
"uhhh" eluh Alara saat tersadar.
"kau sudah bangun majikan?" tanya Kai di sampingnya.
"apa yang terjadi denganku Kai? kenapa tubuhku lemas sekali? rasanya tubuhmu tak bertenaga" ucap Alara.
"emm itu, kemarin majikan mengamuk" jawabnya.
"apa? mengamuk? ... kenapa bisa?" tanyanya panik.
"sepertinya majikan hilang kendali seperri beberapa bulan lalu"
"astaga, apa aku melukai seseorang? mana Duwan?" tanyanya celingukan.
"tidak ada yang terluka, Duwan sedang bicara dengan ayah majikan"
"ayah? ahhh aku ingat sebelumnya sedang bicara dengan laki laki brengs*k itu" ucapnya menghela nafas.
"bukannya kata kata itu terlalu kasar untuk di ucapkan pada seorang ayah?"
"tchh dari dulu aku tidak memiliki ayah, untuk apa aku bicara sopan padanya" ucapnya.
"ahh Kai kau terluka?" sambung Alara saat menyadari adanya darah di bulu Kai.
"tak usah khawatir majikan, itu hanya luka kecil dan sudah sembuh" jawabnya.
"ini pasti ulahku yah?"
"bukan bukan, ini murni kesalahanku"
"begitu, ngmong ngmong apa yang sedang di bicarakan kedua laki laki itu?" ucapnya penasaran.
"aku tidak tau, nanti majikan tanyakan saja" jawab Kai.
Alara duduk bersila dan memejamkan mata, dia mefokuskan pikirannya untuk mengumpulkan energi alam, selama ini semenjak kemampuan spesialnya bangkit secara tak sadar dia mampu menyerap energi alam.
Energi alam merupakan sebuah energi yang berasal langsung dari alam, energi yang tersebar di seluruh penjuru dunia dengan jumlah yang tak terhitung, hanya saja tidak semua orang bisa memiliki kemampuan menghimpun energi alam sepertinya.
Selang satu jam setelahnya Duwan kembali bersama Rangga, pemuda itu lalu membakar rusa yang kemari Kai dapatkan, Rangga duduk jauh dan tak berani mendekati Alara.
Kai sendiri langsung mendekat ke arah Duwan dan tak sabar mendapat jatah makanan, dulu saat hidup di hutan kabut Kai selalu makan daging mentah, tapi setelah bersama Alara harimau itu justru berubah mengikuti selera Alara, dia jadi lebih suka makan daging bakar.
Sepoi angin yang menerpa tubuh Alara membuat rambut gadis itu berkibar, Duwan selalu tak bisa lepas dari pesona gadis itu.
"heh, dagingnya nanti gosong" ucap Kai saat Duwan terus menatap Alara.
"ahhh hampir saja" ucapnya.
Rangga yang memperhatikan dari jauh hanya tersenyum, pemuda yang menemani putrinya memang seorang pemuda ceroboh yang bahkan tak bisa melindungi diri sendiri, tapi sikapnya lebihbdewasa dan pandai mengemong Alara yang notabenya memiliki watak keras sepertinya.
"setidaknya kamu memiliki seseorang yang pantas di sampingmu" gumam Rangga.
"apa maksudmu?" tanya Alara yang tiba tiba sudah di dekatnya.
"se-sejak kapan kamu di sini?" tanyanya bingung.
"apa itu penting?"
"tidak" lirihnya.
"kamu masih berhutang padaku" ucap gadis itu.
"hutang?"
__ADS_1
"kau belum menjawab pertanyaanku kemarin" ucapnya.
"ohh itu, aku bahkan tak yakin kamu bisa menerima jawaban dariku" ucapnya ragu.
"heh .. setidaknya kamu berusaha meyakinkan putri satu satumu ini, tchh dasar" ucapnya pergi.
"apa tuan putri sudah lapar?" tanya Duwan saat Alara mendekatinya.
"hmm beri aku makan"
"ayo ayo semua duduk manis, biar aku bagikan makanan nikmat hari ini" ucap Duwan " hei tuan! kau juga kemari" seru Duwan pada Rangga.
