The Werewolf

The Werewolf
50. Terimakasih selalu ada bersamaku


__ADS_3

untuk chapter ke 42 tokoh Elfnya aku ganti jadi cewe ya


"apa aku boleh memasuki hutan bambu?" tanya Duwan penasaran.


"entahlah, tapi kurasa ayah akan mengijinkanmu" jawabnya.


"benarkah? apa tidak apa apa?" tanyanya masih penasaran.


"ishh kenapa kau crewet sekali? diam saja dan cepat jalan" perintahnya kesal.


"heii kau mulai lagi, kenapa kau suka sekali membentakku?" gerutunya.


"karena kau menyebalkan dan sangat cerewet" ucapnya tegas.


"Kai lihatlah, majikanmu sangat galak" ucap Duwan mengadu.


Karena perjalanan yang mereka lakukan sangat santai, waktu yang mereka tempuh akan lebih dari satu bulan, belum lagi kebiasan baru Duwan yang selalu mampir setiap melewati kota untuk makan di restoran.


"hhh aku harus bersabar menghadapi manusia itu" gerutu Alara kesal.


"kau bicara apa?"


"bukan apa apa" singkatnya.


"ohya Ra aku hampir lupa, mengenai kekuatanmu itu apa benar kakek telah menyegelnya?" tanya Duwan penasaran.


"tidak, aku masih tetap bisa menggunakan kekuatanku, karena kakek hanya menekan bukan menyegel" jawabnya.


"beda?"


"tentu saja beda, kalau di segel aku takkan bisa menggunakannya, yang kakek lakukan hanya menekan kekuatanku agar tak menggerogoti tubuhku" terangnya.


"aku masih belum mengerti, kenapa kekuatan itu bangkit di dirimu kalau kamu tidak boleh menggunakannya?" ucapnya bingung.


"aku juga" singkatnya.


* * *


2 tahun lalu.


"sebenarnya siapa kakek?" tanya Alara pada kakek Arung.


"aku Arung, kakek yang memungutmu"


"aku serius, aku benar benar merasa aneh, kakek menerima dan merawatku yang merupakan manusia serigala, di tambah lagi kakek tau banyak hal tentangku, kemarin dan sekarang juga kakek memberi ramuan yang menekan kekuatanku, untuk ukuran manusia biasa kakek terlalu banyak tau" ucap gadis itu panjang.


"hahhh kau ini, aku tau banyak karena aku pernah berhubungan dengan manusia serigala sebelum dirimu" jawabnya malas.


"apa? siapa?" tanyanya penasaran.


"apa kau benar benar ingin tau?"


"emm (mengangguk) aku sangat penasaran"


"dulu aku pernah menikah dengan seorang wanira serigala, dan aku memiliki putri yang keadaanya sama sepertimu"


"a-apa? kakek jangan bercanda" ucap Alara tak percaya.


"tchh gadis ini, untuk apa aku bercanda?"


"lalu di mana mereka? kenapa kakek tak pernah mengenalkan padaku?" tanya Alara.


"mereka sudah mati, dengan cara yang sama seperti ibumu, hanya bedanya kau selamat tapi putriku tidak" jawabnya lirih.


"kapan itu terjadi kek?"


"sudah lama, sudah 150 tahun lalu saat diriku masih jadi pemuda biasa"


"150? kakek tidak salah bicara? bukannya umur kakek baru 72 tahun?"


"bukan 72 tapi ... 172 tahun" jawabnya tersenyum.

__ADS_1


"a-apa? ini-omong kosong apa ini?" bantaah gadis itu.


"terserah saja kalau tak percaya" ucap kakek cuek.


"baik lah, katakanlah aku percaya semua itu, lalu pertanyaanku kali ini siapa kakek? jangan jawab namamu tapi gelar atau apapun yang lain" ucap Alara lagi.


"emm kalau aku bilang aku adalah penjagamu bagaimana?"


"penjagaku? omong kosong apa lagi ini?" ucap Alara makin tak percaya.


