
Damar berlari keluar berusaha mengejar Alara yang berlari lewat pintu belakang, tak ada satupun yang tau kepergiannya baik ayah atau ibunya.
Bocah 5 tahun itu hanya berlari tanpa memikirkan medan jalan yang di laluinya, Alara yang lari dengan cepat tentu saja jaraknya sudah jauh darinya.
Alara sama sekali tak tau kalau bocah itu mengikutinya terus berlari tanpa beban, dia berhenti di pinggiran sungai yang lokasinya tak jauh dari pemukiman tadi.
"huufftttt sulit sekali berbaur dengan manusia selain kakek, bocah itu pasti sudah menceritakan semuanya pada warga di sana" gerutunya sambil melemparkan batuan kecil ke arah sungai.
Alara hanya duduk termenung di sana sampai malam dengan memandangi air di depannya, saat hendak pergi samar samar dia mendengar suara dari kejauhan memanggil nama Damar.
Karena penasaran Alara mendekati arah rombongan tadi, dari jarak agak jauh terlihat ibu Damar menangis dengan memanggil nama putranya, beberapa orang juga melakukan hal yang sama.
"kenapa mereka mencari anak itu, memangnya dia kemana" gumamnya.
"astaga! jangan jangan tadi dia mengikutiku" ucapnya tersentak.
****
"uhhh aku di mana?" ujar Damar kebingungan.
Bocah itu entah berjalan kemana setelah kehilangan jejak Alara, wajahnya panik ketakutan saat sadar bahwa dirinya tersesat.
Damar terus berjalan menyusuri hutan yang tanahnya sudah di tumbuhi rumput yang tingginya hampir setengah badannya, dengan tubuh gemetar ketakutan bocah itu berusaha kembali lewat jalan yang di lalui tadi.
Niatnya memang dia kembali, tapi kenyataannya dia hanya terus berputar putar karena lupa jalannya tadi.
"ayaahh ibu Damar takut .. huaaaaa" tangisnya pecah saat menyadari gelap malam sebentar lagi datang.
Tiba tiba ada enam orang lelaki mendekat ke arahnya, tubuh mereka tinggi dan besar, muka mereka juga seram dengan brewok yang berantakan.
"heh bocah! apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang di antaranya.
Damar yang merasa asing dan takut melihat mereka justru lari menembus semak di hadapannya.
"kejar bocah itu, dia bisa kita jual untuk jadi budak" seru seseorang lagi.
Damar yang mampu mendengarnya sudah barang tentu merasa makin takut, tangan kakinya yang tergores terkena ranting ranting pohon tidak lagi ia pedulikan, dengan menahan tangis bocah itu terus berlari sekuat tenaga.
Kakinya yang kecil sudah pasti kalah dari langkah kaki pria dewasa bertubuh besar di belakangnya, hanya dalam beberapa saat saja dia sudah tersusul oleh orang orang itu.
"aaaaaaa, bruukkk"
Bocah itu terjatuh dan masuk ke dalam sebuah lubang, ketakutannya menambah berkali kali lipat saat melihat orang orang yang mengejarnya sudah ada di atasnya.
"kau ini untuk apa susah susah berlari kalau ujungnya tertangkap juga ha ha ha"
Gelak tawa mereka pecah seakan berhasil mendapat harta karun dengan mudah, salah satu di antaranya mengangkat tubuh Damar dan menjantuhkannya.
Bocah itu duduk meringkuh metakutan layaknya seekor tikus yang di kepung segerombolan kucing, tangannya di ikat lalu dia di tarik paksa untuk mengikuti enam orang di depannya, suara tangisnya tak di pedulikan lagi oleh mereka.
"ayaahhhh huaa" tangisnya sepanjang jalan.
"wuuusshhhh bukk"
Tiba tiba seseorang muncul di hadapan mereka semua.
"lepaskan dia!" ucap orang tersebut.
"siapa kau? berani sekali memerintahku!" ucap seseorang.
"ku bilang lepaskan!" bentak orang tersebut.
"ka- kaak" seru Damar pelan saat menyadari sosok di depannya adalah seseorang yang di kenalnya.
"ohh jadi dia kakakmu, ha haaa kita beruntung sekali mendapat dua buruan sekaligus hahaa" tawanya di sambut oleh teman temannya.
"kubilang lepaskan adikku buaaakkkk" ucapnya sambil melepas tinju ke orang terdekatnya.
"akkhh b*jingan, beraninya kau memukulku" seru orang itu kesal.
