
Waktu seakan cepat berlalu, bayi serigala yang dulu di jumpainya masih berkulit merah, sekarang telah tumbuh menjadi gadis tanggung yang cantik, wajahnya sangat mirip dengan Arumi ibunya.
"sudah sore! bersihkan dirimu dan masakkan aku ayam bakar, kau tak melihat kakekmu hampir mati kelaparan" ucap ki Arung pada gadis yang sedang berlatih pedang.
"tunggu sebentar lagi kek" seru si gadis.
"dasar bocah keras kepala" gerutu sang kakek.
Alara telah tumbuh dengan baik dalam perawatan kakek arung, mata biru dan rambutnya menambah kecantikan gadis serigala itu.
Tumbuh tanpa merasakan kasih sayang orang tua tentu menjadi luka tersendiri untuknya, dia selalu mengingat cerita kakeknya bagaimana ibunya tewas demi menyelamatkannya, dan tentang ayahnya yang tak tau bagaimana kabarnya sampai sekarang.
Hampir 15 tahun Alara hidup dalam pengasingan bersama kakek Arung, dia hanya sesekali keluar saat kakeknya menjual hasil buruan ke pasar, alasannya jarang keluar tentu saja karena selain fisiknya sangat mencolok, dia juga takut bertemu dengan manusia serigala haus darah yang mengincarnya.
"hah haaah bruukkk"
Alara menjatuhkan dirinya setelah seharian penuh berlatih, bajunya basah karena keringat yang di keluarkannya, kakek Arung yang melihatnya dari depan rumah hanya menggelengkam kepala melihat kelakuan cucu angkatnya.
"kalau kau mau mati karena kelelahan setidaknya beri aku makan" ucap kakek Arung kesal.
"haisshh kakek ini, biarkan aku nafas sebentar, aku janji akan memberimu rusa bakar besok" ucap Alara masih tergeletak di atas rerumputan.
"janji? awas saja kalau kau berbohong, akan ku kutuk kau jadi siluman kambing" hardiknya.
"enak saja, serigala cantik sepertiku mana boleh jadi kambing yang bau" ucapnya sambil melangkah mendekati kakeknya.
Kakek Arung selalu berbicara seenaknya pada Alara, dan gadis itu juga tanpa sadar mengikuti cara bicara kakeknya.
"beberapa purnama lagi usiamu akan menginjak 15 tahun, kapan rencanamu meninggalkan kakek tua ini?" tanya kakek Arung membuka obrolan.
"entahlah kek, aku ingin segera mencari kebenaran kabar ayahku, tapi aku sedikit khawatir kakek tua ini akan mati kesepian di sini" celetuk Alara.
"tukkk" ranting yang sejak tadi di tangan kakek Arung melayang ke kepala Alara.
"dasar cucu kurang ajar" ujar si kakek.
"aduuhhhh" kelu Alara sambil mengelus kepalanya yang terkena ranting.
"kalau tau kau tumbuh jadi gadis kurang ajar seperti ini ku biarkan saja kau mati di hutan sana dulu" ucap kakek kesal.
"cckkkk kalau kakek mebiarkanku mati maka kakek kehilangan kesempatan memiliki cucu secantik diriku" ucap Alara percaya diri.
"halahh masih cantikan kambing di banding dirimu" ucap kakek Arung menjatuhkan harga diri cucunya.
"apa? ... biar ku panah kambing si*lan yang sok cantik itu" ucap Alara kesal.
"aaaa tidak tidak, sudah berapa kambingku yang mati karena kekesalanmu" sergap si kakek.
"hm huhhh sudahlah aku mau mandi" ucapa Alara melangkah pergi.
"benar benar cucu kurang ajar" gumam si kakek.
Malam hampir tiba, tapi Alara belum juga kembali dari sungai tempatnya biasa mandi, kakek Arung mulai mondar mandir di teras rumahnya karena tak biasanya cucunya yang bandel itu pulang sampai gelap.
Kakek Arung masuk ke dalam mengambil obor dan sebilah pedang miliknya, dia melangkah ke arah sungai tempat biasa cucunya mandi.
Sampai sana kakek Arung melihat sosok barambut panjang sedang jongkok di dekat sungai.
"hiks hiks"
Dari jarak yang mulai dekat kakek Arung bisa mendengar suara isak tangis gadis tersebut.
"apa yang kau lakukan di sini?" tanya kakek Arung pada Alara.
"huaaa kakek, belatinya kek ... belati ayah hilang" ucapnya sambil memeluk kaki kakeknya.
"aku sudah mencari dengan menyelam ke dasar sungai tapi tak menemukannya" lanjutnya.
Kakek Arung menepuk jidatnya sendiri, dia yang awalnya agak khawatir takut cucunya kenapa kenapa sekarang justru ingin tertawa di buatnya.
