The Werewolf

The Werewolf
16. Kemarahan Iblis


__ADS_3

Alara berjalan menyusuri hutan mencari keberadaan kakak Duwan sesuai petunjuknya, dia menemukan kereta kuda dan beberapa mayat pendekar di sekitarnya.


Gadis itu mencari wanita dengan ciri ciri yang di sebutkan pemuda yang di tolongnya, tapi sudah mencari ke setiap sudut sisi dia tak menemukannya.


Alara berniat kembali ke goa, gadis itu berpikir kakak Duwan sepertinya selamat dan sudah pergi ke tempat lain yang lebih aman, tapi saat berjalan hidungnya mencium aroma bunga bercampur darah yang sama persis seperti aroma bunga di kereta.


Tanpa pikir panjang gadis itu terus mengendus dan mengikuti aroma itu, kalau benar dugaannya kemungkinan si pemilik aroma ini adalah kakak Duwan.


Duwan menyebutkan beberapa ciri ciri kakaknya, salah satunya kakaknya sangat suka bunga, dan tubuhnya selalu beraroma wangi bunga.


Penciuman dan pendengaran Alara bahkan berkali lipat lebih peka di banding manusia serigala lain, dan itu benar benar membantunya melacak sesuatu.


Setelah berjalan jauh sekitar beberapa kilo meter, Alara melihat sebuah gubuk reyot dengan beberapa lelaki di sekitarnya, dia agak ragu bagaimana bisa aroma itu berasal dari sana.


Dia melompat ke pohon dan berniat mengawasi dari atas, matanya memicing tajam melihat ke bagian dalam gubuk lewat sebuah lubang di atasnya, karena merasa tak puas dengan apa yang di lihat, dia berniat pindah ke pohon yang lebih dekat.


Baru saja hendak turun dia melihat seorang pria berwajah buruk keluar sambil tertawa tawa, orang orang yang di luar tampak menunduk menghormatinya, Alara yakin lelaki itu adalah pimpinan mereka


Setelah lelaki itu pergi dan di ikuti bawahannya Alara segera berlari mendekat ke arah gubuk, benar saja aroma bunga tercium semakin kuat dari dalam sana.


Gadis itu melangkah ragu saat firasatnya merasakan sesuatuyang buruk, entah bagaimana banyak bayang bayang mengerikan yang muncul di pikirannya.


Matanya terbelalak, jantungnya berdegup sangat kencang, nafasnya tercekat, tubuhnya juga bergetar hebat, tanpa sadar tubuhnya ambruk dan jatuh berlutut karena kakinya mendadak lemas.


Tepat di depan matanya dia melihat tubuh seorang wanita dengan keadaan sangat mengenaskan, kaki dan tangannya di ikat terlentang, tubuhnya penuh luka membiru dan beberapa sayatan di tangannya, terlihat juga luka tebasan di area lehernya.


Hal yang semakin menyahat hati Alara adalah, wanita itu dalam keadaan tel*njang dan luka di area area sensitifnya, rambutnya juga terlihat pitak seperti di jambak sampai rontok.


Dengan merangkak dan perasaan berkecamuk Alara mendekati tubuh itu, matanya beberapa kali terpejam karena tak tahan dengan pemandangan di depannya.


Di bukanya seluruh ikatan di tangan dan kaki wanita itu, lalu dia tutupi tubuhnya dengan kain bekas pakaiannya yang sudah compang camping, walau Alara tak mengenal sama sekali wanita di depannya, hatinya sangat terasa panas.


Seperti ada kobaran api dan angin besar di dadanya, sudah jelas di pastikan wanita di depannya mati mengenaskan setelah di lecehkan.


Mata hijaunya sekilas mengkilat setelah air matanya terjatuh, bagai panah yang melesat dari busur dia berlari mengejar para lelaki berkelakuan iblis di depannya.


Terlihat rombongan lelaki yang sedang berbunga bunga setelah melakukan kekejian itu, tiba tiba saja salah satu di antaranya kepalanya jatuh menggelinding setelah ada terpaan angin di sekitarnya.


Terlihat seorang gadis dengan rambut panjang berwarna putih berdiri di depan rombongan itu setelah jubah besar yang menutupi kepalanya terbuka, sorot matanya tajam layaknya binatang buas yang siap menerkam.


"b*jingan! beraninya wanita sepertimu menantangku" teriak seseorang yang tadi keluar gubuk.


