
"syuuuu jlep"
Seekor kelinci mati seketika saat kepalanya tertancap belati, si pemilik belati langsung mengambil dan mengolah kelinci tersebut.
"aneh sekali, kenapa di hutan sebesar ini sangat sulit mencari buruan" gerutunya.
Alara telah keluar dari penginapan dan kembali melanjutkan perjalanan, dia sendiri sebenarnya tak tau membutuhkan waktu berapa lama untuk sampai ke hutan bambu, karena di sela perjalanannya dia sesekali menyusuri hutan untuk mencari keberadaan ayahnya.
Gadis itu naik ke pohoh besar dan duduk di sebuah dahan yang kokoh, kakinya menjuntai ke bawah sambil tangannya memegang kelinci yang baru di bakar olehnya.
Setelah makan dia menyenderkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata, tapi walau sudah berusaha tetap saja dia sulit tertidur, pikirannya entah sedang berjalan kemana saat ini.
"hhhhh ibu, apa ayah benar masih hidup?" gumamnya sedikit ragu.
Di lubuk hatinya yang paling dalam dia percaya bahwa ayahnya masih hidup, tapi mengingat sejauh ini tak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan ayahnya membuat keraguan tumbuh di hatinya.
Walau sebenarnya dia tak terlalu berharap besar bahwa ayahnya masih hidup, tapi tetap saja dia ingin bertemu dengan sosok sang ayah walau hanya sekali saja.
"sreek sreeekk"
Walau samar Alara bisa menangkap suara langkah kaki seseorang, hidungnya juga mencium adanya aroma darah tak jauh darinya.
"ini aroma darah manusia" gumam Alara.
"sreek sreekk bruukk hahhh hahhhh"
Tepat di bawah pohon tempatnya istirahat terlihat seorang lelaki terjatuh dengan tubuh penuh luka, di bawah langit jingga yang menandakan malam segera tiba, Alara mengamati lelaki itu dari atas pohon.
"akh .. kakak maafkan aku huhu"
Sayup sayup terdengar suara rintihan lelaki itu sambil menangis, terlihat sekali ada luka menganga di perut dan tangannya, wajahnya juga terlihat babak belur seperti habis di hajar seseorang.
Lama kelamaan suara rintihan itu hilang di barengi dengan datangnya sang kegelapan, Alara meloncat dan mendarat tepat di samping tubuh lelaki yang tergeletak di bawah pohon tadi.
"hei tuan, apa kau mati?" seru Alara sambil menggoncangkan tubuh lelaki itu.
"ka kaak"
Lelaki itu hanya bergumam dengan keadaan mata masih tertutup, terlihat ada lelehan air mata di ujung matanya.
"apa yang terjadi dengannya?" gumam Alara.
Karena tak tega melihat keadaan lelaki tak di kenal di depannya, Alara mencarikan tumbuhan obat yang bisa dia gunakan untuk menyembuhkan luka, pengetahuannya tentang pengobatan lumayan luas karena kakeknya juga membekalinya dengan ilmu pengobatan.
"astagaa, luka di perutnya hampir saja membuat ususnya berhamburan keluar" pekik Alara.
"breet" di robeknya baju sang pemuda itu.
"aaakhh" terdengar kembali suara rintihan saat Alara membalurkan tumbukan obat pada luka lelaki tersebut.
Di ambilnya baju yang tadi sudah dia robek, kembali dia robek memanjang untuk membebat luka pemuda itu.
Angin malam semakin menusuk sampai tulang, cuaca malam ini benar benar di lalui dengan hembusan angin kencang yang tiada henti.
Terlihat bibir pemuda di depannya semakin pucat, lama lama giginya gemrutuk menandakan dia sangat kedinginan, Alara memegang kening pemuda di depannya dan terasa sangat dingin.
"apa yang harus ku lakukan? tubuhnya dingin sekali" ucapnya bingung.
"tuaan, heii bangun! tubuhmu sangat dingin" ucap gadis itu sembari menepuk pipi si pemuda.
Dengan berat hati Alara menggendong tubuh si pemuda, dia berjalan mencari sebuah goa untuk memberikan rasa lebih hangat.