"aku tau kau takkan mudah percaya, tapi bagaimana kalau semua yang terjadi selama ini ternyata sudah di rencanakan?"


"maksud kakek, kematian ibuku dan segala hal yeng terjadi sampai sekarang? memangnya siapa yang merencanakan semua ini?" tanyanya lagi.


"mungkin Dewa atau Dewi, aku juga tak tau"


"kakek, bisakah kakek menjawabku dengan serius? ini menyebalkan sangat menyebalkan" gerutunya kesal.


"bagaimana menjelaskannya juga aku tidak tau, aku hanya tau pertemuanku dan pertemuanmu adalah sebuah takdir, takdir yang tak bisa kita pungkiri dan hindari" jawab kakek.


"takdir? lalu kenapa takdirku seperti ini? aku di tinggal mati ibuku lalu ayahku juga minggat, lalu siapa kakek bilang? dewa atau dewi lah itu, apa maksud mereka memberiku kekuatan tapi membuatku tak bisa menggunakannya? takdir macam apa ini?" ucapnya semakin kesal.


"Ra, terkadang di balik kesulitan yanh kita lalui tersimpan kebahagiaan tersembunyi, kaoan dan di mana kita menemukannya hanya takdir yang bisa membawanya, sebagai mahluk hidup kita hanya bisa berusaha bertahan dan menjalani semuanya" ucap lakek Arung pelan.


"tapi .. tapi aku masih belum mengerti, kenapa Dewa mempermainkan takdirku? kenapa mereka tak memberi kebahagiaan untukku? hiks" tangisnya pecah.


"kebahagiaan itu tidak bisa di cari, tapi di rasakan dengan hati, kakek yakin suatu saat nanti kau akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sekarang istirahatlah kamu pasti masih merasa sangat lemah" ucapnya menepuk punggung Alara.


"kebahagiaan? benarkah ada hal semacam itu untukku?" batinya.


* * *


"Ra, kapan kita sampai?"


"mungkin 2 hari lagi" jawabnya singkat.


"wah syukurlah, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan ras serigala putih" ucapnya antusias.


"beberapa hari lalu kamu sangat khawatir, kenapa sekarang sangat semangat?" tanya gadis itu bingung.


"emm Duwan"


"ya?"


"sebenarnya aku penasaran satu hal, kenapa selama ini kamu selalu bersamaku? apa pertemanan kita bisa di terima olehmu?" tanya gadis itu ragu.


"apa maksudmu? kenapa bicara seperti itu?" ucap Duwan tak mengerti.


"entahlah, aku hanya teringat sesuatu, dan aku penasaran alasanmu selalu bersamaku sampai sekarang" ucapnya.


"alasan yah? bagaimana kalau aku tak memiliki alasan?" tanya Duwan padanya.


"omong kosong, semua hal pasti memiliki alasan" bantah Alara tak percaya.


"itu benar Ra, aku benar benar tak memiliki alasan" jawabnya.


"tchh sia sia aku bicara" decihnya kesal.


"Ra tunggu" ucapnya saat langkahnya tertinggal.


"cepatlah, jangan lambat seperti siput" ucap gadis itu kesal.


"aku ingin bicara, tunggu dulu"


"bicara apa?" tanyanya malas.


"alasanku selalu bersamamu" ucapnya.


"katakan"


"alangkah baiknya kita duduk dulu, kakiku sudah hampir copot" pintanya.

__ADS_1


"baiklah, sekarang katakan" perintahnya.


"kalau aku bilang alasanku karena aku menyukaimu bagaimana?" tanya pemuda itu.


"bagaimana apanya? jangan membual" ucap gadis itu ketus.


"hehe bagaimana aku menjelaskannya yah? aku memang bennar menyukaimu tapi itu bukanlah alasan kenapa aku selalu bersamamu, aku tidak ingin bersamamu hanya karena merasa nyaman, nanti kalau aku sudah tak nyaman aku bisa pergi kapan saja, aku juga tidak bisa bilang alasanku bersamamu karena aku menyukaimu, aku takut saat rasa suka itu pudar maka aku akan memiliki pemikiran untuk pergi, jadi aku benar benar tak memiliki alasan, aku selalu bersamamu karena ingin di dekatmu, itu saja" ucapnya serius.