Alara langsung melompat ke arah Damar dan menyambar tibuh bocah itu lalu membawanya menjauhi mereka, dia melepaskan ikatan bocah itu dan segera melepasnya.
"kamu tadi ngikutin kakak yah?" tanya Alara.
__ADS_1
pertanyaannya hanya di jawab isak tangis dari bocah itu, nampaknya Damar syok dengan kejadian barusan.
"maafin kakak" ucapnya sambil mengelus kepala bocah itu.
Alara berniat pergi tanpa meladeni ke enam orang tadi, saat dia sudah menggendong Damar dan hendak pergi, langkahnya di hentikan oleh orang yang membawa Damar tadi.
"jangan harap kau bisa lepas dari kami, akan ku balas ulahmu barusan brengs*k!" ujar lelaki itu kesal.
"Damar tunggu sini yah, kakak bereskan mereka dulu" ucapnya lembut sambil menurunkan Damar dari gendongan.
Saat kakinya melangkah maju langkahnya langsung di hentikan oleh tangan kecil Damar, bocah itu menggeleng seolah tak mengijinkan Alara pergi melawan orang orang yang habis menangkapnya.
"kamu percaya sama kakak, mereka akan menerima akibat karena berani nyakitin kamu" ucap Alara meyakinkan.
Damar melepas genggapamnya dan bersembunyi di balik pohon, kepalanya mengintip menyaksikan Alara dengan perasaan takut.
"kalian mau apa?" tanya Alara dengan suara lembutnya.
"ka-kau wanita?" tanya orang yang sempat menerima bogem mentahnya.
"hmm" gumam Alara singkat.
"si*l, kalau dia wanita kenapa pukulannya sekuat tadi, bahkan gigiku sampai rontok di buatnya" batinnya.
"hua ha haa, memalukan sekali gigimu di rontokkan oleh pukulan seorang wanita" ejek salah seorang temannya.
"diam kau b*ngsat, tadi itu karena dia memukulku mendadak, kali ini akan kuhabisi dia" ucapnya geram.
"heii tak perlu kau habisi dia, kau lupa dia itu wanita, kita nikmati dulu tubuhnya ha ha haaa" seru seseorang.
"ciihhh menjijikan, akan ku buat kalian menyesal telah berani memikirkan hal semenjijikan itu" batik Alara.
"wuushhhh jlep, aaaahkkk"
Sebuah belati menancap di paha orang yang baru saja tertawa tadi.
"ahhh sayang sekali bidikanku meleset, harusnya tadi tepat di tengah" ejek Alara.
Lima orang langsung maju bersamaan, mereka mengepung Alara dengan wajah merah padam penuh emosi, Alara melesat mengahadiahkan tendangan ke arah lelaki yang sudah menerima bogemnya beberapa waktu lalu.
"buaakkk brukk" tubuh lelaki itu menabrak pohon dan langsung tak sadarkan diri.
Empat orang yang tersisa langsung menyerang bersamaan, suara dentingan pedang terdengar karena Alara juga mengeluarkan pedang yang selalu di sarungnya sejak lama.
Kelincahan dan kepekaan Alara tak di ragukan lagi, dengan mudah dia menghindari tebasan demi tebasan yang mendatanginya.
"craaasss" satu tebasannya berhasil mengenai paha seseorang di antaranya.
Alara lebih suka mengincar bagian kaki lawan dari pada bagian lain, menurutnya saat lawan kehilangan keseimbangan dan kekokohan kuda kudanya akan lebih mudah untuk mengalahkan mereka.
Jubahnya terbuka saat pedang seorang di antaranya berusaha menebas lehernya, di keremangan malam mata birunya terlihat bersinar, tiga orang lawannya tertegun sejenak saat melihat sinar matanya.
Kesempatan itu tak di sia siakan oleh Alara
"buakk buaak craas" "aakkhhh"
Dua tendangan beruntun dan satu tebasan pedang berhasil merobohkan tiga lawannya.
"tchhhh sangat lemah" batinnya
Alara melangkah mendekati lelaki yang tadi tekena belatinya.
"kemarikan belatiku" pinta Alara.
Lelaki itu justru mengeluarkan pedang dan menyerang Alara, sebenarnya lelaki ini menguasai pedang jauh lebih hebat di banding yang lainnya, tapi karena kuda kudanya tak kokoh setiap serangannya tidak sulit untuk di hindari.
"traang" pedang mereka saling bertemu saat lelaki itu mencoba menyerang pundaknya.
Alara menangkis dan langsung menyerang setelahnya, kecepatan serangannya semakin meningkat dan membuat lawannya kewalahan.
"buakkk" tendangan Alara telak mengenai perutnya.
