The Werewolf

The Werewolf
41. Hutan Odari


__ADS_3

"terima kasih banya tuan dan nona muda, kebaikan kalian akan selalu kami ingat" ucap bu Kinan pada Alara dan lainnya.


Ketiga pemuda itu hanya membungkuk dan pamit pergi, ketiganya kaget saat melihat anak anak yang awalnya ketakutan sekarang sedang mengelus tubuh Kai dan saudaranya.


"bukannya tadi mereka hampir menangis?" celetuk Alara.


"mungkin sekarang mereka berfikir Kai dan lainnya menggemaskan" jawab Duwan.


"menggemaskan? dari sisi mana?" gumam Raka heran.


Setelah berpamitan mereka semua kembali melanjutkan perjalanan, mereka tak mau terlalu lama di sana karena semakin lama semakin banyak mata yang melirik.


Berhubung keadaan semua harimau sudah pulih mereka bisa berlari cepat, sebelum malam tiba mereka sudah tiba di sebuah padang rumput, mereka istirahat dan besok pagi bergegas melanjutkan perjalanan.


Setelah beberapa hari terlewat Alara dan lainnya tiba di sebuah hutan dengan banyak pepohonan besar, Alara sebelunya tak begitu memperhatikan tapi semakin dia amati semakin dia sadar bahwa hutan ini yang kakeknya sebut hutan Odari.



Hutan Odari terletak di antara pegunungan dan tebing tinggi, di sisi kanannya pegunungan yang sangat luas, dan sisi kirinya tebing curam dan tinggi yang beejumlah belasan.


Kalau di lihat sekilas hutan ini nampak biasa saja, tapi Alara ingat kakek Arung pernah bercerita hutan Odari adalah salah satu hutan yang pernah di huni oleh Elf beberapa ratus tahun lalu.


Elf adalah peri hutan yang memiliki telinga panjang dan runcing, tubuhnya lebih kecil dengan manusia tapi kulit mereka berwarna pucat, di percaya mereka adalah kelompok mahluk hidup yang memiliki kekuatan sihir dan kemampuan spesial lainnya sejak lahir.


Kemampuan spesial mereka membuat sebagian manusia yang tamak semakin menjadi, kakek Arung bilang semakin lama keberadaan Elf semakin berkurang karena di buru manusia, dan hutan Odari adalah tempat terakhir Elf pernah terlihat.


Hutan Odari sangat hijau dan subur, bukan hanya pepohonan yang tumbuh besar tapi banyak tanaman bunga bermekaran di sini, tak heran kalau kakek Arung mengatakan hutan Odari adalah hutan tercantik yang pernah dia temui.


Semakin masuk maka semakin terpesona mata kita dengan keindahan alamnya, bukan hanya banyak goa tapi terdapat air terjun besar di sini, airnya dingin dan sangat jernih karena matahari agak sulit masuk kemari.


Alara melompat dari punggung Kai, di ikuti oleh Alan dan juga Duwan.


"Alan bagaimana kalau tempat ini menjadi rumah baru kalian?" tanya Alara.


"aku akan menuruti perkataan guru" jawabnya.


"jangan jadi anak yang terlalu penurut, kalau tak suka katakan saja" ucap Alara.


"hutan ini sangat jauh dari desa maupun perkotaan, bahkan letaknya juga tersembunyi, aku rasa aku dan lainnya bisa tinggal di sini" ujarnya berpendapat.


"bagaimana dengan kalian?" tanya Alara pada De, Ney dan May.


"grrr" geram ketiganya mengangguk.


"baiklah, sekarang kita coba masuk lebih dalam" tutur Alara.


Ketujuh mahluk itu semakin dalam memasuki hutan, bukan hanya air terjun di sini juga ada danau yang tak terlalu besar, hanya saja airnya sedikit keruh dan berwarna hijau.


Alara mencoba mengamati apa yang ada di dalam danau tersebut, dan matanya bisa menangkap ada beberapa mahluk hidup yang bersembunyi di bawah sana.


Di tatapnya area sekitar danau, terlihat ada gundukan rumput kering di dekat danau, Alara mencoba mendekati untuk mengecek ada apa di sana.


"telur?" gumamnya.


Tak lama saat Alara mengamati telur itu tiba tiba retak, di ikuti beberapa telur yang juga ikut retak.


"krak .. krak" bunyinya terdengar jelas.

__ADS_1


Sesosok mahluk kecil muncul dari setiap telur yang dia amati, Alan dan Duwan mendekat karena penasara dengan apa yang di lihat Alara.


"astagaa kadaal" pekik Duwan.


"kadal?" ucap Alan heran.


"bodoh, itu anak buaya" celetuk Alara.


"anak apa? buaya?" pekik Duwan kaget.


"berarti yang ku kira danau itu kemungkinan adalah.."


"sarang buaya" ucap Alan dan Duwan bersamaan.


Ketiganya langsung pergi menjauh sejauh mungkin, Kai dan saudaranya yang tadinya sedang meminum air juga langsung ikut lari.


Dari kejauhan ketiga muda mudi itu mengamati danau itu dan benar saja, muncul 2 ekor buaya berukuran besar menghampiri bayi buaya yang baru menetas, tak lama muncul beberapa buaya yang mengarah ke tempat lain.


Ada 4 tumpukan rumput kering di sana, kemungkinan tumpukan tumpukan itu adalah tempt telur telur dari buaya itu.


"kamu yakin tinggal di sini Lan?" tanya Duwan.