Secara tak langsung pemuda itu mengutarakan isi hatinya dengan serius, dia menyukai Alara tapi dia juga sadar bahwa Alara terlalu jauh dari jangkauannya.


"Duwan"


"hmm"


"bicaramu aneh" celetuknya.


"duhh bener bener deh, sudah susah payah aku menjelaskan malah di bilang aneh" gerutunya.


"haha bagaimana lagi, kurasa otakku tak sampai untuk memahami kata katamu" ucapnya tertawa.


"tchh dasar gadis ini, alasanku itu kamu, aku tidak ingin jauh darimu" batin Duwan kesal.


"terimakasih" ucap gadis itu tiba tiba.


"sam-ehh terima kasih? untuk apa?" ucap Duwan bingung.


"kata katamu terlalu rumit untuk aku pahami, tapi sedikitnya aku tau, berkatmu aku tidak pernah sendiri, padahal aku memiliki sifat dan sikap yang buruk, tapi selama 3 tahun ini kamu selalu ada bersamaku, menemani dan merawatku saat aku sakit, selama belasan tahun aku hanya memiliki kakek di sisiku, dan berkat kamu aku merasa memiliki seorang kakak" ucapnya penuh ketulusan.


"KREK" suara hati Duwan yang patah.


"ka-kakak? sepertinya aku benar benar tidak memiliki harapan" batinnya.


"hahaa tentu, kalau kamu menganggapku kakak kamu harus lebih sopan padaku" ucapnya tertawa.


"tidak mau" tolak gadis itu mentah mentah.


"grep .. hehh kau bilang aku seperti kakakmu, kamu harusnya sopan padaku" ucapnya sambil memiting Alara.


"gubrak .. ahkk"


"mau mati yah?" ucapnya setelah membanting tubuh Duwan.


"aduuhh tulangku, dasar gadis monster" gerutunya.


"apa? kamu benar benar mau mati rupanya" ucapnya siap memukul.


"pukul aku pukuul, aku rela mau di pukul ataupun di banting olehmu" ucap Duwan merentangkan tangannya.


"tchh menyebalkan"


Setelah puas beradu keduanya diam dan tertidur hingga pagi, hingga matahari sudah menampakan diri sepenuhnya keduanya masih terlelap dengan nyenyak.


Kai yang sudah bangun sejak matahari belum terbit memilih pergi mencari makanan, sampai harimau itu pulang Alara dan Duwan baru saja terbangun.


Dua muda mudi itu masih lesu dan sesekali menguap.


"plukk .. aku lapar" ucap Kai menjatuhkan seekor babi hutan kecil.


"wahh kapan kamu berburu?" tanya Alara.


"sejak pagi, aku bosan menunggu kalian tidur seperti orang mati" celetuk harimau itu.


"shhh ngomong ngomong sejak kapan cara bicaramu jadi sama seperti Alara?" tanya Duwan heran.


"entahlah, tanpa sadar jadi begini" ucapnya sambil merebahkan diri.


Setelah puas mengisi perut ketiganya pergi, hanya butuh waktu sehari lagi mereka akan sampai di hutan bambu, bahkan kalau mereka (Alara dan Kai) berlari hanya butuh seperempat hari untuk sampai.


Sebelum malam tiba ketiganya sudah sampai di hutan bambu, hutan yang 2 tahun lalu menjadi medan pertarungan antar 2 ras manusia serigala, kenangan buruk itu sejenak menyakiti perasaannya, ingatan saat kakeknya dan ratusan manusia serigala mati membuat perasaannya terluka.


"Ara, Duwan, selamat datang di hutan bambu" sambut Rangga ramah.

__ADS_1


....bersambung....


oyy jangan lupa tinggalin jejak biar author semangat yaaa


__ADS_2