The Werewolf

The Werewolf
35. Bonus Visual


__ADS_3

"ayo Ra kita keluar" ajak Duwan.


"aku belum selesai" jawabnya terus mengunyah.


"ya ampun pemuda ini mengabaikanku" ucap pemuda itu.


"apa anda mengenalnya?" tanya seseorang yang sejak tadi sudah duduk di meja sebelah rombongan Alara.


"hahaa aku rasa suaranya sangat familiar tuan Roin, sebelum itu aku mohon maaf akan sedikit berisik" jawabnya.


"grep .. heh kau pikir aku tak mengenalmu?" ucapnya menjambak rambut.


"ahkk lepaskan aku kak" ucapnya.


"lepas? kau pikir aku akan menghilangkan kesempatan mendapat hadiah lima ribu keping emas jika membawa pulang kepalamu" ucapnya.


"apa? lima ribu keping emas?" ucap Alara.


"kau diam saja di situ nona, ini urusanku dengan buronan keluarga Sanjaya" jawabnya.


"ohh jadi kau dari keluarga Sanjaya, kebetulan sekali tadi makanku sangat banyak, aku perlu olah raga sedikit" ucapnya.


"ha haaa lihat gadis kecil ini tuan, sepertinya kalau di jual harganya lumayan tinggi" ucap pemuda tersebut.


"apa maksudmu kak?" tanya Duwan.


"heh apa gadis itu kekasihmu?" ucapnya congkak.


"kalau kakak mau menangkapku ya tangkap saja, tapi jangan libatkan temanku" ucap Duwan.


"ohh hanya teman, tidak masalah dong kalau gadis itu aku jual" ucapnya.


"brakkk"


"jual jual, omong kosong apa itu?" ucap Rangga.


"ohh suaranya berat, sepertinya anda ini orang tua yah" ucap pemuda itu lagi.


"uhh tuan Rangga cepat bawa Alara pergi, biar kak Jeno aku yang menahan" keluhnya karena rambutnya masih di jambak.


"ohh namamu Jeno, kau ini laki laki tapi mainnya jambak jambakkan, aku saja yang wanita mainnya tinju loh" ejek Alara.


"bedeb*h kau menghinaku gadis jal*ng" ucapnya kesal.


"greep .. tuan cepat bawa Alara lari" ucap Duwan.


"heh kau ini lucu sekali, kau pikir di luar tak ada pengawal? heiii jaga pintu keluar!" perintahnya.


"uhh Duwan apa dia keluarga inti Sanjaya?" tanya Alara.


"i-iya"


"wahh buruan yang menarik, apa harga kepalanya bisa sampai sepuluh ribu?" tanya Alara.


"jaga bicaramu dasar jal*ng" bentaknya.


"plaakkk .. ahhk"


"jal*ng jal*ng! kapan kau pernah melihatku menjual diri?" tanya Alara setelah menampar.


"dasar jal*ng gila, tangkap gadis itu dan jual ke rumah bordil" perintahnya.


"bedeb*h, beraninya kau melakukan itu pada putriku" ucap Rangga tak tahan.


"aahhh benar juga, ayahh putrimu di hina begini apa kamu mau diam saja?" tanya Alara.


"a-ayah? tadi dia menyebutku ayah?" batinnya tak percaya.


"aku tidak tau apa urusanmu dengan laki laki kurang ajar ini Duwan, tapi aku sungguh ingin membunuhnya" ucapnya geram.


"membunuhku? hahaa jangan gila kau paman, kau pikir mudah menghabisi cucu dari keluarga bangsawan sepertiku?" ucap Jeno makin congkak.


"apa peduliku, mau bangsawan atau anak raja sekalipun jika itu kamu maka dengan senang hati aku cabik cabik" jawabnya.


"hahaa apa kau habis minum paman? sepertinya kau mabuk" ucapnya.


"wughh .. buakk .. ahk" pekiknya setelah tinju Rangga bersarang di perutnya.


Seketika itu juga kondisi restoran langsung ricuh, para tamu langsung berlarian keluar karena tak ingin terlibat, apalagi mereka dengan bahwa salah satu biang onar adalah keluarga Sanjaya, keluarga bangsawan terbesar ke 6 di negeri ini.


Para pengawal yang tadinya berjaga di luar langsung berlari masuk, tamu dan pengawal yang akan bertemu dengan Jeno menyingkir ke samping karena tak mau terkena tinju nyasar.


"hiaaat" serang seorang pengawal.


"hiyaa .. buak buak .. bruukk"


Alara dan Duwan menyaksikan Rangga bertarung dengan beberapa pengawal, meski di kroyok tapi kemampuan Rangga bukan tandingan mereka, tentu saja semua itu karena Rangga sudah berpengalaman bertarung dengan para serigala hilang akal yang notabenya bertarung meggunakan insting.

__ADS_1


"tuan apa kau takkan membantuku?" tanya Jeno pada Roin.


"bukankah ini masalah keluarga?"


"ohh bukan bukan, dia itu sekarang berstatus buronan" ucapnya.


Pertarungan yang awalnya di kuasai oleh Rangga langsung berubah saat dua pengawal Roin bergabung, kekuatan mereka mungkin berada di tingkat bumi tahap 8 sedangkan Rangga berada di tingkat bumi tahap 9.


Tingkatan kekuatan terbagi menjadi 4 bagian.


tingkat dasar adalah tingkatan terendah yang memiliki 10 tahap,


tingkat bumi adalah tingkatan pendekar yang di katakan cukup mahir yang juga memiliki 10 tahap,


tingkat awan adalah tingkat kekuatan yang biasanya di capai oleh para tetua di sebuah sekte yang juga sama memiliki 10 tahap sedangkan tertinggi,


tingkat langit yang hanya ada 5 tahap saja, itupun hanya ada kurang dari 10 orang di kerajaan ini yang mencapainya.


