas batu tempatnya berpijak.
"hoyy bodooh! aku di sini" seru Alara.
Setelah mendengar suara Alara si babi langsung lari ke arah sumber suara, binatang tersebut seolah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menabrak si pemilik suara tadi.
"groookk buaaaakkkkkk"
__ADS_1
Binatang tadi langsung terkapar setelah menabrak batu yang di pijak Alara, dia melompat ke samping b*bi hutan tadi dan mencabut dua anak panahnya.
Orang orang yang tadi naik pohon kembali turun setelah binatang itu mati, semuanya bersorak soray karena Alara sudah melumpuhkan binatang buas itu.
"kau benar benar hebat nona" puji orang orang itu.
"kemampuan seseorang tak bisa di ukur dari fisiknya paman, tapi juga ininya" ucapnya menunjuk kepala.
Alara sengaja berkata demikian agar orang di sekitarnya tak menilainya sembarangan, walau sebenarnya kekuatan Alara sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan binatang tadi dengan satu pukulan.
Mereka kembali mengikuti Alara mengelilingi hutan, berburu tak sampai 2 jam mereka sudah berhasil membawa 1 ekor b*bi hutan, 3 ekor rusa dan beberapa ayam hutan yang sengaja di tangkap hidup.
Dua orang bersama sama memikul b*bi, tiga orang membawa rusa masing masing satu, dan Alara membawa 4 ekor ayam hutan di tangannya.
Sepanjang jalan senyuman terus mengembang di bibir mereka, seolah hari ini adalah hari keberuntungan, sesampainya di pemukiman semua orang meyambut dengan gembira karena ini merupakan perburuan terhebat menurut mereka.
Malam ini mereka benar benar akan makan besar, seluruh orang sibuk menguliti dan mengolah binatang yang di buru, Alara juga menyarankan agar b*bi dan seekor rusa di jual ke rumah makan di desa terdekat dan 5 orang tadi langsung bergegas pergi sebelum gelap.
Saat makan bersama Alara meyarankan orang orang yang berburu belajar memanah agar lebih memudahkan mereka melumpuhkan buruannya,
sebenarnya bukan masalah kalau mereka berburu menggunakan tombak, hanya saja panah akan jauh lebih efektif baik dari segi kecepatan juga ketepatannya.
Paginya, ayah Damar dan dua orang temannya hendak pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli busur dan anak panah sesuai usulan Alara, sebelum mereka pergi Alara meminta tolong untuk di belikan pakaian pria untuknya, tanpa banyak tanya ayah Damar menyanggupinya.
"ini paman uangnya" ucapnya dengan menyerahkan kantong uang miliknya.
"tidak perlu nona, uang hasil buruan kemarin sudah lebih dari cukup untuk membeli busur dan pakaianmu" ucap ayah Damar menolak.
"apa paman menolakku? aku bisa marah lho saat dapat penolakkan" ucap Alara mengancam.
"a ahh tidak! bukan begitu ..."
"sudahlah paman terima ini dan segera kembali" ucap Alara sembari berlalu.
"ahh gadis itu baik sekali, padahal uang buruan kemarin memang benar benar cukup banyak" batinnya.
Butuh waktu sekitar hari ayah Damar dan rekannya sudah kembali dengan membawa beberapa busur, anak panah dan 2 setel baju yang di pesan Alara.
Alara segera berganti pakaian, sejak semalam dia memutuskan untuk menggunakan pakaian pria untuk memperbebas geraknya, selesai berganti dan saat hendak memakai jubahnya tiba tiba saja Damar menerobos masuk ke ruangan yang di pakainya.
"ohh rambut kakak" ucapnya kaget.
"Damar! sejak kapan kamu di situ?" tanya Alara panik, dia segera mengenakan jubahnya dan jalan mendekati Damar.
"Maaf aku tidak sopan" ucapnya tertunduk.
"kakak tanya apa yang kamu lihat?" tanya Alara semakin panik.
Pikirnya jika warga di sini mengetahui identitasnya dia akan langsung pergi dari sini.
"i-ituu rambut kakak berwarna putih"
"deggg ... aku harus pergi sekarang juga" batinnya dan langsung berdiri.
Saat hendak keluar dan melangkah pergi tangan kecil Damar menggenggam erat tangannya.
"kakak mau kemana? kakak marah padaku?" tanyanya polos.
"kakak harus pergi dari sini, kakak tidak bisa di sini lagi" ucapnya langsung pergi melangkah setelah mengambil seluruh barangnya.
....bersambung....
semoga terhibur☺️
__ADS_1