The Werewolf

The Werewolf
18. Kerusuhan kecil


__ADS_3

lima malam sudah Alara dan Duwan lalui bersama, Alara dengan tlaten mengobati dan merawat luka yang di derita Duwan, gadis itu juga tak ada hentinya berkata pedas padanya.


Duwan yang awalnya heran dengan sikapnya sekarang sudah terbiasa, bahkan telinganya sudah kebal dengan berbagai kata kata kasar yang di ucapkan Alara.


Satu hal yang paling mencolok adalah, Alara tak pernah memanggil namanya, hanya kata bodoh dan gila yang selalu di sebutkannya.


"karena sekarang lukamu sudah membaik aku besok akan pergi" ucap Alara.


"secepat itu?" tanya Duwan.


"aku sudah menunda perjalanku hampir satu minggu karenamu bodoh" ucap Alara ketus.


"satu bulan bahkan satu tahun pun aku tidak masalah terluka seperti ini, yang penting kau merawatku" ledek Duwan.


"kau pikir aku perawatmu, jangan bicara hal gila begitu" rutuk Alara.


Seperti biasa Duwan hanya cengengesan setiap Alara marah atau kesal padanya, baginya wajah gadis itu terlihat sangat cantik saat sedang marah.


Sebenarnya luka di perutnya masih sering mengeluarkan darah, tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, jadi tak masalah jika dia melakukan perjalanan jauh.


"kemana arah tujuanmu?" tanya Duwan tiba tiba.


"aku akan ke arah selatan" jawabnya sambil membakar ikan.


"wahhh kebetulan, arah rumahku juga di selatan" ucap Duwan girang.


"lalu?" tanya Alara malas.


Secara tak langsung gadis itu sudah paham arah pembicaraan pemuda di belakangnya.


"kita bisa jadi teman seperjalanan" jawab pemuda itu.


"tidak mau" jawabnya singkat.


"ayolahh, kau bahkan tau lukaku belum sembuh benar" keluh Duwan.


"perjalananku akan lambat kalau kau ikut bersamaku" ucap Alara jujur.


"kau tega membiarkanku yang terluka begini berjalan sendiri, kalau aku di serang binatang buas bagaimana? tanya Duwan lagi.


"bukan urusanku" ketusnya


"kejam sekali" ucap Duwan memanyunkan bibirnya.


"kau itu laki laki, tapi mulutmu lebih crewet dari perempuan" ucap Alara kesal.


Paginya dengan sangat terpaksa Alara mengijinkan Duwan ikut bersamanya, walau sebenarnya dia tak buru buru untuk sampai ke hutan bambu tapi dia kurang suka jika ada yang mengikutinya.


Karena memang arah tujuan mereka sama dan kondisi fisik Duwan masih belum terlalu baik jadi Alara mengalah dan mengijinkannya.


Sepanjang jalan Duwan selalu saja menggerutu dan mengeluh dengan kecepatan Alara, dia tak sanggup berlari karena takut lukanya yang baru kering akan berdarah lagi.


"nona tunggu sebentar" panggil Duwan.


"apa sih?" jawab Alara jengkel.


"aku sangat lelah, bisa berhenti sebentar?" pinta Duwan.


"lagi?" tanya Alara makin jengkel.


"luka di perutku terasa cenut cenut jika terlalu lama berjalan, ayolahh berhenti sebentar" keluh Duwan makin menjadi jadi.


Alara langsung melompat dan duduk di atas pohon, dia benar benar dongkol karena Duwan terus terusan meminta istirahat, ini sudah kali ke enam mereka istirahat, padahal belum ada setengah hari mereka berjalan.


Duwan dengan nafas gerengah duduk di bawah pohon yang di duduki Alara, keringatnya bercucuran antara lelah dan menahan sakit, Alara yang tak tega meloncat turun dan ikut duduk di sebelahnya.


"apa kita harus menunda perjalanan lagi?" tawar Alara.

__ADS_1


"tidak tidak, beri aku waktu istirahat sebentar, setelah itu kita kembali jalan" ucapnya.


"sudahlah jangan memaksa diri begitu, lebih baik kita mencari tempat berteduh, sepertinya sebentar lagi hujan" ucap Alara.