Dikatakan ada satu tingkatan lagi yaitu tingkat semesta yang di percaya siapapun bisa menguasainya maka bisa hidup abadi, dan selama ratusan tahun hanya ada satu orang yang mencapainya dulu.


Semakin lama Rangga semakin terdesak, dua pengawal itu terus menggabungkan serangan beruntun yang mebuatnya kewalahan.


"bukk braak" satu serangan mengenainya telak.


Saat terjatuh jubahnya tersingkap dan menampakn rambut putihnya yang tersembunyi.


"si*l apa dia hanya seorang kakek tua" ucap kedua pengawal tersebut.


"paman kau tak papa?" tanya Duwan membantunya.


"tidak apa, kau tenang saja" jawabnya.


"huhh bawa dia mundur, biar mereka berdua jadi urusanku" ucap Alara.


"jangan sampai hilang kendali" ucap Duwan.


Alara berjalan mengambil pedang pengawal yang sudah di kalahkan oleh Rangga, gadis itu sedikit menggerakan tangannya untuk menyesuaikan diri.


"duh tanganku kaku sekali" keluhnya.


"heh tunggu apa kalian? cepat ringkus gadis kecil itu" perintah Roin.


"klaang .. pedang ini jelek" ucapnya melempar pedang.


"ayo maju" tantang Alara.


"crass .. ahk" teriak seseorang.


"hmmm ayo maju lagi"


"sial*n gadis itu punya senjata di tangannya"


"hiyaaaa .. trang" benturan pedang dan sebuah belati terus beradu.


Alara bergerak lincah menghindari tebasan pedang dan sesekali menghalaunya dengan belati di tangannya, gerakannya sangat terlatih seolah sudah biasa bertarung.


Rangga menatap takjub putrinya yang sama sekali terlihat tak kesulitan, dan lawannya juga terlihat sangat serius melawannya, mereka berdua sadar gadis di depannya tak bisa di remehkan lagi.


"apa dia sering bertarung?" tanya Rangga.


"emm yaa bisa di katakan dia maniak bertarung hehe" jawabnya.


"kamu sendiri?"


"eihh kemampuanku tak bisa di harapkan" jawabnya jujur.


"yang benar saja, apa dia tak mengajarimu bertarung?"


"sudah, tapi aku benar benar tak berbakat, jadi dia cuma mengajariku kabur hehe"


"apa kabur harus di ajari?"


"yaa sebenarnya aku sudah terbiasa kabur tapi aku selalu terluka parah, jadi dia melatihku agar bisa kabur tanpa terluka" jawabnya malu.


"ahh begitu"


Mereka berdua kembali melihat pertarungan Alara dan dua pengawal itu, restoran sudah kosong bahkan pemiliknya pun entah kemana perginya.


"jraass .. jrass .. ahk" belati di tangan Alara berhasil mengenai dada pengawal yang sebelumnya terluka.


Pengawal tersebut jatuh terkapar, lukanya kali ini cukup dalam sampai membuatnya kesulitan berdiri.


"sekarang ayo kita main berdua" ucap Alara.


"prang .. ampuni aku nona" ucap lelaki itu.


"hehh yang benar saja, aku bahkan baru pemanasan" ucapnya kesal.

__ADS_1


"hey apa yang kau lakukan?" teriak Roin.


"m-maaf tuan, tapi nona ini dari tadi tak bertarung sungguh sungguh, dia hanya bermain main saja, lebih baik kita mundur dari pada nanti tuan muda celaka" ucapnya.


"gawat, aku tak boleh mati konyol karena anak itu" batin Roin.


"ya sudah, maaf sepertinya bisnis kita di tunda dulu, aku pergi, ayoo ajaknya pada pengawal.


a-apa?" pekik Jeno.


"hmm sepertinya sekarang giliranku bermain denganmu" ucap Alara mendekati Jeno.


"j-jangan mendekat" ucapnya panik.


"heii aku hanya mengajakmu main, kenap takut begitu?" ucapnya lagi.


"m-maafkan aku nona, aku bersalah aku bersalah" ucapnya memohon.


"hmm itu tergantung seberapa banyak uang yang kamu bawa" ucapnya.


"hei ambilkan uang di kereta" teriaknya pada prajuritnya.


"wahh putra bangsawan memang pintar, haha" tawanya.


"apa dia selalu begitu?" tanya Rangga melongo.


"ini kedua kalinya" jawab Duwan.



1. Rangga Permana


ciri fisik : rambut panjang berwarna putih


berwajah tegas dan tampan


tinggi : 178 cm


berat : 60 kg


sifat : dingin, mudah marah, penyayang



2. Arumi Rinjani


ciri fisik : rambut hitam panjang


berwajah manis


tinggi : 157 cm


berat : 46 kg


sifat : ramah, penyayang, ceria, crewet



3. Alara


ciri fisik : rambut putih dan panjang, berwajah cantik tapi terkesan judes dan memiliki tanda lahir di kening


tinggi : 160 cm


berat : 44 kg


sifat : mudah marah, bermulut tajam, suka


memerintah tapi baik hati



4. Duwan Sanjaya


ciri fisik : berambut hitam berwajah manis juga tampan


tinggi : 180 cm


berat : 60 kg


sifat : ramah, baik, ceria, mudah bergaul dan


bersosialisasi


Author sengaja cari visual Alara dan Rangga dengan kulit putih dan halus karena mereka turunan albino, jadi jangan protes kalo mereka berdua bening banget yak, kalo ngga suka boleh lah bayangin yang laen


Maaf kalo visualnya kurang sesuai ekspetasi yah,

__ADS_1


__ADS_2