The Werewolf

The Werewolf
06. Arumi dan Rangga ll


__ADS_3

Arumi dan Rangga menikah secara sederhana di desa kelahiran Arumi, pernikahan mereka berdua hanya di saksikan beberapa orang.


Setelah kejadian beberapa hari lalu Arumi dan Rangga memutuskan untuk terlebih dulu menikah, pernikahan sederhana dengan di saksikan beberapa orang sudah lebih dari cukup bagi mereka.


[beberapa hari lalu]


"aku bukan manusia" ucap Rangga tiba tiba.


"mmm, aku tau" jawab Arumi.


"a-apa? bagaimana bisa?" tanya Rangga panik.


"rahasia" jawab Arumi dengan mengembangkan senyum.


"tapi ..." ucap Rangga terhenti saat jari Arumi menempel di bibirnya.


"tak penting siapa kamu, yang terpenting bagiku kamu selalu ada untukku" ucap Arumi pelan.


Rangga meneteskan air mata mendengar ucapan gadis yang dia cinta, selama lebih dari 20 tahun baru kali ini dia menangis, awalnya Rangga pikir air mata adalah satu satunya yang tidak dia punya, karena dari kecil dia tak pernah menangis, tapi hari ini dia membuktikan bahwa dia memiliki air mata.


Arumi menghapus air mata Rangga dengan punggung tangannya, senyum hangat merekah di bibirnya.


Walau dia hanya tersenyum, tapi di mata Rangga senyum itu mengatakan semua akan baik baik saja.


Mereka berpelukan dan tertidur bersenderkan dinding goa, paginya mereka bergegas melanjutkan perjalanan ke desa kelahiran Arumi, mereka telah memutuskan akan langsung menikah setelah sampai.


Acara pernikahan berlangsung singkat, saat ini mereka berdua bukan hanya sepasang pemburu, tapi sepasang suami istri.


Kecanggungan kembali terjadi saat mereka duduk berdua di kamar kecil milik Arumi.


Tampak keringat dingin mengucur dari pelipis sepasang pengantin baru itu, Rangga berinisiatif mendekati Arumi terlebih dahulu, meski sedikit canggung tapi Arumi menyambut hangat perlakuan dari suaminya.


Rangga mencium kening lalu bibir mungil Arumi, perlahan dia menanggalkan baju yang di kenakan istrinya, tiba tiba saja jantungnya terpacu sangat cepat saat melihat sesuatu di tubuh Arumi, matanya yang tak berkedip membuat Arumi salah tingkah.


Saat hendak melanjutkan aksinya


"tok tok tok" terdengar ketukan dari pintu depan.


"siapa malam malam kemari" gumam Arumi.


"tchhh si*alan mengganggu saja" batin Rangga.


Rangga melangkah keluar dari kamar, dia membuka pintu dan mendapati sesosok lelaki berbadan tegap di hadapannya.


"ada keperluan apa malam malam kemari?" tanya Rangga dingin.


"siapa mas" tanya Arumi sambil melangkah keluar.


Arumi mematung saat matanya menatap sesosok lelaki yang membuat hatinya terluka beberapa bulan lalu, suasana hatinya yang sedang bahagia tiba tiba saja berubah, matanya berkaca kaca mengingat perlakuan pamannya beberapa bulan lalu.


Lelaki berbadan tegap di hadapan Rangga adalah Brama, paman Arumi.


"Arumii" ucap Brama lirih.


"ada perlu apa?" tanya Rangga lagi.


Tapi laki laki di hadapannya langsung melangkah melewati Rangga begitu saja.


"maaf, paman mohon maafkan kesalahan paman" ucap Brama sambil bersimpuh di hadapan Arumi.


Arumi tak menjawab apapun kecuali air matanya yang menetes, dia masih ingat betul saat lelaki yang sudah seperti ayahnya itu menamparnya, rasa perih di pipi kala itu seakan kembali terasa, Rangga yang melihat istrinya menangis langsung mendekat.


"dia pamanmu?" tanya Rangga.

__ADS_1


Arumi mengangguk tanpa bersuara, gadis itu langsung pergi ke kamar tanpa bicara, tangan Rangga mengepal saat teringat cerita Arumi beberapa bulan lalu, lelaki di hadapannya adalah orang yang menampar dan mengusir Arumi dengan kasar.