"siapa yang melakukan itu?" tanya gadis tersebut.


"bicara apa kau? serang wanita itu!" perintah pimpinannya.


Sembilan orang bawahannya langsung menyerang Alara dengan pedang yang siap mengoyak tubuhnya, sedikitpun gadis itu tak bergerak seakan siap menerima serangan itu.


Kedua tangan yang sudah mengeluarkan cakar panjangnya, tangan itu langsung manyambut kedatangan orang orang yang mengeroyoknya.


"jlep .. jleep .. jleep .. akhhh" tiga orang terdepan jatuh setelah dadanya berlubang oleh cakaran Alara, mereka yang tersisa beringsut mundur karena tak tau apa yang wanita itu lakukan pada teman temannya.


Muka mereka pucat pasi saat sadar tangan Alara terlihat ada cakar panjang yang seperti kaki binatang buas.


"ka- kauu siapa kau?" tanya salah satunya tergagap.

__ADS_1


Pimpinan mereka juga terkesiap saat tiga bawahannya sudah tergeletak tak bernyawa dalam waktu beberapa detik saja.


Alara maju menyerang dengan sangat bringas, dia melompat kesana kemari, satu tangannya di gunakan untuk menyerang dan satunya dia gunakan untuk menangkis pedang, cakarnya yang tajam dan kuat sudah seperti pedang untuk Alara.


Teriakkan terus terdengar saat Alara menggerakkan tangannya, ada yang kepalanya terpenggal, perutnya terkoyak dengan isi yang berhambur keluar, ada juga yang kaki dan tangannya putus.


"ka-kauu kau pasti iblis" ucap sang pemimpin ketakutan.


Dengan langkah kilatnya "jleep" satu tangannya menusuk perut si pemimpin.


Sebelas orang tumbang tanpa memberi perlawanan yang berarti, masih ada 3 orang yang hidup dan sisa dari mereka semua mati.


Alara bagaikan sosok monster mengerikan bagi mereka yang masih bernyawa, bagi mereka wanita di depannya jauh lebih mengerikan dari dewa pencabut nyawa sekalipun.


"apa kalian semua yang melakukannya?" tanya Alara sekali lagi.


Salah seorang yang tangannya sudah buntung memberanikan diri bertanya.


"ampuni nona, kami tak tau kesalahan apa yang sudah kami perbuat sampai kami menyinggung anda" ucapnya bergetar.


"wanita di dalam gubuk" ucapnya singakat.


"ma- maaaf nona, ka-kamii tak tau ...."


"craaasss" kembali kepalanya tergelinding ke tanah.


Dua orang yang tersisa semakin pucat ketakutan, sosok pemimpin yang perutnya kini terluka berusaha kabur meninggalkan satu bawahan yang masih tersisa.


Alara memandangi lelaki yang tengah kabur itu dengan tatapan membunuh, satu nyawa yang tersisa bersimpuh di kakinya memohon ampun.


"tolong ampuni nyawaku nona, aku akuu tak melakukan apapun pada wanita di gubuk itu, ha- hanya pemimpin kami yang melakukannya, aku me-mengatakan yang sesungguhnya nona, ampuni nyawaku nona" pintanya dengan tubuh bergetar.


Alara hanya berbicara pelan tapi kata katanya membuat seluruh tubuh lelaki itu dingin membatu, lelaki itu sudah sangat yakin kalau tak ada lagi kesempatan untuk hidup.


"jleep .. akhhh"


Dadanya tembus dan jantungnya hancur saat itu juga, Alara kemudian berjalan mengikuti arah pemimpin yang tadi melarikan diri, bukan hal sulit baginya untuk mengejar lelaki yang perutnya sudah jebol oleh tangannya.


Dia melangkah dengan pelan saat lelaki itu sudah di hadapannya, lelaki itu tentu saja sangat ketakutan karena dialah yang paling di incar oleh wanita di belakangnya.


"mau apaa kau?" tanya laki laki tersebut.


Alara tak menjawab apapun dan hanya memandang dengan tatapan bengis, wajahnya yang cantik sama sekali tak terlihat karena tertutup darah.


Tangannya sudah berubah menjadi tangan manusia, dia mengambil busur dan satu anak panah di punggungnya, tanpa a i u "wuuusshhh jlep ... aaaakkh"


Anak panah itu melesat ke pahanya, gadis itu mengambil dua lagi anak panah dan "zlepp zlepp" kembali anak panah itu tertancap di paha yang satu.