"kau ini, waktu kakimu tersabet pedang tak kau pedulikan, perkara belati hilang malah kau menangis seperti ini?" tanya lalek Arung heran.
"tapi kan belati itu milik ayah, itu satu satunya barang peninggalannya yang ku miliki" ucapnya sesegukan.
__ADS_1
"sudahlah besok akan kubantu mencarinya, sekarag kita pulang hari sudah gelap" ucap kakek menenangkan.
"dan satu hal lagi, belati itu bukan satu satunya peninggalan ayahmu, tapi ada itu juga" ucap kakek menunjuk kalung berhiaskan permata biru di leher Alara.
Alara menggenggam kalung pemberian ayahnya, seakan dia juga takut kalung itu akan hilang, dia berjalan dengan di gandeng kakeknya, walau dia bukan gadis manja tapi dia aka menangis jika kehilangan barang peninggalan orang tuanya.
Kakek Arung masih ingat dengan jelas saat Anak panah peninggalan Arumi tak sengaja dia pakai untuk berburu, anak panah itu tertancap di kaki seekor rusa yang lari sebelum mati, kakek Arung di kerjai saat Alara meminta anak panah itu harus kembali ke tangannya.
Dengan susah payah kakek tua itu menyusuri hutan demi mencari rusa yang kabur dari bidikannya itu, untungnya rusa itu mati tak terlalu jauh darinya.
Sampai rumah terlihat muka Alara yang masih murung, dia hanya diam di kamarnya tanpa bicara.
"kau benar benar ingin kakek tua ini mati kelaparan?" tanya si kakek dari luar kamarnya.
Alara yang kala itu bersedih baru ingat kalau dia belum menyiapkan makan malam untuk kakeknya.
"ah maaf aku lupa" ucapnya langsung bergegas ke belakang.
Semenjak Alara sudah pandai memasak kakek Arung tak pernah memasak lagi, memakan masakan cucunya sudah menjadi kesenangan tersendiri untuknya.
Tak berapa lama sudah tercium aroma ayam bakar dari arah dapur, aroma tumisan bumbu yang berasal dari sayur juga tak kalah harum.
"kakek makanannya sudah siap!" teriak Alara.
Kakek Arung bergegas masuk ke dalam rumah setelah mendengar panggilan cucunya, dengan lahap dia menyantap setiap masakan olahan Alara.
"kakek besok aku ingin ke pasar" ucap Alara tiba tiba.
"untuk apa? memangnya persediaan kita sudah habis?" tanya kakek Arung tiba tiba.
"aku ingin membeli sesuatu" jawabnya.
"baiklah, pagi pagi kita akan pergi" jawab sang kakek.
Paginya sesuai janji kakek Arung mereka pergi meninggalkan rumah, keadaan yang masih pagi buta tak jadi masalah untuk Alara, matanya sangat awas melihat dalam kegelapan sekalipun.
Mereka berdua berjalan hampir setengah hari untuk mencapai tempat yang di tuju (pasar), sampai sana Alara memasuki toko penjual bibit tanaman.
"apa kau ingin bertani?" tanya kakek Arung heran.
"apa di sini menjual bibit mawar?" tanya Alara.
"mawar? tidak, kami hanya menjual bibit pertanian nona" jawabnya ramah.
"di mana yang menjual bibit itu?" tanya Alara lagi.
"entahlah aku kurang tau, tapi kalau kau menginginkan bunga mawar, di ujung pasar ini ada sebuah rumah yang memiliki taman mawar yang luas, coba saja meminta atau membeli darinya" saran penjaga toko.
"begitu yah, terimakasih" ucapnya ramah dan melangkah pergi.
"sekilas kulihat matanya berwarna hijau, apa aku salah lihat yah?" gumam penjaga toko.
Setelah keluar toko Alara mencari keberadaan kakeknya.
"lhoo kemana perginya kakek?" ucap Alara bingung.
Setelah celingukan ke sana kemari tk kunjung menemukan kakeknya, Alara memutuskan menunggu di depan toko senjata yang letaknya bersebrangan dengan toko tanaman.
Karena terlalu jenuh akhirnya di masuk dan berniat melihat lihat di sana, Alara teringat dengan sepasang belati kecil milik ayahnya yang tak sengaja jatuh satu ke sungai.
"permisi, apa di sini menjual belati yang mirip seperti ini? tanyanya pada pelayan toko.
"oh ini belati khusus berburu? kau menggunakan ini nona?" tanya si pelayan ramah.
"hanya sesekali" jawab Alara.
"mari ikut denganku, akan ku tunjukan" ajak si pelayan.
Alara di ajak menaiki lantai dua, di sana terpampang berbagai alat berburu dan senjata senjata yang biasa di gunakan para pendekar.
