The Werewolf

The Werewolf
05. Arumi dan Rangga


__ADS_3

Arumi duduk di sebuah kayu di belakang rumahnya, sesuai janjinya Rangga akan datang ke sini mengajak Arumi berburu.


Setelah hampir dua tahun menjalani hidup yang monoton, akhirnya hari ini dia akan mencoba sesuatu yang baru dengan orang yang baru juga.


"maaf aku sedikit terlambat" ucap seorang lelaki.


"Rangga?" tanya Arumi ragu.


"ah aku lupa" Rangga bergegas menutup kepalanya dengan jubah besar miliknya.


"kenapa?" tanya Arumi lagi.


"aku takut kau tak nyaman denganku" jawabnya.


"itu terlihat cantik" ucap Arumi sambil membuka jubah yang menutupi wajah Rangga.


Arumi tersenyum memandangi lelaki di depannya, kulitnya putih, hidungnya mancung, dengan sepasang mata teduh berwarna coklat keemasan dan bibir tipis kemerahan, di tambah lagi dengan alis, bulu mata dan rambutnya yang berwarna putih.


"sempurna" batinnya, Arumi terpesona dengan keindahan lelaki di depannya.


"sudah selesai memandangi wajahku" ucap Rangga tiba tiba.


"ahh mmm maaf" ucap Arumi terkaget.


"Ayo berangkat" ajak Rangga sambil menarik tangan Arumi.


Tanpa Arumi sadari pipinya memerah saat tangannya di gandeng oleh seorang lelaki selain ayahnya, jantungnya berdetak sangat cepat seakan ingin melompat.


Mereka berdua berjalan menyusuri hutan, cahaya matahari yang menguning perlahan menghilang dan mendatangkan gelap.


"kita berhenti di sini" ucap Rangga menghentikan langkahnya.


"di sini?" tanya Arumi bingung.


"tak usah bingung, besok pagi kita lanjutkan perjalanannya" terang Rangga.


"perjalanan? bukankah kita akan berburu?" tanya Arumi lagi.


"hhhhh kita tak bisa berburu di hutan ini" jawab Rangga malas.


"lohh ,, kenapa?" tanyanya lagi


"kau ini cerewet sekali, binatang di hutan ini hanya sedikit, kita akan pergi agak jauh" jawab Rangga agak ketus.


"kau marah padaku?" tanya Arumi.


"tidak" singkat Rangga.


"lalu kenapa tadi nada bicaramu begitu?"


"begitu bagaimana?" tanya Rangga malas.


"ah sudahlah, mungkin aku agak sensitif" ucap Arumi.


Rangga menyalakan api unggun untuk menerangi dan menghangatkan tubuh mereka berdua, Arumi merebahkan tubuhnya dan memandangi langit yang penuh bintang.


"ayah bilang orang yang sudah meninggal bisa melihat kita dari sana" ucap Arumi menunjuk salah satu bintang.


"bintang?" tanya Rangga heran.


"hmm, dulu saat aku menanyakan tentang ibu pada ayah dia menunjuk ke atas langit, dia bilang ibu ada di sana dan selalu mengawasiku" terang Arumi.


Rangga terlelap di bawah cahaya bintang, ini pengalaman pertama Arumi di alam bebas (kecuali waktu nekat nyelametin serigala), dia gelisah memikirkan keputusannya pergi dengan seorang lelaki yang masih asing.


Saat matahari baru terbit api unggun yang di nyalakan Rangga sudah mati, Arumi sedang menguap sambil merenggangkan tubuhnya.


"ayo jalan" ajak Rangga.


"heh, sepagi ini?" tanya Arumi.


"iya, cepat!" perintah Rangga.


Mereka berdua kembali berjalan menelusuri hutan, di perjalanan sesekali Rangga memetik buah untuk sarapan, apalagi Rangga tau sejak malam perut Arumi terus bermain musik (keroncongan).