Setelah merebahkan tubuh pemuda tersebut Alara keluar untuk mencari beberapa ranting pohon, selesai membuat api unggun kecil gadis itu kembali mengecek suhu tubuh si pemuda.
"astagaa kenapa tubuhnya makin dingin, bagaimana kalau dia mati?" ucapnya makin bingung.
"arghhh kakek bagaimana ini?" ucapnya makin frustasi.
__ADS_1
Entah muncul ide dari mana, tiba tiba Alara merubah wujudnya ke bentuk serigala, dia memposisikan diri senyaman mungkin untuk menghangatkan tubuh pemuda itu dengan bulu halusnya.
"kesialan macam apa ini, bisa bisanya aku melakukan hal bodoh seperti ini" bartinnya.
Sampai pagi tiba pemuda itu belum juga membuka mata, untungnya semalam setelah Alara merelakan bulu halusnya sebagai penghangat, pemuda itu tak lagi menggigil.
Alara berjalan keluar mencari aliran sungai, tenggorokannya sangat haus karena sejak kemarin belum minum, dengan mengandalkan pendengarannya bukan hal sulit mencari aliran sungai di sekitarnya.
Setelah menghilangkan dahaga Alara menceburkan diri ke sungai, dia mandi sekalian mencari ikan untuk di makannya, setelah dapat beberapa ekor dia membakar dan memakannya sendiri.
"apa yang harus kulakukan pada pemuda itu?" gumamnya tiba tiba.
Alara kembali ke goa dengan membawa air yang dia tempatkan di sebuah bambu, sampai sana dia mengelap darah darah kering di sekitar luka pemuda yang iya jumpai.
"sampai kapan kau pura pura tidur?" ucap Alara tiba tiba.
"ehh kau tau aku sudah bangun?" tanya pemuda itu kikuk.
"hmm" gumamnya sambil terus membersihkan noda darah.
"terimakasih banyak, andai kau tak menolongku pasti aku sudah mati" ucapnya.
"kalau kau tadi terus pura pura pingsan aku tak keberatan melakukannya" jawab Alara ketus.
"ahh tidak tidak terima kasih, aku masih ingin hidup" jawabnya cepat.
"kruuk" perut pemuda itu berbunyi dengan kerasnya.
"ahhh dasar tak tau diri, bisa bisanya kau berbunyi di depan nona ini" keluhnya.
"kau tau aku wanita?" tanya Alara heran.
"mana ada pria yang mempunyai kulit halus dan suara sepertimu nona, walau pakaianmu pakaian seorang pria aku masih bisa membedakan mana pria dan mana wanita" jawabnya.
"huuhhh..kau sudah bisa mengoceh seperti itu berarti kau sudah sembuh kan? aku akan pergi" ucapnya sambil berdiri.
"tunggu nona aaakhhh" pekiknya tiba tiba.
"ahh itu aku.."
"diam di situ, aku mau mencari makan untukmu" bentaknya sambil berlalu pergi.
"ya ampun nona itu galak sekali, bahkan kakakku bukan apa apanya" gumamnya.
"tapi dia sama baiknya dengan kakak, ahh kakak" desahnya dengan mata berkaca kaca.
Alara mencari beberapa buah dan tanaman obat untuk di balurkan ke luka pemuda tadi, entah apa yang membuatnya mau repot repot merawat manusia yang tak di kenalnya.
Setelah mendapat buah dan bahan untuk obat dia bergegas kembali.
"pluukkk, makan itu" ucapnya sambil melempar buah yang di dapat.
"terima kasih, siapa namamu nona?" tanyanya.
"Alara" jawabnya sambil membersihkan beberapa tanaman.
"aku Duwan" ucapnya.
"aku tak bertanya" jawab Alara ketus.
"kau galak sekali, tapi baik seperti kakak ku" kata Duwan.
"jangan samakan aku dengan siapapun" bentak Alara.
"baiklah, maaf kalau kata kataku salah" ucapnya lirih.
Duwan hanya makan sedikit saja, walau perutnya terasa sangat lapar tapi pikirannya masih tak menentu, dia terus kepikiran nasib kakaknya yang tak tau sudah seburuk apa.
__ADS_1
Tanpa terasa air matanya menetes, dia menyesali tindakan pengecutnya yang lari tunggang langgang sendirian setelah kakaknya menyuruhnya pergi.