"ini nona, semoga ada yang sesuai dengan keinginanmu" ucapnya dengan tutur lembut.
Setelah melihat satu per satu koleksi di sana, ternyata tak ada satupun yang mirip dengan belati milik ayahnya, dan karena merasa sedikit tak enak Alara memutuskan membeli sabuah pisau kecil dengan gagang cantik untuk dia simpan.
__ADS_1
Saat hendak membayar Alara merasa tertarik dengan sebuah cincin usang yang tersembunyi di sudut ruangan.
"permisi tuan, apa cincin itu di jual?" tanya Alara.
Si penjaga kasir langsung menjatuhkan pandangan ke tempat yang di tunjuk Alara.
"apa yang kau maksud cincin ini nona?" tanyanya.
Alara mengangguk dan tersenyum ke arah lelaki di depannya.
"kalau kau ingin ambil saja, gratis" ucapnya sambil meletakkan cincin itu di hadapan Alara.
"mengapa begitu tuan?" tanya Alara heran.
"sebenarnya cincin itu sudah ada di toko ini berpuluh puluh tahun, tapi entah kenapa setiap ada yang membelinya cincin itu selalu kembali kesini" terangnya.
"bukankah itu menguntungkanmu?" ucap Alara.
"kami awalnya juga mengira begitu, tapi lama kelamaan tak ada yang tertarik membelinya,makanya kalau kau mau ambil saja"
"baiklah terimakasih" ucapnya seraya melangkah pergi.
Saat hendak keluar tanpa sengaja dia bertubrukan dengan seseorang.
"bruukkk aww" pekik Alara.
"kalau jalan pake mata" cela sosok di depannya.
Alara merutuk kesal mendengar ucapan dari sosok di depannya, dia mendongakkan kepala untuk melihat seperti apa wajah seseorang yang berbicara seangkuh itu.
"ehh tuan, ada perlu apa datang kesini?" sapa pemilik toko sambil lari kecil.
"ketua menyuruhku mengambil upeti di sini" ucapnya dingin.
"tapi tuan, bukannya upeti sudah di ambil 2 hari lalu" keluh lelaki sepuh itu.
"itu bukan urusanku, cepat berikan atau anak buahku akan menghancurkan tokomu" ancamnya.
"tapi tuan kau tau sendiri toko ini sangatlah sepi, bagaimana aku membayar upeti lagi?" keluhnya lagi.
"bayar saja dengan salah satu putrimu yang cantik itu haha haha " ucap seseorang yang baru masuk sambil tertawa.
"ketua" ucap pria angkuh tadi menunduk.
"ampun tuan, aku berjanji akan memberi upeti besok, jangan bawa putriku" lelaki sepuh itu memohon.
Terlihat dua gadis yang salah satunya melayani Alara sedang merapat ke pojokan dinding ketakutan.
Alara yang merasa kesal atas keangkuhan lelaki yang menabraknya semakin di buat kesal oleh pemandangan menyebalkan di depannya.
"brakkkk" "menjijikkan" ucapnya dengan kepalan tangan menggebrak lantai kayu sampai terlihat beberapa retakan.
Orang orang di sana langsung tercekat kaget melihat seorang gadis bertubuh kecil bertindak seberani itu, semua orang sangat tau sosok yang ada di toko itu adalah pemimpin para bandit yang mengaku sebagai penjaga keamanan pasar, padahal kerusuhan yang terjadi di pasar selama ini adalah ulah mereka.
Lelaki tambun yang di panggil sebagai ketua tadi berjongkok, dia berniat melihat wajah Alara yang tertunduk sejak tadi setelah bertubrukan tadi.
"siapa gadis kecil pemberani ini?" tanya lelaki itu mengejek.
"ampun ketua, biar aku yang mengurusnya"
"ah tidak tidak, aku menyukai keberanian gadis ini Wira" .... "siapa namamu manis?" ucapnya lagi.
Tanpa menjawab, Alara menatap tajam lelaki di hadapannya, sekilas tampak kilatan di mata gadis itu, mata biru gadis itu terlihat menyeramkan bagi pemimpin bandit di depannya, bahkan lelaki tambun itu sampai terjengkang di buatnya.
"keluar dari tempat ini" ucap Alara yang sekarang sudah berdiri di depan lelaki sok berkuasa itu.
"lanc...."
"keluaar sekarang!" bentak gadis itu keras.
Ki Arung yang sejak tadi mencari keberadaan cucunya langsung gusar saat mendengar suara teriakan gadis serigala yang sudah di rawatnya belasan tahun ini.
"ahh si*l, apa dia akan mengamuk?" gerutunya sambil melangkah mendekat.
__ADS_1
.....bersambung.....
jangan lupa dukungannya😊