Sebenarnya Rangga agak bingung kenapa dia mengajak Arumi ikut bersamanya, padahal saat bersama Arumi dengan bentuk serigala dia sering kali di buat kesal oleh ocehan tak jelas dari mulut Arumi, tapi mungkin hatinya tergerak untuk menghibur seseorang yang sudah menolongnya dua kali.


"kau masih lapar?" tanya Rangga.


"hem" jawab Arumi mengangguk.


"panah kelinci itu" ucap Rangga sambil menunjuk kelinci yang tak jauh darinya.

__ADS_1


"wuushhhh"


Anak panah melesat ke arah kelinci dan zoonk


"a ha haa .. aku terlalu amatir" tawa Arumi canggung.


"tak apa, nanti kau coba lagi" hibur Rangga.


"aku belajar memanah sejak kecil, tapi tak pernah memanah objek hidup, jadiii ..."


"iya aku tau, tak masalah" sergap Rangga "ayo jalan lagi, siapa tau nanti ada binatang lain di depan" sambungnya.


Walaupun Rangga terkesan cuek tapi sebenarnya dia adalah seseorang yang sangat pengertian, hanya saja dia jarang menunjukkannya karena memang dia lebih sering sendiri, sebenarnya dia sangat jarang bersosialisasi.


Arumi selalu tersenyum mendengar ucapan Rangga, seakan dia menemukan sosok ayahnya pada diri Rangga, seseorang yang sebenarnya sangat pengertian namun terlihat dingin.


Rangga terus menyuruh Arumi memanah binatang di dekatnya, entah itu kelinci, ayam hutan atau burung yang sedang bertengger.


Rangga ingin mengasah kemampuan memanah Arumi, walau sebenarnya dia sudah mahir memanah sejak kecil, akan beda lagi saat mempraktekkannya secara langsung pada binatang bernyawa, mereka yang punya insting akan lari saat merasa terancam, dan di situlah Arumi harus memanah dengan gesit dan tepat sasaran.


Tanpa terasa sudah beberapa bulan mereka berburu bersama, sejak kepergian pertama kali Arumi belum kembali ke rumah, mereka berdua terus bermalam di hutan dan sesekali menginap di penginapan setelah menjual hasil buruan.


Rangga selalu membagi dua hasil buruannya, walau Arumi sering menolak tapi Rangga terus memaksa, bagi Arumi dia tak banyak membantu, buruan yang mereka dapat hampir 90% hasil buruan Rangga.


"kenapa kau selalu membagi dua uang hasil berburu?" tanya Arumi.


"kenapa? kau mau semua?" tanya Rangga.


"heii yang benar saja, maksudku.."


"sudahlah, kau juga sama sama lelah" potong Rangga.


"hmm yasudah terimakasih" ucap Arumi.


Mereka berdua memesan banyak makanan, semenjak Arumi bersama Rangga dia selalu di manjakan dengan berbagai makanan, dari mulai sayur hingga bermacam olahan daging selalu mereka makan tiap sehabis menjual buruan.


Sebenarnya waktu di hutan mereka juga sering memakam ikan atau ayam bakar, hanya saja rasanya tak senikmat makanan yang mereka nikmati di kedai makanan.


"malam ini kau menginap sendiri di penginapan sebrang tempat makan ini, aku ada urusan sebentar" ucap Rangga.


"baiklah" jawab Arumi singkat.


Ini bukan pertama kalinya Arumi menginap sendiri di penginapan, sudah beberapa kali Rangga pergi tanpa Arumi, tapi Arumi tak pernah mempermasalahkannya karena itu urusan pribadi Rangga.


Jadi Arumi akan menghabiskan waktunya berjalan jalan di sekeliling penginapan atau pasar.


Sebenarnya Rangga selalu pergi setiap malam bulan purnama, tubuhnya tak bisa berada dalam bentuk manusia pada waktu purnama, dan saat Rangga pergi selama dua malam itu bertepatan pada hari kelahirannya, tubuhnya mengejang hebat karena selama hidupnya tak pernah meminum darah manusia.