Lelaki itu jatuh terlentang setelah mendapat tendangannya.
__ADS_1
"aku hanya meminta ini"
"jret akkhhh" pekik lelaki itu saat belatinya di cabut.
Alara segera bediri dan menyimpan kembali belatinya, matanya menatap sinis ke lelaki di bawahnya, kakinya menginjak paha lelaki tersebut, tak ada jeritan dari mulutnya hanya rintihan lirih karena tubuhnya sudah lemah.
"aku memang benci orang orang sepertimu, tapi aku jauh lebih benci lelaki yang suka merendahkan wanita sepertimu" .. "buaakkkk akh" tendangan Alara tepat bersarang di selangkangannya.
Salah seorang teman yang melihatnya gemetar ketakutan melihat tindakan Alara, senyum liciknya mengembang saat teringat sosok bocah di balik pohon.
"menyerahlah atau anak ini akan mati!" teriaknya percaya diri.
Pikirnya Alara akan ketakutan saat adiknya di sandra, tapi siapa sangka justru Alara menatapnya tajam dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Tangannya mengambil busur dan anak panah di punggungnya, dengan yakin dia mengarahkan mata panah itu ke arah lelaki yang menyandra Damar.
"apa yang akan kau lakukan? kau ingin anak ini mati?" bentaknya sambil menempel pedang ke leher Damar.
"kakaakk" ucap Damar gemetar.
"sedikit saja kulitnya tergores kupastikan nyawamu melayang" ucap Alara penuh menekanan.
Tangan lelaki itu bergetar hingga tanpa sengaja menggores leher Damar "aahh" rintih Daram.
"wuushhhh jlep" "craaat aakhhhhh" mata anak panah Alara tembus di dadanya dan tepat menghujam jantungnya.
Darah lelaki itu muncrat kewajah Damar membuat bocah itu histeris ketakutan, Alara langsung berlari ke anak itu, dia langsung mendekap dan membawanya menjauh.
Setelah agak jauh Alara menurunkan Damar dari gendongannya, tubuhnya bergetar wajahnya juga pucat pasi.
"maafkan kakak Mar, ini terjadi gara gara kamu ngejar kakak" ucapnya lirih.
Damar yang tadinya ketakutan langsung memeluk Alara karena tak tega membuat Alara sedih, dia memberanikan diri membuka penutup kepala gadis itu, matanya bisa melihat ada air mata di pelupuk mata kakak di depannya.
"kenapa kakak nangis? Damar ngga papa ko kak" ucap anak itu polos.
"kamu ngga takut sama kakak?" tanya Alara pelan.
Damar menggelengkan kepala dengan mantap, sejak awal Damar tak merasa takut sedikitpun pada Alara, bocah itu justru takjub dan kagum pada kondisi fisik Alara.
"tapi kakak berbeda dari kamu"
"ya iya lah beda, Damar kan ganteng kalo kakak Alara cantik" jawabnya.
Alara terkekeh mendengar ucapan bocah di depannya, dia tak habis pikir kenapa anak yang tadi pucat ketakutan sekarang malah nglawak di depannya.
"maksud kakak bukan itu anak ganteng, kamu liat sendiri kan rambut kakak dan mata kakak gimana?" tanya Alara lagi.
"emangnya kenapa? kakak cantik kok, cantik banget malah" goda bocah itu.
"hmmmm ya udah, sekarang kakak anterin kamu pulang, ayah sama ibu kamu udah khawatir bgt" ucapnya langsung menggendong Damar.
"turunin Damar kak, aku kan anak lelaki masa di gendong kakak" protesnya.
Alara langsung menurunkannya dan menggandeng tangannya, mereka berdua jalan beriringan dengan wajah dan rambut Alara yang tidak tertutup.
Anan berceloteh sepanjang jalan menceritakan peristiwa yang baru terjadi padanya, tak lupa dia juga mengutarakan kekagumannya pada Alara.
"Damar pengin deh bisa bela diri kayak kakak, pasti keren" celetuknya.
"kamu pengin bisa bela diri cuma biar kelihatan keren?" tanya Alara.
"mmmmm .. engga juga sih, biar Damar bisa nglindungun ayah sama ibu, sama temen temen Damar juga" jawabnya.
Alara tersenyum mendengar jawaban polos dari Damar, dia terus menggandeng bocah itu untuk segera pulang.
"nanti kalo udah sampe rumah kamu mau bilang apa sama ayah sama ibu?" tanya Alara penasaran.
"mmmm"
....bersambung....
jangan lupa dukungannya ya💜
__ADS_1