"iya, setauku buaya tak akan pernah pergi jauh dari sarangnya, jadi aku hanya perlu cari tempat yang jauh saja dari danau itu" ucap Alan.


Lalu mereka kembali menyusuri hutan dan tiba di depan sebuah pohon yang sangat besar, di tengah pohon itu terlihat ada sebuah lubang besar, tapi anehnya pohon itu tetap tumbuh subur.


Di sekelilingnya sangat banyak tanaman bunga dan ada satu tanaman yang menarik perhatian Alara.


"mawar putih" ucap Alara senang.


"apa yang kamu lakukan?" tanya Duwan.


"makan .. kamu tidak lihat aku sedang mencium bunga ini" ucap Alara ketus.


"ehh ku pikir gadis sepertimu tak suka hal begitu" celetuk Duwan.


"aku memang tak begitu menyukai bunga, tapi aku sangat menyukai mawar putih" jawabnya.


Tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya, Alara dan lainnya saling berdesakkan masuk ke dalam lubang pohon di depannya.


Saking deras dan lamanya hujan turun mereka sampai ketiduran, mereka tak sadar ada sepasang mata yang mengamati mereka dari kejauhan.


Hujan reda saat gelap sudah menyelimuti seluruh hutan ini, rasa lapar juga menyerang ke tujuh mahluk itu karena sejak pagi belum makan apapun.


"kurasa hutan ini sangat aman, aku tida merasakan ada aura siluman di sini" ucap Alara.


"tapi kan ada sarang buaya di sana" ucap Duwan protes.


"namanya juga hutan, pasti banyak binatang buas di sini, selama mereka bukan siluman maka aku rasa Alan dan lainnya aman di sini" terang Alara lagi.


"iya guru benar" ucap Alan setuju.


Setelah berdiskusi mereka memutuskan kalau Alan dan lainnya akan tinggal di sini, bahkan untuk menjamin keselamatan Alan dan lainnya dari manusia di luar sana Alara memasang pagar gaib untuk mereka.


Gadis itu sudah mulai mahir menggunakan kemapuan spesialnya karena pengetahuan dalam ingatannya terus membantunya berkembang.


Kai dan saudaranya memutuskan untuk mencari buruan, dan setelah dapat beberapa mereka langsung kembali ke tempat Alara, Duwan dan Alan menunggu.

__ADS_1


Karena sudah sama sama lapar ketiganya langsung turun tangan memasak bersama, aroma daging bakar yang menggoda langsung menyeruak ke setiap sisi hutan.


Karena hari masih gelap mereka memutuskan kembali tidur, Alara dan Duwan akan melanjutkan perjalanan lagi besok.


Tidur mereka sangat nyenyak karena perut mereka kenyang, niat hati bangun pagi justru ketiga pemuda itu bangun tengah hari.


Mau tak mau Alara dan Duwan memilih melanjutkan perjalanan besok saja, dan keputusan mereka tentu di sambut senang oleh Alan.


"guru, kenapa guru tidak tinggal di sini dulu beberapa hari?" tanya Alan.


"ada sesuatu yang harus aku pastikan Alan, jika ada kesempatan aku akan kemari, dan satu hal lagi jangan memanggilku guru" ucap Alara.


"ke-kenapa?" tanya Alan gagu.


"kamu belajar pedang sendiri, aku hanya memeberi sedikit arahan padamu, jadi aku tak pantas di sebut guru" ucap Alara lagi.


"tapi aku mengenal pedang karenamu, aku memdapatkan kitab ini juga karena guru" ucap Alan protes.


"aku tidak memberiknmu kitab ini, aku hanya meminjamkannya, aku harus membawa kitab ini lagi dan memberikan pada kakekku" jawab Alara menjelaskan.


"begitu yah? tapi aku belum menguasai tahap ke 3, itu berarti aku tidak bisa menyempurnakan jurus pedang pembelah langit?" tanyanya.


"sebenarnya sangat sayang karena kamu belum menyempurnakan jurus ini, tapi kitab ini milik kakekku" ucap Alara lagi.


"tidak papa guru, aku di bekali ilmu ini juga sudah sangat beruntung" ucapnya.


"sebagai gantinya terima ini" ucap Alara memberikan pedang.


"pedang? bukannya pedang .."


"pedang itu sudah rusak Alan, pakai pedang ini saja, kualitasnya jauh lebih bagus karena pedang ini termasuk senjata kelas menengah tingkat 3" ucap Alara menjelaskan.


"maaf aku merusak pedang guru" ucapnya lagi.


"tidak apa apa, mulai sekarang pergunakan pedang ini dengan baik"


"terima kasih banyak guru" ucapnya memberi hormat.


"ku bilang jagan panggil aku guru" celetuk Alara.


"ehh lalu?"


"kakak saja" perintahnya.


"baik gu-ehh kakak"


Paginya sesuai rencana Alara Duwan dan Kai pergi melanjutkan perjalanan, Alan mengantar dua orang itu sampai keluar hutan karena dia sendiri tak tau kapan bisa bertemu lagi.


Alan dan 3 harimaunya kembali masuk hutan dan menetap di sana, dari luar hutan itu hanya terlihat seperti hutan yang gersang karena sihir pagar gaib yang di buat Alara.


Sesampainya Alan di tempat semula dia di kejutkan dengan adanya seseorang yang tengah memakan sisa daging bakar yang di makannya tadi bersama Alara dan Duwan.


"si-siapa kau?"


.....bersamhung......


jangan lupa dukungannya yahh...

__ADS_1


__ADS_2