Leluhurnya dulu percaya jika manusia serigala meminum darah manusia maka mereka tak perlu merasa tersiksa setiap tahunnya, tapi keluarga dari Rangga bisa mematahkan kepercayaan leluhur dulu, jadi mereka tak pernah melakukan itu, karena bagaimanpun juga mereka biasa menjelma menjadi manusia, jika mereka membunuh manusia maka mereka seperti membunuh saudara sendiri.


Dan hal yang paling di tentang keluarga Rangga adalah, mereka tak ingin keturunannya hilang kendali setelah meminum banyak darah manusia, apalagi ada salah satu leluhurnya merupakan seorang manusia sakti dulu.


Arumi berjalan keluar dari kamar, dia memesan makanan untuk sarapan.


Setelah sarapan Arumi berniat jalan jalan ke pasar.


"permisi, jika nanti ada lelaki bernama Rangga mencariku tolong katakan aku sedang berjalan jalan di pasar" ucap Arumi pada seorang pelayan.


"baik" jawabnya.


Gadis itu sangat suka berada di keramaian, menurutnya keramaian adalah tempat terbaik menghilangkan stres, beda halnya dengan Rangga yang lebih suka ketenangan cenderung sepi, dia sangat benci keramaian.


Setelah puas berkeliling, Arumi memutuskan masuk ke toko peralatan berburu dan senjata, Arumi ingin membelikan sesuatu untuk Rangga.


Arumi terus menyusuri tiap pajangan yang ada, di sana ada berbagai alat berburu.


dari mulai panah, pedang, pisau, golok, alat jebakan dan banyak lagi.


Saat tengah asik memilih Arumi menjatuhkan pandangan pada dua bilah belati kecil yang memiliki gagang berwarna kuning.


"belati ini bagus sekali" batin Arumi.


"paman aku ingin membeli belati ini" ucap Arumi pada pemilik toko.


"apa anda berburu menggunakan belati ini? atau anda pendekar?" tanyanya.


"ah tidak, aku hanya pemburu pemula dan biasa menggunakan busur, ini untuk sahabatku" jwab Arumi ramah.


Selesai melakukan pembayaran Arumi berniat kembali ke tempat penginapan, baru beberapa langkah dia keluar dari toko matanya menangkap sosok yang sudah sangat dia kenal.


Rupanya Rangga telah menunggu Arumi di depan toko dengan membawa peralatan berburu milik Arumi yang tadi di tinggalkan di penginapan.

__ADS_1


"apa kita akan segera pergi?" tanya Arumi.


Rangga hanya mengangguk dan menggandeng tangan Arumi, gadis itu selalu tersipu setiap Rangga menggandeng tangannya.


"oh tunggu dulu" ucap Arumi menghentikan Rangga.


"kena.. " ..... "ini untukmu" ucap Arumi memotong sambil memberikan bungkusan pada Rangga.


"apa ini?" ... "belati?" sambung Rangga.


Arumi selama ini selalu melihat Rangga berburu menggunakan belati kecil, meski dia tau kalau Rangga sudah memiliki beberapa tapi Arumi tetap ingin membelikannya.


Mereka berdua kembali berjalan keluar dari desa, rencananya hari ini Rangga aka mengajak Arumi pulang, walau selama ini Arumi tak pernah meminta kembali ke rumah tapi Rangga ingin gadis itu sesekali kembali ke rumahnya.


Rangga dan Arumi hanya berjalan tanpa berburu, jika lapar Rangga akan memetik buah untuk makan, dia mengabaikan binatang yang lewat di hadapannya, dia hanya fokus berjalan, karena jarak mereka jauh dari desa Arumi maka butuh waktu beberapa hari untuk sampai ke rumah.


"aku ingin mandi" ucap Arumi tiba tiba.


"tadi waktu melewati sungai kau tak minta mandi, di sini mana ada air" jawan Rangga.