Mereka berempat makam bersama di atas pohon yang kemarin tumbang oleh Alara, mereka terus makan tanpa mempedulikan ocehan Duwan yang tiada henti.
Rangga duduk di sebelah Alara dengn perasaan canggung, jelas sekali laki laki itu merasa sangat bersalah pada putrinya.
"aku tau aku cantik, tapi berhentilah melirikku begitu" ucap Alara.
"uhuk uhukk" Rangga tersedak saat mendengarnya.
"m-maaf" lirihnya.
"ahh iya tuan, boleh aku tau kenapa anda hanyut di sungai?" tanya Duwan penasaran.
"emm itu .. aku bertarung dengan segerombol manusia serigala tak berakal dan aku terluka parah, saat aku berusaha kabur justru aku malah terjatuh ke sungai itu" jawab Rangga kikuk.
"serigala tak berakal? jangan bilang selama belasan tahun menghilang.."
"setelah kematian ibumu aku berkelana memburu para serigala tak berakal, entah kamu percaya atau tidak tapi itu yang ku lakukan" jawab Rangga.
"hah? kenapa melakukan itu?" tanya Alara.
"menurutmu kenapa? sebagai seorang lelaki yang telah gagal menjaga wanitanya, aku berusaha lari dari tanggung jawabku sebagai ayah dengan cara ini, aku memburu kelompok kecil para serigala itu dengan harapan bisa mengurangi jumlah mereka" jawab Rangga.
"malam itu saat kamu lahir kita di kepung oleh kelompok serigala tak berakal, aku meminta ibumu lari dengan berusaha menghalau para serigala itu, aku tau kondisi ibumu waktu itu sangatlah lemah, tapi tekatnya begitu kuat, waktu di mana kamu di temukan kakek tua itu aku juga berada tak jauh darimu, saat mendengar suara tangisanmu aku sangat bahagia, apalagi aku tau ibumu waktu itu masih hidup.
Awalnya aku berniat membawamu dan ibumu ke hutan kabut, tapi beberapa waktu setelahnya ibumu justru mati, sebagai seorang lelaki aku benar benar merasa gagal, aku dulu berjanji untuk selalu melindunginya, tapi kenyataan aku gagal total.
Saat kakek itu menguburkan ibumu aku menyelinap masuk ke rumahnya, aku melihatmu yang masih berkulit merah sedang tidur lelap dengan wajah yang sangat damai, aku marah dan aku juga sangat kesal.
Bagaimana bisa bayi itu tidur dengan wajah sedamai itu? padahal istriku mati karena melindunginya, aku benar benar mengira karenamu istriku harus mati, dan aku berniat melenyapkanmu hari itu.
Tapi kakek itu datang tanpa aku sadari, aku kaget saat tau dia sudah di belakangku, tapi kakek itu hanya diam dan terus menatapku, aku bingung dan tak mengerti kenapa dia hanya diam saat tau aku berusaha membunuhmu, tapi saat aku kembali melihatmu tiba tiba saja fikiran busuk itu langsung hilang.
Dan kakek tua itu tertawa terbahak bahak, aku semakin tidak mengerti dengannya, tapi tiba tiba saja dia berkata "apa kamu akan melenyapkan apa yang sudah mati matian di pertahankan istrimu?"
Layaknya seseorang yang baru saja sadar dari pengaruh jahat aku langsung menangis histeris, bagaimana bisa aku membunuhmu? bagaimana bisa aku melakukan kesalahan itu?
Kakek itu mengambil kain yang ada di tubuhmu, dia menyayat tanganmu dan membiarkan darahmu mengalir pada kain itu, awalnya aku berfikir kakek itu melakukannya dengan niat yang jahat, tapi dia menyerahkan kain itu padaku dan memintaku untuk pergi.
Awalnya aku tak memahami maksudnya, tapi aku langsung tersadar saat dia memberiku sebuah pedang, dia melakukan itu agar aku mengecoh para serigala tak berakal, dia ingin aku pergi dengan aroma darahmu agar serigala itu tak mendekatimu" ucapnya panjang lebar.
