
Berhari hari telah terlewat, Alara dan Duwan sudah beberapa hari di dalam hutan, malam nanti adalah malam di mana gerhana bulan merah akan muncul, malam di mana dia akan berubah menjadi serigala dan bangkitnya kekuatan spesial miliknya.
Alara sedikit bergidik saat membayangkan apa yang terjadi padanya malam nanti, sesakit apa rasa sakit yang akan dia rasakan, gadis itu sudah menemukan tempat yang cocok untuk mempersiapkan diri perihal kebangkitan kekuatannya nanti.
Di tengah hutan yang sangat rimbun, di sebuah gua yang letaknya dekat dengan aliran sungai, Alara duduk di mulut gua dan melihat Duwan tengah asik berebut daging bakar bersama Kai.
Lelaki penakut itu sudah akrab dengan harimau suliman itu setelah beberapa waktu sempat ketakutan, bahkan Kai juga beberapa kali tidur bersama Duwan saat Alara sedang berburu.
"mereka berdua benar benar hanya jadi beban buatku? yang benar saja" gerutunya.
"hei Duwan! tidak bisakah dirimu sedikit berguna?" tanya Alara.
"maksudmu" tanyanya tak mengerti.
"aku mengijinkanmu ikut bersamaku, tapi apa kau tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna?" tanya Alar lagi.
"seperti menghasilkan uang?" tanya Duwan menebak.
"yaa kalau kau bisa" ucap gadis itu.
"bisa" jawabnya bangga.
"bagaimana caranya?" tanya Duwan.
"mengumpulkan dan meracik banyak obat dan ramuan" jawabnya.
"hah? obat dan ramuan?" tanya Alara.
"iyaa, aku ini adalah seorang pemuda jenius, pengetahuanku sangat tinggi tentang obat obatan dan racun" ucpnya bangga.
"kau? helehhh mana ada orang jenius hampir mati 3 kali begitu" ucap Alara meremehkan.
"heyyy Ara, aku memang jenius, tapi kalau sedang panik memang terkadang otakku langsung tumpul, di tambah lagi aku tak bisa bela diri sedikitpun" ucapnya.
"apa saja yang bisa kamu buat?" tanya Alara lagi.
"hmm ya bermacam macam, aku juga bisa membuat berbagai racun dan penawarnya, " ucapnya lagi.
"kau paham ilmu tentang racun?" tanya Alara lagi.
"emm sebenarnya keluargaku sangat melarangku mendalami pengetahuan tentang racun, tp entah kenapa aku sangat tertarik dengan racun hehe" ucapnya canggung.
"kalau pengobatan?"
"kalau pengobatan itu karena adikku dulu sakit sakitan"
"kau punya adik?"
"ya, adik perempuan yang sangat cantik, dia gadis kecil yang cerewet dan baik, tapi sayangnya 3 tahun lalu adikku tiba tiba jatuh sakit, pengetahuanku waktu itu belum terllu banyak dan aku tak bisa mengobatinya" ucapnya lirih.
"bagaimana dengan para tabib?"
"sudah banyak tabib yang di datangkan oleh ayahku, tapi mereka semua tak ada yang tau penyakit adikku, aku sudah mati matian menciptakan berbagai obat tapi aku gagal, aku kehilangan dia lalu kakakku dan ayah ibuku, bahkan beberapa kali aku hampir kehilangan nyawaku sendiri, jika ingat semua itu rasanya juga aku ingin mati" ucapnya lirih.
"trus kenapa waktu itu kau lari?"
"aku ingin terus hidup untuk keluargaku" ucapnya tersenyum.
"hidup untuk keluarga?"
"emm, aku memang sering berpikir untuk mati, tapi saat nyawaku sudah di ujung tanduk justru aku teringat senyum mereka, dan aku ingin hidup lebih lama untuk mengingatnya, aku ingin memanfaatkan hidupku sebaik baiknya karena waktu yang hilang tidak akan bisa kembali"
"kenapa pemikiran manusia sangat rumit" gerutunya.