"untuk apa anda kemari?" tanya Rangga dengan nada tak suka.


"kau pasti Rangga suami dari keponakanku, kumohon katakan pada Arumi aku meminta maaf atas kelakuanku waktu itu" ucap Brama memohon.


"minta maaf? apa dengan minta maaf luka di hati istriku akan hilang begitu saja?" ucap Rangga dingin.


"a-aku tau ini salahku, aku gelap mata kala itu, kumohon maafkan aku" pinta Brama.


"ayo keluar" ajak Rangga.


"kenapa anda tiba tiba minta maaf setelah melukainya separah itu?" tanya Rangga dingin.


"aku telah mengetahui kebenarannya, Arumi tak mencuri"


[flasback 1 minggu setelah kejadian di toko]


"paman, di mana kak Arumi?" tanya bocah laki laki berumur 4 tahun.


"untuk apa kau mencari pencuri itu?" ucap Brama ketus.


"pencuri? siapa yang anda maksud?" tanya Kinan (ibu sang bocah).


"siapa lagi kalau bukan Arumi" jawabnya sewot.


"hah? mana mungkin gadis sebaik itu mencuri" sangkal Kinan.


Brama menceritakan kejadian seminggu lalu saat uangnya hilang, dan Kinan mendengarnya dengan seksama, Kinan mengrenyitkan dahi saat mendengar ucapan Brama.


"hari itu aku lihat putrimu masuk lewat pintu belakang dan memasukan uang ke sebuah tas, kupikir tas itu milikmu" ucap Kinan, Kinan tinggal di belakang toko Brama dan saat Dara masuk lewat pintu belakang Kinan melihatnya karena waktu itu dia sedang menemani anaknya bermain.


Sayangnya Kinan tak tau kabar tentang Arumi mencuri karena sebelum kejadian itu Kinan pergi kerumah mertuanya di desa sebelah dan baru pulang hari ini.


"setelah kejadian itu aku mendesak putriku untuk mengakui yang sebenarnya, dan aku terkejut saat tau bahwa putriku melakukan semua itu atas perintah istriku" ucap Brama lirih "hari itu juga aku langsung datang kemari tapi Arumi tak ada di rumah, hari hari berikutnya juga aku kemari tapi aku tak menjumpainya sekalipun" sambungnya menyesal.


"lalu setelah melihat reaksi Arumu apa yang akan anda lakukan?" tanya Rangga.


Brama hanya menggeleng pelan, sepertinya dia tak memiliki cara untuk mendapatkan maaf dari Arumi, tentu saja dia sadar perlakuannya waktu itu benar benar melukai Arumi, apalagi semua itu terjadi atas rencana istrinya.


"lebih baik anda pulang, biar aku yang bicara padanya" perintah Rangga.


Setelah kepergian Brama, Rangga menghampiri istrinya yang tengah menangis di pojokan kamar.


"untuk apa kamu menangisi dia, kalau memang tak mau memaafkan ya sudah tak usah di maafkan" ucap Rangga.


"tapi dia pamanku" ucap Arumi lirih.


"jadi?" ucap Rangga.


Arumi menggelengkan kepala, sepertinya saat ini giliran gadis itu yang berdebat dengan batinnya perihal pamannya, Rangga tak ingin memaksa istrinya memberi keputusan secepatnya, dia tak ingin perasaan istrinya terbebani.


"jangan terlalu di pikirkan, lebih baik sekarang kita tidur" ucap Rangga pelan.


"iya" jawab Arumi singkat.


Mereka berdua merebahkan diri di dipan milik Arumi.


"ckkk dasar orang tua kurang aj*r, bisa bisanya dia datang malam malam mengacaukan malam pertamaku" batin Rangga kesal.


Paginya Rangga bangun saat mencium aroma masakan istrinya, rupa rupanya mood istrinya sudah membaik pagi ini.


"pagi mas" sapa Arumi ramah.

__ADS_1


"suasana hatimi sudah membaik rupanya" ucap Rangga.


"he he , mandi dulu sanah lalu kita sarapan" perintah Arumi.


"siap nyonya" jawab Rangga meledek.