"kau menangis karena aku bentak?" tanya Alara heran.
"ahh tidak nona, mana mungkin aku menangis karena hal begitu" jawabnya sambil mengusap pipinya.
"lalu?" tanyanya penasaran.
"akuh .. aku sangat pengecut" jawahnya tertunduk.
"maksudmu?" tanya Alara tak mengerti.
"aku meninggalkan kakaku huhuu, aku tak tau keadaannya sekarang" tangis Duwan pecah.
"katakan dengan jelas, aku tak paham ucapanmu bodoh" ucap Alara sebal.
"dua hari lalu aku dan kakakku sedang dalam perjalanan, kami berniat menghadiri perayaan ulang tahun calon mertuanya, tapi kemarin sore perjalanan kami di hadang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam.
Awalnya kami pikir mereka adalah kelompok perampok, jadi kakakku berniat memberikan seluruh hadiah dan harta yang kami bawa, tapi justru bukan itu yang mereka inginkan, mereka berniat membunuh kami.
Para pendekar yang di sewa untuk mengawal kami semuanya mati, aku yang tak bisa bela diri mereka hajar tanpa ampun, berbeda dengan kakakku yang lumayan mahir bela diri aku melihatnya mati matian bertarung.
Kakakku yang sadar kalau aku hampir mati membuka celah untukku berlari, aku awalnya menolak tapi dia terus memaksaku, jadi aku berlari sekuat tenaga sampai akhirnya jatuh pingsan.
Tapi semalam aku memimpikannya meminta tolong, akuh huhuuu aku benar benar lelaki pengecut, aku membiarkan kakakku berjuang sendirian, aku menyesal" terangnya dengan di banjiri air mata.
"apa keluargamu memiliki musuh?" tanya Alara.
"aku tidak tau, keluargaku hanya keluarga bangsawan kecil, jadi kurasa kami tak memiliki musuh" terangnya lagi.
"sudahlah, kau bilang kakakmu jago bela diri, pasti dia selamat" ucap Alara menenangkan.
"bagaimana kalau dia mati? bahkan dalam kematianku pun aku tak berani menghadap kakakku nantinya" ucapnya lagi.
"lalu kau mau bagaimana?" tanya Alara kesal.
"aku akan mencarinya, aku takkan membiarkan siapapun yang berniat membunuhku dan kakak hidup tenang" ucapnya berapi api.
"kau? yang kondisinya begini? ha haa kau hanya mengantarkan nyawa saja" ejek Alara.
Wajah Duwan yang tadinya seperti tersulut emosi seketika langsung tertunduk murung, ucapan Alara sangatlah benar, dia bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri, bagaimana bisa dia melindungi kakaknya atau mencari pelaku yang berniat membunuhnya.
"tolong bantu aku nona" ucap Duwan tiba tiba setelah tertunduk beberapa waktu.
"kau tak lihat aku sedang membantu mengobati lukamu?" tanya gadis itu kesal.
"bukan ini, aku tau kalau aku benar benar tak tau diri, tapi ku mohon bantulah aku" pintanya memohon.
"haiiihhh bantu apa?" tanya Alara ketus.
"aku tak yakin kakakku masih hidup, kalau benar dia sudah mati tolong pertemukan aku dengannya, tolong antarkan aku ke tempatku di serang kemarin" ucapnya memohon.
"hhhhh kalau meminta sesuatu lihat dulu keadaanmu, lihat perutmu itu" bentak Alara.
Perut Duwan kembali mengalami pendarahan setelah beberapa waktu sempat berhenti, karena lukanya sangat dalam maka bergerak sedikit saja luka itu kembali mengeluarkan darah.
"aku tak peduli nona, tolonglah aku agar bisa bertemu dengannya" ucapnya terus meminta.
"tchh keadaanmu hanya akan membuatku repot, aku tak mau menggendongmu lagi kalau kau pingsan seperti semalam" ucap Alara menolak.
"kau menggendongku nona?"
"hmm"
"uuhhh apa .. apa yang harus ku lakukan huhuuu" tangisnya lagi.
"astaga kau ini lelaki tapi sangat cengeng" keluhnya.
__ADS_1
......bersambung......
semoga terhibur dan jangan lupa dukungannya💜