"memangnya sebagai manusia pikiranmu tak rumit?" tanya Duwan.
"manusia yah?" gumam Alara.
__ADS_1
"kau bilang apa?"
"ahh tidak" ucapnya.
Jika di lihat Kai sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan, harimau itu bisa langsung akrab dengan Duwan dan langsung akrab dengannya, jadi tak heran kalu dia dan saudaranya merawat Alan selama 2 tahun.
Sangat jarang ada siluman yang mudah akrab dengan manusia, apalagi dengan manusia yang lemah, mereka biasanya hanya tunduk pada manusia kuat dan berilmu tinggi.
"apa kau menyukai harimau itu?" tanya Alara.
"yaa, Kai sangat baik" jawab Duwan girang.
"dia itu siluman" ucapnya.
"aku sudah tau" jawabnya.
"dari mana kamu tau?" tanya Alara.
"matanya, setauku binatang yang sudah jadi siluman memiliki mata berwarna merah, semakin pekat warnanya semakin tua dan semakin kuat juga siluman itu, tapii aku heran kenapa harimau ini memiliki warna mata yang berbeda, yang satu mata siluman dan satunya lagi memiliki warna seperti matamu" ucapnya penasaran.
"bukankah itu terlihat cantik?" tanya gadis itu.
"grrr" geram Kai tiba tiba.
"ya ampun jangan bilang begitu, harga dirinya sebagai lelaki jadi terluka" ucap Duwan.
"wah waahh, baru beberapa hari bersama kau langsung bisa memahaminya?" ucap Alara heran.
"heheee"
"apa kau mudah akrab dengan berbagai siluman?"
"heii mana mungkin, ini baru pertama kalinya buatku"
"kupikir kau sudah berkali kali bersama siluman"
Untuk beberapa saat tak ada pembicaraan antar keduanya, mereka seperti sama sama larut dalam pikiran masing masing.
Sementara Duwan sendiri sedang penasaran dengan jati diri Alara, gadis yang sudah beberapa kali bersamanya itu tak pernah bercerita banyak hal tentang keluarganya, sejauh ini Duwan hanya sesekali mendengar Alara menyebut kakeknya.
"Ara" ucapnya.
"hmm"
"aku boleh tanya sesuatu?"
"apa?"
"tapi aku minta kau jangan tersinggung"
"kenapa?"
"apa orang tuamu seorang albino?"
"kau tau tentang albino?" tanya Alara.
"apa kamu sendiri tidak tau?" tanya Duwan.
Alara menggeleng karena selama ini kakeknya tak pernah menjelaskan apa itu albino, sementara saat bersama kakek Permana dia lupa tak minta penjelasan.
"Albinisme atau albino adalah kondisi yang disebabkan oleh kekurangan atau ketiadaan melanin di dalam tubuh. Penderita albinisme bisa dikenali dari warna rambut dan kulitnya yang terlihat putih atau pucat. Melanin adalah pigmen yang dihasilkan tubuh untuk menentukan warna kulit, rambut, dan iris (selaput pelangi) mata" ucap Duwan menjelaskan.
"trus pigmen itu apa?"
"emmm apa yah, intinya sesuatu yang mempengaruhi dan menentukan warna pada dirimu"
"warna pada diriku?"
__ADS_1
"iyaaa seperti aku yang memiliki kulit putih, rambut hitam, dan mata colkat, tapi kamu hanya memiliki kulit putih rambut putih dan mata hijau" ucapnya lagi.
"tapi kakek, pamanku dan keluarga lain bermata coklat"
"ayah ibumu bagaimana?"
"ayahku aku tak tau, tapi sepertinya dia bermata coklat, dan ibuku manusia normal sepertimu"
"jadi siapa yang albino?" tanya Duwan lagi.
"seluruh keluarga ayahku, mereka semua memiliki kulit dan rambut putih, tapi mata mereka coklat dan hitam"
"tapi kenapa matamu berwarna hijau, biasanya itu terjadi karena faktor keturunan, harusnya keluarga ayahmu ada yang bermata hijau, emmm sepertinya aku harus mencari tau banyak hal" ucap Duwan.