"jadi kakek pernah bertemu denganmu?" tanya Alara.
"bukan hanya bertemu, tapi dia juga sempat hampir membunuhku" jawabnya.
"membunuh? maksudmu?"
"saat dia diam dan menatapku ternyata dia sudah siap melenyapkanku jika aku masih berniat membunuhmu"
"tapi kenapa kakek bilang tidak tau apapun tentangmu?" tanya Alara penasaran.
"itu semua permintaanku, aku tidak ingin kamu tau kalau aku masih hidup" ucapnya.
__ADS_1
"kenapa?"
"karena aku takut padamu"
"akumasih tidak mengerti, katakan yang jelas"
"kamu akan sulit memahaminya, kamu tidak akan tau bagaimana perasaan seseorang yang telah gagal melindungi sesuatu yang di cintainya" jawabnya.
"makanya kamu harus memberitauku" ucapnya mulai kesal.
"aku sangat sangat mencintai ibumu, dia adalah satu satunya wanita yang mengisi kekosongan hatiku, aku berjanji pada diriku sendiri aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri, tapi saat kegagalan itu datang aku merasa sangat bersalah, tapi justru aku melimpahan kesalahan itu padamu, aku malu sangat malu, dengan begitu bodohnya aku melimpahkan kesalahanku padamu.
Karena perasaan malu itulah aku tak berani berada di dekatmu, aku sudah sekali gagal menjaga seseorang yang sangat aku cintai, jika aku berada di sampingku maka hati ini akan kembali merasakan cinta, tapi aku terlalu takut jika kegagalan itu datang lagi, makanya aku meminta kakek itu untuk tidak mengatakan apa apa tentangku" jelasnya lagi.
"jadi sebenarnya kamu sangat mencintaiku tapi juga takut padaku, begitu?" ucap Alara.
"bisa di katakan begitu"
"hmm begitu, tapi tetap saja aku tidak bisa mengerti" ucapnya lagi.
"aku tidak akan memintamu untuk mengerti karena akupun tidak bisa menjelaskannya" ucap Rangga lirih.
"Ara! Tuan! kalian itu saling menyayangi tapi kalian berdua bodoh" ucap Duwan tiba tiba.
"ehh maksudnya?" tanya Rangga dan Ara bersamaan.
"uhh kalian itu hanya sepasang ayah dan anak yang tidak ingin bergantung satu sama lain, Ara merindukanmu dan sangat ingin bertemu denganmu, tapi seiring berjalannya waktu kerinduan itu berubah jadi sebuah amarah, dan kau Tuan! kau juga sangat menyayangi Ara tapi rasa takutmu menghalangimu untuk menyalurkan rasa sayangmu padanya, intinya kalian berdua sama sama saling menyayangi tapi kalian berusaha menolak perasaan itu agar tak tumbuh di hati kalian" jelas Duwan panjang.
"prok prok prrok" Rangga dan Alara tepuk tangan bersama.
"kenapa kalian tepuk tangan?" tanya Duwan bingung.
"karena kamu hebat" jawab Rangga.
"karena aku ingin" jawab Alara.
"kalian ini mengerti ucapanku tidak?" bentak Duwan.
"mengerti" jawab keduanya.
"ehh kau berani membentakku?" ucap Alara.
"ahhh itu ituu..."
"plaak .. beraninya" ucap Alara setelah memukul Duwan.
"huaaaa ampun nyonyaaa ampun tuan putriii hamba salaaah" ucap Duwan bersimpuh.
"nyonya? tuan putri? bwaha hahahaa lucunya" tawa Alara.
"ehhh kau menertawaiku?" tanya Duwan.
"hahahaa aduhhh kamu ini, terimakasih yah" ucap Alara.
"untuk?"
"hahhh kamu ini kadang pintar tapi kadang juga bodoh, tentu sajanaku berterima kasih karena membantu kami berdua" ucap Alara.
"iya benar, terima kasih karena menengahi permasalahan kami" ucap Rangga.
"heh walau begitu aku masih belum memaafkanmu" ucap Alara.
"o ohh begitu yah?" ucap Rangga kikuk.
__ADS_1