Suasana hati Arumi benar benar sudah baik, semalam dia memikirkan keputusan terbaik perihal pamannya, pamannya tak sepenuhnya salah walau sempat menyakiti Arumi, jadi Arumi berniat mengunjunginya nanti.


Selesai sarapan Arumi mengutarakan niatnya pada Rangga suaminya, Rangga tak bermasalah selagi itu memang keinginan Arumi, dia juga akan menemani Arumi ke toko pamannya.


Sepanjang jalan mereka terus bergandengan tangan, tak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, saat ini adalah saat bahagia bagi pengantin baru seperti mereka.


Saat sudah dekat dengan tempat yang di tuju tiba tiba Arumi berhenti melangkah, mungkin dia sedang berusaha menguatkan hatinya untuk memaafkan pamannya.


Rangga membiarkan istrinya masuk sendirian ke toko, sebelum kakinya melangkah Arumi berkali kali menarik nafas panjang.


"paman!" seru Arumi pelan.


"Arumii !" ucap Brama tak percaya.


Brama langsung berlari ke arah Arumi dan meninggalkan beberapa orang yang akan membayar belanjaannya.


"Arumi maafkan paman, paman menyesal karena tak mempercayaimu" ucap Brama segera, dia tak ingin Arumi keburu pergi sebelum benar benar mengucapkan maaf pada anak dari kakaknya itu.


"sudahlah pamam, aku tak ingin menyimpan dendam di hatiku" jawab Arumi lirih.


"paman benar benar bersalah padamu, paman telah melukaimu" ucap Brama lagi.


"ku akui luka itu masih ada sampai detik ini paman, tapi ayah tak pernah menginginkanku menjadj seseorang yang pendendam da keras hati, aku sudah memaafkan paman" terang Arumi.


"hiiiks terima kasih, terima kasih banyak Arumi" tangis Brama pecah saat mendengar ucapan dari gadis yang seumuran dengan putrinya tapi pemikirannya sangat bijaksana.


Brama benar benar menyesal karena waktu itu termakan umpan putrinya, setelah mengetahui kebenaran tentang Arumi Brama langsung menghukum putri dan istrinya, mereka harus bolak balik ke rumah Arumi untuk memantau apakah Arumi sudah kembali atau belum, bahkan Brama sempat memgancam akan menceraikan Rantih jika dia masih bersikap buruk pada Arumi.


Saat Rantih melihat Arumi memasuki toko tentu sana dia tetap tidak suka, rasa bencinya pada Arumi sudah tertanam dari dulu di hatinya, tapi setidaknya setelah mendapat ancaman dari Brama sekarang Rantih akan selalu jaga sikap Pada Arumi.


Selesai menyelesaikan kesalah pahaman dengan Brama, Arumi dan Rangga kembali pulang ke rumah, suasana sore ini terasa hangat sehangat hati Arumi.


"aku bangga padamua" puji Rangga.


Arumi tersenyum lebar saat mendengar pujian dari suaminya, baginya yang terpenting sekarang adalah dia bisa hidup bahagia dengan rangga.


"nanti malam kita lanjutkan sesuatu yang sempat tertunda" bisik Rangga pada Arumi.


Arumi yang mengerti maksud suaminya langsung tersipu di buatnya, pipinya merah dan wajahnya tertunduk karena malu.


Tapi yang namanya rencana hanya tinggal rencana, saat sedang semangat semangatnya menanti malam tiba, yang tiba lebih dulu justru tamu bulanan Arumi.


"si*l, ini semua gara gara lelaki tua tak tau diri itu, andai semalam dia tak datang kemari maka aku tak akan menunda terlalu lama untuk malam pertamaku" umpat Rangga dalam hati.


Istrinya yang mengerti bahwa suaminya kesal hanya bisa tertawa, orang yang selama ini dia anggap cuek justru sangat menggemaskan saat sedang kesal.


"tahan ya ... sayang" ledek Arumi.


Rangga yang kesal langsung menubruk Arumi, walau malam pertamanya tertunda setidaknya ada beberapa hal yang bisa dia lakukan sambil menunggu waktu tiba.


.....bersambung....


jangan lupa beri dukungan pada author


satu like dari para reader mampu memacu semangat menulis


kritik dan saran juga jangan lupa💜💜

__ADS_1


__ADS_2