"apa sosok sepertiku terlihat menyeramkan?" tanya Alara.
"menyeramkan apanya? kau terlihat sangat cantik"
"cantik yah? kalau cantik kenapa aku selalu bersembunyi di balik jubah ini" ucapnya lirih.
"apa selama ini kamu selalu menyembunyikan dirimu? seperti saat di penginapan atau di pasar?"
"aku selalu menyembunyikan diriku di mana pun aku berada, hanya di depan kakek aku bisa bebas menunjukan diriku"
"kamu juga bisa menunjukan dirimu selama bersamaku, aku tak bermasalah dengan itu, bagi orang sepertiku yang mempunyai pengetahuan luas sedikit tau tentang kelainan yang kamu alami, tapi bagi orang orang awam, apalagi mereka yang buta huruf dan tidak berpendidikan melihat sosok sepertimu memang mereka akan berfikir kamu aneh" ucapnya.
"yaaa aku memang aneh"
"ehhh bukan begitu, maksudku kamu terlihat aneh karena kamu sangat mencolok, emm seperti sebuah permata yang jatuh di gundukan tanah, kamu terlalu bersinah di sana, jadi tanah tanah itu menganggapmu aneh, atau justru ancaman"
"hhhhh apapun itu tetap saja tidak ada tempat untukku menunjukan diri"
"heii bukannya aku sudah bilang, kamu bisa bebas menunjukan dirimu padaku, aku suka melihat mata hijaumu, apalagi rambut panjang putih milikmu, seperti melihat peri" ucapnya.
"peri? ha ha ha haa apa apaan itu? kau ini aneh sekali" ucap Alara terkekeh geli.
"aku aneh supaya kamu tak merasa aneh sendirian, kalau kita sama sama aneh kan tak masalah jika kamu bebas menunjukan diri padaku, bagaimana?"
"hmm yaaahh lagian sebentar lagi kamu juga akan tau siapa aku sebenarnya"
"siapa kamu sebenarnya? maksudnya?"
"nanti juga kamu akan tau, kalau kamu takut kamu bisa lari" ucap Alara.
Matahari terus turun ke arah barat, cahaya oranye mulai menghiasi langit tanda sebentar lagi gelap, Alara memasuki goa di ikuti oleh Kai dan Duwan.
Gadis itu duduk bersila di atas sebuah batu besar di dalam goa, Kai duduk di bawahnya dan menatap Alara dalam diam.
"setelah kamu melihat perubahan pada diriku kamu bebas lari Duwan" ucap Alara tiba tiba.
"lari? apa maksudnya?" tanya Duwan tak mengerti.
Rasa penasaran terus berputar putar di kepala pemuda tersebut, apalagi saat Alara hanya duduk dan memejamkan mata di depannya, dan Kai juga hanya diam mematung mennatap Alara.
Duwan terus berdiri menatap Alara, entah sejak kapan hawa di dalam goa ini terasa lebih dingin, perlahan Alara membuka matanya, mata hijaunya memancarnkan sinar terang di kegelapan malam.
Saat sedang terpana dengan sinar mata yang di pancarkan Alara, tanpa sadar pemuda itu datang mendekat, seolah dirinya terhipnotis.
Saat jaraknya hanya beberapa meter sesuatu terjadi di depan matanya, gadis cantik di depannya tiba tiba berubah menjadi sesekor serigala putih dengan bulu panjang yang cantik.
"bruukkk .. ap apaa" tubuh Duwan jatuh terduduk saat melihatnya.
Pemuda itu berkali kali mengucek matanya dan berharap apa yang di lihatnya tadi adalah salah, tubuhnya bergetar karena sosok di depannya benar benar serigala.
"se see ..... aaaaaaaa"
Pemuda itu lari keluar tanpa berani melihat ke belakang.
__ADS_1
"tchh bebas menunjukan diri apanya, dasar penipu, semua ucapannya hanya bualan saja" batinnya.
....bersambung....