"akhh ampun, ampuni aku .." "plaaakkk" tamparan keras mendarat di pipinya.


Beberapa giginya tanggal dan pipinya lengsung merah, lelaki itu jatuh terkapar karena darah juga terus mengalir dari tubuhnya


"craat aaaaaaaakkkh" darah mencuat saat anak panah di pahanya di cabut.


"jlepp akhh" anak panah itu Alara tancapkan tepat di dadanya, hanya saja dia sengaja tak menancapkan ke arah jantung.

__ADS_1


"ke-kenapa kau hhh tak lang sung membunuh-ku?" ucapnya frustasi.


"nikmati saja apa yang ku lakukan" bisik Alara pelan.


"kau ben-ar b-enar iblis"


Lelaki itu berniat mencabut satu anak panahnya dan menghujam jantung untuk menghentikan penderitaannya, dia yakin tujuan wanita di depannya adalah menyiksanya sampai mati.


"buukk braaakkk"


Belum sempat niatnya terlaksana Alara sudah lebih dulu menendanngya, tubuhnya menabrak pohon sampai memuntahkan darah.


"hoek hh hhhh" hanya ada suara nafas berat dari lelaki itu.


"craat .. crat .. craat" tiga anak panah telah tercabut.


Lelaki itu sudah tak mampu lagi mengeluarkan suara untuk sekedar mengaduh, luka yang di deritanya sudah membuatnya hampit mati.


Alara menjauh hanya sekitar 10 meter, kembali dia arahkan mata panah ke lelaki itu.


"wushh ... jlep hekkkk"


Anak panah itu melesat ke lehernya, matanya melotot tak percaya kalau nasibnya akan seperti ini, kematiannya di permainkan setelah dia sendiri merenggut nyawa dan kesucian seorang gadis.


Bayang bayang saat gadis itu merintih kesakitan dan memohon untuk segera di bunuh melintas di pikirannya "inikah yang di rasakan gadis itu?"


Hanya batinnya sendiri yang bisa mendengar pertanyaannya, rasa sakit dan putus asa yang di deritanya bahkan belum sepadan dengan apa yang sudah dia perbuat.


Alara kembali mengeluarkan cakarnya, gadis itu melesat dan langsung menubruk lelaki yang sekarat itu.


"craas .. craas .. jleb .. jleb "


"MATI KAU BR*NGSEK! B*JINGAN SEPERTIMU TAK PANTAS HIDUP .. AAAAAAAARGGHHHHH"


"craaasssss" leher lelaki itu menggelinding.


"hhhh hhh" dengan nafas tersengal Alara meneteskan air mata.


Gadis itu masih merasa apa yang dia lakukan belum cukup untuk membalas penderitaan wanita yang kini sudah tewas megenaskan itu.


Di ambilnya pedang miliknya, entah setan atau iblis apa yang merasukinya, dengan bringas dia mencincang tubuh lelaki yang sudah tak bernyawa di depannya.


"MATILAH DAN JADILAH MAKANAN BINATANG KAU BEDEB*H BR*NGSEK!" teriaknya tak karuan.


Setelah melampiaskan kemarahannya, dia melangkah pergi meninggalkan mayat yang sudah tak berbentuk itu, langkahnya sangat pelan seperti seseorang yang tak bertenaga, bahkan sebilah pedang di tangannya dia geret.


Gadis itu duduk tersimpuh di depan tubuh wanita yang sudah sedingin es, wanita yang tak lain adalah kakak Duwan sudah tak bernyawa dan mati dengan cara tak terhormat.


Entah apa yang harus dia lakukan untuk meredakan amarah di hatinya, bara api di dadanya tak kunjung padam bahkan setelah dia membunuh lelaki keji yang menewaskan kakak Duwan.


"jedug jedug hahhh"


Gadis itu terus memukul dadanya sendiri dan berharap bara api kemarahan di dadanya padam, tangis tanpa suara menandakan rasa sakit yang luar biasa dalam.


Sebagai sesama wanita tentu saja dia ikut merasakan luka yang di dera mayat di depannya, mati dengan menahan segala penderitaan dan rasa malu.

__ADS_1


......bersambung.....


dukungannya guys jangan lupa 💜


__ADS_2