Sekarang mereka berdua kembali berjalan, ada satu hal yang berbeda karena sekarang Alara memapah tubuh Duwan, walau sebenarnya Duwan merasa tubuhnya terangkat tapi dia tak mau protes.


Awalnya mereka berdua hendak beristirahat di goa, tapi saat Duwan bilang tak jauh dari sana ada sebuah desa maka Alara memutuskan untuk melangkah lebih jauh.


Setelah sampai ke jalan setapak Alara memakai kembali jubah yang tadinya di pakai Duwan, baju pemuda itu sudah habis untuk membebat lukanya jadi Alara meminjamkan jubahnya selama beberapa hari, gadis itu terus berjalan mencari penginapan yang bisa mereka sewa.


Saat tiba di sebuah penginapan kecil yang sederhana gadis itu baru teringat sesuatu yang penting.


"astagaa, aku lupa uangku sudah habis" keluhnya


"lalu bagaimana sekarang?" tanya Duwan.


"aiiihhh s*al, harusnya tadi aku berburu untuk ku jual di rumah makan desa ini" keluh Alara.


"bagaimana kalau kita coba menginap di rumah penduduk?" usul Duwan.


"kau pikir mereka mau seenaknya menerima tamu tak di undang seperti kita" jawab Alara kesal.


"kau lupa tubuhku sedang terluka? ini bisa jadi alasan" ucap Duwan meyakinkan.



Mereka berdua mengetuk pintu salah satu rumah terkecil dan paling terpisah milik seorang warga, rumaj yang sangat sederhana dan reot bahkan rumah itu lebih pantas di sebut gubuk, dari dalam muncul seorang anak perempuan kecil seumuran Damar di depannya.


"cari siapa?" tanya bocah tadi polos.


"ahh adik kecil, di rumah ada siapa?" tanya Duwan ramah.


"ada kakek di dalam, tapi dia sedang sakit" jawabnya jujur.


"siapa cu?" terdengar suara pelan dari dalam.


"aku tidak tau kek, tapi seorang kakak tampan terluka" ujarnya.


"kenapa tidak di suruh masuk uhuk?" tanya si kakek.


"ummm kakek bilang kalau ada tamu kita harus menyuguhkan makanan, kita kan sedang kesulitan, hanya ada sisa ubi kemarin kan?" jawabnya.


"tidak boleh begitu, kalau tak punya makanan kita bisa menyediakan minum untuk mereka" jawab si kakek lembut.


Alara dan Duwan masih berdiri di depan pintu, mereka tak berani masuk karena belum di persilahkan, tak lama gadis kecil tadi muncul di depan kedua pemuda itu.


"ayo kakak masuk" ajaknya.


Alara tersenyum, dia pikir keluarga ini akan menolak kedatangannya, tapi ternyata gadis kecil tadi hanya merasa ragu karena tak memiliki makanan.


Setelah gadis kecil tadi berlari ke belakang untuk mengambil minum, muncul seorang kakek dari balik ruangan di sebelah Alara dan Duwan duduk.


"maaf tak bisa menyambut kedatangan kalian" ucap si kakek.


Alara segera berdiri dan memberi salam pada lelaki tua di hadapannya, Duwan juga melakukan hal yang sama sepertinya.


"maafkan kedatangan kami yang tak di undang kek, kami hanya berniat mencari tempat berteduh" ucap Duwan.


"ahh tak apa, aku dengan senang hati menerima siapapun yang datang ke sini uhuk uhuk"


"kakek kenapa keluar? kakek belum sembuh" ucap gadis kecil yang tengah membawa 2 gelas minuman, air yang di bawanya sesekali tumpah karena bocah itu berjalan tak seimbang.


Duwan menceritakan apa yang dia alami, hanya saja ceritanya sedikit berbeda tentang Alara, gadis itu sampai gemas di buatnya.


"jadi kalian menikah muda? tapi kasian sekali, kalian baru menikah malah sudah dapat musibah seperti ini" ucap si kakek iba.


Duwan bercerita kalau dia dan Alara baru saja menikah beberapa waktu lalu, mereka melakukan perjalanan ke desa saudara untuk sekalian berbulan madu dan naasnya mereka kerampokan.

__ADS_1


Alara sangat ingin mencakar wajah Duwan saat pemuda itu bercerita dengan percaya diri dan raut wajah yang sangat meyakinkan.