"tubuhku baru terasa gatal" gerutu gadis itu.


"ya sudah ayo kembali ke sungai tadi" ucap Rangga malas


"tchh cara bicaramu itu bisa membuat orang salah menilai Rangga" batin Arumi tersenyum.


Setelah sampai di sungai Arumi bergegas mandi, Rangga berpamitan mencari tempat untuk berlindung karena langit sangat mendung, setelah menemukan gua kecil tak jauh dari aliran sungai Rangga kembali menemui Arumi.


Terlihat seorang gadis tengah duduk di batu dekat sungai


"ayo kita ke sana" ajak Rangga.


Saat tiba di mulut goa hujan langsung mengguyur dengan derasnya, suasana gelap beserta suara guntur yang beberapa kali terdengar memekakan telinga membuat badan Arumi bergetar.


"kenapa?" tanya Rangga heran.


"a-aku takut petir"


"duaaarrr"


"aaaaaaaaaa" jerit Arumi sambil menutup mata.


Sesosok tubuh mendekat dan mendekapnya erat, sesekali Arumi juga mendapay elusa lembut di kepalanya.


"tenanglah, itu hanya petir" tutur Rangga lembut.


Selama ini mereka memang sering berjalan bergandengan, tapi baru kali Rangga memeluk Arumi.


Wajah Arumi merah padam menaham malu sekaligus gejolak aneh dari tubuhnya, dia membenamkan kepalanya di dada bidang Rangga.


Tiba tiba tangan Rangga mendongakkan kepala Arumi, sekarang wajah mereka berhadapan dengan jarak beberapa centi, deru nafas dan tatapan mata Rangga membuat Arumi salah tingkah.


Perlahan namun pasti bibir Rangga mendarat ke bibir Arumi, gadis polos itu diam membatu atas perlakuan Rangga, baru saja mereka melakukan adegan ciuman dengan hot tiba tiba saja.


"duaaaaaaaaaaaarrrrrrrr"


Suara guntur yang sangat keras mengagetkan mereka berdua, sampai Arumi tak sengaja menggigit bibir Rangga hingga berdarah.


"a-ah maafkan aku" ucap Arumi panik.


Bukannya mendengar ucapan Arumi justru Rangga kembali menyerobot bibir mungil Arumi, dia tak peduli dengan bibirnya yang berdarah, yang dia inginkan saat ini adalah kehangatan tubuh Arumi.


Beberapa menit setelahnya Rangga melepas ciuman di bibir Arumi, deru nafasnya yang berat terdengar jelas di telinga Arumi, perlahan tangannya ingin menyusup ke dalam baju gadis di depannya.


"maaf" ucap Rangga tiba tiba menghentikan aksinya.


Arumi tertunduk malu saat mengingat perbuatannya tadi, bagaimana bisa gadis sepolos dirinya hampir kebablasan melakukan hal tak senonoh.


Rangga berjalan menjauh dari Arumi, lelaki itu merasa bersalah atas perlakuannya tadi, dia tak ingin membuat gadis yang diam diam di cintainya itu terluka, bagaimanapun juga Rangga bukanlah manusia seutuhnya, dia tak ingin Arumi kesewa saat tau yang sebenarnya.


Arumi berjalan mendekati Rangga.


"aku menyukaimu" ucapnya sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Rangga.


Rangga hanya terdiam mendengar ucapan Arumi, sesungguhnya dia sedang berdebat dengan batinnya sendiri, di satu sisi dia mulai mencintai Arumi dan dia tak ingin menjalani hubungan berdasarkan kebohongan, tapi di sisi lain dia takut kehilangan Arumi saat jati dirinya terbongkar.


"aku bukan manusia" ucap Rangga tiba tiba.


....bersambung....


**haiii haiii, bagaimana menurut kalian cerita kali ini?

__ADS_1


jangan lupa like dan komen yahh💜****


__ADS_2