Di meja ada 3 gelas air dan sepiring ubi rebus, Alara dan Duwan memakan sepotong di bagi dua, mereka tau kalau hanya ubi itu ya mereka punya, tapi dengan besar hati mereka membagi pada Alara dan Duwan.


"aku harus berburu" batin Alara.


Saat sore menjelang Alara berpamitan pada gadis kecil yang sejak tadi bersamanya, dia bilang ingin berjalan jalan sebentar ke sekeliling desa.


Alara segera berlari ke hutan saat memastikan tidak ada orang di sekitarnya, dia mencari beberapa binatang yang bisa di burunya.


Setelah beberapa waktu Alara berhasil memburu seekor rusa yang berukuran lumayan besar.


"kalau aku membawa rusa ini ke sana pasti mereka akan heran padaku" gumamnya.


* * * *


"wahh makanannya kelihatan sangat enak" ucap gadis kecil di depannya.


"ohh sayangku memang sangat baik, apa kau menjual sesuatu untuk mendapat makanan ini?" tanya Duwan tiba tiba.


"sayangku sayangku, sepertinya kau benar benar sudah bosan hidup Duwan" batin Alara kesal.


"aku menjual cincin milikku" jawab Alara berbohong.


Setelah beberapa waktu lalu kebingungan, Alara memutuskan menjual buruannya ke rumah makan yang di jumpai.


Walau tak terlalu banyak uang yang di dapat karena rumah makan itu hanya rumah makan kecil, tapi beberapa uang yang di milikinya bisa untuk membeli beberapa baju dan kebutuhan lainnya, beberapa makanan juga dia beli sebelum kembali ke tempat dia menginap.


Pemilik rumah yang di tumpanginya adalah sepasang kakek dan cucu perempuan, kakek itu hanya seorang kuli pasar dan buruh serabutan, dia bilang anak dan menantunya sudah meninggal beberapa tahun lalu, jadilah dia hanya tinggal berdua dengan cucunya.


Kondisi kakek yang sudah mulai renta membuatnya gampang sakit, dia bilang sudah seminggu ini dia sakit tak kunjung sembuh, cucunya yang baru berusia 6 tahun kadang ikut tetangganya membantu di ladang, dari sana gadis itu akan di beri upah beberapa ubi dan sayuran.


Bagi gadis kecil itu sekantung ubi dan sayuran sudah lebih dari cukup untuknya, yang terpenting baginya dia dan kakeknya bisa bertahan sampai si kakek kembali sehat.


Selama bertahun tahun hidup dan makan seadanya membuat gadis kecil itu girang saat Alara membawa makanan yang enak, dia membawa beberapa sayur dan olahan daging.


Paginya Alara mengajak gadis kecil itu ke pasar, di sana dia membeli sekantung beras, beberapa jenis ubi dan ikan, dengan semangat gadis kecil itu membantu membawa beberapa kantung belanjaan.


"kakak akan ke toko baju sebentar membeli baju untuk teman kakak, kau tunggu sebentar ya" ucap Alara.


"teman? suami maksudnya?" tanya si gadis.


"mmmmm yaa" jawaw Alara melangkah masuk.


Gadis kecil itu mengangguk dan duduk di depan toko sambil memakan jajan yang di belikan Alara, tak lama setelah Alara masuk ada beberapa orang yang mendekatinya.


Orang orang itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan aneh, tiba tiba saja salah satu di antaranya merebut kantung beras yang ada di dekat bocah itu.


"hei kembalikan, itu milikku" teriak gadis kecil.


"kantung ini di tanganku jadi ini milikku" jawabnya.


"itu kakak Alara yang membelinya, kembalikan" pintanya sambil melangkah.


"brukkk"


Gadis kecil itu terjatuh saat seseorang mendorongnya, tapi dengan segera dia bangkit dan meminta kembali kantung beras miliknya yang di ambil.


"ini milikku, kenapa kalian mengambilnya?" tanya gadis itu kesal.


"aku hanya meminta, kenapa kau pelit sekali" jawab lelaki yang menggendong kantung beras.


"kalau meminta bukan begitu caranya, kalian harus meminta ijin pada pemiliknya" terang gadis kecil.


"aku tak peduli, sekarang kantung ini milikku" jawabnya melangkah pergi.


....bersambung.....

__ADS_1


jangan lupa dukungannya ya💜


__ADS_2